My Mafia Girl

My Mafia Girl
Jebakan markas



Garcia mengangguk dan membawa beberapa paper bag barang milik nya ke kamar nya. Sesampainya di kamar nya Garcia langsung membaringkan tubuh nya dan tertidur begitu saja.


Baru beberapa jam tertidur dia di bangunkan oleh sistem kamar nya.


“Why?” Tanya Garcia dengan setengah kesal dan mengantuk


“Maaf Queen, tapi para anggota inti ada di depan kamar anda” Ucap Sistem kamar


Dia langsung memakai kimono dari dress nya dan berjalan menuju keluar kamar.


“CIAAAAA” Ucap Divna menggoyangkan tubuh Garcia yang masih setengah mengantuk


“Apasi” Ucap Garcia kesal menepis tangan Divna


“Br-Bryant, Bryant kena jebakan markas kita” Ucap Divna yang langsung membuat kesadaran Garcia muncul 100%


“Dia ada di ruang rawat” Sambung Divna


Garcia langsung berlari menuju ke lift dan turun ke lantai 3 tanpa memperdulikan orang-orang yang tengah berkumpul di di depan kamar nya.


“Emang siapa cowo itu? Sampe kita harus ngerawat dia. Seharusnya biarin aja dia mati membusuk di luar.” Ucap William


“Kalo lu gak ngerawat dia, lu yang bakal mati di tangan Garcia” Ucap Divna lalu menyusul Garcia


“Kayak nya pacar nya deh, gak mungkin kalo orang lain bikin Garcia sepanik itu” Ucap Andre


“Gua rasa, ayo nyusul” Ucap Kevin


Mereka berempat menyusul Divna dan Garcia turun ke lantai 3. Garcia yang baru saja sampai ke lantai 3 langsung masuk ke dalam ruang rawat yang di khususkan untuk para anggota inti. Dia langsung mendobrak pintu dan melihat Aulia tengah merawat Bryant.


“Kak, gimana keadaan nya?” Tanya Garcia dengan rasa kekhawatiran yang jelas


“Masih belum sadarin diri. Dia kena panah beracun kita dan gua udah kasih penawar yang kita buat tinggal nunggu dia sadar aja. Karena belum lama kena racun kita jadi dia bakal selamat kok. Enang aja” Ucap Aulia


Garcia berdiri di samping ranjang Bryant dan menatap pria itu tengah menutup matanya. Dia menatap wajah pria itu yang sedikit pucat.


“Gua keluar dulu” Ucap Aulia lalu pergi keluar


“Kamu bener-bener pria gila” Ucap Garcia


Sementara di luar Aulia tidak benar-benar pergi dia berdiri di depan ruangan berniat menguping namun aksi nya ketahuan oleh Divna.


“Ngapain kak?” Tanya Divna yang membuat Aulia kaget


“Wahh nguping yaa luu... Gua aduin Garcia ah” Ucap Divna berjalan ingin masuk namun tangan nya di cegah oleh Aulia


“Jangan masuk” Ucap Aulia


“Biarin mereka berdua dulu, kayak nya tuh cowo spesial banget buat Garcia” Ucap Aulia


Mendengar ucapan Aulia, Divna setuju dan saat mereka ingin pergi mereka melihat para lelaki itu berjalan mendekat ke arah mereka.


“Mau kemana?” Tanya Aulia


“Mau liat” Jawab Ronald


“Gak boleh, ayo pergi” Ucap Ajak Aulia


“Tapi sayangg” Ucap Ronald


“Gaada tapi-tapi, ayo.” Ucap Aulia yang langsung menarik Ronlad


Aulia menoleh ke belakang dan mengkode Divna dengan kedipan matanya.


“Ayo abang-abang ku sekalian, iku aku” Ucap Divna


“Tapi kita mau masuk ke dalem bentar” Ucap William


“Ada yang lebih penting dari itu abang-abang ku sayang” Ucap Divna langsung mendorong mereka bertiga dari belakang dan pergi dari ruang rawat.


Kedua perempuan itu tahu betapa protektif nya mereka terhadap Garcia dan sebelum nya mereka sudah berencana akan memberikan tes berat pada pacar Garcia dan mereka pasti rahu bahwa pria yang tengah terbaring itu kekasih Garcia. Kedatangan mereka ke ruang rawat pun bukan untuk melihat kondisi nya tapi untuk melihat kapan pria itu akan bangun dan memberikan tes untuk nya.


Keesokan harinya Ronald dan yang lainnya berada di ruang santai bersama Garcia.


“Dia siapa? Pacar mu?” Tanya Ronald


“Mantan” Jawab Garcia sambil memakan apel


“Yakin nih? Kok peduli banget sama mantan sampe lari turun ke bawah” Goda Andre


“Sesama manusia harus saling peduli” Jawab Garcia dengan cuek nya


“Agak aneh denger ucapan itu dari orang yang suka singkirin orang kalo ganggu jalan mu” Ucap William yang di balas senyuman