PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
SANDIWARA



Maaf ya man teman..


Up nya agak lama soalnya ada kerjaan yang gak bisa di tinggal.


Terima kasih sudah setia menunggu☺️


Yuk kalau ada mau komentar, silahkan.


Author butuh masukan dari kalian nih hehe


🌟


Dor


Belum sempat menghindar, tubuhnya telah tertembak oleh peluru yang datang dihadapannya.


Tubuhnya pun langsung tumbang.


Haha, sukurin. Kena juga kau!! setelah sekian lama dirimu selalu bersama sekretaris itu, akhirnya kini kau sendiri juga.


Pria yang telah menembak Kendra tadi langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Berjalan mendekati sang target.


Senyum puas terukir di bibirnya ketika melihat sang target telah terkapar tak berdaya.


Setelah itu, di keluarkaannya ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang.


“Bos, misi selesai. Taget telah tertembak” ujar pria tersebut.


Kendra membuka kedua matanya. Kendra hanya berpura-pura tertembak tadi.


Bodoh!! padahal aku hanya bermodalkan dengan tangan yang menutupi dada ku dan pingsan setika. Batin Kendra dengan memperhatikan gerak gerik si pembawa pistol dengan mata yang masih mengintip.


Lalu di tendangnya dengan telak rahang pria itu menggunakan kakinya hingga membuat pria tersebut langsung memundurkan langkahnya.


“Brengsek” umpat pria itu. Membuat Kendra tersenyum tipis.


“Jangan terlalu senang dulu. Kau tadi tidak mengecek targetmu terlebih dahulu. Kau orang yang ceroboh” ujar Kendra yang membuat pria tersebut tersulut emosinya.


“Sialan kau!”


Diserangnya Kendra dengan brutal. Namun dengan gesit Kendra menghindarinya. Karena sudah tidak ingin membuang waktunya.


Kendra langsung menembakkan peluru panas di kepala pria tersebut.


Dor


Argh.. A..Was kau.. ucapnya dengan menahan rasa sakit.


Tak butuh waktu lama, seketika pria tersebut langsung jatuh memejamkan mata dan meninggal


“Cuihh.. hanya membuang buang waktu saja”


Lalu dengan langkah tegasnya kendra berjalan ke mobilnya dan segera masuk ke dalam mobilnya. Di nyalakannya mobil dan segera meninggalkan jalanan itu.


"Oh ya, tadi dia kan meninggalkan ponselnya. Bisa ku bawa dan ku lacak dia sebenarnya suruhan siapa dan apa tujuannya menembakku tadi"


Kendra berjalan mengambil ponsel tersebut. Dan disimpannya di saku jas nya.


“Tunggu aku pulang sayang” ucapnya dengan membuka mobil.


^


"Kak, ini bukan seperti apa yang Kak Dera lihat. Kak Kendra sayang dengan Kak Dera ko. Mungkin Kak Kendra cuma butuh waktu saja untuk melupakan semuanya" Dera yang semenjak dari rumah Kendra dan mengetahui kenyataan tersebut hanya bisa menangis dan sesekali memegang dadanya. Begitu sesak yang di rasakan saat ini.


Tak sepatah katapun dia mendengarkan apa yang dikatakan adik iparnya. Pikirannya terus merajalela mencari sebuah alasan.


*Mengapa masih ada foto-foto mereka?


Mengapa masih terpampang nyata?


Harus kah ada kamar khusus untuk sang mantannya itu?


Aku harus apa?


Aku harus bagaimana*?


"Kak Dera, maafin kak Kendra ya"


Alula menggoyang-goyangkan bahu Dera. Namun dia pun tak berkutik.


Dengan sekuat hati Dera mulai menata hatinya.


"Lula, apa yang akan kamu lakukan jika kamu ada di posisi kakak?" tanya Dera setelah berkali-kali menghembuskan napas untuk menetralkan emosinya.


Hening.


