
“Apa kamu sudah baikan? Maaf aku membuat mu kecewa” Ucap Bryant
“Aku salah, aku tahu. Maaf” Ucap Bryant menundukkan kepala nya
“Angkat kepala mu dan lihat aku. Apa lantai itu lebih menarik bagimu daripada aku?” Tanya Garcia
Bryant langsung mengangkat kepala nya dan menatap Garcia dengan penuh rindu namun matanya tak sengaja menatap jari jemari Garcia. Bryant tak melihat cincin yang pernah dia berikan pada Garcia padahal Garcia selalu memakainya.
Garcia mengikuti tatapan mata Bryant yang mengarah ke jari-jari nya. dan dia mengerti akan tatapan Bryant yang mempertanyakan cincin yang di berikannya.
“Ikut aku ke halaman belakang” Ucap Garcia berjalan melewati Bryant
Dengan penuh tanda tanya di kepala nya Bryant tetap mengikuti Garcia ke halaman belakang. Sesampainya di halaman belakang Garcia duduk di sebuah kursi dan menyuruh Bryant juga duduk.
Mereka duduk diam selama beberapa menit tanpa suara hingga akhirnya Bryant membuka suara nya terlebih dahulu.
“Aku merindukanmu” Ucap Bryant
Mendengar ucapan Bryant membuat Garcia menatap Bryant dengan lekat kemudian dia menghembuskan nafas nya dengan berat.
“Ini” Ucap Garcia memberikan cincin pemberian Bryant
“Apa maksudnya ini?” Tanya Bryant yang bingung menatap Garcia
“We broke up” Jawab Garcia
(Kita putus)
“What? What do you mean? I don't like this joke” Ucap Bryant dengan bingung
(Apa? apa maksud mu? Aku tidak suka candaan ini)
“I’m not kidding, Bry” Ucap Garcia menatap serius Bryant
(Aku tidak bercanda, Bry)
“Ini karena waktu itu? C’mon babe, aku tetap mencintai mu mau bagaimana pun kamu. Jangan kekanakan. Hal seperti itu sudah sering aku lihat. Kita hidup di dunia yang menyeramkan seperti ini hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi orang seperti kita. Membunuh, melihat pembunuhan, siksaan, semua nya gak lepas dari dunia kita. Jika hanya karena hal itu kamu berfikir aku akan meninggalkan mu itu salah total.” Jelas Bryant
“Kekanakan? Ya, kamu benar. Aku kekanakan. Aku terlalu labil dan bahkan aku menerima mu dengan cepat hanya karena perasaan masa kecil ini, tidak kah kamu berfikir bahwa itu aneh? Dan sebenarnya aku hanya memanfaatkan mu untuk mendapatkan informasi yang susah ku dapatkan. Sekarang aku sudah mendapatkan nya jadi aku tidak membutuhkan mu lagi” Ucap Garcia
“Sorry Bry, tapi aku serius” Ucap Garcia
“Babe” Ucap Bryant memelas meraih tangan Garcia dan memegang nya
“Pergilah” Ucap Garcia melepaskan tangan Bryant dan beranjak dari duduk nya meninggalkan Bryant begitu saja
Bryant hanya melihat Garcia pergi meninggalkan nya dia benar-benar sangat bingung saat ini. Bagaimana bisa Garcia mengatakan hal yang tidak mungkin itu. Kenapa dia tiba-tiba menjadi seperti ini.
Sementara di kamar Garcia dia mengintip Bryant dari jendela balkon kamar nya. Dia melihat Bryant sedang melamun sambil memegang cincin yang dia berikan nya. Bryant juga mulai beranjak dari duduk nya dan pergi membawa cincin itu. Melihat Bryant yang pergi Garcia mulai menetes air matanya.
“Maaf” Ucap Garcia yang melihat Bryant pergi begitu saja dan dia segera menghapus air mata nya
Hari terus berjalan dan tibalah hari dimana Garcia akan pergi melakukan tugas nya mengawal orang penting yang ada di negara nya.
“Beberapa anggota khusus sudah di sulap menjadi ajudan biasa yang bertugas mengawal dari dekat dan satu pesawat dengan beliau” Ucap Divna
“Beberapa yang lain akan menjaga dari jarak jauh bersama kita. Dari informasi yang kita dapat negara tujuan pertama kita ke jepang dulu dan mungkin bakal 4-5 harian lalu pergi ke italia dan terakhir amerika.” Jelas Divna
“Semua senjata udah beres dan kita juga udah nempatin beberapa anggota yang sudah berada di bandara amerika, jepang, dan itali. Mereka akan menyamar dengan sebagai pegawai dan orang biasa dan mereka akan mencari tahu tentang siapa saja yang akan hadir di rapat itu dan siapa orang-orang sewaan mereka”
“Oke, ayo berangkat” Ucap Garcia yang sudah selesai bersiap
Dia hanya menggunakan pakaian yang santai dan tak terlalu mencolok dia juga menyamar seperti orang biasa yang ingin pergi ke luar negeri begitu pun Divna.
Selama di perjalanan menuju ke bandara Garcia hanya diam dan melihat ke luar jendela. Divna sudah tahu tentang berita putus nya Bryant dan Garcia dia juga merasa aneh padahal Garcia sangat mencintai Bryant. Divna tidak percaya jika alasan putus Garcia mengenai hal sepele seperti waktu itu.
“U okay?” Tanya Divna
“Hmm” Jawab Garcia
“Bangunin gua kalo udah sampe” Ucap Garcia bersandar dan memejamkan matanya
.
.
Maaf sepertinya minggu ini dan minggu depan author akan jauh lebih sibuk lagi. Padahal author udah seneng kalo minggu ini bakal agak free ternyata makin sibuk. Sedih banget rasanya.