
Leon langsung melajukan mobil nya ke tempat yang di maksud oleh Garcia. Sebuah rumah yang sederhana namun memiliki banyak ke istimewaan di dalam nya. Setelah menempuh beberapa menit akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang di maksudkan nya. Rumah yang di maksud adalah rumah di sebuah daerah yang sudah di tinggal kan oleh warga beberapa tahun lalu karena suatu hal.
Mereka semua turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang di maksud oleh Garcia. Bukannya sepi, rumah itu justru ramai dengan beberapa orang yang sedang bermain game.
“Eh.. Queen” Ucap seseorang ketika menyadari kehadiran Garcia di sana
Mendengar temannya memanggil Queen mereka, mereka semua spontan langsung menoleh dan melihat Garcia yang sedang berdiri di belakang mereka.
“Queen” Ucap mereka bersamaan
“Selamat datang Queen” Ucap mereka semua
“Hmm” Jawab Garcia
Divna yang mendengar kata Queen dari mulut orang – orang itu merasa bingung. Siapa orang-orang yang ada di hadapannya sekarang ini. Begitulah pikirnya. Melihat temannya merasa bingung, Garcia langsung menjelaskan dengan singkat.
“Mereka termasuk pasukan inti” Ucap Garcia
“Ohh gituu” Ucap Divna sambil menganggukkan kepalanya
“Saya Divna, assisten sekaligus kakak dari Queen” Sambung Divna memperkenalkan dirinya
“Selamat datang nona” Ucap mereka sambil membungkuk
“Terimakasih” Ucap Divna dengan senyuman
“Udah? Lu ikut gua sekarang” Ucap Garcia mengajak Divna
Divna hanya mengangguk kan kepalanya dan mengikuti langkah Garcia. Melihat Queen dan kakak dari Queen mereka pergi, mereka bisa menghela nafas dengan lega. Melihat tubuh Queen dan kakak nya yang di penuhi darah membuat mereka sedikit ketakutan.
“Kakak dari Queen sangat berbeda, dia suka sekali tersenyum” Ucap Salah satu dari mereka
“Tapi mereka sama terlihat sangat buas” Jawab yang lain
“Ya kau benar” Setuju teman-teman nya yang lain
“Kalian mau mati di tangan Queen saat ini?” Tanya Leon dengan nada dingin
“Tentu saja tidak” Ucap mereka
“Yasudah diam saja” Ucap Leon laku pergi dari sana
“Dasar sok kutub” Ucap salah satu dari mereka ketika melihat Leon pergi
“Kalian main game apa? Ikut dong” Ucap Ilham
“Sebaiknya bersihkan dulu tubuh mu yang penuh darah itu dan setelah itu baru bergabung dengan kami” Ucap Dika
“Gua lupa hehe” Ucap Ilham cengengesan dan langsung pergi membersihkan diri
Mereka semua hanya menggelengkan kepalanya melihat keprikan Ilham. Sedangkan di dalam kamar Garcia, Divna sedang menunggu Garcia yang sedang mandi. Dia duduk di ranjang sambil melihat sekeliling kamar yang ada di sana dan dia merasa ini benar-benar sederhana. Ranjang yang tidak terlaku empuk dan di tambah tidak ac untuk mendinginkan ruangan. Dia pikir apa bisa Garcia bisa tidur di tempat seperti? Tanpa Divna tahu, Garcia cukup sering tidur di sini saat ketika dia malas pulang atau malas ke H7D atau bahkan saat dia merasa cape setelah melatih anggota khusus.
Setelah 20 menit berlalu, Garcia akhirnya keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah bersih dan cukup rapi. Dia langsung menghampiri Divna yang sedang melihat nya.
“Ck, mandi sana. Liat tuh sprei gua jadi kotor gegara lu” Ucap Garcia kesal ketika melihat sprei nya terdapat noda darah
“Ck, nambahin kerjaan aja” Ucap Garcia dengan kesal menarik sprei dan selimut nya dan mengganti semua nya dengan yang baru
Setelah selesai dengan sprei, Garcia langsung merebahkan tubuh di ranjang milik nya. Dia menatap ke langit-langit kamar lalu memejamkan matanya selama 30 menit. Hingga akhirnya Divna keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah di siapkan oleh Garcia sebelumnya.
“Kita pulang kah setelah ini?” Tanya Divna sambil berjalan ke meja rias Garcia
“Hmm” Jawab Garcia
“Gua udah sampain ke mereka berlima buat dateng ke rumah dan kemungkinan kita bakal telat sampai sana” Ucap Divna
“Hmm” Jawab Garcia
“Hmm hmm mulu dah” Ucap Divna sedikit kesal
“Kalo lu udah selesai mending kita keluar” Ucap Garcia lalu membuka matanya
“Bentar” Ucap Divna
“Lu manggil anggota khusus kesini? Terus kenapa gak nyuruh mereka bantuin kita tadi?” Tanya Divna menghampiri Garcia yang masih berada di posisi yang sama
“Mereka tinggal disini” Jawab Garcia
“Hanya mereka?” Tanya Divna
“Di setiap kota gua naruh sekitar 50 pasukan khusus punya gua dan di setiap daerah nya ada 10 atau 15 orang aja atau mungkin bahkan lebih sedikit” Jawab Garcia
“Ada berapa pasukan khusus yang ada?” Tanya Divna
“Emm maybe... 400 orang” Jawab Garcia
“Cukup banyak, tapi apa gak terlalu sedikit naruh orang cuma 50 aja? Bahkan setiap daerah hanya ada 10 orang loh” Tanya Divna heran
“Mungkin terlihat sedikit dan terlihat sangat tidak memungkinkan. Dan setiap kota pasti memiliki banyak daerah-daerah tapi mereka bisa menghandle nya. Sedikit nya orang bukan berarti mereka tidak akan bisa, kan?” Ucap Garcia
“Iya sihh tapi...” Ucap Divna
“Jangan pernah ngeremehin mereka, jumlah nya emang sedikit tapi kekuatan mereka lebih dari 20 orang” Ucap Garcia
“Ayo keluar” Sambung nya beranjak dari ranjang nya
“Oke” Ucap Divna lalu mengikuti Garcia keluar dari kamar.
.
.
.
Hai guys.... apa kabar? Gimana hari ini?
...Maap ya lama.. kemarin-kemarin mau update tapi keburu author tumbang ini aja author baru sembuh (tahap pemulihan sih) dan hari ini author nyempetin buat up sekarang. Dan oh ya, di sini ada yang baca novel author yang My Ice Boy gak sih? author mau ngasih info kalo hari minggu author bakal update dan jangan iri kalo sekarang author nyempetin update yang novel ini dulu. Itu aja deh ...
...Bye bye...