My Mafia Girl

My Mafia Girl
Ke khawatiran 5 Most Wanted



“Cia lu gapapa kan?” Tanya Arya panik tanpa sadar memanggil nama asli Garcia.


“Luka?” Ucap Fadil memegang dagu Garcia dan sedikit memiringkan nya untuk melihat luka Garcia yang sudah di plaster


“Sakit?” Tanya Fadil


“Nggak kok”


“Gak apanya, pasti sakit.” Ucap Ardi kesal


“Nggak Ardi”


“Bagian mana aja yang luka hmm?” Tanya Rendy


“Cuma ini doang kok”


“Cewe prik itu harus di beri pelajaran Ci” Ucap Roy yang masih kesal melihat video tadi


“Udahlah gausah”


“Gak, gua gak setuju. Cewe gila itu harus di kasih pelajaran” Sahut Nabila


“Iya bener, biar dia kapok” Sahut Mauza


“Okeoke, tapi biarin gua aja yang ngasih pelajaran ke dia. Kalian jangan ada yang ikut campur dalam hal ini” Jawab Garcia yang pasrah


Fadil hanya diam dan memperhatikan Garcia dia seolah mencari bagian tubuh mana lagi yang terluka. Dan akhirnya pandangannya jatuh ke tangan Garcia. Dia langsung mengambil tangan kanan Garcia dan membuka lengan Garcia. Dan yah, benar saja. Tangan Garcia memiliki memar akibat menghadang kursi yang di lemparkan pada nya.


“Ini yang lu bilang gaada luka lain?” Tanya Fadil menatap dingin ke arah Garcia


“Cuma memar doang” Ucap Garcia melepaskan pegangan tangan Fadil


“Ck, keras kepala”


“Lu yakin gamau kita aja yang ngasih pelajaran ke tuh cewe prik?” Tanya Arya


“Gua yakin”


“Lebih baik kalian pergi deh, bentar lagi masuk. Lagian gua pusing liat kalian ada di sini” Ucap Garcia memegang kepala nya


“Tapikan-“ Ucap Rendy yang kemudian di potong oleh Garcia


“Gak ada tapi-tapian” Ucap Garcia dengan nada dingin


“Oke kita pergi” Jawab Rendy


...****************...


Saat sedang fokus bekerja, Divna masuk dengan membawa sebuah map di tangannya. Divna langsung duduk di kursi di depan meja Garcia dan memberikan map itu.


“Laporan tentang Mafia Wild Wolf” Ucap Divna


Garcia langsung mengambil laporan itu dan membaca semua yang tertulis di sana. Semua yang di katakan oleh Mauza tadi memang benar ada nya dan itu juga tertulis dalam laporan yang dia baca.


“Jadi, cewe itu bukan cuma berperan sebagai anak nya tapi sebagai pemuas nafsu bokap nya?” Tanya Garcia


“Ya seperti itulah, dia anak yang di ambil dari sepasang suami istri yang bunuh diri akibat tidak bisa membayar hutang nya pada ketua Wild Wolf” Jelas singkat Divna


Garcia hanya mengangguk dan menutup berkas yang baru saja di baca nya.


“Udah selesai? Ayo kita pergi. Mereka udah nungguin” Ucap Divna dan hanya di angguki oleh Garcia


Mereka saat ini berencana untuk ke rumah orang tua Divna karena desakan dari para orang tua yang ingin bertemu dengan Garcia. Garcia langsung menuruti nya dan berjanji akan bertemu di jam 7.


Saat ini di rumah orang tua Divna sudah berkumpul orang tua dari Fadil, Ardi, Rendy dan Roy. Mereka sudah terlihat tidak sabar menunggu kehadiran Garcia. Setelah menunggu beberapa lama akhir suara mobil memasuki area rumah.


Garcia langsung masuk ke dalam rumah dan langsung di sambut oleh para orang tua yang telah menunggu mereka.


“Garcia? Ini kamu sayang?” Tanya Mami Puspita, Mami dari Roy.


“Iya mi” Jawab Garcia tersenyum


“Udah gede ya sekarang” Ucap Mami Puspita memeluk Garcia


“Ya iya lah Mi, yakali dia terus-terusan jadi bocil” Sahut Roy yang tak terima dengan ucapan Mami nya


“Kamu diem deh” Ucap Mami Puspita melirik sini ke anak nya


“Yaampun kamu makin cantik aja” Ucap Bunda Zenit, Bunda dari Rendy.


“Bunda bisa aja” Ucap Garcia


“Apa kabar kamu sayang” Ucap Mama Vita, Mama dari Ardi.


“Baik ma” Jawab Garcia


“Kenapa gak ngabarin mama kalo kamu ada di sini hmm?” Ucap Mama Lisa, Mama dari Fadil.


“Maaf ma”


Mereka menyapa Garcia bergantian sambil memeluk Garcia yang notabene nya adalah anak kesayangan mereka.