May I Love For Twice

May I Love For Twice
Gara-Gara Seblak Hingga Ayah Baru



Setibanya di kediaman besar mereka, Jacob, dan Alesha langsung pergi menuju kamar.


Selang beberapa saat yang ada hanyalah keheningan semata. Alesha membaringkan tubuhnya diatas kasur, begitu pula Jacob yang turut mengikuti istrinya.


"Alesha..." Panggil Jacob sembari memeluk tubuh Alesha dari belakang.


"Hmm..."


"Kau lapar?" Basa-basi Jacob.


"Tidak."


"Tapi kau belum makan, Alesha."


"Aku ingin seblak!"


Seblak? Jacob mengerutkan keningnya.


"Se.. Se... Apa?" Jacob kesulitan untuk mengejah kata 'Seblak'.


"Seeee, blak!" Ulang Alesha.


"Apa itu?"


"Ck!" Alesha membalikkan tubuh untuk menghadap ke arah Jacob. "Makanan khas sunda," Lalu Alesha menggeliatkan tubuhnya, meminta pelukan dari suaminya.


Jacob yang paham dengan kode dari istrinya itu pun langsung membenamkan tubuh minimalis Alesha kedalam dekapannya.


"Aku juga ingin mangga muda dengan sambal gula merah yang sangat pedas yang biasa dijual dipinggiran jalan," Lanjut Alesha.


"Baiklah aku akan meminta Taylor untuk.."


"Kau yang harus membelinya!" Titah Alesha.


"Aku?" Jacob menatap lekat pada iris coklat milik istrinya.


Alesha mengangguk. "Iya, aku ingin kau yang membelinya!"


"Tapi aku tidak tahu tempatnya, Alesha."


Sejenak, Alesha menatapi kedua bola mata suaminya dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Baiklah," Alesha mulai merajuk hingga melepaskan tubuhnya dari pelukan Jacob.


"Hmm, sayang, mungkin ayah kamu udah gak sayang lagi sama bunda. Tapi gak apa-apa, bunda bisa cariin ayah yang baru kok buat kamu," Ucap Alesha sembari mengelusi perutnya yang masih datar.


"Apa?!" Pekik Jacob ketika mendapati arti dari ucapan istrinya barusan. Ralat! Mungkin lebih tepatnya sebuah ancaman.


"Ayah baru?" Untung saja Jacob sudah cukup pandai dalam berbahasa Indonesia, jadi dia paham maksud dari perkataan Alesha barusan.


"Alesha, apa kau mengancamku!" Kini Jacob memposisikan tubuhnya tepat diatas tubuh istrinya.


"Apa bunda mengancam ayahmu, Baby J?" Alesha kembali mengajak bicara janin mungil dalam rahimnya.


"Baby J?" Kening Jacob berkerut bingung.


"Ya Baby J ingin seblak, dan rujak mangga muda. Dia ingin ayahnya yang membelikkannya, tapi karna kau tidak mau, yasudah tidak apa, paling aku akan mencarikan ayah baru untuk Baby J agar keinginannya terhadap seblak, dan rujak mangga muda bisa terpenuhi," Alesha berkata santai.


"Enak sekali bicaramu, Alesha," Ucap Jacob dengan smirk nakalnya. "Kau tidak ingat siapa yang sudah membuat Baby J berada dalam rahimmu?"


"Kau pelakunya! Maka dari itu kau harus bertanggung jawab sekarang atau dengan terpaksa aku akan mencarikan ayah baru untuk Baby J!"


"Ayah baru ya? Hmmm" Jacob mulai mengikisi jarak wajahnya dengan wajah istrinya.


Mendapati hal itu, buru-buru Alesha memeluknya tubuh Jacob, lalu menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya itu. "Belikan aku seblak, dan rujak mangga!" Paksa Alesha yang suaranya tersendat karna terdapat dada Jacob tepat dihadapan wajahnya.


Jacob tertawa kecil melihat tingkah Alesha yang menurutnya lucu.


"Itu keinginan Baby J, atau keinginanmu? Hmm?" Goda Jacob.


"Aku," Balas Alesha dengan sangat, sangat pelan, namun Jacob masih bisa mendengar itu.


"Hahahaha, Alesha, Alesha... " Kemudian Jacob membalikkan tubuhnya dengan sangat mudah, hingga kini tubuh Alesha lah yang berada diatasnya. "Baiklah, sayang. Bagaimana kalau aku menolak untuk mencarikan makanan itu?"


