
Setelah pertarungan yang cukup lama itu, akhirnya pertarungan itu selesai dan tentunya pertarungan antara kakak adek itu di menangkan oleh sang kakak, Garcia.
“Lainkali aku tidak akan kalah kak” Ucap Amoora yang tersenyum
“Baiklah, lain kali kalahkan kakak” Ucap Garcia yang ikut tersenyum
“Tentu saja, suatu hari nanti kakak pasti akan kalah melawan ku” Ucap Amoora dengan nada senang
“Hmm, ayo kakak obati luka-luka mu” Ucap Garcia
“Eh? Aku lupa kalo sedang terluka” Ucap Amoora dan hanya mendapatkan gelengan dari Garcia
“Kedepannya berlatih lah bersama bang Ronald dia akan menjaga dan membuat mu menjadi kuat” Ucap Garcia berjalan menuju masuk ke dalam bersama Amoora
“Bang Ronald yang mana?” Tanya Amoora
“Yang bersama mu tadi” Jawab Garcia
“Ohh om tampan itu ya” Ucap Amoora
“Jangan memanggil nya seperti itu, panggil dia abang saja” Ucap Garcia
“Tapi lebih cocok di panggil om tau kak” Ucap Amoora
“Terserah lah” Ucap Garcia yang malas beradu mulut dengan adek nya
“Lagian kakak liat kan tadi wajah kesel nya waktu aku panggil om hahah lucu banget tau. Apalagi waktu pertama aku manggil dia om pas jemput aku di depan dia keliatan kaget banget dan langsung ngeraba muka nya hahaha pasti dia mikir kalo dia keliatan tua padahal mah masih kenceng banget wajah nya mana ganteng lagi” Ucap Amoora sambil tertawa
Garcia hanya mendengar kan cerita nya tanpa ingin bersuara. Dia senang melihat Amoora yang tumbuh menjadi gadis yang ceria seperti ini.
Sementara di pertarungan antara Ronald dan yang lainnya mereaka sedang fokus berlatih namun konsentrasi mereka terganggu karena Ronald terus saja bersin dari tadi.
“Lu kenapa sih Nald? Flu?” Tanya William
“Gak” Jawab Ronald
“Pasti ada yang ngomongin lu nih” Ucap Kevin
“Sialann awas aja kalo ngomongin soal yang nggak-nggak” Ucap Ronald
“Udah, ayoo balik latihan lagi” Ucap Wiliam dan di angguki oleh yang lainnya.
Sementara di ruang santai lantai 4, Garcia sedang mengobati luka-luka Amoora.
“Sakit?” Tanya Garcia
“Gak terlalu” Jawab Amoora
“Sejak kapan kamu bisa bawa mobil sendiri?” Tanya Garcia
“1 tahun lalu kak, maaf Amoora gak bilang” Ucap Amoora
“Bukannya kak Louis larang kamu ngendarain mobil sebelum waktu nya?” Tanya Garcia
“Iyaa, tapi Amoora juga males kalo terus-terusan di anter supir. Terus sekarang Amoora udah jadi anggota di sini gimana kalo Amoora mau kesini kalo gak bawa kendaraan” Ucap Amoora
“Kak, kakak bantuin aku bujuk kak Louis ya” Ucap Amoora memohon
“Nanti kakak pikirin” Jawab Garcia
“Thank you sis” Ucap Amoora memeluk kakak nya
“Hmm”
“Emang kamu gak cape? Nanti malem kamu juga masih ada latihan lagi. Mending sekarang istirahat dulu.” Ucap Garcia
“Ohh gitu ya, yaudah deh. Dimana kamar ku?” Tanya Amoora
“Lantai 3, ayo kakak anter” Ucap Garcia
Mereka berdua langsung menuju ke lift dan turun ke lantai 3. Di dalam lift Amoora menanyakan hal yang membuat nya bingung.
“Kak boleh tanya?” Tanya Amoora
“Hmm”
“Lantai itu emang gaada kamar lagi?” Tanya Amoora
“Kenapa?” Tanya balik Garcia
“Hanya saja lantai itu sangat luas dan terlihat banyak kamar terus kenapa kamar ku gak di sana aja sekalian daripada repot-repot turun ke bawah” Jawab Amoora
“Cuma ada 7 kamar tidur di sana dan yang lainnya adalah ruang kerja kami” Jawab Garcia
Tepat setelah jawaban Garcia pintu lift terbuka dan mereka berjalan keluar menuju ke kamar Amoora.
“Kami? Siapa aja?” Tanya Amoora
“Aku, Kak Divna, dan kelima laki-laki yang tadi kamu lihat di bawah” Jawab Garcia
“Dengan kata lain mereka adalah petinggi di sini? Om tampan dan temen-temen nya juga petinggi di sini?” Tanya Amoora
“Hmm”
“Lantai ini juga ini di huni para petinggi, khusus.” Sambung Garcia
“Apakah aku termasuk petinggi di sini?” Tanya Amoora
“Jika kemampuan mu berkembang baik” Jawab Garcia berhenti di depan kamar yang akan menjadi milik Amoora
“Ini kamar mu” Sambung Garcia membukakan pintu kamar dan langsung masuk di ikuti oleh adek nya di belakang.
“Wahh aku suka kamar nya” Ucap Amoora yang langsung duduk di ranjang
“Ada berapa kamar di sini lantai ini kak?” Tanya Amoora
“15 Kamar”
“Kakak setelah ini mau pergi dan mungkin akan pulang malam, jika nanti ingin berkeliling temui kak Divna di lantai 4 atau di ruangan tadi” Sambung Garcia
“Baik kak”
“Kakak pergi”
“Oke, hati-hati”
.
.
.
Hai guys.... Gimana hari ini? Sepi amat dah