
Tantangan Roy terpenuhi dan kini mereka memutar botol nya kembali dan mengarah ke Divna.
“Truth or dare?” Tanya Louis
“Truth” Jawab Divna
“Cari aman hahaha” Sambung nya
“Gua yang tanya” Ucap Arya
“Kemarin lu kan yang pecahin vas kesayangan mama kan?” Tanya Arya
“Yahh pertanyaan apaan itu, gak asik” Ucap Andre
“Iya emang gua” Ucap Divna
Arya tersenyum licik dan mengangkat ponsel nya dan menunjukkan nya pada Divna.
“Udah denger kan ma? Bukan Arya pelaku nya” Ucap Arya tersenyum penuh kemenangan
Divna langsung merebut ponsel Arya dan mematikan nya lalu menatap adek nya dengan tajam.
“Sialan lu” Ucap Divna melempar ponsel Arya padanya
“Hahahaha selamat kena amarah bos besar” Ucap Arya tertawa puas karena pecah nya vas itu yang di salahkan adalah Arya bukan Divna
“Hahaha bagus bro” Ucap Kevin bertos ria dengan Arya
“Sekarang giliran gua putar botol nya” Ucap Ronald
Ronald langsung mengambil botolnya dan memutar nya hingga botol nya berhenti dan mengarah ke Bryant.
“Truth or dare?” Tanya Ronald
“Truth” Jawab Bryant
“Yah gak gantle lu” Ucap William
“Seberapa besar cinta lu ke Garcia?” Ucap Fadil menatap Bryant dengan tatapan datar
“Di bandingkan besar dan luas alam semesta ini masih kurang untuk menunjukkan seberapa besar cinta gua ke Garcia. Dengan kata lain besar nya cinta gua gak bisa di ukur dengan apapun” Ucap Bryant menatap Garcia sambil tersenyum
“WOAHHHH” Ucap mereka
“Bucin skip dulu hahaha” Ucap Andre
Sementara Fadil mengepal kan tangannya Bryant yang melihat itu tersenyum senang.
“Apaan sih tangan lu” Ucap Fadil melepaskan tangan Rendy dengan kasar
“Udah-udah, ayo lanjut lagi” Ucap Aulia
Mereka melanjutkan permainan sampai mereka lelah dan tertidur. Garcia yang tertidur di pundak Bryant begitu pula Bryant yang tertidur dengan menyandarkan kepala nya ke kepala Garcia.
Fadil yang belum tertidur dia hanya memperhatikan Garcia yang dengan nyaman tidur di pundak Bryant. Ntah perasaan nya sangat kacau setelah mendengar jawaban dari Bryant tadi. Di kembali meminum alkohol yang ada di gelas nya. Saat ini dia benar-benar mabuk dia langsung pergi dari bar dengan sempoyongan. Saat Fadil pergi Bryant membuka matanya dan menatap pintu yang baru saja tertutup.
“Sampai kapanpun aku gak bakal lepasin kamu” Ucap Bryant sambil memasangkan sebuah cincin di jari manis nya lalu memejamkan matanya kembali
Cincin yang di pasangkan oleh Bryant adalah cincin yang sempat Garcia kembalikan padanya sewaktu Garcia mengakhiri hubungan mereka.
Sementara Fadil dia berada di kamar nya dia sudah berusaha untuk merelakan Garcia namun hati nya masih belum siap. Cinta yang bertepuk sebelah tangan selama beberapa tahun lama ini benar-benar tak terwujud.
“Gua kurang apa?” Ucap nya sambil melemparkan tubuh nya ke ranjang
“Gua bisa treat lu like a Queen lebih dari dia, gua bisa bahagiain lu lebih dari dia, gua lebih baik daripada dia. Tapi kenapa bukan gua yang lu pilih” Ucap Fadil benar-benar meluapkan seluruh perasaan nya
"Gua kurang apa Ci?" Lirihnya lalu tertidur
Keesokan harinya semua sudah berangkat sekolah begitu juga dengan Garcia yang berangkat bersama Mauza dan Nabila. Mereka mengikuti pelajaran seperti biasanya sampai jam istirahat berbunyi.
Mereka memutuskan untuk pergi ke kantin sesampainya di sana mereka langsung memesan makanan.
“Kepala gua pusing deh” Ucap Nabila meletakkan kepalanya di atas tangannya
“Lu kemarin minum?” Tanya Garcia yang memang tak memperhatikan semua nya
“Yaa, 6 gelas doang” Jawab Nabila
“Mangkanya jangan minum” Ucap Mauza
“Berisik lu, kemarin lu juga minum” Ucap Nabila kesal
“Tapi gua gak pusing tuh” Ejek Mauza
“Yaiyalah Cuma 2 gelas doang” Ucap Nabila kesal
“Kalian gak pernah minum?” Tanya Garcia
“Kadang suka ke club sih tapi paling minum juga 2/3 gelasan” Ucap Nabila
“Tapi kemarin yang paling banyak minum tuh si Fadil gak sih? Tapi dia kok keliatan baik-baik aja ya?” Ucap Nabila menatap Fadik dan teman-teman nya yang baru saja datang ke kantin
“Fadil? Minum? Masa sih?” Ucap Garcia tak percaya