Alesha pun mendengus sebal. "Awas! Ayo, Baby J, kita cari ayah baru untukmu."


Alesha bangkit, dan beranjak dari atas kasurnya.


"Baiklah, kalau begitu aku pun akan mencarikan bunda baru untuk Baby J," Lagi, sepertinya saat ini Jacob sedang sangat ingin sekali untuk menggoda istrinya itu.


Tetapi ternyata, ucapan Jacob barusan malah sukses memberikan gamparan perih pada hati Alesha.


Bunda baru?


Yuna.


Nama itulah yang kembali disebutkan oleh kepala Alesha ketika Jacob menyebutkan kalimat 'Bunda Baru'. Sungguh, jika dipikir lagi, seharusnya bukan Alesha yang mengandung anak dari mantan mentornya itu, melainkan Yuna lah yang berhak, mengingat Yuna adalah cinta pertama Jacob.


Melihat Alesha yang tiba-tiba saja terdiam telak dengan ekspresi datar yang seolah mengisyaratkan suatu hal, Jacob pun berinisiatif untuk mendekati istrinya itu.


"Alesha, ada apa?" Jacob menatap lekat wajah Alesha.


"Alesha..." Lalu Jacob mengguncangkan tubuh istrinya itu berharap akan ada respon balik dari Alesha.


Namun tidak! Alesha masih bergeming dengan ekspresi, dan pikiran yang masih sama.


Yuna..


Yuna...


Yuna....


Dan Yuna.....


Seharusnya bukan Alesha...... Lirih Alesha dalam hatinya.


"Alesha, ada apa?" Jacob mulai panik.


"Alesha, apa perkataanku tadi menyakitimu?" Jacob menangkup wajah Alesha.


"Alesha, bicaralah!"


Alesha hanya memberikan lirikan kilas beraura sendu sebagai respon, dan tentu saja hal itu tidak membuat Jacob merasa puas akan balasan yang diterimanya.


"Alesha, maaf...." Jacob langsung meraih tubuh Alesha, dan dipeluknya erat-erat. Jacob sadar, mungkin secara tidak sengaja ia sudah melukai hati istri tercintanya itu.


"Alesha, bicaralah!"


"Seharusnya bukan aku," Lirih Alesha.


"Apa?"


"Bunda baru, seharusnya bukan aku," Alesha menjeda ucapannya. "Mr. Jacob."


"Tidak, tidak, Al, aku tidak akan pernah mencari bunda baru untuk anak kita sampai kapan pun," Balas Jacob yang kian mengeratkan pelukannya.


Tapi entah kenapa, Alesha merasa jika ucapan suaminya itu bukan tertuju untuknya, melainkan untuk Yuna.


Kenapa rasanya sangat sakit ketika mengingat jika suaminya itu pernah memiliki hubungan bersama wanita lain. Apalagi jika Alesha membayangkan jika seandainya Yuna tidak meninggal, maka saat ini, mungkin saja Yuna lah yang sedang berpelukan bersama Jacob.


"Alesha, dengarkan aku, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, apalagi sekarang kau sedang mengandung anakku, aku tidak mungkin mencari wanita lain, sayang."


"Mr. Jacob......" Kini Alesha mengalungkan lengannya pada leher Jacob. "Kau mencintaiku kan?" Alesha mulai mengeratkan pelukannya. Ia pun menyandarkan kepalanya pada bahu lebar milik Jacob.


"Aku sangat mencintaimu, Alesha, dan juga calon anak kita," Jawab Jacob dengan setulus-tulusnya.


"Kalau kau benar-benar mencintaiku, maka belikan aku seblak, dan rujak mangga muda itu," Alesha harus mengalihkan topik pembicaraan. Ia tidak mau stres hanya karna pikiran tidak jelasnya tadi.


"Baiklah, baiklah, Sayang. Aku akan membelikanmu makanan itu," Balas Jacob seraya melepaskan pelukannya.


"Aku ikut, aku ingin pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu."


"Iya, Sayangku," Jacob mengelusi puncak kepala Alesha yang tertutupi oleh kerudung, lalu sepersekian detik kemudian, masing-masing satu kecupan lembut pun mendarat pada kedua pipi Alesha.


"Ayo kita pergi sekarang," Jacob meraih lengan Alesha, lalu mengajaknya untuk berjalan beriringan.


"Oh ya, apa boleh kita pergi mengunjungi kakek terlebih dahulu?"


"Tentu saja, Sayang."


