
Bryant menatap Fadil yang akhirnya berbicara karena sejak kedatangan para rombongan ini ke inggris Fadil tak mengucapkan satu kata pun bahkan saat rapat dia hanya menyimak obrolan semua orang.
“Lu terlalu polos buat masuk ke dunia ini” Ucap Bryant
“Memang bener mereka gak mungkin bawa Om Robert ke tempat dimana Garcia berada tapi orang yang ada di samping Garcia pasti bakal bawa kita ketempat dimana Garcia berada” Sambung Bryant
“Bang, lu bilang ke anak buah di indo buat ke sini. Kita bakal serang mereka sebentar lagi. Lu juga Sam, bawa beberapa anak buah kita ke sini. Buat pergerakan kita ini jangan sampai di ketahui musuh jika mereka tahu semua rencana ini bakal sia-sia” Ucap Bryant menatap Ronald dan Samuel bergantian
“Baik” Ucap Samuel
“Butuh berapa orang?” Tanya Ronald
“250 orang, cukup. Dan Sam, bawa 200 orang dari kita” Jawab Bryant
“Hah? Apa gak terlalu sedikit?” Tanya Nabila
“Kalian ngeremehin kemampuan mafia kalian sendiri?” Tanya balik Bryant
“Lagipula disini udah ada 450 orang. Ini udah cukup banyak” Ucap Bryant
“Tapi kan kita gatau berapa banyak jumlah musuh, terlebih lagi musuh punya 2 mafia kalo di gabungin pasti kita bakal kalah jumlah” Ucap Nabila
“Meskipun kita kalah jumlah tapi kita gak kalah soal kekuatan. Tapi kalo itu mau lu gua bakal tambah. Ambil 100 orang lagi di pihak kalian dan gua ambil 150 orang lagi di pihak gua. Gimana?” Tanya Bryant
“Meeting selesai di sini, gua pergi dulu” Ucap Bryant lalu meninggal ruangan
“Kalian paham gak sih yang di maksud sama Bryant yang orang yang di samping Garcia bakal bawa kita ke tempat Garcia ada?” Tanya Rendy yang sebenarnya kurang paham
“Ada beberapa hal yang muncul di otak gua ketika Bryant ngomong gitu. Apapun itu, kita harus percaya sama dia dan gabung dalam rencana nya. Dia bakal selametin Garcia apapun caranya meskipun harus ngorbanin dirinya sendiri. Karena Garcia itu cintanya.” Ucap Samuel
Mendengar itu Fadil terdiam, dia merasa benar-benar bodoh karena tak sadar bahwa mayat itu bukan Garcia. Sejak kematian Garcia, Fadil terus mengurung dirinya di dalam kamar nya. Dia benar-benar merasa hancur kala itu. Dia tidak ingin berbicara dengan siapapun bahkan untuk bertemu dengan sahabat-sahabat nya sendiri. Saat mendengar berita bahwa Garcia masih hidup Fadil langsung senang dan dengan kenyataan bahwa orang yang di cintai nya sejak kecil itu masih hidup meskipun dalam keadaan Garcia sedang di culik. Dengan rasa senang di hati nya dia ikut pergi bersama rombongan Ronald.
Saat para rombongan sudah sampai di kediaman Garcia di Inggris, dan Ronald yang langsung menghajar Bryant, Fadil tidak peduli dengan itu karena perasaan masih terfokuskan dengan kenyataan bahwa Garcia masih hidup. Perasaan nya yang sedang merasa bahagia itu tiba-tiba di hancurkan oleh ucapan Divna yang mengatakan bahwa tak ada satupun di antara mereka yang percaya dengan ucapan Bryant yang mengatakan Garcia masih hidup. Di saat itu dia benar-benar merasa sangat bodoh karena dengan mudah nya dia percaya mayat yang waktu itu ada di depannya adalah Garcia.
Saat ini dia benar-benar merasa Bryant lah orang yang benar-benar tepat untuk Garcia. Dia bisa melihat betapa besar nya kepercayaan dan cinta yang di miliki Bryant untuk Garcia.
Fadil berniat berjalan ke halaman belakang rumah dan saat sampai di sana dia menemukan Bryant yang sedang duduk menatap langit-langit. Fadil pun menghampiri Bryant dan ikut duduk bersama dan Bryant hanya mengacuhkan Fadil yang ada di samping nya.
“Gua bener-bener nyerah kali ini” Ucap Fadil
Bryant menatap sekilas ke arah Fadil lalu kembali mengarahkan pandangan nya pada langit sore yang sangat indah pada hari ini.
“Gua bener-bener gak pantes buat Garcia, gua serahin Garcia buat lu. Jaga dia buat gua.” Ucap Fadil
“Semua orang pantes buat siapapun, gaada kata yang gak pantes. Kalo pingin ngerasa pantes lu harus berjuang buat bisa berdiri samping nya dengan percaya diri. Dan lu gak nyerahin Garcia buat gua, sejak awal dia milik gua. Gua bakal jaga dia tanpa di suruh siapaun.” Ucap Bryant tanpa menatap Fadil