
Kendra yang masih berada di kamar mandi dan Dera menyiapkan pakaian untuk suaminya kerja.
Jas warna hitam dengan warna dasi yang senada telah di gantung di tempat khusus.
Hampir 20 menit Kendra mandi, dan dengan sabarnya Dera menunggu hingga Kendra kembali.
“Kancingkan kemejaku”
Tanpa menjawab sepatah katapun Dera melakukan apa yang diperintah Kendra.
“pasangkan Dasiku”
Dera masih diam dan tetap melakukannya dengan baik.
"Ambilkan dasi yang lain"
Dera pun melangkah ke tempat ganti dan mencari dasi yang tepat untuk setelan jas nya Kendra.
Dibawanya dasi kupu-kupu hitam. Dipasangkan ke kerah Kendra.
Kendra yang lebih tinggi darinya, membuat Dera menjinjit memasangkan dasi ini.
Kendra yang merasa aneh dengan sikap Dera langsung membalasnya. Dia menjinjit menjadi jauh lebih tinggi.
Dera pun diam.
“Kenapa kau tak menjawab perkataanku!" ucapnya masih dengan posisi kaki menjinjit.
“Tapi aku kan melaksanakan perintahmu mas”
“Setidaknya tetap jawab, seperti ngomong sama tembok saja”
“Iya mas, Maaf. Sudah kembali lah ke posisi semula, aku jadi kesulitan memasangkan dasinya"
Deg
Kendra seketika menaikkan Dera di kursi kecil dekat nakas nya.
"Ah mas, lepasin, aku mau turun"
"Sudah, kamu disini saja. Pasangkan dasiku sampai selesai, nanti ku turunkan dirimu"
Tubuh Dera di kungkung oleh badan Kendra yang tinggi kekar itu.
Mau tak mau dia melanjutkan merapikan dasi yang disematkan di kerah suaminya.
"sudah mas, turunkan aku"
Kendra pun menurunkan Dera, hingga dia terbebas.
Semua kata-kata yang menyakiti hati Dera sering kali terdengar menyakitkan, namun dia berusaha untuk menerima semuanya karena memang konsekuensi perjodohan seperti ini, pikirnya.
Bagaimana ini, apa aku harus bertahan menikah dengannya? katanya kita udah gak nikah kontrak, tapi malah semenjak itu dia jadi dingin banget. Aku harus cari ide nih.
"Woy.. mikir apa"
Kendra sengaja mengageti istrinya yang tiba-tiba melamun.
"Eh iya mas. Gak apa-apa ko,. Ayo turun mas, sudah di masakin sama Bi Tirna"
Kendra dan Dera turun bersamaan. Tumben-tumbennya Kendra mau nungguin istrinya.
Seperti biasa, Lula sudah duduk di tempatnya.
"Ayo makan kak, aku udah lapar"
Kendra yang tak menjawab, segera duduk dan sarapan yang telah di siapkan istrinya.
Bisa kali ya aku tanya sama sekretaris Rey nanti. Semakin banyak yang dia gak suka dari aku, semakin besar pula peluangnya untuk menceraikanku haha.
Dan Aku harus membuat Kendra menceraikanku dengan baik-baik. Bukan karena dia marah padaku. Yang penting tidak membuat harga diri keluargaku jatuh.
Apalagi dengan Ayah dan Ibu yang memberikan kepercayaan pada kami sepenuhnya. Toh juga keluarga Kendra sangat baik padaku.
*Sayangnya dia saya yang sangat dingin. Tapi memang benar, dia akhir-akhir ini sudah gila, aku tidak tau lagi isi kepalanya. Kadang ketawa tiba-tiba, kadang senyum-senyum juga.
Ah pusing, aku juga belum bisa menemukan alasan mengapa dia menikah denganku. Ditambah sekretaris yang sangat pelit informasi*.
Setelah sarapan selesai, Kendra berjalan menuju mobilnya sedangkan Sekretaris Rey jalan menuju ruang kerja Kendra.
Dera berjalan mendekatinya untuk mencari informasi.
“Sekretaris Rey, apa aku boleh bertanya?”
“Tanya apa Nyonya”
“Apa alasan Mas Kendra memilih menikah dengan saya?” Semoga saja kali ini dijawab.
“Tidak”
“Tidak mungkin anda tidak tau” Dera memperjelas lagi.