Sesuai dengan permintaan dari istri tercintanya, Jacob pun terlebih dahulu pergi menuju apartemen dimana kakek Alesha tinggal. Di sana, Alesha begitu riang gembira menceritakan kehamilan pertamanya pada sang kakek.


Jacob pun terlihat bahagia ketika melihat senyum juga tawa manis dari istrinya.


Akhirnya, setelah sebulan lebih kita sibuk dengan urusan masing-masing, besok kita dapat memiliki waktu untuk bersama, Al. Aku sangat bahagia, dan tidak sabar dengan bulan madu kita........ Ucap Jacob dalam hati.


Mungkin sekitar kurang lebih satu setengah jam Alesha asik berbincang bersama kakeknya, kini adalah waktu untuk ia, dan Jacob pergi.


"Kakek, Neng mau pamit dulu ya, nanti Neng bakal sering-sering dateng ke sini lagi kok," Alesha mengelus pelan bahu kakeknya. "Bu Ami, Bu Eka, tolong jaga kakek ya, kalo ada apa-apa langsung kabarin aja ke Alesha," Lanjut Alesha sembari menatap pada kedua suster penjaga, dan pengurus kakeknya.


"Assalamualaikum, Kakek," Alesha melangkah keluar, dan disusul oleh suaminya, Jacob.


"Ayo kita beli seblak, dan rujak mangga muda itu," Alesha menggandeng lengan suaminya sembari tersenyum karna bahagia akan segera dibelikan dua jenis makanan khas Indonesia yang sangat disukanya.


Waktu pun berjalan cukup cepat, ketika sedang dalam perjalanan untuk membeli seblak, dan rujak mangga muda, Alesha, dan Jacob memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu disalah satu pusat perbelanjaan.


Di sana, mereka membeli segala macam kebutuhan untuk menjadi bekal mereka ketika sedang berbulan madu di Turki, juga untuk kebutuhan rumah tangga pada umumnya.


"Kerupuk, kerupuk..." Gumam Alesha yang menatap satu persatu bungkusan makanan yang terpajang pada rak super besar, dan panjang.


"Kwetiau, sosis, baso, cikur, hmmm... Trus apa lagi ya?" Alesha menaruh jari telunjuknya pada keningnya.


Lalu kemudian ia pun kembali berjalan, dan menelisik satu per satu bungkusan makanan untuk menemukan apa yang ia sebutkan barusan.


Dimulai dari kwetiau, Alesha membelinya sebanyak empat bungkus, lalu sosis lima bungkus, dan baso tiga bungkus, tidak lupa rempah cikur sebanyak setengah kilo gram. Kini bahan-bahan yang ada dalam list dikepalanya sudah ditemukan.


Sedangkan Jacob, ia yang tadi sempat berpisah dengan Alesha karna ada orang perusahaan yang menelponnya, kini malah dibuat kebingungan setelah melihat isi troli istrinya.


"Alesha, apa itu?" Tanya Jacob.


"Eh, kau ada di sini, aku pikir masih di luar," Alesha menatap wajah suaminya sembari menunjukan eye smile yang begitu manis. "Hehe, ini semua adalah bahan-bahan seblak. Aku sengaja membelinya karna tidak mungkin juga ada yang berjualan seblak di Turki."


"Ya ampun, Alesha!" Jacob terkekeh.


"Sudah ayo, aku ingin mencari mangga muda, jambu, strawberry, buah naga, dan mayounnaise."


Alesha berjalan begitu saja sembari mendorong trolinya. Di belakang, Jacob tidak dapat menahan senyumannya ketika menyadari kalau mungkin saja istri mudanya itu sedang mengidam.


Sesampainya di tempat buah-buahan, Alesha langsung memilih jenis-jenis buah yang tadi ia sebutkan, tidak lupa ia bergegas menuju sebuah lemari pendingin yang didalamnya terdapat mayounnaise.


"Loma kilo mangga muda, tiga kilo jambu air, empat kilo buah naga, tiga kilo buah strawberry, dan mayounnaise lima ratus gram," Alesha melihat kedalam isi trolinya untuk memastikan tidak ada bahan yang tertinggal.


"Sudah?" Tanya Jacob yang langsung diangguki oleh Alesha.


"Kalau begitu ayo kita bayar semua yang sudah dibeli, lalu pulang," Jacob mengambil alih troli yang semula dibawa oleh istrinya. Ia tidak mau membuat Alesha kelelahan karna mendorong troli yang berisi cukup banyak barang kebutuhan, dan bahan yang tadi Alesha sebutkan.


