
Saat ini mereka semua berada di rumah Garcia dengan perasaan berduka. Mereka benar-benar tidak menyangka bakal kehilangan Garcia secepat ini.
Sementara Bryant sendiri berada di kamar Garcia dia melihat sekeliling ruangan itu dengan seksama dan membuka pintu balkon agar udara masuk ke kamar. Dia berdiri di balkon sambil menatap langit yang mendung itu hingga seseorang mengetuk pintu kamar Garcia.
“MASUK” Teriak Bryant
Samuel langsung masuk dan menghampiri Bryant yang berada di balkon. Dia menepuk-nepuk pundak Bryant untuk menguatkan sahabat nya itu.
“Lu harus ikhlasin dia Bry, kalo lu kayak gini Garcia gak tenang di atas sana” Ucap Samuel
“Gua manggil lu kesini bukan untuk nguatin gua” Ucap Bryant
“Dan perlu lu inget Garcia belum mati” Ucap Bryant dengan tegas
“Bry, come on. Kita sendiri udah liat jazadd nya dan itu bener-bener Garcia. Jangan bikin keributan di suasana duka kayak gini seperti di rumah sakit waktu itu. Lu terus-terusan bilang itu bukan Garcia tapi kita semua lihat itu beneran jazad Garcia.” Ucap Samuel yang frustasi dengan sahabat nya itu
“TAPI DIA BUKAN GARCIA SAM!” Bentak Bryant
“Oke oke, kalo lu ngerasa dia bukan Garcia coba lu jelasin ke gua kenapa jazadd itu bukan Garcia” Ucap Samuel yang mencoba mempercayai Bryant
“Pertama, cincin yang gua pasangin lagi di tangannya itu di tangan kiri bukan tangan kanan” Ucap Bryant ketika mengingat waktu tangan Garcia keluar dari penutup kain karena Divna menggoyang-goyangkan tangan Garcia
“Dan yang kedua ada orang yang mencurigakan di rumah ruangan itu. Dia lebih fokus mantau kita daripada jenazah di depannya. Gua curiga sama orang itu dan itu sebab nya gua baru bilang kalo itu bukan Garcia saat dia pergi" Sambung Bryant
*Kembali ke beberapa jam sebelum nya
Saat Divna menangis tersedu-sedu dan menggoyang-goyangkan lengan Garcia. Tangan kanan Garcia muncul keluar dan Bryant yang melihat cincin yang dia berikan di tangan Garcia di pakai di jari manis nya. Dengan air mata yang masih menetes dia merasa aneh dengan keberadaan cincin yang berpindah itu karena saat mengantarkan Bryant pergi dari H7D Bryant masih melihat cincin itu berada di tangan kiri jari manis Garcia.
Saat sibuk dengan pikirannya dia baru saja sadar bahwa ada seseorang yang mengawasi mereka. Bryant melihat orang itu terus menatap ke arah mereka daripada jenazah di depannya. Terlebih lagi orang itu tidak menunjukkan raut wajah sedih sedikit pun. Orang itu langsung keluar setelah cukup lama mengamati Bryant dan yang lainnya.
Dengan segala kecurigaan nya Bryant menyimpulkan bahwa jenazah yang di depannya itu bukanlah Garcia.
"Dia bukan Garcia" Ucap Bryant
Samuel yang merasa tahu perasaan sahabat nya langsung memeluk nya untuk menenangkan Bryant.
"Dia bukan Garcia, Sam" Ucap Bryant
"Lu harus ikhlas Bry" Ucap Samuel
"GUYS C'MON DIA BUKAN GARCIA KITA" Ucap Bryant
"Bryant tenang, kita semua juga gak percaya itu Garcia tapi kita harus ikhlas. Jangan buat keributan Bry." Ucap Samuel yang terus mencoba menenangkan Bryant
Semua orang menangis tersedu-sedu, mereka juga tak percaya bahwa jenazah di depannya adalah Garcia.
*Kembali ke jam saat ini
"Dan sewaktu pemakaman juga gua ngerasa ada orang yang ngawasin kita dan waktu gua balik ke mobil untuk mencoba melihat orang itu dia langsung pergi.” Ucap Bryant yang membuat Samuel berfikir
“Jadi menurut mu ada seseorang yang sengaja bikin Garcia palsu dan ngepalsuin kematian Garcia” Tanya Samuel dan di angguki oleh Bryant
“Tujuan gua manggil lu kesini buat selidiki kasus ini tanpa di ketahui yang lain” Ucap Bryant
“Kenapa yang lain gak boleh tahu?” Tanya Samuel
“Mereka bakal seneng banget kalo tahu Garcia sebenarnya masih hidup kan?” Sambung Samuel
“Saat ini kita pasti sedang di awasi jadi lebih baik untuk saat ini cuma kita aja yang tahu” Ucap Bryant
“Oke, gua bakal jalanin tugas lu berikan” Ucap Samuel
“Thanks, rahasiain ini dari cewe lu juga jangan sampe bocor dan untuk saat ini kita harus pura-pura berduka biar pihak lawan percaya dan saat mereka lengah kita nyelinap masuk” Ucap Bryant
“Siap” Ucap Samuel