
Di restoran Dera hanya berdiam di ruangannya ditemani oleh beberapa cemilan di depannya.
Sedangkan Mira sibuk dengan hasil menu baru milik Dera.
Mira memang dipercaya sebagai salah satu orang yang dipercaya untuk mencoba dan memberikan kritik saran untuk setiap menu yang akan di keluarkan oleh Dera.
Tok tok tok. Suara ketukan pintu mengagetkan Dera.
“Iya masuk”
Astaga, dia?? Mau apa kesini? Kenapa tatapannya begitu menakutkan, dan senyumanannya begitu membuatku merasa terintimidasi. Tenang Der, tenang.
“Halo Nyonya Kendra. Makin sukses ya bisnis restorannya. Enak ya jadi istri seorang Kendra Alexander?” tuturnya dengan suara yang membuat bulu Dera merinding.
“Lidia.. bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tak berjumpa setelah di Turki?” Dera mencoba mengulurkan tangannya mengharap Lidia akan membalasnya.
Hahaha
“Kamu tanya kabarku setelah kau merebut Kendra dari tanganku!! Begitu maniskah dirimu di depan Kendra hingga dia mampu berpaling dariku, Dera!!"
“Maksudmu apa Li?” Dera berusaha masih dalam keadaan tenang mengingat kata Dokter dirinya tak boleh banyak pikiran.
“Bukankah kamu sudah tau tentang masa lalu ku dan suamimu seperti apa!! apakah harus ku jelaskan satu persatu, Nyonya Kendra!!”
Suasana yang makin memanas, tak ada seorang karyawanpun yang tau bahwa Lidia berada di ruangan Dera.
Kalimat demi kalimat yang dilontarkan Lidia sangat menohok hati Dera membuat dadanya sesak.
Lidia berjalan mendekat ke meja kerja Dera. Jemarinya yang lentik memainkan sudut-sudut meja seakan sebagai mafia wanita.
“Kabarnya, kamu sedang mengandung ya, sudah berapa bulan Kendra junior di sana?” ucap Lidia dengan menunjuk perut Dera yang masih rata.
“E.. Iya Lidia”
"Wah, beruntung sekali ya. Sepertinya keluarga kecil kalian begitu bahagia"
Dera tak menjawab apapun, dia hanya berharap ada orang yang masuk ke ruangannya dan menghentikan segala sikap Lidia.
“By the way Nyonya Kendra gak menawariku minuman nih? Haus nih, bisakah kau buatkan aku teh panas? Dan antarkan ke sini, Dera!! Ingat,, panas bukan hangat” Perintah Lidia kemudian berlalu dari dalam dapur.
Huh…
Dera menghela napas ketika Lidia duduk di sofa yang tak jauh darinya.
Seringaian licik nampak tercetak di wajah Lidia ketika memperhatikan Dera yang kini berjalan ke arahnya dengan membawa nampan d tangannya.
Apa lagi mengingat Kendra yang tidak menemani istrinya disini. Lidia makin membara untuk mengerjai wanita di depannya ini.
Ketika melihat Dera sudah berada di dekatnya, Lidia pun sengaja menjulurkan kakinya saat Dera hendak menyajikan teh panas di atas meja”
“Awww…”
Suara teriakan itu berasal bukan dari suara Dera. Melainkan dari Lidia yang meringis kesakitan karena teh panas yang dibawa Dera tumpah ke arah paha dan betisnya yagn telanjang.
Untung saja Dera masih bisa menyeimbangi tubuhnya hingga dia tidak ikut oleng bersama dengan nampan dan gelas yang dibawanya.
Lidia mengibas-ngibaskan paha dan betisnya secara bergantian.
“Sialan.. kau pasti sengaja kan!!” Pekik Lidiaa tertahan karena kini paha dan betisnya yang terkena teh panas nampak merah.
"Gak Li,, aku ga sengaja. Beneran"
Lidia mulai beranjak dari posisinya yang terjatuh, dia berniat jahat pada Dera.
Tiba-tiba,
“Ada apa ini??” Kendra yang baru saja masuk ke dalam ruangan Dera Nampak begitu kaget mengetahui ada Lidia di dalam ruangan istrinya.
“Kau.. mau apa kesini!” ujar Kendra dengan kagetnya.
