
“Kita mau kemana?” Tanya Garcia
“Aku ingin mengajakmu bermain” Jawab Bryant
Mereka turun ke bawah dan menuju ke halaman belakang. Di halaman belakang sudah di siapkan kan berbagai senjata api yang tertata di sebuah meja panjang dan juga dua busur panah. Selain itu terdapat target yang ada jauh di hadapan mereka.
“Kebetulan hari ini aku selalu ada jadwal berlatih tembak dan memanah, kita berdua akan mencoba nya bersama.” Ucap Bryant
“Seperti nya aku pernah mendengar kamu adalah penembakan jitu dan pemanah terhebat. Apa masih perlu hal seperti ini lagi?” Tanya Garcia
“Gadisku juga sangat hebat dalam hal ini jadi bukankah aku harus menyeimbangi nya” Ucap Bryant menaik turunkan alisnya
“Aku tidak sehebat itu” Ucap Garcia
“Apa maksud ucapan mu ini bahwa kamu mengakui kalau kamu milikku?” Tanya Bryant tersenyum menggoda
“Ck, lupakan lah” Ucap Garcia mengambil salah satu senjata api dan mengokang nya
Dia menatap botol kaca yang di letakan di atas bambu-bambu yang sudah tertanam. Dia langsung menembak sebagian botol yang sudah di sediakan.
“Giliranmu” Ucap Garcia
Bryant yang paham mengambil salah satu senjata yang ada di meja kemudian menembakkan pada sisa botol yang tersedia. Kini botol-botol itu telah di ganti dengan sesuatu.
“Jika besar menembak tepat di tengah titik merah itu, aku akan menuruti satu perintah mu” Ucap Bryant menantang
“Mencoba menguji ku? Bahkan titik merah itu sama sekali tidak terlihat. Tapi baiklah, ada satu hal yang ingin aku tanyakan” Ucap Garcia yang menerima tantangannya
Dia langsung mempersiapkan senjatanya dan saat akan menembak tiba-tiba papan itu berputar dan membuat Garcia melirik ke ke arah Bryant. Dia tahu bahwa tidak mudah jika ingin meminta sesuatu kepadanya pasti dia akan melakukan hal yang akan menyulitkan nya.
Garcia tetap fokus dan memperhatikan papan yang berputar itu. Setelah mendapat kan titik yang pas dia langsung melepaskan tembakan nya.
“Bersiaplah tuan” Ucap Garcia yang yakin bahwa dia menembak tepat sasaran
Anak buah yang memang sedang menjaga dan menyiapkan semua nya langsung mengambil papan itu dan betapa kaget nya dia ketika melihat tembakan itu tepat sasaran. Dia langsung membawa papan itu kepada Bryant untuk di perlihatkan.
“Ini tuan” Ucap Anak buah itu
Bryant langsung mengambil nya dan melihat tembakan Garcia tepat mengenai sasaran. Dia menatap Garcia yang sedang tersenyum kepada nya.
“Katakan apa yang kamu mau?” Tanya Bryant memberikan papan itu kembali ke anak buah nya
“Nanti saja, aku ingin memanah terlebih dahulu” Ucap Garcia yang mengambil busur
“Permainan ini sangat membosankan, aku akan ubah menjadi sedikit seru” Ucap Garcia
Dia langsung melihat anak buah yang tadi sedang berjaga dan langsung memanggil nya.
“HEI, KEMARILAH” Teriak Garcia
Anak buah itu langsung berlari menuju Garcia dan memberikan hormat pada nya.
Kata-kata Garcia yang cukup ambigu itu membuat pria yang di panggil nya merasa ketakutan. Sebab dia pikir bahwa dia akan menjadi sasaran panah calon nyonya nya ini.
“Apakah hidup ku akan berakhir sampai di sini?” Batin anak buah itu
“Tentu saja, lakukan semaumu sayang” Ucap Bryant
“Aku tidak akan membunuh mu, tenang saja” Ucap Garcia yang tahu apa yang sedang di takutkan oleh pria yang ada di hadapan nya ini
“Berdirilah di sana dan letakkan pisang di kepala mu” Ucap Garcia
“Baik nona” Ucap anak buah itu
Meskipun takut dia tetap menuruti perintah dari Garcia. Jika apel mungkin saja dia agak sedikit tenang tapi ini pisang yang pasti nya berjarak sangat dekat dengan kepala nya. Jika tidak mengenai sasaran dahi nya yang akan menjadi korban atau jika berhasil mengenai sasaran tetap saja kepala nya agak tergores dengan besi tajam itu.
Dia langsung berdiri dengan pisang yang ada di kepala nya. Kaki nya terlihat gemetar bahkan dia mengeluarkan keringat yang tentunya keringat dingin.
“Jangan takut, jika kaki mu terus bergetar jangan salahkan aku jika tidak mengenai sasaran” Ucap Garcia yang membuat pria itu semakin takut namun tetap berusaha tenang
“Kamu yakin bisa mengenai sasaran tanpa melukai nya?” Tanya Bryant
“Kamu meragukan ku?” Tanya Garcia yang menarik panah nya
“Aku percaya padamu” Ucap Bryant
Dan tepat setelah ucapan Bryant Garcia langsung melepaskan tarikan panah nya dan membuat pria itu langsung menutup matanya.
Setelah merasakan panah itu melewati atas kepala nya dan mengenai sasaran pria itu langsung terduduk lemas sambil mengecek seluruh kepala nya. Dia langsung menghembuskan nafas lega ketika dia tidak mendapat kan luka sedikitpun.
“Aku sudah bosan, bisa kita pergi?” Tanya Garcia
“Tentu” Jawab Bryant lalu menggandeng Garcia pergi
“Sesaat tadi aku merasa berada di ujung kematian” Gumam nya
“Nona ini memang sangat cocok dengan bos, mereka pergi begitu saja tanpa menanyakan keadaan ku. Sungguh ironis sekali hidup ku” Sambung nya lalu berdiri kembali
“Ada rumah pohon di sini, mau ke sana?” Tanya Bryant
“Boleh” Jawab Garcia
.
.
.
HAI, gimana hari ini?
Selama beberapa hari ini author sibuk bangett. Jadwal yang padet kadang sampe gak sempet nulis bab baru atau bahkan udah cape bangett tapi harus nulis bab baru ehh malah pikiran buntu. Tapi sesibuk apapun author bakal berusaha terus buat kalian.