PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
episode #80



“Bunda, Dera pamit pulang dulu ya Ma.. besok kalau Mas Kendra ada waktu luang, kami akan main kesini lagi” ucap Dera berpamitan dengan Bundanya.


“Iya Nak, gak apa-apa. Toh juga bisa kan Bunda dan Ayah main ke rumah Nak Kendra” jawab Lestari dengan membelai kepala anak semata wayangnya tersebut.


Sementara beliau teringat sesuatu, dan mengambil sebuah bingkisan.


“Oh ya Nak ini ada cake redvelvet kesukaan kamu dan dessert rasa vanila kesukaan Dera. Juga ada banyak lagi, ini dibawa ya" Lestari membawakan beberapa kue yang telah dipersiapkan sebagai oleh-oleh untuk sang anak dan menantunya.


“Iya Bun, terima kasih ya. Malah ngrepotin bunda nih ceritanya. Kalau Bunda dan Ayah kangen Dera, kerumah kami saja.. pintu kami selalu terbuka untuk kalian..


Kami pamit ya Bun, Yah. Assaalamualaikum” Kendra sambil bersalaman.


"Waalaikumsalam hati-hati Nak. Jaga istrimu jangan sampai kenapa-kenapa ya, itu aset berharga ayah” ucap Burhan.


"Siap Ayah" Kendra mengacungkan jempol. Sedangkan Dera memeluk Ayah dan Bunda bersamaan.


Mobil keluar dari gerbang dan melaju ke arah pulang dengan perlahan.


Di tengah perjalanan, Dera hanya bersandar di pinggir di kursi mobil. Sepanjang jalan dia melihat banyak penjual makanan yang berjejer rapi di pinggir trotoar.


Dulu sebelum dia menikah dengan Kendra, pasti dia membeli makanan tersebut, misalnya saja Cimol dan cilok yang menjadi favoritnya.


Tapi kali ini, setelah mengelus perutnya tiba-tiba dia kepikiran ingin makan burger.


Dera bangun dan meminta Kendra untuk mencari penjual burger. Bukan yang ada di tempat mewah melainkan di Burger di pinggir jalan.


“Mas, aku mau burger, tapi mau nya beli di tempat food court gitu" ucap Dera pada Kendra yang tengah memainkan rambut panjang Dera.


Sontak hal itu membuat Kendra kaget karena dia tidak pernah membeli makanan food court, apalagi ini beli burger?? apa enak? higenis gak? kalau gak bersih? aman untuk baby nya gak? Apa ini yang namanya nyidam, aneh-aneh aja mau nya. Banyak pertanyaan di kepala Kendra.


“Nah, kenapa begitu? Kenapa gak di tempat biasa saja Dek?? belum tentu tempatnya bersih. Siapa tau bahannya gak berkualitas, dagingnya pakai campuran tepung dan daging, dan aman gak untuk anak kita disini?" jawab Kendra dengan segala khawatiran yang ada.


Haduh, kambuh lagi nih penyakit mas Kendra. Aman mas, aman.. Toh ini juga baru sekali mas, gak tiap hari. Kenapa rasanya ingin burger sekali ya. Apa ini yang namanya nyidam?


“Pengennya di situ mas. Sudah lama rasanya Dera gak pernah beli jajan di pinggir jalan semenjak menikah dengan Mas Kendra. Jadi kangen gitu mas dengan jajan begituan. Enak ko mas, bersih, coba deh, nanti mas Kendra lihat dulu tempatnya dan cobain rasanya gak kalah enak dengan yang ada di Mall Mall" Dera menunjuk salah satu food court yang ada di taman kota.


Kendra melajukan mobil ke tempat penjual burger yang Dera tunjuk. Kini dia menepikan mobilnya dan turun untuk mengantri.


Ada tiga orang lagi yang belum di layani sang pembeli, jadi dia harus dengan sabar menunggu antrian. Mata Kendra melihat setiap sudut tempat jualan sang penjual. Bersih. Itulah yang di lihat. Jadi dia tenang, pasti aman untuk sang baby.


Sampai tiba giliran Kendra, dia memesan dua burger untuk Dera. Takutnya nanti istri nya merasa kurang, jadi dia mencari jalan aman agar tak diminta beli lagi.


"Mang, saya tinggal ya. Nanti kesini lagi"


Penjual dengan telaten melayani Kendra. Dia pun kembali ke mobil karena cuaca yang kini terasa terik.


Hampir 10 menit, Kendra pun kembali ke food court.


