
Dia kembali berbalik dan meninggalkan kamar Garcia begitu saja. Sementara di dalam kamar itu sendiri Bryant baru saja membuka matanya dia melihat Garcia yang tertidur di pundak nya sebagai bantalan kepala nya. Dia langsung membantu tubuh Garcia agar berbaring di ranjang.
“Aku mencintaimu” Ucap Bryant pelan dan mencium dahi Garcia dengan lembut
Dia bangun dan membereskan plastik bekas cemilan mereka dan juga kaleng minuman yang telah kosong dan membuang nya ke tempat sampah. Dia langsung pergi keluar dari kamar Garcia dan kembali ke ruangan nya.
Melihat ekspresi Fadil tadi, Divna berencana menemui bocah itu di kamar nya. Sesampainya di depan pintu Divna mengetuk nya dan saat mendapat kan sahutan dari dalam dia langsung membuka pintu dan melihat Fadil yang berada di balkon kamar nya. Dia langsung menghampiri Fadil dan berbagi minuman kaleng yang di bawa nya.
“Gua telat ya Kak?” Tanya Fadil sambil membuka minuman kaleng itu
“Salah gua sih, gua tetep gak nyerah buat dapetin hatinya tapi gua juga ragu-ragu dia bakal nerima gua atau gak” Sambung nya
“Bagimana pun itu lu gaboleh jauhin Garcia, inget janji kita waktu itu? Gak boleh ada yang pergi. Kita tetep sahabat sampe kapan pun” Ucap Divna
“Ya gua tau, meskipun gitu ternyata patah hati itu sakit banget ya?” Ucap Fadil tersenyum pahit
“Do u need hug?” Ucap Divna merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum
Fadil melihat itu sedikit tersenyum dan memeluk Divna. Divna mengelus punggung Fadil dan membuat nya sedikit merasa lebih baik.
“Kalo lu udah jatuh cinta sama seseorang lu juga harus siap patah hati. Itu aturannya.” Ucap Divna
“Jangan terlalu lama sedih. Lu gak cocok sok sadboy” Sambung Divna dan di balas tawa kecil oleh Fadil
“Udah merasa baikkan?” Tanya Divna melepaskan pelukannya
“Iya, makasih kak” Jawab Fadil
“Bagus”
“Istirahat sana, pasti capek kan?” Ucap Divna
“Iyaa” Jawab Fadil
“Oke, good night” Ucap Divna
“Hmm good night” Ucap Fadil
Divna pun pergi dari kamar Fadil dan pergi ke kamar nya. Fadil menatap langit-langit malam yang di penuhi oleh bintang yang sangat cantik.
“Aku harap kamu bahagia Ci” Ucap Fadil lalu masuk ke dalam kamar nya dan menutup pintu balkon
Keesokan harinya, mereka berlatih bersama dan Bryant juga hadir dalam latihan itu meskipun tak ikut berlatih karena di larang oleh Garcia. Bryant hanya menonton mereka semua saling berlatih dan dia mengakui cara latihan anggota inti MOTD benar-benar hebat.
Dia melihat Garcia selesai berlatih bersama Ronald dan langsung menghampiri Garcia dengan botol air mineral dan handuk kecil. Dia memberikan botol itu pada Garcia dan menyeka keringat Garcia menggunakan handuk.
“Aku bisa sendiri” Ucap Garcia meraih handuk dari tangan Bryant dan mengelap keringat nya sendiri
“Kamu sangat cantik saat berlatih tadi, aku seperti jatuh cinta kedua kali nya ketika melihat mu” Puji Bryant
“Lucu banget kalo salting” Ucap Bryant mencium handuk yang di lempar Garcia
“Babeee, tunguu” Ucap Bryant berlari menyusul Garcia
Sementara yang lainnya melihat itu hanya berekspresi geli melihat kebucinan pria itu.
“Geli banget gua” Ucap William bergidik ngeri
“Garcia bisa salting ternyata” Ucap Andre
“Tapi emang lucu sih liat Garcia salting kayak gitu” Ucap Kevin
“Kalian gak liat tadi wajah nya mendadak merah hahaha” Sambung nya sambil tertawa
Fadil yang melihat itu hanya berekspresi datar, Rendy yang melihat ekspresi Fadil merangkul nya.
“Ayo kita bersihin diri” Ajak Rendy
Mereka semua kembali masuk ke dalam markas dan kembali ke kamar nya masing-masing. Setelah selesai membersihkan diri Fadil berniat ke dapur untuk mengambil minuman. Sesampainya di dapur dia melihat Garcia yang sedang melihat isi kulkas.
“Hai” Sapa Garcia ketika melihat Fadil
“Hai” Sapa balik Fadil
“Mau ambil minuman juga?” Tanya Garcia dan di angguki Fadil
“Lu tadi katanya terluka ya?” Tanya Garcia
“Iya” Jawab Fadil
“Bang William kadang emang serius banget kalo latihan. Pasti sakit banget kan?” Ucap Garcia
“Iya, sakit banget” Jawab Fadil menatap Garcia dengan dalam
“Yaudah, cepet obatin sana” Ucap Garcia
“Gua balik dulu” Sambung nya pergi melewati Fadil
“Tunggu” Ucap Fadil menahan tangan Garcia
“Kenapa?” Tanya Garcia
“Hey babe, lama banget ambil minuman nya” Ucap Bryant yang tiba-tiba datang
“Lama apanya belum juga 5 menit” Ucap Garcia