
Walaupun memang benar apa yang di katakan, mahasiswa magang biasanya disuruh-suruh, ada yang minta bantuan untuk fotocopy, membuatkan kopi, dan banyak lagi.
“Udah ah, kebiasaan! jawab terus kalau diajak ngomong”
Hemm. Salah lagi. Kalau aku diam salah, kalau aku jawabpun juga salah. Terus aku harus apa Tuhan.. Dera frustasi.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
“Pokoknya gunakan kartu ini dengan baik. Orang tua mu sepenuhnya sudah menyerahkan segala kebutuhan uang kamu perlukan selain itu juga Ini sudah tanggungjawabku sebagai suamimu”
Suami apaan, akhir-akhir ini juga kamu sering nyuruh-nyuruh, sikapmu juga terkadang aneh.
Kendra mengibaskan tangannya, melepaskan rambut Dera. Bibir Kendra tersenyum tipis saat berjalan keluar kamar, sementara Dera mengikutinya dari belakang. terrlihat sangat geram.
……………………………….
“Kak Dera, aku pamit dulu ya mau ke kampus. Kalau Kakak kesepian minta saja Kak Mira untuk main kesini” Alula pamit
“Oke deh. Nanti pulang jam berapa?"
"Mungkin sore kak, soalnya mau jalan juga sama temen" jawabnya dengan membawa sebuah tas dan laptop.
"Ya udah, hati-hati dijalan ya.. Awas jangan pacaran dulu. Nanti ketahuan kakakmu bisa dicincang kamu hehe”
“Oke deh Kak, bye kak” Alula mencium pipi Dera sebelum berpamitan.
Oh ya kenapa aku gak kepikiran sama sekali dengan Mira. Akhir-akhir ini aku terlalu hanyut dalam belenggu rumah tangga ini. Coba deh ku tanya dulu, siapa tau mau kesini.
Dera : Hello Mira cantik, sibuk gak nih?
Mira : Gak ko tuan putri. Sibuk banget ya akhir-akhir ini aku kirim pesan gak pernah di balas.
Dera : Bukan begitu, karena memang jarang pegang ponsel. Oh ya, kesini dong, main..
Mira : Memang kamu gak magang?
Dera : (oh ya dia kan gak tau kalau tempat ku magang adalah perusahaan milik Kendra)
“Bagaimana aku bisa magang, sedangkan Kendra melarangku untuk kesana”
Mira :Ha? kok bisa?
Dera: Iya bisa lah hehe
Mira: Eits jangan bilang kalau Kendra adalah pemilik Petra Corp.
Dera : Iya mir. Cerdas sekali. 100 buat kamu, si jomblo HQQ haha”
Mira : Ahaha, awas ya kamu. Oke deh, aku nanti kesana, agak siang ya
Dera : Oke Mira
Percakapan mereka sampai disitu hingga…
“Pak Bos, hari ini ada teman Nona Mira yang akan singgah ke rumah. Nyonya Mira memintanya untuk main kesana”
Kendra yang tadinya fokus dengan setumpuk berkas yang harus di teliti, akhirnya beralih pandang pada Sekretaris Rey.
Ya, benar. Ponsel Dera di sadap olehnya.
“Awasi terus dia. Pinta Fira untuk selalu stand by di sekitar mereka”
“Baik Pak Bos”
Kendra memang tak tinggal diam, dia melakukan pengawasan pada Dera untuk menjamin keselamatannya. Mungkin bisa hari ini atau besok bahkan lusa akan ada orang suruhan untuk menyakiti istrinya.
“Cari tahu informasi tentang si Mira itu dan mulai kapan mereka mulai berteman”
“Baik Pak Bos”
Rey melangkah pergi menuju ruangannya.
Dia segera melaksanakan perintah Kendra.
………………………………
Mobil warna putih itu memasuki kawasan rumah elit Kendra. Namun di hadang oleh Pak Satpam karena memang keamanan rumah ini diperketat semenjak ada mobil yang mengikuti sang tuan rumah.
“Pak, ijin masuk. Saya temannya Nona Dera”
“Maaf Nona, apakah ada bukti bahwa kalian berteman?"
Mau masuk rumah aja begini amat. Udah kayak masuk di istana presiden deh.
"Ini pak" Mira menunjukkan sebuah foto yang kecil yang di simpan di mobilnya.
