PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
episode #55



“Ya sayang. Apapun yang kamu mau pasti ku turuti” jawab Kendra dengan mengeluarkan black card miliknya untuk membayar baju yang dibeli Dera.


Setelah dari Mall, mereka menuju Caffe Amoor.



Tempat nongkrong sekaligus melepas penat dengan nuansa outdoor.


Kendra dan Dera memilih kursi dekat dengan live music.


Memang dia sengaja karena Dera menyukai hal seni termasuk music pop yang selalu dia dengarkan disaat menyusun tugas kuliah bahkan skripsinya.


“Mas, duduk disini saja ya. Jangan di belakang nanti gak asik” Dera merengek seperti anak kecil.


“Enak juga dibelakang. Nanti kan lebih leluasa” jawab Kendra.


“Pliss mas,, pliss” ucap Dera


Ini istriku kenapa jadi seperti bocah sih, biasanya juga gak kayak gini banget kalau ada pengennya. Batin Kendra.


Hampir malam hari, mataharipun sudah tak menampakkan diri.


Bagas yang ada di caffe itu juga, melihat keberadaan Kendra dan Dera.


Tunggu saja Kendra Alexander, akan ada kejutan untukmu.


Bagas sengaja berkompromi dengan pihak belakang panggung untuknya agar bisa bernyanyi di panggung.


Dia telah menyiapkan sebuah lagu yang akan dinyanyikan nanti.


Bagas memang memiliki suara yang bagus, karena dia pernah menjadi volis band saat SMA dulu, ketika masih pacaran dengan Dera.


Kendra yang sekilas melihat ada Bagas pun segera meminta Rey untuk menyusulnya di caffe kini.


“Rey kesini!” Kendra mengirimkan share loc untuk sekretarisnya.


“Baik Pak Bos”


Rey yang sebenarnya masih ada di kantor, meninggalkan segala pekerjaannya karena perintah dari kendra tak bisa diganggu gugat.


“Urusi klien dari Singapura dulu. Aku ada perintah dari Pak Bos Kendra” pesannya pada Nisa yang masih bergelut dengan laptopnya.


“Baru juga yang ini selesai, sudah dikasih kerjaan lagi. Huft dasar sekretaris Es Kutub!” jawab Nisa pelan namun juga di dengar oleh Rey.


Dia memang sengaja tak merespon apa yang dikatakan Nisa karena dia sudah buru-buru ke lokasi yang dikirimkan Kendra.


Rey bergegas ke parkiran mobil. Dia menggunakan mobil kantor.


Secepat mungkin dilanjukannya mobil itu.


Dia datang dengan rapinya berbeda dengan para tamu yang menggunakan baju santai.


Penyanyi cantik dengan suara indahnya membius para tamu caffe.


Lagu galau yang dibawakannya kini cocok untuk para sadboy dan sadgirl.


Dera yang tau lagu itu pun ikut bernyanyi. Dengan menghayatinya dia terkadang ikut memejamkan mata.


Kalau ini memang mau mu


Silahkan pergi


Peprgi menjauh dariku


Seharusnya ku tak mulai semua


Semua cerita antara kita


Yang kini tinggal kenangan


Refff


Akan ku buktikan bahwa ku bisa tanpamu


Kau memang tercipta bukan tuk bersamaku


Tapi ingatlah bahwa suatu hari nanti


Tak kan kau temukan pada yang lain


Yang sanagt mencintaimu


Lebih dari ku


Lagu dari andmes – Bisa tanpa mu. Ini membuat Dera hanyut pada petikan gitar dari sang penyanyi.


Kendra yang melihat istrinya bertingkah seperti itu membuatnya tersenyum.


Ternyata dunia kita berbeda ya. Kamu dengan jiwa muda mu yang menyukai lagu pop dan berpakaian modis.


Bersanding denganku yang jiwa pekerja dan bergelut dengan bisnis.


Tapi lucunya, kamu menjadi warna dihidupku dan mewarnai segala hariku kini.


Tetaplah bersamaku Dera Ananda. Sampai kapanpun.


Sampai di akhir lagu dan penyanyi pun turun.


Mungkin saja digantikan oleh penyanyi lain. Pikir Dera.


Ternyata…


Yang naik ke panggung adalah Bagas.


