May I Love For Twice

May I Love For Twice
Half Bad Night



Hujan lebat yang turun baru reda setelah pukul lima sore. Dua jam Alesha menetap di ruangan mentornya. Namun tidak seperti biasanya, Jacob yang duduk dekat dengan Alesha membuat Alesha merasa tidak enak. Perasaan aneh, seperti ada sesuatu yang coba otaknya cerna.


Jacob hanya terdiam karna sibuk berkutik dengan laptop yang dberada dipangkuannya. Ia tidak menyadari kalau Alesha diam-diam mengintipnya dari balik boneka beruang besar yang sedang dipeluk olehnya.


Alesha bertanya-tanya, kadang kala disuatu waktu, contohnya saat ini, ia merasa kalau semua perlakuan Jacob untuknya itu didasari oleh suatu hal. Alesha menduga kalau mentornya itu menyukainya. Bukan bermaksud kepedean, hanya saja setiap perilaku yang Jacob tunjukkan dan berikan kepada Alesha berbeda dengan yang lain. Kasih sayang dan perhatian, sikap manis juga momen kebersamaan, menghabiskan waktu hanya berdua, bahkan tertidur dipelukan Jacob. Apa itu semua terjadi secara cuma-cuma atau tidak sengaja?


Kita udah banyak lewatin momen berdua tanpa sepengetahuan yang lain, aku tidur dipelukanmu, kita juga sering bercanda, tapi candaan itu gak kaya biasanya. Alesha jadi curiga, Mr. Jacob sayang sama Alesha bukan karna sekedar nganggep Alesha sebagai adik atau saudara. Sebenernya Mr. Jacob itu kenapa sih? Kadang Alesha ngerasa kalau Mr. Jacob itu suka tebar pesona lah, ngode lah, dan apalah itu. Alesha gak mau kegeeran, tapi itu yang Alesha rasain....... Ucap hati Alesha.


Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali. Kini ia sedang berhayal diatas kasurnya dengan mengenakan baju tidur hangat yang sangat nyaman.


Alesha berpikir, menebak dan mengira. Ia pun mulai berucap dalam hatinya sambil menunjuk satu persatu kancing baju tidurnya.


Suka, engga, suka, engga, suka....


"Eh." Alesha mengerutkan keningnya.


Ia pun mencoba dengan cara lain, yaitu melipatkan satu persatu jemarinya sembari mengikuti setiap kata yang hatinya ucapkan.


Engga, suka, engga, suka, engga, suka, engga, suka, engga, suka....


"Ish!" Alesha menghentakkan telapak tangannya sendiri karna sebal dengan hasil akhir yang sama seperti hasil awal tadi.


Dengan malas, Alesha membelokkan wajahnya untuk menatap langit malam melalui jendela yang terbuka lebar. Pikiran Alesha melambung, membayangkan bagaimana jadinya jika ia bersama sang mentor menjalin hubungan kasih?


"Ah, tidak, tidak!"


Alesha menggelengkan kepalanya dengan cepat saat pikiran itu terlintas. Tapi, sayang, pikiran itu tidak hanya melintas, melainkan melekat dalam kepala Alesha. Memberikan bayangan lain yang mungkin akan terjadi jika ia dan Jacob benar-benar menjadi sepasang kekasih.


Engga, Alesha, engga. Hati Mr. Jacob itu punya Yuna. Mr. Jacob itu cintanya sama Yuna!..... Geram Alesha dalam hatinya.


"Alesha.." Tiba-tiba saja Nakyung menepuk bahu Alesha dan membuat si empunya bahu itu terlonjak kaget.


"Ish, kau mengagetkanku!" Protes Alesha.


Nakyung terdiam selama beberapa detik dengan ekspresi wajah malas bercampur bingung.


"Ada apa?" Lanjut Alesha.


"Mr. Levin, dia menunggumu di luar." Jawab Nakyung.


"Oh, ya ampun!" Langsung saja Alesha loncat dari atas kasurnya dan nyaris menubruk Nakyung.


"Ish, Alesha!!" Geram Nakyung.


Di ambang pintu Alesha mengedarkan pandangannya pada koridor panjang.


