
Jangan lupa vote dan komen ya temen-temen. Karena itu membuat author semangat membuat cerita selanjutnya.Terima kasih.
_____________
Tak lama setelah Kendra duduk, salah satu maid menghampiri Ayu dan Alex mengatakan bahwa ada seorang tamu yang datang. Mereka lantas beranjak dari duduknya.
"Nah mungkin itu Dek, ciee udah dateng nih yang ditunggu" ujar Dera yang membuat Lula tersipu malu. Dera sengaja tidak ikut menyambut karena memang diminta Kenda untuk istirahat saja dan menunggu di ruang makan.
Kendra mengikuti langkah sang Mama Papa menuju pintu menyambut tamu tersebut.
Langkahnya yang semakin cepat membuat Alex mewanti-wanti Kendra agar memperlakukan Brian nantinya dengan baik takutnya nanti Kendra bersikap cuek dan tak mengenakkan hati.
"Jangan perlihatkan wajah kaku dan sikap dinginmu pada tamu kita Ken. Bisa-bisa nanti dia tak mau dengan adikmu karena takut dengan sikap dinginmu itu!" ujar Alex pada Kendra.
"Hem, ya Pa" ujarnya.
"Pasang senyum Nak, nih kayak Mama gini" ucap Ayu memperlihatkan senyuman manis di bibirnya hingga memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.
POV BRIAN
Jam 18.15 Brian berangkat dari rumahnya. Dengan mobil sport warna hitam, rambut yang di beri pomade dan style yang sesuai umurnya menambah tingkat ketampanannya kini. Tak lupa dia semprotkan parfum Clive Christian seharga 4 jutaan itu untuk menambah percaya dirinya.
Hampir 40 menit Brian melajukan mobil mengikuti Go°gle Maps menuju rumah Alula. Diperjalanan pula dia berusaha mengendalikan rasa canggung, was-was, dag dig dug tak karuan menghadapi keluarga Alula nanti.
Bisa-bisanya gue di suruh makan malam bersama. Mereka ga tau apa ya, kalau gue dan Lula tu ibarat Kucing yang udah nyolong makanan lawannya. Tak pernah akur dan akan selalu bertengkar jika bertemu.
"Duh, 5 menit lagi nyampe nih" Brian melihat waktu di aplikasi Go°gle Maps yang ada di ponselnya.
"100 meter lagi belok kanan" ucap dari penunjuk arah tersebut.
Mobil pun mengikuti arahan. Brian pun semakin memperlambat mobilnya agar lebih lama sampai di tempat tujuan.
Tepat saat masuk di gerbang utama. Niat ingin segera masuk namun pagar tak kunjung di buka. Dia pun tak tau harus menghampiri siapa karena tak ada orang pun disana.
Selang beberapa detik dia berdiam, akhirnya salah satu keamanan menghampiri Brian.
"Maaf, sedang cari siapa tuan muda?" tanyanya dengan menggunakan seragam hitam dan lengkap dengan perlengkapan yang dibawanya.
"Cari teman saya pak" jawabnya Brian yang masih duduk di kursi mobil.
"Iya Tuan muda. Siapa namanya?" tanyanya.
"Ehmmm. (Hening) Alula pak" tutur bel
"Apa anda membawa kartu identitas?" tanyanya.
"Ya tidak pak. Masuk tinggal masuk sih Pak. Kenapa pakai ada periksa identitas sih? saya juga bukan mafia bukan pengedar narkoba bukan penjahat bukan pencuri pak" dengan nada kesal di lontarkannya pada orang tersebut.
"Maaf tuan, tidak bisa masuk"
"Astaga pak" Akhirnya mau tak mau mencari sebuah identitas di mobilnya. Mencari dan terus mencari akhirnya menemukan pasport yang ada di tempat penyimpanan mobilnya.
"Nih pak, paspord gak apa-apa?" rasa ingin kesal, pengen marah tapi harus ditahan karena dia harus jaga images nya agar terlihat baik dimata keluarga Alula. Memang tak berpikir jauh tentang hubungan mereka namun daripada nantinya ada hal yang membuatnya menyesal di kemudian hari, mending dia saja yang sesabar mungkin menghadapi lingkup Alula. Pikirnya.
