PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
AKU AKAN MENEMUKANMU



Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.


Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini


Terima kasih sudah membaca ceritaku


Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹


Happy reading


🌹☺️


……………………………..


Kendra yang masih dengan emosinya yang membara. Dia duduk di kursi kebesarannya dengan menikmati segelas wine ditangannya.


Wajahnya yang datar dan dingin menatap perempuan yang telah di siksanya selama kurang lebih satu jam setengah.


Nurul, dengan badan yang telah mulai melemah, jatuh kelantai begitu saja.


Wajahnya dipenuhi dengan air mata karena harus merasakan campukan beberapa kali ditubuhnya. Tubuhnya tampak memar dan mengeluarkan darah karena cambukan yang kuat yang dilakukan oleh salah satu bodyguard Kenda.


“Sudah Pak Bos, Sudah. Kasihan anak saya, dia sudah kesakitan Pak. Gantikan saya saja, saya mohon” ucap Bi Tirna yang memohon pada Kendra. Namun tak sedikit pun Kendra beraksi.


“Ampun Pak Bos. Ampun” lirihnya pelan.


Nurul seakan tak sanggup untuk menopang berat badannya. Nurul ingin segera mengakhiri hidupnya daripada disiksa terus seperti ini.


Kendra seakan-akan membuatnya mati secara perlahan.


Sedangkan Rey, hanya diam terpaku di tempatnya. Tangannya ingin rasanya untuk menarik mundur Ibu Nurul dan menghentikan cambukan dari bodyguard Kendra.


Namun apalah daya, dia tak mempunyai hak.


Nurul berpikir mengenai ibunya karena dia pasti tak akan bisa bertahan hidup.


Bu, sudah bu. Jangan memohon lagi pada Kendra. Dia pasti sangatlah marah padaku karena ini memang kelalaian ku Bu. Maafkan Nurul bu, maaf.


Lamunannya langsung buyar ketika mendengar suara berat milik Kendra.


“Kenapa kau bisa lupa menutup pintu kamar itu. Apa kau memang sengaja agar istri ku tau, HA!!!”


Nurul menggeleng.


“Saya benar-benar tidak tau Pak. Saya lupa tidak menutupnya dan tidak mengetahui jika Nyonya Dera akan masuk ke dalam” lirihnya pelan.


Ctar.


“Arghhh!” jeritnya pilu.


Karena lagi dan lagi tubuhnya harus merasakan cambukan menyakitkan itu.


“Apa kau ingin rumah tanggaku hancur!!” bentak Kendra dengan suara menggelegar. Membuat maid dan para bodyguard lain hanya menunduk takut. Tidak ingin menyaksikan siksaan Nurul yang begitu menyakitkan.


Nurul menggelengkan kepalanya. Tangisnya semakin pecah begitu saja.


"Hiks, sakit Pak Bos." Nurul merintih kesakitan.


Ctar.


“Arghh!”


“Apa alasanmu Nurul!!!” Bentaknya.


Tubuhnya bangkit dari tempat duduknya. Dengan kasar langsung membantingnya gelas wine yang bernilai puluhan juta itu. Membuat maid dan bodyguard yang lain menegang ketakutan. Inilah Pak Bos sesungguhnya.


Sang pembunuh yang pernah menjelma dengan sikapnya yang halus ketika bersama Dera.


Nurul menggeleng pelan. Kesadarannya seakan mulai terenggut.


Ctar.


“Argh!”


Ya Allah, ambil nyawaku. Aku tak sanggup Ya Rabb. Ini menyakitkan sekali Ya Allah.


“Baiklah. Jika kau tak mau menjawab. Perlu kamu tau, Dera adalah milkku. Meskipun Dera marah padaku dan itu bersumber dari kelalaianmu. Tak apa. Tapi kau harus menerima balasan dari semuanya. TAU KAMU!!” ujarnya dengan sebuah seringai yang menakutkan.


Membuat tubuh Nurul menegang ketakutan. Begitupun juga maid dan bodyguard yang lain apalagi dengan Ibu Nurul. Ingin rasanya dia mengucapkan sumpah serapah untuk Pak Bosnya itu.


“Pertanyaan terkhir, apa kau menceritakan tentang Lidia ke istriku?” tanya Kendra dengan suara tegasnya. Menatap rendah kearah Nurul.


Nurul mengangguk pelan.


Seketika dia teringat kejadian dimana Dera memasuki kamar Lidia.


“Mbak Nurul” ucap Dera pertama kali memasuki kamar tersebut.


*Deg.


Nurul yang berada di dalam seketika kaget mengetahui Dera berjalan memasuki kamar Lidia.


Ingin rasanya dia mencegah, namun langkahnya semakin mendekati dan pandangannya semakin menguat dan meniti satu persatu protret kemesraan Kendra dan Dera*.


“Apa maksud semuanya ini Nurul? kenapa ini ada foto dari wanita yang sama?" beberapa detik Dera menahan napasnya. Dia benar-benar kaget.


“Nona, maaf. Ini adalah kamar Nona Lidia” jawab Nurul dengan memegang kain lap karena sedang membersihkan sebuah pigura.


Dera masih sibuk mengitari kamar tersebut. Melihat sebuah foto demi foto dan dia membuka laptop yang ada di meja tersebut*.


“*Mbak Nurul, jawab aku mbak”


Hening*.


"Mbak" ucap Dera lagi.


