
Hello man teman. Apa kabar nih.
Jangan lupa di follow ya.
Di like, komen dan vote.
Biar Author semangat buat up setiap harinya.
Terima kasihhh☺️🌹
^
Sampai sekarang jam 11 malam Kendra tak kunjung datang. Dera sesekali mengusap air matanya yang jatuh membasahi kedua pipinya yang chubby itu.
Dengan menahan mata ngantuk dan pikiran yang berkecambuk, dia tetap bertahan di sofa ruang tamu.
“Apa iya Mas Kendra masih mencintai Lidia? Dia belum bisa merelakan kisah cinta yang kandas? buktinya dia masih menyimpan segala kenangan Lidia di kamar tersebut.
Hampir setahun aku menikah dengannya namun tak pernah sekalipun mengetahui seluk beluknya. Hanya sebatas mantan kekasih yang harus berpisah karena sebuah bisnis. Hanya itu.
Bahkan sekedar rumah aja aku pun tak tau jika kamar yang selalu di kunci itu adalah kamar Lidia.
Apakah kau hanya menjadikan ku bayangan dari sebuah masa lalu mu mas??
Bodohnya diriku hiks hiks” Dera menangis dibalik bantal sofa dengan sejadi-jadinya.
Nampak jelas sekali kesedihan yang dirasakan kini. Dia pun tak mampu menyembunyikannya lagi.
Dera dia tidak mau jika ada orang rumah mengetahui jika dirinya menangis. Betapa sakit hatinya melihat sebuah kenyataan yang dia baru tau sekarang.
Menangis dalam diam sangatlah menyakitkan. (Kalian pernah merasakan itu juga? kalau iya, ayo tos 👋, kita sama hehe)
Akhirnya Dera teringat Mira, sahabatnya yang selalu ada saat masih kuliah hingga sekarang.
Dera mencari nama Mira di ponselnya. Dan di tekannya nama "Mira" karena dia bermaksud untuk menceritakan apapun yang menjadi unek-uneknya.
"Hallo Dera cantikkk. Tumben nih Bu Bos belum tidur. Kenapa beby" jawab Mira dengan nada riangnya karena kini dia sedang lembur menyelesaikan pekerjaan kantor.
hiks hiks hiks. Hanya suara tangisan yang terdengar dengan jelasnya
"Dera, kamu kenapa ko nangis?" Mira yang tadinya ceria berubah menjadi khawatir, apa yang terjadi dengan sahabatnya ini.
Dengan air mata yang berederai, tubuh pun yang ikut merasakan sakit karena ingin menyerah pada keadaan.
"Mir.. Kendra Mir hiks hiks. Dia menyembunyikan sesuatu dari ku. Hampir setahun kita menikah, aku baru tau kalau Kendra masih menyediakan kamar khusus untuk segala kenangannya dengan Lidia Mir.."
Dera menceritakan semuanya pada Mira. Karena hatinya akan lebih lega jika dia mencerikannya pada orang terdekat.
“Aku harus apa Mir?? Aku bingung dengan semuanya. Ayah meninggal baru seminggu, sekarang aku tau kenyataan
bahwa Mas Kendra masih menyimpan segala kenangan bersama mantannya itu yang jelas-jelas pernah mencelakai ku.
Aku harus bagaimana?” mendengar apa yang katakan Dera, sebenarnya Mira tak tega.
Karena dia belum pernah melihat sahabatnya menangis lagi setelah dulu putus dengan Bagas, laki-laki yang kini menjadi mantan Dera dan harus putus karena tak direstui oleh keluarga Bagas.
“Aku harus apa Der? Rumah tangga memang setauku
ada beberapa kerikil sebagai cobaan. Tapi jika aku tau kamu sedih seperti ini aku pun tak tega. Apa yang bisa ku bantu Der?”
Belum juga Dera menjawab.
Suara mobil Kendra sudah terdengar.
"Sudah dulu Mir, Kendra sudah pulang. Besok akan ku telpon dirimu jika aku memerlukan bantuan” telpon pun di akhiri.
Dera segera menghapus air mata dan memasang senyum untuk menghiasi wajahnya.
Ya, dia bersandiwara.
