
Sesampainya di apartemen dia langsung mendapatkan tatapan kemarahan dari Divna.
“Lu apain Garcia sampe dia pergi kayak gitu, HAH!” Marah Divna menatap tajam Bryant yang berdiri di depan pintu apartemen dan mencengkram baju Bryant
“Tenang dulu, biar Bryant jelasin” Ucap Samuel menahan tangan Divna yang mencengkram baju Bryant
Divna pun mencoba menetralkan rasa marah nya dan melepaskan cengkramannya lalu masuk ke dalam apartemen dan duduk di sofa namun tatapan kemarahannya masih tertuju pada Bryant. Bryant mencoba menjelaskan semua nya dan akhirnya Divna paham.
“Dia memang sering terlihat dewasa karena keadaan yang memaksanya seperti itu, namun usia nya masih remaja dan hal wajar jika terkadang sikap nya terlihat seperti anak-anak. Terlebih lagi overthingking yang berlebih itu sangat umum di usia nya sekarang.” Ucap Divna menyandarkan kepala nya di sofa
“Dulu dia juga selalu menjaga sikap nya setiap kali dia marah sewaktu kami masih kecil. Namun suatu hari gua bilang sama dia buat lampiasin aja semua kemarahan kalo itu bikin dia tenang. Dan ada hari dimana adek gua, Arya. Dia bikin Garcia marah besar dan Garcia langsung meledakan semua emosi nya. Dia membanting ps milik adek gua bukan cuma itu dia turun ke bawah dan ngambil palu dan ngehancurin ps itu hingga benar-benar hancur. Di situ kami berenam ketakutan liat Garcia semarah itu dan terlebih aura menakutkan yang keluar dari dalam dirinya dan tatapan mata yang menakutkan. Namun itu semua memang salah adek gua karena dia selalu ganggu Garcia dengan berbagai cara namun Garcia tetap memendam amarahnya hingga akhirnya gangguan terakhir itu membuat amarah Garcia meledak. Setelah kejadian itu Garcia semakin menjadi pendiam dia tidak mau menemui kami karena dia takut menunjukkan sisi gelap nya itu lagi. Namun kami mencoba mengerti dan mencoba mendekati Garcia lagi dan akhirnya kami bertujuh menjadi sahabat bahkan hingga sekarang.” Ucap Divna menjelaskan sedikit tentang bagaimana cara mereka bersahabat
“Lebih tepat nya dia takut orang-orang yang dia sayangi pergi ninggalin dia, dia udah cukup kehilangan bokap nyokap nya dia gamau kehilangan orang lain lagi” Ucap Divna
“Tapi gua gak nyangka dia bakal kayak gitu. Padahal dia queen mafia yang sering bantai mafia lain bahkan memutilasi tubuh musuh nya tapi kenapa hanya nunjukin sedikit sisi gelap dari dirinya membuatnya sampai berpikir lu bakal ninggalin dia . Mungkin dia beneran jatuh cinta sama lu” Ucap Divna menoleh pada Bryant yang terus mendengarkannya dari tadi
“Sebaiknya kalian kembali ke hotel kalian besok kita ada rapat bersama lu coba jelasin ke Garcia besok setelah rapat dan untuk saat ini biarin Garcia nenangin diri dulu. Setiap dia selesai menggila pasti dia akan pergi buat nenangin diri dan mungkin aja perasaan dia besok udah lumayan tenang” Sambung Divna
“Tapi dia bakal baik-baik aja kan?” Tanya Bryant
“Iya lu tenang aja. Mending kalian balik ke hotel sekarang deh” Ucap Divna
“Ayo Bry” Ajak Samuel
Bryant pun setuju dan kembali ke hotel bersama Samuel. Sedangkan Divna hanya dia bersandar di sofa sambil memikirkan cerita yang di sampaikan Bryant.
“Gadis kecil yang malang” Gumam Divna
Divna pun beranjak dari duduk nya dan pergi ke kamarnya. Setelah beberapa menit dia keluar dengan pakaian yang cukup rapi dan pergi meninggalkan apartemen.
Divna langsung meninggalkan apartemen dengan mobil nya dan juga meninggalkan kota ini. Sudah di pastikan bahwa Garcia sudah tidak berada di kota ini lagi melihat dari sikap nya yang Divna kenal.
Sementara di posisi Garcia, dia baru saja sampai di tempat pribadi nya. Dia langsung masuk ke dalam rumah dan menuju ke halaman belakang untuk menemui hewan-hewan kesayangannya, Demon dan Lucifer.
Hewan-hewan kesayangan Garcia yang merasakan tuannya berada di sini langsung keluar dari kandang nya yang memang tidak terkunci. Hewan-hewan itu mulai menggeliat di tubuh Garcia dan Garcia mengelus pucuk kepala mereka berdua.
“Hai guys” Sapa Garcia
“Kalian udah makan?” Tanya Garcia dan di jawab aungan oleh kedua hewan liar itu
“Sepertinya kalian berburu dengan sangat baik” Ucap Garcia
Lucifer menjilati tangan Garcia, melihat hal itu Garcia tersenyum menatap hewan peliharaannya yang seperti mengetahui perasaannya itu.
“Perasaan ku memang sedang buruk tapi aku baik-baik saja, terimakasih sudah mengerti” Ucap Garcia tersenyum pada mereka berdua
“Kalian masuk lah dan istirahat aku juga akan pergi istirahat” Ucap Garcia