"Hai." Sapa Levin yang membuat Alesha terlonjak kaget.


"Mr. Levin, huft, aku kaget!"


"Hehe, maaf." Levin memggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Ayo, aku ingin mengajakmu berkeliling taman."


Levin meraih lengan Alesha agar mereka bisa mulai berjalan beriringan. Beberapa pasang mata yang bukan lain adalah murid WOSA, diam-diam mereka menampakkan tatapan tidak suka terhadap Alesha.


"Lihat, kemarin mentornya, sekarang Mr. Levin." Bisik muird wanita itu pada temannya.


"Bukannya dia itu memang selalu cari perhatian ya." Saut murid wanita yang satu lagi.


"Sirik aja jadi orang." Dumal Alesha yang sebal atas sikap para haters -nya.


"Kenapa?" Tanya Levin.


"Tidak apa-apa." Jawab Alesha santai. "Oh ya, Mr. Levin, maaf soal gambar yang kau minta. Aku belum membuatnya. Sebenarnya tadi aku sudah membuat gambar itu, tapi kertasnya basah karna air hujan." Ucap Alesha sembari menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku menemuimu bukan untuk meminta gambar itu, tapi aku memang ingin berjalan-jalan saja bersamamu."


"Oh ya, Mr. Levin, aku ingin bilang sesuatu padamu, tapi sebelumnya aku ingin kau berjanji untuk tidak akan memberitahu pada yang lain."


"Katakan saja, aku tidak pernah menceritakan masalah pribadi atau orang lain kesiapa pun." Balas Levin dengan santai.


Senyuman tersungging begitu saja pada wajah Alesha, namun itu tidak lama karna ekspresi wajahnya mendadak berubah beberapa derajat. Alesha ragu ingin mengatakan suatu hal pada Levin, namun ia begitu penasaran, dan Alesha pikir kalau Levin sepertinya mengetahui jawaban dari suatu hal yang mengganjal dalam benak Alesha.


"Kenapa kau terdiam? Katakan saja, Alesha, aku tidak pernah mengumbar atau membuka aib dan rahasia orang lain."


Kedua manik coklat Alesha bergerak untuk dapat menatap Levin. Tersirat sebuah kebingungan dan keraguan yang Alesha pancarkan melalui matanya.


"Hey, ada apa? Kau memiliki masalah?"


Alesha mengangguk pelan sebagai jawabannya. Tetapi, ekspresinya tidak berubah, masih datar dan dipenuhi tanda tanya.


"Jangan memendam masalahmu sendiri, sayang, katakan saja padaku." Ucap Levin sangat lembut, lengannya pun tidak tinggal diam dan bergerak mengelus puncak kepala Alesha.


"Apa yang ingin kau katakan, hmm?" Levin menyunggingkan senyum hangatnya.


Lalu Alesha berpikir. Apa tidak apa-apa jika ia bercerita mengenai masalah itu pada Levin?


"Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu tentang Mr. Jacob." Jawab Alesha pelan.


"Kenapa dengan Jacob? Apa dia melukaimu?" Raut wajah Levin mulai nampak seirus. Yang Levin curigai adalah Jacob melakukan tindakan yang buruk terhadap Alesha, dan jika kecurigaannya itu benar, maka Levin tidak akan tinggal diam. Ia akan langsung menghajar Jacob saat ini juga.


"Tidak." Alesha menggelengkan kepalanya pelan. "Malah aku ingin bertanya padamu, kau rekan kerja Mr. Jacob di SIO bukan?"


"Iya." Levin mengangguk pasti dengan sorotan mata yang masih terfokus pada Alesha.


Belum ada pertanyaan lanjutan yang Alesha lontarkan kembali. Ia sedang bingung untuk merangkai kata-kata yang ada dalam kepalanya.


"Bagaimana perilaku Mr. Jacob terhadap rekan setim atau teman-temannya?"