Rey yang sudah sampai di caffe itu mengetahui apa yang akan dilakukan Bagas. Karena dia sempat memergoki laki-laki itu bicara dengan salah satu pekerja disana.


Bagas yang menjadi pusat perhatian seluruh tamu.


Apalagi dengan parasnya yang tampan, tinggi, putih dan kekar membuat wanita-wanita terkesima.


Kendra dan Dera hanya bisa membelalakan matanya.


Bagas menyiapkan mic dan gitarnya.


“Lagu ini spesial untuk perempuan di depan sana, Dera Ananda. Ini lagu untukmu” seakan dia tak peduli dengan kehadiran Kendra di samping Dera.


Dera yang disebut namanya sudah gemeteran, apa yang akan direncanakan Bagas kali ini. Apalagi ditempat umum dan juga ada suami di sampingnya.


Kau menyiksaku disini


Dalam rasa bersalah yang kini


Membunuhku secara perlahan


Kau slalu menghindar dari


Aku yang selalu mencoa ungkapkan semua,


Lewat tatap mat aini


Ternyata maafmu tak pernah pantas untukku


Kau anggap ku taka da dan kau tak pernah mengenal dirimu


Reff:


Setidaknya diriku pernah berjuang


Meksi tak pernah ternilai di matamu


Setidaknya ku pernah menaanti,


Terkapar melawan sepi hatiku


Dan tak pernah bisa berhenti


Mencintaimu


Lagu yang dinyanyikan Band Last Child ini dinyanyikan Bagas dengan sangat baik.


Di tengah lagu Bagas mendekati Dera dan memberinya bunga mawar.


Kendra tak mungkin marah di depan banyak orang karena itu akan menghancurkan reputasinya.


Kendra membiarkan Dera untuk menerima bunga dari Bagas, mantannya.


Rey melihat kejadian di depannya hanya diam diri. Dia tidak melakukan apapun karena Kendra akan melakukan yang terbaik.


Bagas sengaja melakukan hal itu dihadapanku. Dia tahu seharusnya kalau aku juga ada di sini.


Tapi dia masih berani menyentuh milikku. Baiklah kalau itu yang dia mau.


Aku juga bisa menunjukkan kepada semua orang. Siapa Dera sebenarnya.


Di caffe itu memang banyak wartawan, karena memang Bagas sebagai anak pewaris tunggal dari perusahaan Papanya, yang memiliki paras yang menawan.


“Apa hubungan Tuan Bagas dengan Nona itu?”


“Bagaimana kalian bisa kenal?”


“Lantas siapa laki-laki tadi yang dekat dengan perempuan itu Tuan Bagas”


“Tolong jawab Tuan”


“Tuan Bagas”


Banyak pertanyaan dari wartawan membuat Bagas kualahan akan menjawab.


Dera yang mengetahui hal itu pun hanya diam saja melihat raut wajah Kendra yang mulai tak nyaman ada ditempat itu.


Dia merasa bersalah karena dialah yang mengajak Kendra kesini.


“Kami adalah teman baik, bukan begitu Nona Dera” tanya Bagas sambil menatap Dera dengan senyuman di bibirnya.


Dera hanya mengangguk dan balas tersenyum.


“Oh, jadi Namanya Dera”


“Apakah ada kemungkinan nanti anda berdua terlibat cinta?”


“Apakah Nona masih single?”


Kendra melihat dan mndengar dari kejauhan apa yang terjadi dengan istrinya tersebut.


“Rey, ayo kita datangi wanitaku. Siapkan konferensi pers nantinya jika memang dibutuhkan” ujar Kendra sambil berjalan ke arah Dera.


Kamu pikir aku akan berdiam diri saja melihatmu semakin mendekati milikku.


Dera adalah milikku.


Dan aku tidak suka berbagi dengan siapapun.


“Eh lihat, bukankah itu pimpinan Petra Corp? ujar salah seorang wartawan.


Beberapa wartawan lain yang sedang mewawancarai Dera pun menoleh ke arah datangnya suara.


.


.


.


puji


.


.


Ternyata memang benar kata orang, rasa kehilangan akan tumbuh ketika sudah tak lagi bersama. Apalagi ketika melihat dia yang kita cinta bersanding dengan yang lainnya.