
Melihat Orang yang menghadang nya itu melawan kumpulan orang-orang yang mengejarnya membuat Raka sangat kagum terhadap orang itu.
“Hebatt” Ucap Raka yang ambruk dalam keadaan lemas karena sudah banyak darah yang keluar dari tubuh nya
“Dia perempuan?” Ucap Raka ketika melihat salah satu kumpulan orang itu tak sengaja menarik topi jaket orang yang menghadang nya tadi dan membuat rambut Garcia yang tadi nya terkuncir kini terlerai dan dengan begitu indah
Tak butuh waktu lama kumpulan orang-orang itu langsung tumbang dengan darah yang mengalir dari tubuh nya. Sementara saat ini hanya tersisa perempuan itu. Dia langsung menghampiri Raka dan melihat Raka yang masih sadar meskipun dengan keadaan yang sangat parah.
Orang itu yang tak lain adalah Garcia langsung berjongkok dan langsung mengambil ponsel Raka yang ada di kantung jaket Raka dan mengirim kan sebuah pesan pada seseorang. Dia kembali berdiri dan hanya melihat Raka tengah kesakitan.
“Lemah” Ucap Garcia dan pergi meninggalkan Raka sendirian
Setelah Garcia pergi beberapa menit lalu tiba-tiba beberapa orang datang ke gang dimana Raka sedang duduk kesakitan.
“BOSSS” Teriak salah satu dari orang-orang itu menghampiri Raka
“Cepat bantu aku” Ucap orang itu meminta bantuan rekan nya untuk memapah Raka dan membawa Raka pergi dari tempat itu
Sedangkan di posisi Garcia dia sedang melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Saat ini dia sudah sangat telat dengan waktu janji temu yang di janjikan.
Sesampainya di sana Garcia langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke sebuah gedung kosong yang sering dia datangi. Dia langsung menuju ke rooftop gedung itu dan melihat seorang pria yang tengah berdiri membelakangi nya.
“Kamu telat babe” Ucap Bryant membalikan badannya melihat Garcia betapa panik nya dia ketika melihat noda darah ada di jaket Garcia
“Hei, kamu kenapa? Kenapa ada darah?” Tanya Bryant yang langsung menghampiri Garcia ketika melihat ada noda darah di jaket Garcia
“Ahh belum sempet aku bersihin tadi” Ucap Garcia yang melepas jaket nya dan membuang nya begitu saja
“Bukan darahku, tadi nolongin orang di jalan terus darah nya kena” Jelas singkat Garcia
“Pakai ini, di sini dingin” Ucap Bryant melepaskan jaket nya dan memakai nya pada Garcia
“Jadi mana yang aku minta?” Tanya Garcia
“Kemari lah” Ucap Bryant menggandeng tangan Garcia dan membawa nya duduk di sofa
“Ini” Ucap Bryant menunjukan sebuah berkas
“Thank you” Ucap Garcia yang berusaha mengambil berkas itu dari Bryant
Namun Bryant malah menghalangi Garcia untuk mengambil nya dan membuat Garcia menatap nya dengan bingung.
“Berterima kasihlah dengan benar” Ucap Bryant
“Maksud mu?” Tanya Garcia
Bryant langsung mengkode Garcia dan menunjuk pipi nya dan tersenyum manis menatap Garcia.
Garcia hanya menghela nafas dan mendekat untuk mencium Bryant. Melihat itu Bryant juga mendekat kan pipi nya agar memudahkan Garcia saat semakin dekat Bryant tiba-tiba menoleh dan membuat kedua bibir mereka bersentuhan. Garcia yang kaget langsung melepaskan ciuman nya namun Bryant malah menahan tengkuk nya dan malah ******* bibir Garcia. Garcia juga mulai memejamkan matanya dan Bryant yang melihat itu tersenyum.
“Masih manis seperti dulu” Ucap Bryant mengelap bibir Garcia
“Dulu? Apa maksud mu” Tanya Garcia bingung
“Kamu tidak mengingat hal itu? Dulu kan kamu sering banget ngecup bibir ku setiap kali kita bertemu dengan alasan bibir ku kenyal dan manis” Jawab Bryant yang sukses membuat wajah Garcia memerah karena malu
“Argh... Sialannn kenapa dulu gua centil bangett” Batin Garcia
“Wajah mu memerah” Ucap Bryant menggoda Garcia
“Berhenti Bry” Ucap Garcia menutupi wajah Bryant yang memuakkan ketika menggoda nya
“Hahahaha centil banget ya kamuu” Ucap Bryant sambil melepaskan tangan Garcia dari wajah nya
“Masih kecil, jadi wajar” Ucap Garcia yang kini memasang muka tebal meskipun dalam hati nya berteriak malu
“Mana berkas nya” Ucap Garcia yang langsung mengalihkan topik
“Nih” Ucap Bryant memberikan berkas nya
“Bagus” Ucap Garcia tersenyum puas ketika melihat isi berkas nya
“Udah makan?” Tanya Garcia
“Barusan, makan bibir mu” Jawab Bryant menggoda Garcia
“Bry aku serius” Ucap Garcia yang malas menanggapi godaan Bryant
“Belum, ayo temani aku makan” Ucap Bryant
“Oke”
Mereka langsung pergi dari gedung itu dan menuju ke sebuah restoran terdekat untuk mengisi cacing-cacing yang ada di perut mereka. Di dalam perjalanan mereka mengobrol banyak soal masa kecil mereka.
.
.
Hai guys... Gimana hari ini?
Seneng bangett dehh makin banyak pembaca baru dan pembaca lama yang selalu dukung author. Author merasa nggak sia-sia juga nulis novel yang awal nya bahan gabut aja jadi banyak peminat nya. Selain itu author seneng bisa ketemu orang-orang misterius kayak kalian. Kenapa begitu? Kan author gatau wajah kalian dan juga nama asli kalian pasti kebanyakan kalian pakek nama samaran kan.