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Levin kembali mengubah ekspresi wajahnya. Ia bingung bagaimana harus menjawabnya. Di SIO ia dan Jacob memang rekan setim, tapi itu tidak menandakan kalau hubungan mereka berjalan dengan baik. Ia dan Jacob adalah rival, termasuk dengan Eve. Tiga pria terbaik yang SIO milik itu terlibat dalam panasnya perseteruan dan persaingan. Tapi mereka tetap menjalankan tugas dan pekerjaan dengan baik apa bila SIO mengirim mereka bertiga dalam satu misi tertentu.


"Jacob ramah kesemua orang, dan bersikap negatif padaku." Singkat, padat, dan jelas. Itu bisa mewakili apa yang Levin gambarkan tentang Jacob.


"Baik kesemua orang?" Alesha mengulangi ucapan Levin, namun dengan raut wajah bingung. "Apa dia pernah menyikapi seseorang dengan cara yang berbeda?"


"Kenapa, apa dia bersikap berbeda padamu?" Tanya balik Levin.


"Sepertinya begitu."


Levin pun terkekeh ketika mendengar jawaban dari Alesha. Gadis itu sudah menyadari sikap mentornya, tapi ia butuh kepastian untuk bisa membuktikan prasangkanya terhadap Jacob.


"Kenapa kau terkekeh seperti itu?" Tanya Alesha.


"Tidak, kau lucu." Jawab Levin sambil mencubit gemas pipi Alesha. Mereka berdua tidak menyadari keberadaan Jacob yang sedang asik berjalan di koridor.


Sedangkan Jacob, ia baru saja mendapati gadisnya sedang asik duduk berdua bersama Levin di bangku taman. Saat itu pula rasa cemburu kembali menyeruak dalam dirinya. Segera ia membelokkan langkahnya dan bergerak cepat menuju Alesha.


"Apa yang kalian lakukan malam-malam di sini?" Jacob menghampiri Alesha dan langsung menggenggam jemari gadis itu.


"Mr. Jacob!" Pekik Alesha ketika Jacob tiba-tiba saja datang dan mengejutkannya.


"Kau baru habis kehujanan tadi, kenapa tidak istirahat? Bagaimana kalau kau sakit?" Jacob menatap lekat kedua mata Alesha.


"Ayo, kembali ke messmu sekarang!" Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Jacob langsung menarik lengan Alesha begitu saja untuk berjalan.


"Tidak! Aku tidak mau!" Alesha meronta dan melepaskan cengkaman sang mentor pada pergelangan tangannya.


"Alesha!" Jacob menggeram juga menatap tajam pada Alesha.


Levin yang melihat itu pun segera membawa Alesha kebelakang tubuhnya. Ia tidak suka cara Jacob yang seperti itu pada Alesha. Cemburu boleh, tapi jangan jadikan Alesha sebagai pelampiasan amarah. Begitulah pikir Levin.


"Jangan bersikap seperti itu pada Alesha!" Levin balik menyoroti Jacob dengan tatapan tajam. "Aku yang mengajaknya untuk berkeliling taman.


Jacob menggeram menahan emosinya. Lagi dan lagi Levin membuatnya benar-benar ingin mendaratkan pukulan mentah.


"Aku hanya memintanya untuk menemaniku." Lanjut Levin.


Tatapan Jacob menukik tajam membidik kedua manik coklat milik gadisnya. Sedangkan Alesha sendiri bungkam tanpa bisa mengalihkan matanya dari tatapan sang mentor. Alesha merasa takut ketika melihat Jacob yang sedang diaurai oleh emosi kecemburuan. Refleks Alesha membawa tubuhnya agar lebih mendekat pada Levin.


"Kembali ke messmu!" Titah Jacob pelan namun dengan suara yang dalam.


Alesha menggelengkan kepalanya pelan, ia takut jika mentornya itu akan mengamuk. Jemari Alesha pun dikaitkan pada pergelangan lengan Levin lalu digenggam dengan kuat.


"Kau membuatnya takut, berhenti bersikap berlebihan seperti itu pada Alesha. Kau bukan anak kecil, Jacob!" Bentak Levin.


"Kalau begitu ayo." Satu gerakan kilat dari Jacob membuat Alesha melepaskan genggaman tangannya pada Levin.


"Jangan ikuti kami!!" Jacob menunjuk tepat dihadapan wajah Levin.