Apa aku bisa jika di posisi kak Dera? Ngga. Aku ga bisa. Pasti sakit sekali hatiku jika melihat suami yang ku cintai masih menyimpan foto dan kenangan bersama mantannya. Apalagi sedang hamil seperti ini. Ya Allah harus bagaimana aku ini? disisi lain Kak Kendra kakak ku, tapi di sisi lain juga perasaan ku sebagai wanita juga tersakiti.


"Kamu gak bisa jawab kan" Dera menjawabnya dengan senyum sinis di wajahnya.


"Kak, aku mohon sama Kak Dera. Jangan marah sama Kak Kendra ya. Jangan berantem. Aku takut kalau lihat Kak Kendra berantem kak, bisa-bisa nanti Kak Dera kaget dengan perlakuan kak Kendra ketika sedang marah"


"La, Kak Dera siap dengan apapun konsekuensi yang kakak terima. Karena ini rumah tangga Kakak, dan Kakak yang merasakan"


"Tolong kak, pliss" Alula benar-benar memohon dan hampir bersimpuh di kaki Dera. Namun dia seketika menahan Alula untuk tidak melakukan hal itu.


Mobil telah memasuki gerbang rumah. Dera tarik napas berkali-kali dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


"Oke. Kakak saat ini akan berpura-pura tidak tau apa-apa. Tapi maafkan kakak jika tidak bisa lagi menahan semuanya" Dera memegang jemari Alula dan menurutinya.


Dera dan Alula berjalan bersamaan.


Seakan tak terjadi apa-apa, mereka dengan bahagianya menyalami sang Mama.


"Sudah pulang nak.. sana istirahat dulu gih, kalau mau makan di sana ya. Masih ada lauk tadi, atau mau yang lain tinggal minta Bibi untuk membuatkan" Ayu memeluk sang menantu dan mengusap perut Dera.


Alula pun ikut tersenyum. Terpatnya senyuman yang di paksakan. Dipikirannya aslinya dia bingung apa yang harus di lakukan? sedangkan orang tua nya pun tak tau masalah ini.


Alula sebenarnya sudah tau tentang kamar tersebut, namun dia tutup mulut karena dia pikir suatu saat Kendra memang bisa melupakan Lidia, namun ternyata tidak.


Kak Ken, kenapa sih gak mau dengerin saran dari Lula. Walaupun aku belum pernah pacaran, kalau lihat kenyataan seperti itu ya memang sakit kak. Arghh..


"Maaf ma, Dera mau langsung ke kamar saja ya. Soalnya belum lapar ma" Jawab Dera dengan menundukkan kepala sebagai tanda pamit untuk ke kamarnya.


"Iya ma.. Lula juga ya"


"Tumben nih anak sama menantu samaan gini. Ada apa ya?" batin Ayu lalu beliau melanjutkan dengan menyecroll online shopping nya.


"Waw, bagus nih.. Check Out ah" tutunya saat melihat tas dengan Brand yang terkenal dengan warna orange tersebut.


^


Malam harinya.


Dera terdiam menunggu Kendra di ruang tamu sendirian. Dia sebenarnya tak ingin melakukan hal ini, namun berhubung sudah berjanji dengan Alula tadi siang untuk bersandiwara, maka dia tetap melakukannya sebagai mewujudkan janji pada adik iparnya.


Awalnya dia di temanai oleh Alula namun karena melihat Lula yang sudah kelelahan, Dera menyuruhnya untuk beristirahat.


Awalnya Alula tidak tega meninggalkan Dera seorang diri namun dia pun juga ngantuk.


“Kak Dera, jangan kepikiran soal kamar itu yaa.. mungkin hati Kak Kendra sudah mati soal kak Lidia. Buktinya saja rumah tangga kalian baik-bak saja kan kak” Alula sebelum pergi pun masih berusaha positif thinking dengan apa dilakukan kakak laki-lakinya tersebut.


“Iya La” jawab Dera dengan singkat karena dia tak tau lagi harus jawab apa dibalik hatinya yang begitu sakit.


Memang rumah tanggaku baik-baik saja. Namun kenyataan ini membuatku ragu dengan kata-kas "Baik-baik saja". Sepertinya itu tepat disematkan pada rumah tanggaku yang kemarin, bukan untuk hari ini ataupun hari esok.