“Ini mas, burgernya. 30 ribu pak” ucap sang pedagang.


Kendra mengeluarkan uang 100 ribu.


“30ribu ya, kembaliannya ambil saja pak”


“Wah terima kasih pak” ucap sang penjual.


Kini Kendra menyusul sang istri yang ada di sebuah kursi di tengah taman, mereka duduk di bawah pohon rindang.


Dia memberikan burger pada sang istri.


“Udah, buat kamu aja. Sengaja aku beli dua karena nanti kalau kamu pengen lagi bisa makan lagi.Aku masih kenyang tadi sayang”


Dera melahap burger yang ada di tangannya. “Hemm enak loh, gak pengen nih mas, yakin” ucap Dera dengan menggoda Kendra.


“Ya sudah habiskan saja” ucap Kendra.


“Hem mas, ini a’ a’, enak loh, Cobain dulu” Dera menyodorkan burger pada Kendra agar dia mau juga untuk makan.


"Gak Dek..masih kenyang", Dera tau Kendra hanya mencari alasan saja karena takut jika nanti dia sakit perut jika memakan makanan sembarangan.


"Pliss, nanti kalau ada apa-apa kan tinggal telpon bodyguard Mas Kendra. Itu mereka stand by disana" jawab Dera dengan menunjuk dua bodyguard Kendra yang setia menunggunya tak jauh dari mereka.


Kendra akhirnya melahap burger dari gigitan istrinya.


Tanpa terasa sebuah romantisme itu pun muncul.


Kendra mengelap sedikit saus yang ada di bibir Dera.


“Makan ko sampai berantakan gini sih dek” jemarinya menyentuh bibir sang istri. Dera hanya terpana melihat begitu tampannya suami yang dimilikinya ini.


Kendra menemani sang istri hingga burgernya pun habis. Dan satunya lagi dibawa pulang karena perut Dera sudah kenyang.


“Mas, ini mau lagi gak?” ujar Dera.


“Sudah sayang, buat kamu saja. Oh ya, hari ini kita ada fitting baju untuk wisudamu, 2 hari lagi lho ya”


“Oh ya mas, aku hampir saja lupa. Untung saja Mas Kendra mengingatkan" ucap Dera.


“Ko bisa lupa itu kan acara paling di impikan semua mahasiswi Sayang"


“Tapi tadi pagi Dera sempat ingat ko Mas, cuma lupa saja kalau hari ini ada fitting baju. Udah yuk mas, pulang.. Burgernya udah habis dan kita capcusss lanjut pergi fitting bajuuu. Lets go” ucapnya dengan memberikan tanda jempol.


Mobil melaju ke tempat butik, sama persis dengan tempat ketika mereka fitting baju untuk pernikahan.


Memang butik ini adalah langganan keluarga Kendra, sehingga Dera mau tak mau harus mengikuti.


“Apa ada yang saya bantu Nona, Tuan?”ucap sang karyawan butik.


“Sebentar ya mbak, saya mau konsultasi ke suami saya dulu. Mas Kendra maunya baju yang kutu baru atau yang dress gitu?” Dera meminta pertimbangan sang suami sebelum fitting nanti.


“Apa aja yang kamu kenakan pasti akan cantik sayang”


Emm, awas saja kalau nanti aku pilih baju yang ku sukai malah kau tolak dan suruh ganti lagi mas.


“Mbak, saya cari untuk wisuda mbak” Dera memberikan tema agar karyawan butik memberikan referensi bajunya.


Ada 2 karyawan yang dengan telaten memberikan pilihan pada Dera, baju A terlalu terang, baju B terlalu glamor, jadi dia memutuskan untuk memilih baju C yang elegan namun juga cantik jika di kenakan.


Kendra yang melihat sang istri mengenakan dress yang dikenakan kini merasa muda lagi. Dia teringat masa saat wisuda dulu, namun sayangnya itu saat dia masih berpacaran dengan Lidia.


Lagi-lagi ingatan itu kembali.


Cepat-cepat dia membunuh kenangan daripada bersemayam terus di pikirannya. Dia kembali fokus pada Dera, memang cantik istrinya jadi tak heran jika mantan Dera masih suka mengganggu istrinya itu.


“Sudah itu bagus, cantik” ucapnya.


Dera akhirnya memilih dress yang disukai sang suami dan membungkusnya. Begitu pun Kendra, dia tak banyak pilih. Yang penting setelan jas yang warnanya senada dengan dress yang dikenakan Dera saat wisuda. Biar couple goals gitu hehe.