
Garcia langsung melangkahkan kakinya pergi keluar dari rumah nya dan langsung pergi menuju ke hotel. Keesokan hari nya rombongan Garcia langsung berangkat menuju ke bandara. Mereka melakukan perjalanan di udara selama 22 jam selama itu seorang pria di Indonesia merasa sangat senang mendengar kabar dari Divna yang mengatakan mereka akan pulang.
“Kenapa nih? Seneng banget kayak nya” Tanya Samuel yang baru saja masuk ke ruangan Bryant dan duduk di sofa sambil memakan snack yang dia ambil di bawah
“Cewe gua mau pulang, gua harus kasih apa buat nyambut kedatangannya?” Tanya Bryant yang senang sekaligus bingung ingin memberi hadiah apa
“Cewe gua? Bukannya udah putus?” Tanya Samuel yang santai
Perasaan yang senang tadi berubah menjadi kesal akibat ucapan yang keluar dari mulut Samuel. Bryant melempar pena nya tepat mengenai dahi Samuel sebagai tanda rasa kesal nya.
“Berisik lu!” Ucap Bryant bersama melemparkan pena nya
“Sssssss sakit anj” Ucap Samuel
“Lebay”
“Bukannya ngasih saran malah ngatain lu” Ucap Bryant
“Ya lu lagian aneh banget, dia pulang dari tugas nya bukan dari liburan pakek acara nyambut segala” Ucap Samuel
“Mending lu pergi dari ruangan gua” Ucap Bryant kesal
Samuel dengan santai nya beranjak dari duduk nya dan pergi meninggalkan ruangan Bryant. Sebelum itu dia berhenti dan memberikan sedikit saran pada pria yang tengah galau itu.
“Coba kasih bunga terus kirim ke markas nya atau ke rumah pribadi nya” Ucap Samuel lalu pergi dan menghilang dari balik pintu
“Boleh juga” Ucap Bryant
“Tapi kalo ke rumah pribadi nya takut dia gak kesana terus bunga nya layu, kalo ke markas nya sihh emang dia langsung tau tapii masalah markas mereka itu penuh ilusi” Ucap Bryant yang stress memikirkan apa yang harus dia lakukan
Setelah mengudara selama 22 jam akhirnya rombongan Garcia menginjakkan kaki nya di tanah air pada sore hari. Anak-anak MOTD kembali mengawal mereka sampai ke tempat nya.
Mereka semua baru kembali ke markas pada jam 8 malam. Garcia memerintahkan kepada anak buah nya untuk menyiapkan party kecil untuk merayakan berhasil nya misi mereka dan berhasil nya mereka merebut posisi pertama di Amerika.
Setelah memberikan perintah Garcia langsung ke kamar nya untuk membersihkan diri. Setelah beberapa menit dia keluar dengan pakai yang lengkap. Dia langsung mengeringkan rambut nya yang basah saat sedang mengeringkan rambut nya ponsel nya berdering. Melihat siapa yang menelepon dia langsung mengangkat nya.
...Bang William...
^^^Kenapa bang?^^^
^^^Udah^^^
^^^Kenapa?^^^
Coba kamu ke ruang santai bentarr
^^^Oke^^^
Setelah menjawab Garcia langsung mematikan telepon nya dan pergi ke ruang santai. Sesampainya di sana Garcia melihat keempat abang nya dan Divna tengah duduk bersama.
“Kenapa?” Tanya Garcia yang ikut bergabung duduk bersama mereka
“Tuh” Ucap Kevin mendorong sedikit bucket bunga di atas meja ke arah Garcia
“Buat gua?” Tanya Garcia
“Tumben?” Sambung nya
“Bukan dari gua” Jawab Kevin
“Terus?” Tanya Garcia
“Coba kamu liat ini” Ucap William memberikan laptop nya pada Garcia
“Ada orang yang mencurigakan di sekitar markas kita tadi dia terlihat sangat waspada dan bahkan dia bisa bebas dari perangkap-perangkap yang kita pasang bukan cuma itu dia juga lolos dari setiap ilusi kita. Kayak nya dia juga Mafia jika orang biasa mustahil dia bisa lolos dari perangkap yang kita kasih. Dia dateng cuma bawa bunga ini dan taruh tepat di gerbang kita. Bukankah sangat hebat dia tahu persis posisi gerbang kita padahal markas dalam mode transparan dan rela nyaris mati berkali-kali hanya untuk sebuah bunga.” Jelas Ronald
“awalnya kita kira di bunga itu di pasang bom jadi gua cek tapi gaada bom sama sekali. Tapi gua nemu ini” Ucap Andre memberikan sebuah kartu
Garcia mengambil nya dan membaca nya dia sudah menduga siapa orang yang di maksud ke empat abang nya ini ketika dia melihat rekaman CCTV dan lebih yakin ketika dia membaca kartu yang di berikan Andre.
“Jadi....” Ucap Kevin
“Kamu beneran udah punya pacar?” Tanya mereka berempat dengan serentak dan menatap Garcia seolah mengintrogasi Garcia
Melihat abang nya yang kompak mengintrogasi Garcia doa hanya menghembuskan panjang nafas nya.
“Party nya udah siap, sebaiknya kita cepet kebawah” Ucap Garcia lalu beranjak dari duduk nya dan juga mengambil bucket bunga itu lalu pergi dari ruang santai begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari abang-abang nya itu