"Ck, aku ingin seblak, dan rujak mangga mudanya! Kita cari itu dulu baru pulang!" Alesha melipatkan kedua lengannya sembari menatap sebal pada Jacob.


"Iya iya, kita cari seblak, dan rujak itu terlebih dahulu setelah ini," Jacob menatap gemas pada istrinya. "Jika saja bukan di tempat umum, mungkin kau sudah aku habis, sayang."


Alesha tidak menganggapi ucapan Jacob barusan. Ia lebih memilih untuk jalan begitu saja menuju kasir, dan membiarkan suaminya dibelakang mendorong troli itu.


Alesha, Alesha..... Kenapa saat hamil kau malah semakin mengemaskan seperti tadi? Rasanya aku ingin sekali memakanmu, tapi sayang kita berada di tempat umum yang dipenuhi oleh orang-orang....... Ucap Jacob dalam hatinya. Pandangannya tidak dapat lepas dari tubuh minimalis istrinya yang berjalan santai di depan.


"Jack, di sini saja," Alesha memilih salah satu kasir yang kosong, dan belum diantri oleh orang lain.


"Kau tunggu di luar sana, biar ini aku yang urus."


Sepertinya Alesha tidak mendengar ucapan Jacob barusan. Mata Alesha terfokuskan pada ice cream-ice cream yang berada dalam lemari pendingin sebelah kasir.


"Alesha..."


Alesha melirik pada suaminya.


"Kau ingin ice cream?" Tanya Jacob yang langsung direspon cepat oleh Alesha berupa anggukan.


"Ambil."


Satu kata yang Jacob ucapkan barusan membuat Alesha tersenyum cerah. Tidak ingin membuang waktu, Alesha segera mengambil empat cup besar ice cream rasa coklat, dan vanila, lalu satu buah ice cream stick rasa red velvet.


"Sudah," Alesha tersenyum pada suaminya.


"Taruh di sana, dan keluarlah sekarang," Balas Jacob.


Alesha segera menaruh kelima ice cream ke dalam troli untuk dibayar terlebih dahulu oleh Jacob.


Karna barang, dan bahan yang dibeli cukup banyak, jadilah Alesha menunggu cukup lama juga hingga semua yang dibelinya dimasukkan kedalam kardus-kardus kecil.


Alesha menghembuskan napasnya dengan tenang. Ia mulai lapar, seharian ini belum ada asupan makanan untuknya, dan juga untuk Baby J.


"Sudah?" Alesha bertanya pada suaminya yang sedang memasukan kartu ATM kedalam dompet.


"Sudah," Jawab Jacob, singkat.


"Aku lapar," Tatapan memohon dari Alesha membuat hati Jacob cukup tersentuh.


"Kau belum makan ya sejak pagi?" Kini Jacob mengelus lembut puncak kepala istrinya.


"Iya."


"Baiklah, kita akan cari makan kalau begitu," Ucap Jacob sembari menyodorkan plastik kecil berisi ice cream milik Alesha yang langsung diterima oleh istrinya itu.


"Lalu bagaimana dengan belanjaannya? Kita tidak mungkin membawa kardus-kardus itu ke dalam restoran."


"Aku sudah menghubungi Taylor tadi, ia akan datang tidak lama lagi."


"Hmmm syukurlah."


Sementara menunggu Taylor tiba, Alesha, dan Jacob memilih untuk beristirahat pada bangku yang sudah disediakan oleh pihak mall yang hanya berjarak beberapa meter saja dari jejeran meja kasir.


Bosan. Alesha pun membuka ice cream stik yang ia beli, dan memakannya dengan lahap.


"Mau?" Tawar Alesha pada suaminya, Jacob.


"Mau, tapi yang ada didalam mulutmu," Goda Jacob.


"Ish, kau ini!"


Jacob tertawa kecil, sungguh menggemaskan sekali ia memiliki istri.


"Aku sangat beruntung memilikimu, aku mencintaimu, Alesha Sanum Malaika, atau My Lil Ale," Jacob mengelusi kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Aku juga, Mr. Jacob Ridle, atau My Big Guy."


"Big Guy?" Jacob mengerutkan keningnya.


"Ya, kau memanggilku Lil Ale, dan aku akan memanggilmu Big Guy," Balas Alesha, santai.


Semakin gemas rasanya Jacob pada istri kecilnya itu. Sebutan macam apa yang sudah ia dapatkan? Big Guy? Dasar Alesha.


