My Mafia Girl

My Mafia Girl
Sadboy



Divna langsung beranjak meninggalkan meja makan dan pergi menuju ke kamar nya Garcia. Sesampainya di depan pintu dia memencet sebuah layar kotak dan mulai berbicara.


“Hey DG, apa Queen ada di dalam?” Tanya Divna


“Halo nona, ya benar. Queen ada di dalam” Jawab Sistem lewat layak kotak itu


“Bisa tolong bilang aku ada di depan menjemput nya makan malam?” Tanya Divna


“Maaf nona, tapi Queen sudah mengaktifkan sistem jangan ganggu” Ucap Sistem


“Apa dia tidur?” Gumam Divna


Sesaat dia ingat Garcia tadi mengambil beberapa cemilan dan 2 buah kaleng minuman.


“Apa di dalam ada orang lain selain Queen?” Tanya Divna


“Benar nona” Jawab Sistem


“Baiklah terimakasih” Ucap Divna mematikan layar itu


“Bryant juga gak ada di meja makan apa mungkin mereka berdua di dalam?” Tanya Divna


Tak mau lama berfikir, Divna kembali ke meja makan tanpa Garcia.


“Mana tuh bocah?” Tanya William


“Kata sistem, dia tidur dan ngeaktifin mode jangan ganggu” Ucap Divna


“Tumben?” Tanya Arya


“Cape kali, udah biarin aja. Ayo mulai makan” Ucap Divna


Mereka semua mulai makan malam mereka tanpa Garcia. Melihat semua nya sedang sibuk makan Divna berbisik sesuatu dengan Aulia yang berada di samping nya.


“Lu udah cek kondisi nya Bryant barusan?” Bisik Divna


“Dia gaada di ruangannya, jadi gua gak cek” Bisik Aulia dengan jujur


Setalah mengatakan hal itu dia langsung tersadar dan kaget menatap Divna. Divna hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi nya.


“Dia ada di kamar Garcia?” Bisik Aulia


“Kayak nya” Bisik balik Divna


“Wahh langsung sat set” Bisik balik Aulia sambil tertawa kecil


“Kalo lagi makan jangan bisik-bisik” Tegur Ronald


“Sorry” Jawab mereka berdua


“Ngomong-ngomong Bryant mana?” Tanya William


“Iya, tumben. Gaada yang manggil dia?” Tanya Andre


Mendengar pertanyaan itu membuat Divna kaget dia langsung mengkode Aulia untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Aulia yang melihat kode dari Divna mengangguk pelan dan menjawab pertanyaan William


“Ohhh” Ucap William


“Bryant siapa?” Tanya Fadil yang baru pertama kali mendengar nama itu


“Orang yang baru kena racun markas kita dan di rawat di sini” Jawab Kevin


“Selamat tuh orang?” Tanya Arya


“Yaa” Jawab William


“Kok di selamatin?” Tanya Fadil yang heran


“Kalo dia kena racun markas kita berarti dia penyusup dong?” Sambung nya


“Harus di selamatin, kalo gak kita yang bakal mati ikut dia” Ucap William


“Kenapa bisa gitu?” Tanya Rendy yang tak paham maksud William


“Karena dia orang yang spesial bagi Garcia” Jawab Kevin


Ke lima laki-laki itu terdiam dalam pikirannya masing-masing, apa yang di maksud spesial oleh Kevin itu. Namun tidak dengan Fadil yang paham maksud Kevin.


“Gua selesai, gua pergi dulu” Ucap Fadil


Mereka semua melihat kepergian Fadil dan saling tatap mereka paham perasaan Fadil yang masih menyimpan rasa untuk Garcia.


“Kevin sih” Ucap Divna menyalahkan Kevin


“Lah gua kenapa?” Tanya Kevin yang bingung


“Lu kan tau kalo tuh bocah suka sama Garcia” Jawab Aulia


“Ups, sorry” Ucap Kevin baru menyadari kesalahannya


“Jadi itu pacar nya Garcia?” Tanya Arya yang baru saja paham


“Mantan” Jawab Ronald


“Nyaris patah hati juga gua” Ucap Rendy


“Lah lu juga suka sama Garcia?” Tanya Andre


“Kita berlima suka sama tuh bocah, Cuma kita berempat udah nyerah aja tapi beda sama Fadil yang masih memperjuangin Garcia” Jawab Arya


“Bagi Garcia sahabat tetep sahabat gak lebih dari itu” Ucap Roy


“Sabar yaa.. kalian emang cocok jadi sadboy” Ucap Kevin mengejek mereka


“Sialan lu bang” Ucap Arya melemparkan 1 biji anggur pada Kevin dan di balas tawa oleh nya


Sementara di posisi Fadil, saat ini dia berdiri di depan pintu kamar Garcia. Dia ingin memencet tombol di layar kotak itu yang akan menghubungkan nya pada sistem namun tangan nya terhenti sebelum memencet.


“Apa urusan nya buat gua?” Ucap Fadil kembali menurunkan tangannya