May I Love For Twice

May I Love For Twice
Dikejar Kelompok Jahat II



Dua lelaki yang memasuki toko buku itu mengedarkan pandangannya kesegala sudut ruangan. Mata mereka memicing memperhatikan setiap gerak gerik para pengunjung yang hanya berjumlah beberapa orang saja.


Langkah mereka kembali bergerak memastikan tidak ada satu wilayah pun yang terlewatkan.


"Kau ke sana, aku ke sana." Perintah salah satu dari dua pria itu, dan diangguki oleh pria yang satunya lagi.


Mereka berpencar. Satu dari dua pria itu akhirnya memutuskan untuk menuju kesalah satu lemari panjang yang terletak disisi pojok ruangan dimana ada seorang wanita yang sedang membaca sebuah buku dengan begitu teliti.


Merasakan ada seseorang yang sedang mendekat. Wanita itu akhirnya memasang sikap siaga lalu berjalan menghindari pria yang menghampirinya.


Si pria itu jadi merasa curiga, ia akhirnya mengikuti langkah wanita itu yang mengarah menuju sebuah ruangan yang ternyata berisi beberapa ruang toilet untuk para pengunjung mau pun staf pegawai.


Setelah masuk ke dalam ruangan itu, si wanita pun menghentikkan langkahnya tepat didepan sebuah tembok. Ia memutar tubuhnya dan mendapati lelaki itu sudah berdiri tegap dihadapannya, tetapi wajah wanita itu masih tertutupi oleh buku yang dibacanya sejak tadi.


Pria itu menatap lekat cover buku yang ada didepan matanya. Salah satu tangannya terangkat dan menurunkan posisi buku yang menutupi wajah wanita itu.


"Hai.." Sebuah sapaan kikuk terucap.


"Kau!!" Mata pria itu terbelalak hingga terlihat guratan kemerahan pada bola matanya yang berwarna putih.


Merina tersenyum manis dan...


Bug..


Gadis itu menendang bagian tubuh paling vital untuk para lelaki.


"Argh!" Ringgis pria itu.


Dan sekali lagi Merina melayangkan sebuah tendangan halilintar menuju area yang menampung banyak benih masa depan milik pria itu.


"Ewww.." Merina bergidik jiji.


Selanjutnya, satu buah gerakan kilat berhasil membuat kepala pria itu menghantam keras tembok yang ada dibelakangnya dan membuat pria itu oleng.


Bug...


Satu lagi pukulan keras pada bagian dada, Merina hadiahkan untuk pria itu.


"Maaf, tuan." Merina pun mendorong tubuh pria itu dengan satu jarinya.


Satu orang berhasil ditangani oleh gadis manis didikan si mentor tampan. Lalu sekarang beralih lah pada pria jahat lain yang sedang mengawasi segala hal dalam toko buku itu.


"Hey, tuan." Sapa seorang gadis mungil berkaca mata dan bertubuh sexy yang sedang bersandar manja pada dinding rak buku. Otomatis, pria itu menoleh pada suara lembut yang barusan memanggilnya.


Gadis itu mendekat lalu menggoda dengan gelagat sexy. "Apa yang sedang kau cari, tuan tampan?"


Pria itu merasakan tubuhnya yang memanas akibat pancingan hasrat yang sangat sesual.


"Hmm, kau mau cari buku apa? Biar aku tunjukkan ayo." Ucap Stella. Ya gadis yang menggoda pria itu adalah Stella.


Ya, sesuai dengan rencana yang Alesha buat, Stella pun mau tidak mau harus menggoda pria jahat itu lalu menjebaknya.


Stella membawa pria itu dengan menarik lembut tangannya menuju sudut paling pojok dan paling sepi hingga tidak ada satu orang pengunjung pun yang melihat mereka.


"Maaf, apa kau melihat sekelompok remaja yang memasuki toko ini?" Tanya pria itu.


Stella bergeming, untung saja posisinya sedang membelakangi pria itu, jadi ia bisa menyeringai kecil, mengingat sekelompok remaja yang orang itu cari adalah anggota timnya.


dasar bodoh...... tawa Stella dalam hati.


