
Seperti yang direncanakan, hari ini Ken dan Lidia sepakat untuk bertemu. Sekretaris Rey sudah mempersiapkan segala bukti untuk Lidia agar tak berkutik. Dan beberapa bodyguard sudah bersiap mengawal keamanan Kendra.
“Apa kamu yakin dengan keputusanmu?” tanya Sekretaris Rey memecah keheningan dalam mobil
“yakin Rey. Aku akan fokus ke pernikahanku” jawab ken dengan mantapnya.
Mobil pun melaju ke sebuah restoran. Dan berulangkali juga Kendra melirik jam tangan hitam miliknya.
"Sabar Pak Bos, semua akan berjalan sesuai rencana" ucap Sekretaris Rey yang mencairkan ketegangan Atasannya.
"Iya Rey, semoga saja ya" ucapnya
.............................
Di tempat lain
Lidia yang sudah menunggu lumayan lama dan dia tak mengetahui hal apa yang akan di sampaikan Kendra.
Dilihatnya mobil Ken masuk ke parkiran dan diikuti mobil bodyguardnya.
Dia berjalan dengan di dampingi sekretaris Rey dan menuju tempat duduk Lidia.
“Tumben sayang gak pesen yang privat room? Kenapa sayang?” tanya Lidia ketika Ken sampai di hadapannya.
Sekretaris Rey yang sengaja duduk di kursi agak jauh memperhatikan gerak-gerik sepasang kekasih ini.
“Gak apa-apa. Hanya saja mungkin cari suasana baru lebih asik” jawab Ken dengan nada datar
Lidia yang mengetahui jika hubungannya tak baik-baik saja. Dia pun mulai panik, karena jika dia berantem dengan Ken maka segala sisi ekonominya akan menjadi ancaman baginya.
Banyak fasilitas yang diberikan Ken pada Lidia. Mulai dari apartemen, tas dengan brand ternama dan uang shopping.
"kamu kenapa Ken? ada apa? ko jadi dingin begini hiks hiks" Lidia bersandiwara dengan tangisnya.
"Pak bos pliss jangan percaya dengan air mata buaya. Dia hanya sandiwara Ken" geram Sekretaris Rey yang memperhatikan dari tadi.
Tiba-tiba...
“Aku mau kita putus”
Tanpa basa basi Kendra mengucap kalimat demikian, dia tak mau bertele-tele dengannya. Apalagi Ken tipe laki-laki yang jika di khianati maka dia akan mudah sekali menghempas wanita itu dari hidupnya.
“Aku gak mau putus dengaanmu Ken. Aku mohon” Lidia bersimpuh di kaki Kendra.
Seketika Ken tak mempedulikan wanita yang telah menemaninya sejak SMA itu.
Ken segera berdiri semberi memberi kode pada sekretaris Rey untuk menunjukkan bukti perselingkuhan Lidia.
Ada banyak foto yang memperlihatkan jika dia sudah mengkhianati Ken mulai dari foto di Fallery Bakery dan di salah satu kamar sebuah bar. Dan parahnya itu adalah foto Lidia sedang tak mengenakan sehelai kain pun. Lidia bercumbu dengan Bagas alias musuh bebuyutan Kendra.
“itu bukan aku Ken, aku gak punya baju model itu. Kamu tau itu kan sayang” dia masih bisa mengelak.
Sekretaris Rey tak tinggal diam.
“Maaf Nona, di foto ini sudah sangat jelas itu anda. Apalagi saat foto di Fallery Bakery anda jelas-jelas menunggunya datang” ucap Sekretaris Rey yang sudah dipersilahkan Ken untuk bicara.
“Ken, kamu gak percaya itu kan? Kamu percaya aku kan Ken?” Lidia berusaha meyakinkan Kendra.
Namun tak sedikitpun Kendra menengok ke arahnya, melirik pun tidak sama sekali.
Lidia yang tak bisa berkutik lagi hanya bisa pasrah, semesta seakan mendukung langkah Ken untuk menyudahi hubungan ini.
“Oke, baik jika kamu pengen putus. Jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa pada wanita mu itu” ucapnya sambil melewati Ken
"Berani kamu sentuh dia sedikit saja, habis kamu!!" jati diri Kendra Alexander keluar.
Kejam dan bengis itulah ciri dari keluarga Alexander.
Kendra hanya bisa membiarkan wanita nya itu pergi berlalu begitu saja. Dia sedang kacau dengan hatinya. Hati yang sangat mencintai namun juga dihancurkan begitu hancurnya.
Kendra yang masih termenung dengan ucapan Lidia hanya bisa berpikir “bagaimana jika dia melukai istriku?”
“Pak Bos, apa kita sudah bisa pulang?” tanya Sekretaris Rey yang membuyarkan lamunan Kendra.
“Bagaimana nanti jika Lidia membuat Dera terluka Rey? Tolong awasi istriku, kalau bisa tambah jumlah bodyguard” ujar Ken yang sudah menganggap Dera sebagai istri sahnya. Istri sepenuhnya.
