
Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.
Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹
Happy reading.
Dulu dia tak menyukaimu.
Lambat laun kau berusaha agar dia mencintaimu.
Setelah mencintaimu, maka kau biarkan bahkan kau tinggal.
Lantas, apa mau mau wahai lelaki??
❤️🌹
………………………..
Malam telah menjelang. Pukul 20.00
Dera memutuskan untuk keluar rumah sebentar untuk menghilangkan penat. Sebelumnya hanya ponselnya sebagai hiburan.
Namun sesuai perintah Dokter Ikhsan, dia membatasi intensitas memainkan gadget tersebut demi kehamilannya.
Jadi sebaiknya jaga jarak penggunaan handphone di saat hamil. Ya, radiasi dari handphone dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan otak janin. Dampak dari gangguan otak yang mungkin terjadi karena radiasi smartphone yakni tumor, insomnia, serta kemampuan otak yang menurun.
Itulah kata-kata dari sang dokter yang di ingatnya.
Kini dia memutuskan untuk ke luar rumah, menikmati suasana malam dengan langit yang bertabur bintang.
"Aaaa indah banget. Baru juga dua hari gak keluar rumah, sekalinya keluar dapat melihat pemandangan seindah ini. Oh senangnya" Dera begitu menikmati malam yang syahdu tanpa seorang pun yang mengganggunya.
Dan saat itulah salah satu mata-mata Kendra memotretnya dan mengirimkan pada Kendra.
“Ini Nyonya Dera sedang berada di depan rumah pak Bos" itulah pesan dari sang mata-mata untuk Kendra.
Hampir satu jam Dera menikmati malam itu hingga dia merasa ngantuk dan memutuskan untuk kembali ke dalam rumah. Dan juga angin malam tidak baik untuk kesehatan.
Setelah beranjak dari sana, dia membersihkan tubuh terlebih dahulu.
Sebelum tidur untuk memejamkan matanya, dia berusaha untuk mengintrospeksi diri. Dan mengecek ponselnya yang tadi sempat ditinggalnya di kamar.
Ko ga ada kabar tentang mas kendra ya. Kenapa juga gak ada telpon sama sekali, gak ada yang mencariku lagi. Apa sebegitunya gak pentingnya aku di hidup mu Mas. Ah sangat menyebalkan.
Seketika Dera merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan dilihatnya perut yang membuncit itu. Dia mengelusnya, sebagai sapaan untuk sang baby.
Hello dedek bayi, sedang apa nih di dalam sini. Sehat-sehat ya sayang. Jangan rewel ya nak, mama akan berusaha happy apapun kondisinya demi kamu sayang. I Love You Kendra kecilku. Senyumpun tersungging di bibir Dera.
Tanpa di sadari, dia benar-benar merindukan sang suami yang biasanya melakukan hal apapun bersama.
Akhirnya sebelum tidur, Dera berdoa dan memutuskan untuk tidur.
Belum juga ada sejam dia memejamkan mata, dia bangun dengan suasana hati yang tak karuan.
Keringat dingin muncul dan seakan dia terbawa oleh suasana mimpi yang seperti nyata adanya. Dia memimpikan Nurul, wanita yang secara tidak langsung memberi tau kenyataan apa yang telah disembunyikan suaminya selama ini.
Dera memimpikan bahwa Nurul tengah menangis dan meminta pertolongan. Namun tak lama kemudian dia tersenyum dan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Anehnya, di belakang Nurul juga ada Kendra, sang suami yang memandang tajam ke arah Nurul.
Tidak, tidak. Pasti Nurul baik-baik saja dan tidak ada hubungannya dengan Mas Kendra. Ini pasti hanya mimpi belaka.
Dera berusaha membuang pikiran negatifnya itu. Dia segera berjalan mengambil air minum untuk menetralkan pikirannya.
Tidak mungkinkan Nurul telah tiada? Kendra tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu. Tidak mungkin.