“Saya tidak tahu Nyonya”
“Lalu, apa Mas Kendra pernah tidur dengan Nona Lidia sewaktu pacaran?”
“Tidak”
“TOLONG… bisa tidak jawab yang agak Panjang begitu, jangan pelit ngomong"
Sekretaris Rey diam, tidak menyanggah apapun karena baginya itulah jawaban yang tepat dan memang sudah sifatnya Sekretaris Rey seperti itu.
Sabar Dera,, sabar. Semua ini demi caramu lepas dari laki-laki dingin itu. Yok, coba sekali lagi. Bisa, harus bisa.
“Wanita seperti apa yang disukai Mas Kendra?”
“Apa Nyonya ingin berubah seperti tipe Pak Bos Kendra?”
Rey seketika menatap mata Dera, seketika dirinya kaget dan berusaha membalikkan badan.
ya gak lah Rey, justru aku akan menjadi Wanita yang menyebalkan agar Kendra segera menceraikanku. Aku udah lelah Rey, sikapnya yang terkadang berubah baik, kadang berubah seperti monster.
“Seperti Nona Lidia kah?” tambah Dera.
“Apa anda cemburu?” jawabnya.
Astaga, ya gak lah Rey. Mana juga aku cemburu. Boro-boro suka sama Kendra. Yang ada malah meradang terus.
“Tidak. Kenapa harus cemburu?”
Sekretaris Rey hanya bisa diam mendengar apa yang diucapkan Nyonya mudanya.
Ingin rasanya aku mencekik sekretaris ini. Bisa-bisanya jawab irit banget gitu.
Sekretaris Rey pergi ke arah mobil karena jam sudah menunjukkan jam 07.00. Sengaja dia berangkat pagi karena ada rapat di kantornya.
Tapi seingatku memang Lidia lah cinta pertama Kendra. Aku harus menghadirkan dia kembali agar Kendra bisa melepaskanku haha.
“Kak Der, kenapa ko ketawa sendiri?
Dera gelagapan, tersadar dia sedang ada dimana.
Ya, setelah suaminya berangkat kerja, Dera menghabiskan waktu di ruang tengah.
“Kak Dera kenapa ko ketawa?” Alula mengulangi ucapannya.
“Oh iya dek, ini loh tadi kakak baca novel lucu banget masih keinget” Dera berusaha membelokkan pembicaraan.
“Ah yang benar saja”
“Benar atuh neng geullis” jawab Dera dengan mencubit dagu Lula.
“Boleh Lula tanya ka?”
“Tanya apa La?”
“Kak Dera sayang sama kak kendra gak?”
“Kenapa tanya begitu?”
“Karena aku lihat hubungan kalian tak seperti Mama Papa yang selalu saja romantis. Hubungan MaPa, hampir tidak pernah berjauhan sedikitpun”
Aku harus jawab apa ini. Gak mungkin aku jawab jujur kalau aku dan Kendra masih seperti dulu. Kendra yang masih cuek denganku dan aku yang masih saja nurut apa yang dikatakan Kendra.
“Hubungan kami sangat baik dek, oh ya Kakak mau tanya apa kamu tau sesuatu tentang Lidia?”
“Tidak kak, yang aku tau Kak Lidia dulu kerja di perusahaan Saham di Pusat Kota. Mengenai nama perusahaannya kurang tau ka. Kenapa? tumben tanya soal Lidia”
Tanpa disadari ada Fira yang memperhatikan kedua Wanita ini. Entah itu yang akan dilaporkan ke Pak Bos nya atau tidak yang pasti dia tau ada informasi yang penting buat Pak Bosnya.
“Gak, gak apa-apa ko”
“Ya sudah, secepatnya kasih Lula ponakan yang gemoy dong kak. Biar Lula ada temennya. Kesepian terus bawaannya” jawab Lula.
.
.
.
Cinta bisa tumbuh
Ketika ada dua sejoli yang sama-sama “saling”
Saling menghargai
Saling menyayangi
Saling ada
Saling mengasihi
Berbeda denganku yang hanya bisa melakukan
Tanpa bisa menerima
Mungkin memang ini bagian dari hidupku
Berada dalam sebuah lingkaran
Tanpa bisa keluar
Berada dalam sebuah jeruji yang menyakitkan
Hanya bisa merasakan
..
.
.
.
‘puji
Hello gaes,, bantu di up ya.. like, comen juga biar aku tetap semangat up tiap hari. Terima kasih