Di sebuah lahan kosong di pinggiran kota yang cukup luas dengan wilayah yang berdampingan dengan jalan raya, sangat strategis.
“ini adalah tempat pembangunan ruko selanjutnya Pak Bos. Tempat yang strategis dekat dengan pom bensin, rumah sakit, pasar dan sekolah. Dapat di pastikan pembangunan ruko akan berhasil dan sangat menguntungkan. Apalagi di tambah dengan kue dari Fallery bakery yang bisa kita ajak kerjasama Pak” Sekretaris Rey berusaha menjelaskan lokasi dan menawarkan untuk berkerjasama dnegan roti milik keluarga Dera.
Kendra yang berusah fokus dengan apa yang di sampaikan sekretarisnya dan mengesampingkan pikiran dan hatinya yang sedang hancur.
“Oke Rey, aku mau. Handle langsung ya. Jika ada perubaan atau perkembangan mengenai pembangunan atau pun konsep segera adakan meeting” ucap Ken sambil mengenakan kacamata hitamnya untuk mengurangi cahaya matahari yang sangat terik.
“baik Pak Bos” Sekretaris Rey mulai mencatat data yang ada di lapangan.
Rey juga curi-curi pandang mengenai kondisi Pak Bosnya. Dia berusaha mengerti bahwa hatinya tak sedang baik-baik saja
“Ken, kegiatan siang ini sudah selesai. kamu pulanglah dulu, semua kegiatan akan ku handle. Ceritakan semuanya pada Dera agar dia bisa berhati-hati dalam watku dekat ini” ujar Rey
Saat kondisi tertentu mungkin Rey akan biccara layaknya atasan dan bawahan namun ada di kondisi tertentu dia akan bicara antar sahabat.
“baiklah Rey, selesaikan semuanya. Pikiranku sangat kacau" Kendra berjalan menuju mobilnya.
…………………………………..
Rumah Kendra
Dera yang sedang menonton TV dengan asyiknya tak sadar jika ada Ken yang menghampirinya. Dia tak tahu harus memulai cerita darimana.
“Dek, aku salam ko gak di jawab sih.." ucap Ken pada Dera
"loh, maaf mas, aku terlalu fokus sama film ini loh mas, ikut gregetan aku" jawabnya
"Iya dek, gak apa-apa. Oh ya, aku mau ngomong sebentar bisa?” dia berusaha memulai pembicaraan
“Iya mas, bicara saja. Tumben pakai ijin segala biasanya juga asal nyrocos aja” jawab Dera
“aku serius dek, jangan bicara dulu sebelum aku selesai bicara ya.”
Dihembuskannya nafas dari mulut dengan keras. Dia menyiapkan posisi berhadapan dengan Dera
“Aku dan Lidia sudah putus. Dia berselingkuh dengan pria lain. Dan kamu pasti gak pernah menyangka laki-laki itu siapa? Dia adalah Bagas. Pacarmu saat SMA dan berarti juga Bagas juga telah menyelingkuhimu dek. Siang tadi aku dan Lidia bersepakat untuk menyudahi hubungan kami dan…..” Kendra berhenti
“dan apa mas?” jawab Dera dengan penasaran
“dan dia mengancam ku akan mencelakai mu” jawab Ken pelan
“Alah mas Ken tenang saja. Gak mungkin dia akan nekat mas. Aku kan sekarang punya bodyguard yang setia kemanapun aku pergi. Jadi mas Ken tenang aja yaa” jawab Dera menunjukkan wajah cerianya
“ko kamu gak takut sih dek?” pemikiran Dera benar-benar diluar kendali.
“untuk apa aku takut mas, udah lah mas Ken jangan takut. Kan aku juga punya mas Ken yang akan selalu melindungi istri kontraknya ini hehe.. ya kan”
“Dek, jangan gitu. Aku pengen hubungan kamu benar apa adanya. Aku ingin serius dengan pernikahan ini. Apa kamu keberatan dek?” seketika ucapan Ken membuat minumnya sambil tersedak.
“haa??” Dera benar-kaget apa yang disampaikan oleh Kendra.
“Iya, aku serius dek. Ga mungkin kita main-main dalam menjalin hubungan toh juga Mama Papa sudah pengen menggendong cucu
Uhuk uhukk
“Mas, kamu gak pengen itu kann??” tanyanya sembari melirik ke arah bawah.
“engga dek, aku gak akan ngelakuin itu tanpa seijinmu dulu” dengan bijaknya Kendra menjawab seperti itu
“Mas Ken gak papa kan ya? Maaf ya mas, aku belum siap dengan semua ini. Beri aku waktu mas” dengan mata berkaca-kaca, Dera tak menyangkan bahwa hasil perjodohannya benar-benar akan menadi seseorang kaki.
“iya dek. Udah yok sholat asar dulu”
“iya mas, ayok”
.
.
.
Mungkin aku belum memilikimu seutuhnya, tapi aku yakin waktu yang akn menjawabpenantianku ini. Karena waktu tau siapa yang lebih berjuang dan siapayang ingin melepaskan.