My Mafia Girl

My Mafia Girl
Episode 1



Di pagi hari di suatu rumah yang cukup besar terlihat seorang gadis yang baru saja bangun dari tidur nya. Ia pun segera beranjak dari tidur nya dan segera pergi mandi.


Setelah beberapa menit ia pun keluar dari kamar mandi dan mulai memilih baju yang ada di lemari berhubung ini hari minggu ia pun memutuskan untuk pergi sebuah tempat.


“Ke sana aja kali ya” Pikir nya


“Oke kesana aja deh bosen di rumah” Jawab nya sendiri


Setelah selesai dengan pikirannya ia pun pergi keluar dari kamar nya dan mulai menuruni tangga di pertengahan tangga ia di hentikan oleh kakak nya.


“Mau kemana dek” Tanya Louis


menghentikan langkah Garcia.


“Pergi bentar” Jawab nya dengan datar


“Mau kakak temenin?” Usul Louis


“Gak usah” Jawab nya dan langsung pergi meninggalkan Louis.


“Maafin kakak dek” Ucap Louis sedih ketika melihat Keira pergi meninggalkan nya.


Ketika ia sampai di garasi dia pun langsung masuk mobil nya dan meninggalkan rumah nya. Namun di tengah-tengah jalan dia menepikan mobil nya dan mengatakan sesuatu.


“Maafin aku kak, aku masih belum bisa ngelupain kepergian mommy sama daddy.” Ucap nya sedih


Dia pun mengingatkan semua kenangan nya bersama keluarga nya yang di penuhi tawa dan canda sehingga membuat nya meneteskan air mata nya.


“Gak, Gue gak boleh nangis ini bukan saat nya untuk nangis” Ucap nya menghapus air matanya.


Setelah nya dia pun langsung melajukan mobil nya dengan gas penuh untuk menuju ke suatu tempat. Setelah beberapa menit ia pun sampai di tempat yang dia tuju yakni sebuah daerah kosong yang tidak pernah di kunjungi oleh manusia lain.


Dia masih melajukan mobil nya hingga tiba di sebuah tanah yang luas tetapi tidak terlihat 1 pun bangunan yang ada di situ.


“Black, nyalakan sistem mansion” Ucap nya pada sistem yang ada di mobil nya


“Baik Queen” Ucap sisitem black


Dia pun segera memarkir kan mobil nya di garasi khusus yang di tempati oleh para petinggi di sana. Setelah selesai memarkir mobil nya dia pun keluar dan dia melihat sebuah mobil yang di kenal nya ada di sana.


“Udah di sini aja tuh anak” Ucap nya ketika melihat mobil berwarna merah.


Setelah memarkirkan mobil nya ia pergi masuk ke dalam mansion tersebut. Ketika ia mulai memasuki mansion itu banyak orang yang melihatnya langsung menundukkan kepalanya dan memberinya salam. Sedangkan, Garcia ia hanya menganggukan kepalanya dan langsung pergi menuju lift ke lantai 4.


Lantai 4 adalah lantai yang khusus di gunakan oleh mereka . Garcia, Divna, Arya, Fadil, Randy, Ardi, dan Roy. Tidak ada anak buah Garcia yang berani masuk ke lantai itu tanpa perintah dari Garcia sendiri. Dan yang berani ke lantai itu hanya para petinggi dan penghuni lantai itu sendiri.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu lift pun terbuka dan Garcia langsung melangkah kan kaki nya menuju sebuah kamar seseorang yang tak lain adalah Divna.


“Kak” Panggil Garcia sambil mengetuk pintu ketika sudah sampai di depan di depan kamar Divna.


Klek..


“Cia? Ada apa?” Tanya Divna ketika sudah membukakan pintu.


“Gak ada sih” Ucap nya datar dan langsung masuk ke kamar nya Divna dan duduk di kasur empuk milik Divna.


“Tuh anak main masuk-masuk aja belom di suruh juga” Ucap Divna yang masih di depan pintu nya.


Dia pun segera berbalik dan masuk ke dalam kamar nya menyusuk Garcia yang duduk manis di kasur dan memainkan hp nya.


“Kak, gimana yang gua minta udah dapet? Tanya Garcia ketika melihat Divna duduk bersandar di kasur nya.


“Udah dong” Ucap nya bangga


Divna pun mengambil sebuah map berwarna kuning di dalam laci nakas di samping tempat tidur nya.


“Nihh yang lu butuhin” Ucap Divna memberikan map tersebut.


“Kerja bagus” Ucap Garcia pada Divna dan mulai membuka map tersebut dan membaca isi nya.


Ketika membaca isi map itu wajah Garcia yang semula datar-datar aja sekarang terlihat sangat marah di dalam matanya seakan tersimpan dendam yang begitu besar.