“E.. iya Nyonya. Ini kamar Nona Lidia. Ini ada semenjak Pak Bos Kendra menjalin kasih dengan Nona Lidia. Tepatnya 5 tahun yang lalu” jawab Nurul dengan ketakutan.


“Oh” hanya itu kata yang lolos dari mulut Dera. Entah jawaban apalagi yang seharusnya dia ucapkan setelah mengetahui sebuah kenyataan tentang sebuah kepahitan. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak.


“Tapi Nyonya jangan bilang Pak Bos Kendra ya. Saya takut Nyonya”


“Iya Nurul, baiklah”


Dera sekuat hati keluar dari kamar tersebut setelah mendengar suara dari adik iparnya yang telah memanggilnya.


“JAWAB!!” seketika Nurul kaget karena suara Kendra yang membuyarkan ingatannya tentang kejadian kala itu.


Nurul mengangguk pelan. Sontak saja hal itu sukses membuat iblis yang tertidur di tubuhnya terbangun. Aura menakutkan langsung sangat kental terasa.


Tiba-tiba suara ponselnya berdering.


Kring.


Kring.


Kring.


Sialan, siapa sih ganggu aja. Dia pun mengabaikan suara ponsel tersebut.


Kring


Kring


Ah, Alula ngapain sih telpon saat kayak gini. Kendra pun akhirnya mengambil ponsel nya diatas meja dan menjawab telpon dari adiknya.


“Halo. Ada apa” Alula yang mendengarpun seakan merasa ada sesuatu yang tidak beres jika sang kakak menjawab dengan suara ketus.


“Kak, jangan marah ya” ucap Lula sebelum menceritakan tentang Dera yang pergi dari rumah.


“Ada apa!!” jawab Kendra.


“Kak Dera kak. Kak Dera kabur. Tadi siang dia ijin untuk ke taman, tap…” belum selesai bicara Kendra sengaja mematikan telfon tersebut.


Dia langsung menatap Nurul dengan lekat.


“Kata terakhir yang ingin kau ucapkan!!” Kendra dengan suara menggelegar dan memegang pistol yang sempat dia letakkan.


“Iya Pak Bos. Maaf kan saya ya bu, ma..” ingin melanjutkan sebuah kata maaf, tembakan langsung melesat menembus dadanya.


Tubuhnya langsung jatuh tak berdaya. Nafasnya tersendat. Kedua bola matanya yang indah langsung tertutup.


Nurul telah tiada. Bi Tirna hanya mampu terdiam kaku. Tubuhnya membeku menyaksikan tubuh anaknya yang telah jatuh ke lantai dengan darah yang mulai mengalir.


Bi Tirna benar-benar kehilangan anak semata wayang di depan matanya sendiri.


Kendra dengan pandangan dinginnya menatap tubuh Nurul yang jatuh ke lantai.


“Bersihkan mayat itu. Aku tidak ingin ada bekas darah menjijikkan di lantai rumahku. Dan kau Rey, ikut aku sekarang” perintahnya pada maid.


Lantas Kendra berjalan menaiki mobil sport bersama Sekretaris Rey. Mereka akan mencari keberadaan Dera.


“Kita akan mencari keberadaan Dera. Dia pergi dari rumah” ucapnya dingin Ketika sedang mengendari mobil.


Rey kaget. Bagaimana bisa Dera pergi dari rumah, pasti ada masalah yang besar sehingga membuatnya kabur dari rumah.


“Kita akan cari kemana Pak Bos?" tanya Rey.


“Katanya terakhir Dera ijin ke taman kota”


Di tengah perjalanan, Rey teringat pada Mira. Siapa tau dia mengetahui keberadaan istri sang Pak Bos.


“Halo, Mira. Apa Dera sedang bersamamu?” tanya Rey yang kini Kendra mendengarnya ikut memperlambat laju mobilnya berharap istrinya sedang bersama sahabatnya.


“Gak Rey, bukankah dia rumah? Kan dia sedang hamil, mana mungkin dia bepergian tanpa ijin Kendra juga” jawab Mira dengan berbohong dengan Rey.


Maaf Rey, aku telah berbohong. Karena aku juga inging menyelamatkan sahabatku. Aku tidak tega melihat dia sedih apalagi dia kini sedang mengandung.


“Ya sudah. Kabari saja jika kau bertemu istriku” ucap Kendra karena ponsel Rey sempat direbut Kendra.


Ingatannya langsung berputar dengan kebersamaan Dera. Saat berjalan bersama, makan bersama, bercanda ataupun bermanja. Semuanya berputar indah di otaknya. Tapi setelah itu memori ingatannya berputar tentang kebersamaan dengan Lidia, mantan terindahnya.


“Sialan!!” umpatnya kasar.


Dipukulnya dengan keras kemudi mobilnya, Rey yang berada di sampingnya hanya memperhatikan Kendra.


“ARGHHH!!”


Dipukulnya beberapa kali kemudi itu. Seakan-akan rasa sakit di punggung tangannya tiada artinya.


Buliran kristal jatuh membasahi kedua matanya. Kendra menangis. Lagi dan lagi kendra harus kehilangan dua orang yang kini dicintainya yaitu istri dan calon anaknya.


Namun itu tak bertahan lama. Sebuah seringai tersungging di bibirnya.


“Aku akan membawamu pulang sayang dengan menggunakan tanganku sendiri. Akan ku cari dimana pun keberadaanmu. Aku akan menemukanmu. Kau milikku Dera”