Di minumnya air tersebut dan Dera menghembuskan napasnya. Menghirup dalam-dalam sejenak udara segar yang membuatnya sedikit merasa lebih baik.
Hampir 15 menit dia terbangun. Dan kondisinya kini telah membaik, Dera segera tidur kembali.
…………………….
Di perusahaan Petra Corp.
Drttt.. Drtttt
Drttt...Drtttt
Getaran ponsel Kendra mengalihkan pekerjaannya. Dia membuka ponsel yang kini ada pesan dari sang bodyguard yang memata-matai istrinya.
Kendra yang melihat foto tersebut nampak tersenyum.
Sekretaris Rey yang melirik ada perubahan dalam diri Kendra yang tersenyum tipis setelah membuka ponselnya.
Sebuah gambar wanita cantik yang sangat Kendra cintai sedang menikmati malam.
“Sudah cukup menghirup udara bebasnya sayang. Saatnya kembali pulang” ujarnya pelan sambil menatap pantulan dirinya di depan kaca yang ada di atas mejanya.
Tumben Pak Bos senyum malam-malam begini. Ada apa nih. Apa dia mendapat pesan singkat dari Dera??
Setelah itu dengan langkah tegasnya Kendra keluar dari ruangannya, menimbulkan tanya di benak Rey dan Nisa.
“Pak Bos, mau kemana? Apa ada yang harus saya bantu?” tanya Rey pada Kendra.
“Tidak Rey, selesiakan saja tugasmu” jawabnya.
Rey yang mengetahui pasti ada sesuatu yang tidak beres pada Kendra namun dia segera membuang pikiran buruknya.
Kendra secepat mungkin menekan lift privat yang terhubung dengan lobby. Lantas dia berjalan menuju ke parkiran dan hendak mengendarai mobil sport mewah miliknya. Kendra mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata karena jalan yang mulai lenggang.
“Tunggu aku sayang. Aku akan menjemputmu pulang dan kembali memperbaiki rumah tangga kita” ujarya dengan sebuah seringai tipis.
Hampir 25 menit Kendra mengendari mobilnya.
Akhirnya sampai di rumah yang telah di kirimkan lokasi dari sang bodyguard.
Sebelum turun, Kendra tak lupa menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Dia tak ingin Dera menghirum bau tidak enak darinya yang seharian berada di kantor.
20 semprotan cukup kali ya. Ini sudah wangi. Oke, sekarang saatnya bergegas menemui sang tuan putri.
Bodyguard yang berada di dalam mobilnya seketika keluar mobil mengetahui ada Pak Bosnya yang datang menghampiri istrinya.
Dua bodyguard tersebut turun dan memberikan hormat pada Kendra. Mereka berdua berjalan di belakang Kendra.
Setelah sampai di depan pintu, Kendra meminta sang bodyguard mengetuk pintu sedangkan dia membalikkan badan membelakangi pintu.
Tok
Tok
Tok
Tak ada jawaban.
"Ulangi sekali lagi" titah Kendra. Dan sang bodyguard pun melaksanakan perintah.
Tok
Tok
Tok. Tak ada jawaban pula.
“Pak Bos, gak ada jawaban dari Nyonya Dera. Lantas apa yang harus kita lakukan?"
Sedangkan di dalam rumah, Dera yang tadinya hendak tidur lagi, kini tengah dibuat bingung dengan suara ketukan pintu.
Siapa malam-malam begini yang bertamu. Dan memang rumah tante Mira sudah lama tak di tinggali, lantas siapa yang berada di luar?
“Ketuk lagi sampai istriku membukanya!!” titah Kendra.
Tok
Tok
Tok
Dengan langkah perlahan, Dera pun memberanikan diri membuka pintu rumah tersebut.
Dibukanya pintu perlahan. Hawa dingin dan menakutkan menyelimuti dirinya setelah Kendra membalikkan badannya menghadap ke Dera.
“Hai sayang”