"Di toko ini banyak kelompok remaja, tuan." Stella membalikkan tubuhnya dan menaruh sebuah buku novel romantis pada dada pria itu. "Kau perlu mengatakan secara detail, tuan." Stella memulai kembali aksinya dengan menggigit manja bibir bawahnya.


Huft..gadis itu sangat lihai dalam bergelayut manja hingga pria yang ada dihadapannya itu cukup kesulitan dalam menelan salivanya.


"Siapa yang sebenarnya anda cari, tuan?" Tanya Stella yang nada bicaranya dibuat semenggoda mungkin.


Pria itu mematung, ia mulai tergoda dan terjerumus masuk dalam jebakkan Stella.


"Katakan, siapa tahu aku bisa membantu." Stella mengangkat kakinya agar dapat berbisisk pada pria itu.


"Aku mencari.. Arghhhh!!!" Ringgis pria itu ketika ia merasakan sensasi nyeri dan ngilu yang berasal dari juniornya.


"Sial! Kau!!" Pria itu menggeram dan berusaha untuk menangkap Stella, namun saat ia maju sedangkan Stella dengan cepat menundukkan tubuhnya, tiba-tiba saja Bastian muncul dihadapan pria itu dan melayangkan pukulan matang yang keras dan mengenai hidung pria itu. Dari belakang, Mike muncul dan menyumbangkan tiga pukulan beruntun pada punggung dan satu pukulan pada tengkuk pria itu.


"Tidak akan pernah lagi aku melakukan hal yang menjijikan seperti itu." Dumal Stella berbarengan dengan ambruknya tubuh pria jahat itu kelantai.


"Tenang, Stel, agent SIO akan segera datang dan menolong kita." Balas Bastian.


"A-apa?" Stella menggelengkan kepalanya seraya menatap bingung pada Bastian.


"Mr. Jacob sudah bilang kalau agent SIO sudah dalam perjalanan untuk menangkap orang-orang jahat itu." Lanjut Bastian.


"Bas, aku sudah mengambil alih sistem CCTV di toko ini." Ucap Lucas.


"Ayo, jangan berkerumun di sini, kita pergi sekarang!" Bastian pun mulai berjalan dengan memimpin di depan.


"Untung toko ini sepi, dan aku berhasil membuat para pegawai yang berjaga di depan menjadi sibuk." Gumam Alesha.


"Pertanyaan apa saja yang kau tanyakan pada pegawai itu? Aku melihat salah satu dari mereka ada yang menahan emosinya saat mendapati pertanyaan bertubi-tubi darimu." Ledek Stella.


"Banyak, bahkan aku menyuruh salah satu dari mereka untuk mencarikanku buku yang sudah tidak dicetak lag." Jawab Alesha sambil menahan tawanya. "Lihatlah, mereka menatap sinis padaku."


"Jangan lengah, tetap fokus, dan kita juga harus bisa bersikap santai dan biasa saja agar tidak ada yang mencurigai kita." Bastian menegakkan tubuhnya dan berjalan sesantai mungkin.


"Hallo, Bas. Semua aman? "


"Tidak juga, kami berhasil menjebak dua pria di toko buku itu, dan sekarang kami sedang berjalan menuju keluar mall."


"Bagus, berhati-hatilah, bukan hanya tim kita saja yang sedang diburu, namun yang lain juga. Jadi, tetap berwaspada dan jangan sampai lengah, agent SIO sudah di dekat kalian dan tidak lama lagi akan menyerbu mall itu,."


"Baik, Mr. Jacob, terima kasih."


"Mr. Jacob menghubungimu?" Tanya Alesha.


"Ya." Jawab Bastian singkat.


"Apa katanya?" Tanya Alesha, lagi.


"Kita harus tetap fokus dan berwaspada, agent SIO akan segera sampai ke mall ini dan menangkap mereka."


"Jadi?" Mike mengangkat sebelah alisnya.


"Jadi kita lanjut pada misi awal kita. Menemukan kartu memori itu juga memecahkan sandinya."


