
Sementara di kamar Garcia, dia berbaring di ranjang nya dan sibuk dengan pikirannya. Dia mengingat awal pertemuan nya dengan Bryant di alun-alun kota lalu arena balap dan kontrak kerjasama. Kebetulan yang membawa nya masuk dalam perasaan aneh yang di miliki nya sekarang.
“Kebetulan macam apa ini” Ucap Garcia bermonolog
“Ah sudahlah aku tidak peduli, sebaiknya nya aku mandi” Ucap Garcia lalu beranjak dari tidur nya
Setelah setengah jam lama nya akhirnya dia keluar dengan pakaian yang sudah lengkap. Dia berjalan ke arah nakas untuk mengambil ponsel nya.
Dia duduk di sofa kamar nya sambil dan membuka laptop untuk mengecek laporan perusahaan. Dia bekerja hingga 2 Jam lama nya dan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamar.
Saat ini dia berjalan ke kamar yang ada di sebelah nya untuk melihat apa laki-laki yang melindungi nya tadi sudah bangun. Saat sampai di kamar dia melihat Bryant baru membuka mata nya dan melihat ke arah Garcia.
“Bagaimana keadaan mu?” Tanya Garcia yang berdiri di samping ranjang
“Sudah cukup baik” Ucap Bryant yang mencoba untuk duduk
“Tidur saja” Ucap Garcia yang mencegah Bryant untuk duduk
“Lainkali jangan menangisi ku seperti tadi, itu lebih menyakitkan dari luka tembak ini” Ucap Bryant
“Siapa juga yang menangis” Ucap Garcia
“Wahh apa anda menderita amnesia nona?” Ucap Bryant sambil tersenyum mengejek pada Garcia
“Lainkali jangan sok jadi jagoan” Ucap kesal Garcia
“Lagi-lagi kamu bilang seperti ini” Gumam Bryant yang terdengar samar di telinga Garcia
“Apa?” Tanya Garcia
“Tidak ada”
“Akan ku buatkan bubur, jangan bergerak sedikit pun” Ucap Garcia
“Sesuai perintah mu nona, tapi bolehkah ambilkan ponsel ku? Aku ingin mengecek sesuatu” Ucap Bryant
“Tidak, bukankah sudah ku bilang jangan bergerak sedikit pun” Ucap Garcia
“Baiklah-baiklah”
Setelah mendengar ucapan Bryant dia langsung pergi dari kamar dan langsung menuju ke dapur. Saat ini dia sedang sibuk menyiapkan bubur untuk Bryant.
“Lagi apa Ci?” Tanya Divna yang baru saja tiba di dapur
“Buat bubur”
“Wahh buat siapa nih” Tanya Divna sambil mengambil sendok untuk mencicipi bubur yang hampir matang itu
“Lu mau apa?” Tanya Garcia mencekal tangan Divna
“Mau icip dikit doang” Jawab Divna
“Gaboleh, ntar kurang” Ucap Garcia
“Yaelah cuma dikit loh” Ucap Divna
Garcia tak memperdulikan ucapan Divna dan malah menuangkan bubur itu ke dalam mangkok.
“Lumayan lah” Ucap Divna menuangkan bubur sisah itu ke dalam mangkok lain
Sementara di kamar Bryant, dia sedang tidur sambil menatap langit-langit kamar hingga akhirnya Garcia datang membawa sebuah mangkok dengan aroma yang sangat enak.
“Makan” Ucap Garcia memberikan nampan itu pada Bryant
“Suapin lah, saya lagi sakit loh” Ucap Bryant
“Yang sakit itu bahu anda, bukan tangan anda” Ucap Garcia datar
“Tapi badan saya lemes semua nya” Ucap Bryant yang terus mencari akal agar Garcia mau menyuapi nya
“Mangkanya gausah sok jadi jagoan” Ucap Garcia duduk lalu menaruh nampan itu di nakas
Garcia langsung membantu Bryant agar bisa duduk dan memudahkan untuk makan. Setelah membantu Bryant untuk duduk, Garcia langsung mengambil mangkok dan mengaduk bubur dengan sendok lalu menyuapkan nya pada Bryant.
“Buka mulut mu” Ucap Garcia
Bryant tersenyum dan dengan patuh membuka mulut nya. Garcia dengan telaten menyuapi Bryant hingga bubur itu tersisa sedikit. Momen ini di hiasi tertawa Bryant ketika melihat wajah kesal Garcia ketika dia terus menggoda Garcia. Tanpa mereka sadari ada 2 orang yang memperhatikan mereka di ambang pintu.
“Gua gak pernah melihat Bryant semanja ini” Ucap Samuel
“Gua juga gak pernah liat Garcia se care ini sama orang asing” Ucap Divna
“Apa kita harus pergi?” Tanya Samuel
“Tidak, ayo masuk!” Jawab Divna
“Bagaimana keadaan anda tuan Bryant?” Tanya Divna
“Sudah cukup baik nona” Jawab Bryant
“Apa kita harus pulang bos?” Tanya Samuel yang melihat Bryant sudah cukup kuat untuk pergi
Bagi Samuel itu hanya luka kecil yang di alami oleh bos nya dan pastinya dia sudah punya tenaga yang banyak untuk pergi.
“Tidak! Dia akan di rawat di sini beberapa hari kedepan sampai dia pulih” Ucap Garcia tegas menolak ucapan Samuel
Mendengar ucapan Garcia semua mata tertuju pada Garcia dengan bingung.
“Saya melakukan ini sebagai bentuk terimakasih” Ucap Garcia
“Nona Garcia memang benar, lagian saya masih lemas untuk pergi sekarang” Ucap Bryant berakting
“Akting mu buruk sekali Bry” Batin Samuel yang mengetahui niat Bryant untuk tinggal lebih lama
“Baiklah jika itu mau mu bos” Ucap Samuel
.
.
.
Hai guys... Gimana Hari ini? Happy or not?