
“BOSS” Teriak Samuel dan berlari menghampiri Bryant
“No please no” Ucap Garcia dengan mata berkaca-kaca
“I’m okay baby girl, dont cry” Ucap Bryant sambil tersenyum
“Tetap buka mata mu” Ucap Garcia sambil menangis
“Cepat bawa dia ke mobil gua” Ucap Garcia mara
Kedua supir itu langsung mengangkat Bryant menuju mobil Garcia. Saat ini mereka sedang menuju ke rumah sakit terdekat. Namun siall nya tidak ada rumah sakit di daerah ini dan kondisi Bryant terlihat semakin memburuk dengan wajah yang sangat pucat.
“Ketempat Pribadi ku, CEPAT!” Ucap Garcia membentak supir nya
Supir Garcia merasa bingung dan takut, sebab dia tak tahu dimana tempat pribadi Garcia. Divna yang paham pun langsung menjadi penunjuk arah.
“Ikuti jalan ini” Ucap Divna yang duduk di samping supir
“Baik Nona”
“Gua udah hubungin, dokter Lia. Dia bakal sampe 5 menit. Kita butuh waktu 10 menit kalo ambil jalan pintas” Ucap Divna pada Garcia
“Bertahanlah, aku mohon” Ucap Garcia terus menangis tanpa menghiraukan ucapan Divna
“Ini pertama kali nya aku melihat Garcia seperti ini, orang ini terlihat sangat spesial di mata Garcia” Batin Divna melihat ke arah belakang
“Aku akan bertahan demi mu” Lirih Bryant tersenyum dan di angguki Garcia
“Hanya ada jalan kosong nona” Ucap Supir yang hanya melihat pepohonan dia tidak yakin ini jalan yang tepat
“Keluarlah, dan suruh supir belakang juga pergi bersama mu” Ucap Divna
Supir hanya mengangguk dan turun dari mobil. Kini Divna yang beralih menyetir mobil di ikuti mobil di belakang yang di supir oleh Samuel saat ini. Divna langsung melajukan mobil nya melajukan mobil nya hingga sampai di sebuah bangunan minimalis modern. Dan di sana juga sudah terlihat sebuah mobil milik Dokter Lia.
Samuel langsung turun dari mobil dan membantu Bryant untuk turun dari mobil. Bryant langsung di bawa ke salah satu ruangan yang memang terdapat ruang medis.
“Kalian tunggu sini, biar gua tangani” Ucap Dokter Lia
“Selametin dia kak, aku mohon.” Ucap Garcia sambil menangis
“Berdoa saja” Ucap Dokter Lia lalu masuk ke dalam untuk melakukan operasi kecil mengangkat peluru yang bersarang
“Dia bakal baik-baik aja Ci, lu tenang aja” Ucap Divna memeluk Garcia
Setelah menunggu beberapa jam lama nya, akhirnya dokter Lia keluar bersama patner nya.
“Gimana keadaan nya?” Tanya Garcia yang mulai tenang
“Dia baik-baik aja, operasi nya berjalan lancar kok” Jawab Dokter Lia
“Syukurlah, gua boleh masuk?” Tanya Garcia
“Apa dia sekarang tidak bisa di bawa pulang? Dokter pribadi kami yang akan merawat nya” Tanya Samuel
“Dokter kami juga tidak kalah hebat nya dengan dokter anda tuan Samuel” Jawab Garcia dengan nada dingin
“Bawa dia ke kamar di sebelah kamar ku” Ucap Garcia
Setelah memindahkan Bryant ke kamar yang di maksud Garcia, semua orang keluar dan hanya tersisa Garcia yang ada di dalam kamar.
“Kita baru kenal tapi kenapa rasanya takut sekali melihat mu seperti tadi” Gumam Garcia menatap wajah Bryant yang masih memejamkan matanya
Garcia sadar sikap nya tadi sangat membingungkan, tapi rasa takut akan kehilangan itu benar-benar nyata. Sejak awal bertemu dengan orang ini, Garcia merasa sudah mengenal nya sejak lama dan jujur saja Garcia merasa sangat nyaman dan aman ketika bersama Bryant.
Garcia menatap penuh kesedihan pada Bryant yang belum membuka matanya. Tak ingin lama di sana, Garcia langsung pergi dari kamar Bryant dan keluar menemui dokter Lia yang berada di bawah.
“Kami pamit Ci” Ucap Dokter Lia
Garcia tak menjawab nya dan menatap intens patner Dokter Lia. Aulia yang tahu langsung menjelaskan tentang patner nya.
“Gua udah nutup matanya waktu kesini, yang biasanya lagi cuti dan gua bawa dia” Jelas dokter Lia dan hanya di angguki oleh Garcia
“Hati-hati di jalan” Ucap Garcia lalu berbalik meninggalkan mereka semua
“Gua pamit ya Div” Ucap Dokter Lia
“Oke, hati-hati ya” Jawab Divna
Setelah kepergian dokter Lia, Divna langsung mendudukkan tubuhnya di sofa. Dia melihat Samuel masih tetap berdiri dengan ekspresi bingung.
“Duduk lah tuan” Ucap Divna
“Terimakasih” Jawab Samuel yang langsung duduk
“Divna, nama gua Divna. Mari berkenalan sebagai orang asing dan bukan sebagai asisten” Ucap Divna mengulurkan tangannya
“Samuel” Jawab Samuel menjabat tangan Divna
“Jika sudah berkenalan seperti ini, mari bicara santai” Ucap Divna
“Baik nona. Eh maksud gua, Divna.” Ucap Samuel
Mereka berlanjut mengobrol tentang suka duka pekerjaan mereka yang memiliki boss dengan sifat 11 12 satu sama lainnya. Mereka telihat cepat akrab meskipun baru saja berkenalan.
.
.
Hai guys... Gimana Hari ini?
Nulis bab ini di iringi lagu galau sampe author jadi ke ikut galau haha.