Dengan senyum yang terpasang di wajahnya, Dera menyambut sang suami.
Ingin rasanya dia berteriak dan marah pada suaminya.
Namun ini sudah terlalu larut malam juga jika untuk membahas masalah ini. Akhirnya dia berjalan mendekati mobil untuk menyambut suaminya yang pulang dari kerja.
Dia menyambutnya dan kini dia merasakan arti
“tersenyum dalam kesedihan memang menyakitkan”
“Sayang, kamu ko tumben belum tidur. Ini sudah malam” ucap Kendra setelah mengecup kening istrinya.
Dera segera menyalami dan mencium tangan suaminya seperti kebiasaannya setiap kali Kendra berangkat ataupun pulang kerja.
Kendra yang kini hanya mengenakan kemeja yang nampak lusuh dan kotor.
“Mas Kendra ko kemejanya kusut seperti ini. Apa terjadi sesatu?” Dera dengan perhatiannya masih memperhatikan suaminya seperti tak terjadi apa-apa.
“Tidak, tadi hanya ada orang brengsek yang berusaha mencelakai ku sayang. Tapi tenang aku bisa menghadapi. Siapa dulu, Kendra gitu loh, Suaminya Dera Ananda. Ya kan sayang” ujar Kendra dengan mencubit kecil pipi Dera.
Dera membawakan Jas dan tas kendra ke kamar.
“Tunggu, kenapa matamu bengkak? Apa terjadi sesuatu?” tanya Kendra yang merasakan keganjalan pada Dera segera menghentikan langkah kakinya. Dia memperhatikan wajah itu dengan tatapan yang serius seperti menelisik sesuatu yang terjadi.
“Ah tidak.. itu tadi kelilipan saja mas” jawab Dera dengan berbohong dan mengalihkan pandangan.
“Sudah sana mas, mandi dulu. Barkan ku siapkan baju untuk ganti”
Dera berjalan ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat, Lalu menuju ke tempat pakaian kotor dan menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
"Mas mas.. sampai saat ini pun kamu gak cerita apa-apa sama aku.
Kamu benar-benar pandai menyembunyikan bangkai yang bahkan kini telah ku temukan sumber bau menyengat itu.
Dera mengambil baju ganti dan meletakkannya di atas tempat tidur.
^
Pagi menjelang. Suara burung berkicau bersahutan. Membuat Kendra merasa sedikit terusik.
Direnggangkan tubuhnya yang berotot itu, hingga menimbulkan suara khas bangun tidur.
Badannya terasa pegal-pegal karena semalam telah berantem dengan pria tak dikenalnya.
Setelah itu, Kendra memperhatikan wajah Dera yang tertidur pulas di sampingnya.
Dipandanginya wajah cantik itu terlihat damai dan lugu. Di usapnya dengan sayang puncak kepala Dera.
“Good morning sayang” ujar Kendra sambil mengecup kening Dera.
Lalu dengan perlahan kedua kelopak mata itu mulai terbuka dengan lengguhan yang keluar dari bibir cantik itu. Dengan sigap, Kendra menggenggam tangan mungil itu.
“Sayang, kamu bangun?” kata Kendra dengan kedua bola matanya yang berbinarsenang. Perasaan bahagia menyelimuti di dirinya ketika melihat adanya pergerakan dari istrinya.
Dera mengerjapkan kedua matanya beberapakali. Mencoba untuk menyesuaikan cahaya dikamarnya.
“Ayah.. bunda” lirihnya pelan.
Tubuh Kendra mematung mendengarknya. Bukan namanya yang dipanggil tapi orang tuanya tapi orang tua Dera.
“ini aku sayang, Kendra. Nanti kalau kangen sama Ayah kita ke makam ayah ya..Setelahnya kita ke rumah Bunda" lalu di kecupnya tangan mungil itu dengan sayang.
Dera mendengar suara suaminya langsung terdiam dan memandang wajah tampan dan memandang wajah tampan yang kemarin telah menyakiti hatinya secara tidak langsung.
Namun kata-kata yang diucapkan semalam langsung berputar di otaknya. Lidia dan Lidia. Masih teringat jelas di ingatannya.
Belum lagi kamar yang berisikan semua kenangan Kendra bersama Lidia.