"Apakah Nona sudah janjian dengan Nyonya Dera,?
Cuma mau ketemu temenku aja segini ribetnya. Pengen banget ngilang bim salabim deh kayak gini ceritanya.
Mira mulai geram dengan keamanan yang begitu ketat.
“Saya sudah janjian sama Nona Dera Pak. Sebentar kalau tidak percaya. Saya tunjukkan percakapan di chat”
“Ini pak. Bagaimana apa kurang percaya”
“Ya Nona, silahkan masuk”
Huhh kenapa gak dari tadi sih. Satpam gagah, ganteng gitu ko suuzon sama tamu. Emang tampang aku seperti mafia yang menyamar jadi kalem apa ya..
Hampir mendekati pintu rumah Kendra, ada Pak Dirga sebagai orang yang menjaga di depan rumah.
Dilihatnya Mira dari bawah hingga atas, di scan dengan menggunakan Metal Detector Garret yang biasanya untuk mendeteksi ada tidaknya senjata tajam.
Astaga apa lagi ini, masa iya aku mau mencelakai temanku sendiri. Oh Tuhan, begitu ribetnya hanya masuk rumah saja.
“Sudah pak? Aman kan saya tidak membawa apapun yang membahayakan pak”
“Iya Nona, silahkan masuk. Nona Dera telah menunggu.
Mira pun masuk ke rumah Kendra dengan memberikan salam.
“Assalamualaikum Dera”
“Waalaikumsalam Mira. Kangen banget deh. Hampir 2 minggu kita gak ketemu”
Mereka melepaskan kerinduan dengan berpelukan.
Fira yang dari tadi melihat Nyonya Muda nya berpelukan segera berdehem.
Ehem…eehem.. eheeeeemmmm..
Semakin keras, keras dan keras sekali.
Dera segera sadar dengan kode dari Fira.
“Apaan sih Fir, cewek sama cewek gak apa-apa. Mas Kendra kan juga sudah tau tentang kami. Ya kan Mir”
“Iya. Ini siapa?” Mira menunjuk ke arah Fira yang berdiri tak jauh dari Dera.
“Oh ya, kenalkan Mir. Ini Fira, dia dipekerjakan Mas Kendra untuk menjadi bodyguard ku”
“salam kenal, saya Mira. Teman kuliah Dera” Mira bersalaman dengan Fira dan memberikan senyum ramahnya.
“Sejak kapan temen ku hidup penuh dengan pengawalan ketat. Dari gerbang depan tadi ya, pak satpam udah menghadang, gak percaya kalau aku ini temenmu? Coba deh pikir?” ucap Mira menyampaikan rasa kesalnya pada Dera.
"Tidak sampai situ saja, di depan pintu nih, mau masuk aku di scan pakai alat detektor benda tajam. Ya masak aku main kesini bawa benda tajam, coba deh pikir" Mira menggebu-gebu menjelaskan pada Dera.
“Entahlah, aku hanya mengikuti rencananya saja.. duduk lah Mir. Ini diminum dulu. Atau mau cemilan, ini ku buka” Dera menjelaskan pada Mira sembari membuka toples yang ada di depannya.
Mira untuk pertama kalinya duduk di kursi mewah ini. Karena biasanya dia hanya mengantar Dera pulang tanpa mau untuk singgah.
Rumah megah bak istana perpaduan kondep Amerika dan Inggris membuatnya terpana pada tiap sudutnya.
Beruntung banget Dera.
“Ada info apa nih di grup kelas? Aku jarang buka ponsel soalnya”
“Eh ya kamu tau gak, minggu depan kita akan ada makrab loh. Mau ikut gak?”
“Nanti tanya Mas Kendra dulu deh. Nanti ku kabari”
Ngobrol.
Ngobrol.
Ngobrol.
Gak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore.
“Der, aku pulang dulu ya. Gak siap kalau ketemu sama suamimu. Oh ya, nanti secepatnya kasih kabar soal makrab”
“Oke cantik. Hati-hati di jalan”
.
.
.
Caramu mencintaiku mungkin berbeda dengan yang lain. Dengan diam mu mungkin itu lah cara menunjukkan sebuah rasa sayang yang tanpa bisa ku mengerti.
.
.
.
Puji
.
.
Hello.. Salam bahagia dari hati yang sedang berada di proses healing untuk melupa🥀