Mereka pun terus berjalan dan melewati beberapa toko. Tidak ada yang terjadi sejak mereka meninggalkan toko buku tadi, namun tiba-tiba saja mereka dibuat sangat kaget ketika ada seseorang yang menghampiri.


"Apa kalian anggota tim Jacob?" Tanya pria itu dengan terburu-buru.


Bastian dan yang lain terdiam tidak berani menjawab, mereka takut kalau lelaki itu adalah salah satu anggota dari kelompok pria jahat yang sedang mengincar mereka.


"Tuan, kami seduah mengepung mall ini, dan mereka berada di toko kosmetik." Ucap lelaki yang lain yang menghampiri.


"Bagus." Balas pria yang tadi bertanya pada Bastian dan yang lain. Lalu pria itu pun kembali menatap Bastian. "Kau Bastian, ketua merekakan? Sekarang cepat bawa mereka keluar dari sini. Pergi menuju parkiran mobil, di sana ada mobil yang tadi kalian pakai." Pria itu meletakkan sebuah kunci mobil pada lengan Bastian.


"Ini, sekarang pergilah, anak buahku akan mengawal kalian." Pria itu mendorong tubuh Bastian agar mulai berlari.


Bastian yang menyadari kalau pria itu merupakan agent yang SIO kirim segera menurut dengan berlari secepat mungkin bersama yang lain.


Di belakang mereka, tiga orang agent SIO yang lain ikut berlari dan mengawal tim Bastian.


Jedor.. Jedor.. Jedor..


Suara tembakan menggema di area parkir. Ternyata sekelompok pria jahat yang bukan lain adalah anak buah Vincent berhasil menemukan Bastian dan yang lain.


Kepanikkan melanda area parkir itu, beberapa orang berlarian untuk menghindar. Bastian dan timnya berusaha membantu, namun agent SIO itu melarangnya.


"Jangan! Di sana mobilnya! Masuk dan cepat pergi!"


Perintah tegas dari salah satu agent SIO yang sedang sibuk melesatkan banyak peluru dengan pistol yang tertodong ke arah beberapa anak buah Vincent.


Mereka pun saling beradu tembak dengan agent SIO dan merusak beberapa mobil juga membolongi dinding-dinding dengan peluru keras.


Bastian dan yang lain dengan cepat juga terburu-buru masuk kedalam mobil dan segera Mike yang mengambil bagian kemudi melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


"Bas, bagaimana ini?" Tanya Merina dengan panik.


"Langsung menuju bukit Hollywood!" Perintah Bastian dengan tegas.


Lucas pun segera membuka kembali maps satelitnya untuk mencari jalan tercepat menuju bukit Hollywood.


"Oh, shit!!" Umpat Mike ketika mobilnya nyaris saja ditabrak oleh mobil lain berwarna hitam mengkilat.


"Sial! Apa mereka tidak tahu kita sedang dalam masalah!" Lanjut Mike. Ia tahu pengendara dan penumpang mobil yang tadi nyaris bertabrakan dengan mobilnya adalah anggota tim Brandon.


"Mike seratus meter lagi ada perempatan jalan, ambil jalur kiri!" Ucap Lucas.


Dan benar saja, Mike melihat lurus kedepan lalu mendapat sebuah perempatan jalan yang cukup ramai. Tapi untungnya mobil yang Mike dan yang lain tumpangi berada dijalur yang tidak sedang terkena lampu merah.


Mike membanting kemudi mobil ke arah kiri hingga ban mobil pun berbelok tajam dan nyaris membuat Bastian, Alesha, Stella, Merina, dan Lucas tersungkur.


"Kemana lagi?" Tanya Mike.


"Terus lurus, kalau bisa tambahkan kecepatannya, tim Brandon berada tepat di belakang kita!" Jawab Lucas.


Mike pun semakin memacu kecepatan mobilnya. Alesha yang merasa dirinya seperti dibawa oleh angin kencang hanya bisa berdoa dalam hati berharap temannya itu tidak akan membawanya pada nasib buruk, mengingat sejak dua hari lalu Alesha merasakan perasaan buruk yang sangat kuat.