“Aku mencari mu sayang. Kau tak pernah memberiku kabar. Dulu kau berjanji akan meninggalkan wanita itu setelah kontrak nikahmu selesai. Tapi mana? Aku sudah menunggu begitu lama. Dan begitu sulit aku mencari kesempatan hingga istrimu sendiri. Aku kurang apa mas? Aku sudah berjuang selama ini.. Mengapa juga kamu tak menganggap ku ada. Katanya kamu akan berjuang, tapia pa???” seluruh unek-unek yang ada dibenak Lidia dilontarkan begitu saja.
Begitupun Kendra yang syok mendengarnya.
Dera hanya mampu terdiam, mendengar apa yang dikatakan Lidia. Dia tak menyangka bahwa Kendra pernah berjanji pada Lidia mengenai hubungan pernikahannya kini.
“Aww” ringisan Dera yang terdengar.
Dorongan dari Lidia bergitu keras dan terlalu banyak nyali jika dilakukan di depan Kendra.
Plakkk.. tamparan panas mendarat di pipi Lidia.
Kendra benar-benar murka.
“Bisa-bisanya kau dorong istriku seperti itu. Bahkan aku tak pernah memperlakukanmu sekasar itu. Pergi dari sini !!!” suara Kendra memenuhi ruangan.
Dera hanya bisa merintih kesakitan. Air matanya tak terbendung lagi.
“Mas, perutku sakit”
Dengan sigap Kendra menggendong Dera menuju parkiran mobil dan menggendongnya ke Rumah sakit.
Semenjak keluar dari ruangan Dera, para pelayan bertanya-tanya apa yang terjadi pada Bos nya?
“Bagaimana keamanan restoran!! Bukankah aku meminta kalian jangan pernah mengijinkan orang yang telah ku tandai sebelumnya!! Kenapa bisa kecolongan!! Arghh!!”
Mira yang tiba datang langsung menghampiri Kendra.
“Ada apa ini Ken? Kenapa Dera?”
“Itu nanti saja. Kamu ikut ke rumah sakit nanti bareng Sekretaris Rey yang menjemputmu”
Belum juga dijawab Mira, Kendra berlari ke mobilnya. Dengan sigap pak Yanto membuka pintu mobil untuk sang Pak Bos.
“Jalan ke Rumah sakit. Cepat!!” titah sang Bos pada sopirnya.
Mobil melaju ke arah rumah sakit tak mempedulikan melewati lampu merah yang bisa mengancam keselamatan mereka.
Pak Yanto memacu kecepatan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dan itu semua perintah dari Kendra.Diperjalanan kendra hanya bisa mengelus perut istrinya “Papa mohon bertahanlah sayang” tak terasa air mata mengalir dari mata Kendra.
Dia juga menyemangati istrinya agar bertahan. Sangat tak tega melihat seseorang yang kini dia cintai disakiti oleh masa lalu yang telah usai.
Dengan perasaan yang campur aduk, Kendra meminta Sekretaris Rey untuk menyelidiki dari mana Lidia tau mengenai apapun tentang istrinya.
“Sayang.. Dera.. sadarlah..” Kendra sangatlah panik. Pria itu menepuk-nepuk pipi Dera, berharap bisa menyadarkan Wanita itu. Setelah melihat reaksi Dera yang tak kunjung menunjukkan kesadaran.
“Cepat!! Lebih cepat!!!” Titahnya lagi.
Seketika kedua bola mata Kendra membulat sempurna tatkala mellihat cairan darah yang berceceran di mobil.
“Da-darah” ucap Kendra terbata.
“Dera.. bangunlah sayang. Jangan buat aku semakin khawatir seperti ini!!” Kendra menagis tersedu menyaksikan wajah istrinya yang masih pucat.
Tangannya kini mengelus rambut Dera yang berada di pangkuannya. Berkali-kali Kendra mengumpat kendaraan lain yang menghalangi jalannya.
Sebenarnya apa yang terjadi padamu Dera?
………………………..
“Mira, aku di depan resto. Jika sudah siap segera keluar” pesan singkat Rey pada Mira.
Tak butuh waktu lama, Mira yang sudah siap segera menghampiri Rey dengan membawa tas mungilnya.
“Ada apa tadi? Mengapa dera tadi di gendong oleh kendra, apa kamu tau penyebabnya?”
“Lidia, mantan Kendra yang berusaha mencelakai Nyonya Dera. Yang dikatakan Pak Bos Kendra, perut Nyonya Dera terbentur sudut meja, sedangkan dia sekarang sedang berbadan dua”
“Haa?? Dera hamil?”
Seketika Mira pun kaget, tak menyangka bahwa mantan Kendra begitu nekat.
.
.
.
Selamat hari selasa guyss, selamat berkutat dengan segala kesibukan kalian yaa.. see yuu❤️