"Aku tidak mau kembali ke messku, Mr. Jacob." Lirih Alesha.


"Tidak, kita tidak ke sana."


Jacob membawa Alesha dengan sedikit menyeret langkah gadis itu. Alesha tergesa-gesa karna Jacob berjalan cepat, sedang Jacob sendiri tidak melepaskan genggamannya pada lengan Alesha.


"Mr. Jacob, pelan-pelan."


Jacob menghiraukan permintaan Alesha. Yang Jacob mau saat ini adalah membawa Alesha menjauhi Levin.


Tapi karna ulahnya itu, Jacob membuat Alesha menabrak bangku taman dengan keras.


"Aww.." Pekik Alesha ketika merasakan hantaman pada area paha hingga kaki bawahnya. "Aduhh.. Sakit.." Alesha menarik kasar lengannya agar terlepas dari genggaman Jacob.


"Alesha..." Jacob berlutut untuk menyentuh kaki Alesha yang berbenturan dengan bangku taman, namun dengan cepat Alesha menghindar dengan memundurkan kakinya.


Sambil menahan nyeri yang menyebar kesegala area kakinya, Alesha berjalan dan terduduk dibangku taman.


"Aku sudah bilang untuk pelan-pelan, tapi kau malah terus menarikku!" Protes Alesha pada Jacob yang sudah duduk disebelahnya.


"Maaf, Al." Lirih Jacob.


"Sudah lupakan saja." Ketus Alesha.


Keheningan memenuhi sekitaran mereka berdua. Alesha memijiti kakinya yang terasa nyeri, sedangkan Jacob hanya bisa terdiam sambil melihati Alesha.


Jacob sebenarnya tidak mau bersikap seperti tadi pada Alesha, namun Jacob sendiri tidak tahu kenapa ia menjadi seperti itu? Kecemburuan bisa merubahnya menjadi seorang pemarah.


"Aku mau kembali saja ke messku." Setelah dirasa kakinya sudah tidak begitu sakit, Alesha bangkit dari duduknya. Ia ingin kembali ke messnya, moodnya sudah tidak enak karna sikap Jacob padanya.


"Kalau begitu ayo, aku akan mengantarkanmu." Ucap Jacob. Ia bangkit lalu berjalan beriringan bersama Alesha.


Tidak ada percakapan apapun yang terdengar diantara mereka. Baik Jacob dan Alesha, mereka disibukan oleh pikiran masing-masing. Hingga ketika mereka sampai didepan pintu kamar mess pun tetap tidak ada percakapan yang terjadi, hanya ada satu kalimat yang diucapkan oleh Alesha.


"Terima kasih, Mr. Jacob." Gadis itu langsung menyelonong masuk begitu saja ke dalam kamar messnya tanpa melirik sedikit pun pada sang mentor.


Pintu yang kembali tertutup, tetapi Jacob malah menundukkan kepalanya dan berdiam di tempat.


"Maaf, Al."


Kurang lebih satu menit, barulah Jacob membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke ruangannya.


Dan diatas kasurnya, Alesha berbaring memiringkan tubuh menghadap ke arah tembok sembari memeluk boneka donat yang beberapa bulan lalu ia dapatkan sebagai hadiah dari sebuah toko kue yang sedang berulang tahun.


Alesha memejamkan matanya meresapi setiap kenyamanan yang sedang ia rasakan. Ia enggan untuk memikirkan tentang mentornya. Ia enggan memikirkan apapun saat ini. Ia hanya ingin diam, dan merayap memasuki dunia mimpinya.


Berbeda dengan Jacob. Ia kini berpikir kalau lebih baik Alesha mengetahui perasaannya. Jacob tidak perduli bagaimana Alesha akan menyikapi kejujurannya nanti, yang pasti Jacob akan berusaha agar Alesha mau menerimanya.


......


............


...................


........................


Hmm, authornya lagi galau nih, jadi ngetiknya gak terlalu panjang. Maapkeun ya😞 happy reading, makasih ya buat yang udah vote, like, komen, and rate 5. Luv U.... 🙏😘💋💗