"Alesha.... Alesha...." Jacob tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya, pelan.


"Inilah salah satu hal yang membuatku semakin mencintaimu, Alesha," Kekeh Jacob.


"Baguslah, biar tidak usah ada lagi wanita lain yang kau cintai," Sindir Alesha yang tiba-tiba saja kembali teringat dengan mendiang Yuna.


"Kau tahu, Lil Ale.."


"Tahu apa, Big Guy?"


Jacob melirik tajam pada Alesha ketika ucapannya dipotong begitu saja.


"Ucapanmu memancingku, Sayang."


"Oh."


Kedua mata Jacob menyipit, menelisik raut wajah datar Alesha, yang terlihat cukup menikmati ice cream yang sedang disantap.


"Hutf!" Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar. "Untung saja di sini tempat umum."


"Kau benar, Big Guy, atau jika tidak, pasti aku sudah menjadi santapanmu," Sambung Alesha yang tak diduga-duga. "Aku harap Taylor bisa cepat datang, aku tidak tahan jika harus mengahadapi pria besar yang sedang kelaparan sepertimu saat ini."


Jacob terkekeh. Pria besar yang sedang kelaparan? Owh, istri kecil Jacob itu berhasil memahami apa yang ada dalam kepala suaminya.


Mungkin sekitar lima sampai tujuh menit setelah Alesha berucap tadi, Taylor pun tiba bersama dua anak buahnya.


"Sore, Tuan, Nona," Sapa Taylor.


"Ah, Taylor! Baguslah kau sudah datang, aku sudah kelaparan sejak tadi," Pekik Alesha.


"Maaf membuatmu menunggu lama, Nona," Balas Taylor.


"Tidak apa. Oh ya, bisa kalian bawa kardus-kardus ini ke rumah sekarang?"


"Tentu saja, Nona," Taylor mengangguk.


"Kalian bisa pulang lah terlebih dahulu, aku, dan Alesha akan menyusul nanti," Ucap Jacob.


"Baik, Tuan," Setelah berucap Taylor, dan kedua anak buahnya pun segera mengangkat kardus-kardus yang berjumlah empat itu.


"Kalau begitu kami pergi sekarang, Tuan, Nona, permisi."


Beberapa saat Alesha, dan Jacob memandangi tubuh Taylor, dan kedua anak buahnya yang berjalan kian menjauh.


"Jack, Alesha lapar, ayo makan," Alesha menarik-narik lengan suaminya. "Baby J juga belum dapat asupan malam ini."


"Uuuhhhh, kasian sekali kalian berdua," Jacob mencubit gemas kedua pipi istrinya. Akibat ulahnya itu, kini ia, dan Alesha menjadi bahan tontonan beberapa pengunjung mall.


"Yasudah ayo," Alesha kembali menarik lengan suaminya untuk mulai berjalan. "Kita cari restoran seafood, aku ingin memakan seafood pedas."


"Sesuai perintahmu, Tuan Putri Ale," Jacob membungkukkan tubuhnya selayak pelayan kerajaan yang memberikan hormat kepada tuan putrinya.


Cukup lama Alesha, dan Jacob berkeliling mall untuk mencari restoran seafood, hal itu membuat Alesha merasakan sakit pada kakinya, belum lagi tadi jugakan ia berjalan cukup lama untuk membeli kebutuhan sekunder.


"Jack, kakiku pegal," Keluh Alesha.


"Lagi pula siapa yang menyuruhmu untuk memakai sendal tinggi itu?" Jacob menghentikan langkahnya, lalu menunjuk pada sandal wegdes setinggi delapan centimeter yang istrinya pakai.


"Jika tidak memakai ini aku marasa seperti seorang Hobbit disebelahmu," Balas Alesha.


"Lalu bagaimana? Kau mau memangnya aku gendong?" Tawar Jacob.


"Tidak!" Tolak Alesha. "Sudahlah, ayo kita makan saja di restoran itu!" Alesha menunjuk pada salah satu restoran makanan biasa yang berjarak hanya beberapa langkah dari posisinya berdiri saat ini.


"Yasudah, ayo," Jacob menggandeng lengan Alesha lalu membawanya menuju restoran yang tadi ditunjuk oleh istrinya.


Dan mereka berdua pun memutuskan untuk memesan makanan di restoran itu. Meski Alesha merasa sedikit kecewa karna yang ia mau adalah seafood pedas, sedangkan ia sendiri tidak tahu dimana letak restoran yang menjual seafood pedas itu.