"Tidak apa-apa tuan muda. Silahkan masuk dulu, paspordnya bisa di ambil nanti saat hendak pulang"
"Baiklah" Brian melajukan mobilnya menuju halaman utama. Rumah mewah dan megah di dominasi warna putih membuat suasana Amerika begitu terasa.
Bak berada di istana, Brian tak menyangka Alula memiliki rumah sebesar ini.
Brian hendak turun dari mobil sport nya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang dengan sigap membuka pintu mobilnya. "Silahkan turun Tuan Muda" ucapnya.
Masuk ke rumah ini aja ribet banget. Ada pemeriksaan lah, ini lah itu lah. Uh, akhirnya sampai. Eits tapi ko dipikir-pikir rumahnya besar banget ya. Apa benar ini rumahnya? tapi kalau dilihat dari alamat yang dikasih benar ini sih.
Brian memasang wajah senyum, tarik napas berkali-kali dan merapakaikan pakaiannya.
"Halo Nak Brian, selamat malam. Bagaimana tadi diperjalanan? lancar?" tanya Ayu yang kini menyambut sang teman dari anaknya.
"Selamat malam tante. Iya tan, tadi lancar" Brian menjabat tangan sang mama Alula dengan sopan. Kendra yang memperhatikan di belakangnya berusaha menelaah apa yang ada pada Brian. Bukan tentang kekayaan namun tentang sikap dan sifat Brian.
"Selamat malam Kak. Maaf tante, Brian baru sampai soalnya tadi ada accident sedikit" ucapnya pada sang tuan rumah.
Ayu pun menyambut dengan senyuman, berbanding terbalik dengan Kendra. Wajah kaku, dan sikap yang dingin membuat suasana malam menjadi semakin beku. Dia benar-benar susah untuk mengotrol wajah dinginnya itu.
"Sudah ayo masuk dulu Nak" ucap Ayu dengan meminta Brian masuk ke dalam rumah.
"Siapa namamu!" tanya Kendra di sela jalan menuju ruang makan.
"Saya Brian ka, salam kenal" jawabnya seramah mungkin. Walaupun dia di sekolah tak akrab dengan Alula namun sebisa mungkin sandiwara dulu dibandingkan nanti acara makan malam tak berjalan dengan lancar.
Brian yang melihat sikap Kendra yang dingin tak mempedulikan karena diapun juga terkadang bersikap seperti itu. Apalagi setelah melihat penampilan Brian saat keluar dari mobil, dari atas dari bawah seakan membuatnya merasa terintimidasi.
Apa lu lihat-lihat gue. Baru tau anak sekeren gue kan. haha, batinnya.
Brian berjalan mengikuti langkah Mama Alula.
POV ALULA
"Duh kak Dera, bagaimana ini?" Alula panik mendengar Brian yang ternyata sudah tiba di depan rumah.
"Apanya yang bagaimana dek? bukankah memang kamu sengaja meminta dia untuk kesini?" tanya Dera yang kebingungan dengan sikap Lula.
"Ya sih ka, tapi kak.."
"Tapi apa lagi?"
"Aku takut kalau nanti di jodohin dengannya kak. Nanti pokok Kak Dera bantuin aku ya, jangan sampai aku di jodohin sama dia. Oke kak. Kak Dera nanti bujuk Kak Kendra saja. Plis bantu Lula ka" dengan wajah memelas namun tak mengurangi kadar kecantikannya.
"Iya ya. Garis keras, NO PERJODOHAN" ucap Dera dengan menyilangkan lengannya membentuk tanda X dan di tirukan oleh Alula
Tap.
Tap.
Tap.
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Deg.
Betapa kagetnya Alula melihat Brian yang tampil keren dan wangi yang tercium dengan jarak yang cukup jauh.
Wah, gil* cakep juga orang ini kalau lagi begini. Berasa lagi ngedate aja ah, eh enggak berasa lagi temu keluarga. Eh stop stop, mikir apa aku ini.
...___________...
...Hadirmu bak menjelma sebagai pangeran....
...Dan aku sebagai ratunya....
...Hehe, halu nya aku....