
Tau akan terjadi serangan mendadak Garcia langsung menendang perut laki-laki itu hingga terjatuh ke tanah, melihat teman nya terjatuh membuat begal yang lain ikut menyerang Garcia. Melihat itu membuat Garcia tersenyum miring karena mendapat mainan yang cukup menghibur. Terjadi lah pertempuran di daerah yang sepi itu hingga pada saat salah satu begal itu berhasil melukai lengan Garcia melihat lengan Garcia berdarah membuat Divna marah dia akan maju untuk menghabisi orang yang melukai sahabat sekaligus adik nya itu namun niat nya terhenti ketika merasakan aura yang menatakut kan dari diri Garcia dan tatapan nya yang berubah menjadi sangat tajam dan dingin.
“BERANI NYA KALIAN” Teriak Garcia marah
Melihat lengan nya terluka membuat Garcia sangat marah dan langsung menatap orang yang melukai nya dengan tatapan yang tajam dan membuat kumpulan begal itu merasa ketakutan. Dia pun mengeluarkan pisau yang dia simpan di balik jaket nya dan mulai menyerang kumpulan begal itu dengan brutal. Divna yang melihat itu merasa takut meskipun dia dan Garcia sudah berteman sejak kecil tapi ketika melihat Garcia marah dia selalu merasa takut sebab aura yang di keluarkan oleh Garcia membuat lawan nya seolah mati kutu.
“Permainan yang menarik” Ucap Garcia ketika melihat lawan nya sudah mati dengan keadaan yang mengenaskan.
Garcia pun langsung menghampiri Divna yang masih duduk di kap mobil.
“Tangan lu” Ucap Divna memegang tangan Garcia dan mengecek luka yang ada di lengan Garcia.
“Gapapa” Ucap Garcia datar
“Gapapa gimana ini berdarah loh” Ucap Divna
“Gausah lebay, telfon anak MOTD suruh beresin mayat-mayat ini kalo perlu bakar” Ucap Garcia yang kemudian masuk ke mobil.
“Huft... Anak itu.” Ucap Divna menggeleng kan kepala dan kemudian langsung mengambil ponsel nya yang berada di saku celana nya
Setelah selesai menelepon anak MOTD Divna pun langsung masuk ke mobil.
“Mau di setirin?” Ucap Divna sambil menutup pintu mobil
“Gausah” Ucap Garcia yang menyalakan mobil nya
“Batal aja ke tempat itu, liat tubuh lu penuh darah” Ucap Divna ketika melihat baik tubuh dan wajah Garcia di penuhi cipratan darah.
“Hmm” Jawab Garcia yang kemudian memutar arah mobil nya dan pergi ke H7D.
Setelah menempuh waktu yang cukup lama akhirnya mereka sampai di H7D. Mereka langsung masuk ke dalam mansion dan menuju ke lantai yang di khususkan untuk mereka. Saat pintu lift terbuka mereka berpapasan dengan dokter pribadi mereka.
“Loh Cia? Lu kenapa?” Tanya Dokter itu yang di ketahui namanya adalah Aulia Putri.
“Gua mandi dulu” Ucap Garcia tanpa menjawab pernyataan dari Dokter Lia dan langsung melewati nya.
“Kenapa?” Tanys Dokter Lia pada Divna
“Lu kok ada di sini?” Tanya Divna bingung melihat Dokter Lia ada di lantai khusus
“Tadi gua nyariin kalian ehh malah gaada” Jelas Dokter Lia
“Yaudah lu tunggu di ruang santai aja, gua mau mandi dulu” Ucap Divna yang kemudian masuk ke kamar nya
“Oke” Jawab Dokter Lia yang kemudian berjalan ke ruang santai
Sedangkan di dalam kamar mandi Garcia sedang merendamkan tubuh nya di bathtub, merasa sudah cukup lama berendam dia pun beranjak dari bathtub untuk membilas tubuh nya. Setalah selesai di berjalan ke ruang ganti dan memilih pakaian yang simpel dan berjalan keluar menuju ruang santai. Sesampainya di sana dia melihat Dokter Lia sedang menata beberapa obat yang berada di kotak P3K.
“Sini duduk” Ucap Dokter Lia ketika melihat Garcia berada di ambang pintu.
Garcia pun mengikuti perintah dari Dokter Lia dan duduk di samping nya.
“Kok bisa luka sih Ci?” Tanya dokter Lia yang mulai membersihkan luka Garcia
“Takdir” Jawab Garcia singkat
“Huft.. luka nya gak parah cuma ke gores dikit besok temuin gua biar gua ganti perban nya” Ucap Dokter Lia ketika selesai mengobati lengan Garcia.
“Iya” Ucap Garcia datar dan menyandarkan tubuh nya di sandaran sofa
“Ci” Panggil Dokter Lia
“Hmm” Jawab Garcia menoleh ke arah Dokter Lia
“Lain kali jangan luka lagi” Ucap Dokter Lia dengan lembut dia benar-benar menyayangi Garcia dan menganggap Garcia seperti adik nya.
“Gua gak janji kak, dalam dunia bawah itu gak mungkin pulang dalam keadaan gak luka pasti nya ada meskipun luka nya gak parah.” Jelas Garcia
“Iya gua ngerti tapi-” Ucap Dokter Lia terpotong ucapan Garcia
“Gaada tapi-tapian kak, udah lah gua mau ke kamar aja” Ucap Garcia yang langsung pergi
“Tuh anak” Ucap Dokter Lia menggeleng kan kepala nya