
Sementara Garcia dan kedua temannya kini telah mulai memasuki kawasan yang sebenarnya. Setelah ketakutan tadi mereka mulai takjub dengan keindahan tempat ini setelah melewati gerbang utama.
“Apa kita berada di surga?” Tanya Nabila yang masih tersambung dengan telpon
“Ini benar-benar indah” Ucap Mauza
“Ini adalah tempat yang sangat ingin lu ketahui Za” Ucap Garcia
“Iya kah?” Tanya Mauza yang bingung
Kini mereka berhenti di depan bangunan yang besar yang tak terlihat seperti markas sebuah kelompok Mafia. Mereka langsung keluar dari mobil mereka masing-masing. Mauza dan Nabila langsung berjalan menghampiri Garcia.
“Ini rumah lu?” Tanya Mauza
“Bisa di bilang begitu” Jawab Garcia
“Gilakk keren bangett” Ucap Nabila yang melihat sekeliling
“Lu punya taman yang bagus” Ucap Mauza ketika melihat taman yang ada di depannya
“Ayo masuk” Ucap Garcia dan di angguki oleh keduanya dengan semangat
“Zif, mereka siapa? Kenapa mereka membungkuk seperti itu?” Bisik Nabila ketika melihat beberapa orang yang berpapasan dengan mereka selalu membungkuk
“Nanti kalian juga tahu” Jawab Garcia
Saat memasuki mansion semua anak buah Garcia yang ada di dalam langsung membungkuk memberikan hormat pada Garcia dan tentu nya itu membuat kedua temannya bingung.
“Tunggu, mereka?” Batin Mauza ketika melihat salah satu anak buah dengan tato di belakang leher nya
Mauza langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan dimana Garcia sedang memimpin jalan. Dia langsung menutup mulut nya ketika dia menyadari suatu hal. Melihat ekspresi Mauza yang begitu terkejut membuat Nabila menoleh dan bertanya kepadanya.
“Ada apa?” Bisik Nabila
“Dia orang yang sangat ingin aku ketahui dan juga tempat ini” Bisik balik Mauza
Nabila yang bingung dengan kata-kata Mauza hanya diam saja dan menunggu penjelasan dari Garcia nanti. Garcia yang mendengar bisikan kedua temannya tersenyum tipis dan tetap melanjutkan perjalanan mereka menuju ke lantai 3. Tak lama akhirnya lift berhenti di lantai 3 mereka keluar bersama-sama dan langsung menuju ke ruang santai yang berada di lantai itu.
“Bang” Panggil Garcia kepada ketiga abang nya yang sedang sibuk dengan laptop dan ponsel mereka masing-masing
“Oh udah dateng, sini duduk” Ucap William
“Ayo duduk” Ucap Garcia pada kedua temannya yang kini tengah terpesona dengan ketampanan ketiga laki-laki yang ada di depan mereka
“E-eh iya” Ucap Mauza
“Gimana keadaan mu bang?” Tanya Garcia pada William
“Sudah lebih baik” Jawab William tersenyum
"Ohhh"
“Oh ternyata ada nona muda Elvara dan Florenza” Ucap William ketika mata nya menangkap kedua orang di samping Garcia
“Itu sangat mudah diketahui” Ucap William
“Sebaiknya kalian bicara saja dulu. Gua, Kevin, dan Andre akan pergi ada hal yang harus kita urus” Ucap William berpamitan
“Hmm pergilah” Ucap Garcia
Mereka semua diam bahkan setelah kepergian ketiga pria itu mereka bertiga tetap masih diam hingga akhirnya Nabila membuka suara.
“Kenapa pada diem-diem gini sih ah” Ucap Nabila yang mulai kesal
“Tutup mulut mu Bil” Ucap Mauza
“Yakk kenapa sih, lu juga kenapa dari tadi nunduk mulu kayak bukan elu coba. Biasanya juga cerewet banget” Omel Nabila
“Astaga bocah ini bahkan dia tidak paham dengan perkataan ku tadi” Batin Mauza menatap sinis ke arah Nabila
“Apa? Kenapa lu natap gua kayak gitu?” Tanya Nabila
“Maafin temen saya nona Cia” Ucap Mauza menunduk memohon maaf
“Ha? Maksud lu apa sih? Gua salah apa anjirr sampe minta maaf? Terus lu manggil Zifanya dengan sebutan Nona Cia? Apa maksudnya coba?” Ucap Nabila bertanya-tanya
“Gua janji bakal robek mulut mu kalo masih cerewet lagi, gatau apa kalo temennya lagi ketakutan” Batin Mauza yang merasa kesal
“Emang gua ada salah apa sampe minta maaf kayak gitu mana muka Mauza keliatan ketakutan lagi. Gua juga takut sihh sejak masuk sini aura Garcia benar-benar ngebuat gua takut tapi gua tutupi sama tingkah gua” Batin Nabila yang bertanya-tanya
“Bukankah anda ingin menjadi bagian dari kami nona muda Elvara? Bukan kah anda menyelidiki ku untuk mengetahui siapa saya? Namun kenapa sekarang hanya diam? Takut?” Tanya Garcia
“Kalo soal mau gabung emang iya gua mau dan soal menyelidiki nya... gua hanya penasaran. Ahhh tuhann tolongg..” Batin Mauza berteriak ketakutan
“Maaf nona” Jawab Mauza yang tetap menunduk dengan perasaan yang tak tenang
“Hahaha lu gak perlu bersikap kayak gitu kali” Ucap Garcia tertawa
Dia puas bisa mengerjai kedua temannya ini. Sikap nya tadi hanya untuk melihat reaksi Mauza yang terlebih dahulu mengetahui keadaan dan tentu nya wajah takut Mauza menjadi sebuah hiburan yang lucu untuk nya.
“Oh ayolah Za, jangan takut kayak gini angkat kepala mu” Ucap Garcia dan dengan perlahan Mauza mengangkat kepala nya menatap Garcia dengan senyum canggung
“Gua ketua utama di sini dan ketiga laki-laki yang kalian temui tadi adalah abang sekaligus wakil gua” Ucap Garcia
“Kalo mau bicara, bicara saja dengan santai seperti biasa. Tidak perlu terlalu formal jika bukan bentuk pekerjaan” Sambung Garcia dan langsung di angguki oleh Mauza
.
.
.
Hai guys... Gimana hari ini?
Argh besok seninn.... hari yang paling di benci semua orang gak sih hahaha.