May I Love For Twice

May I Love For Twice
Melepas Rindu Hanya Sesaat



Malam ini, Alesha sengaja mengajak Nina untuk bermalam di apartemennya. Mereka menghabiskan waktu dengan dipenuhi oleh candaan dan gelak tawa. Saling bercerita dan menceritakan masa lalu saat mereka masih sama-sama menyandang status sebagai mahasiswa. Bukan hanya itu saja, salah satu bodyguard Alesha juga membelikkan banyak sekali makanan ringan juga beberapa cup cakes lezat.


Mundur sebelas jam kebelakang untuk menuju waktu Florida, Amerika Serikat. Jacob kini tengah berkutik dengan laptop untuk melihat grafik kenaikan saham yang terjadi sejak tiga bulan lalu. Tapi meski begitu, kepala Jacob tidak bisa melepaskan satu nama yang begitu dirindukannya.


"Alesha.." Gusar Jacob yang meremas rambutnya sendiri.


Ruangan begitu terang karna cahaya matahari yang masuk melalui dinding kaca tebal, namun tidak seterang hati Jacob yang sedang gundah. Berapa hari ia tidak melihat langsung wajah gadis kesayangannya? Sungguh berat walau baru beberapa hari saja.


Jacob ingin Alesha, ingin agar gadisnya itu selalu berada disisinya, tapi situasi dan kondisi benar-benar tidak mendukung. Jacob harus mengurus induk perusahaan, sedang ia sendiri masih belum yakin pada diri sendiri.


Kapan ibunya akan sembuh? Kapan Jacob bisa bertemu dengan Alesha? Satu bulan lagi? Yang benar saja. Hello? Beberapa hari tidak bertemu saja Jacob sudah kalang kabut akibat rindu yang terus mengebut meminta untuk bisa segera bertemu.


Ayolah. Jacob sedang on Fire dengan perasaannya terhadap Alesha. Ia ingin diwaktu libur seperti ini Alesha akan bersenang-senang berdua dengannya. Tapi semua sungguh diluar dugaan Jacob, ibunya jatuh sakit, Mona sedang hamil besar, dan Sharon yang masih terlalu dini jika harus bercampur tangan untuk terjun langsung dalam dunia perbisnisan.


Ya walau pun teknologi sudah sangat memadai untuk Jacob dapat berjumpa dengan Alesha, tapi itu semua tidak sepadan. Pertemuan virtual tidak bisa menyembuhkan kerinduan.


Alesha pun sama. Semakin hari ia semakin merindukan sosok mentornya itu. Alesha jadi khawatir kalau ia juga mulai menaruh rasa pada mentornya. Mencoba menyangkal adalah suatu kebodohan terbesar, namun mau bagaimana juga mentornya itu hanya mencintai Yuna saja, dan tidak ada wanita pengganti sampai saat ini dalam hati mentornya. Begitulah pikir Alesha. Ia hanya takut jika ia menaruh rasa pada mentornya, ia hanya akan mendapatkan luka baru lagi. Yang selalu melekat dalam kepala Alesha adalah Yuna yang masih meratui hati Jacob. Ya, itu memang benar, namun Jacob yang diibaratkan sebagai raja juga sudah mempunyai selir lain yang kini benar-benar dicinta olehnya. Sang ratu memang masih sama, namun dengan perasaan yang sudah berbeda. Sang selir lah yang sebentar lagi akan mengambil alih posisi ratu.


Setiap hari selalu biru, untuk Jacob dan Alesha. Mereka sama-sama merindu dan menunggu. Menunggu untuk waktu dimana mereka bisa kembalikan bertemu, tentunya.


Meski terlihat baik dan berkinerja bagus dipandangan para pegawai dan petinggi perusahaan, Jacob tetaplah sama kala ia sendiri. Sama selayaknya seorang pria kasmaran yang tertekan akibat rindu yang terpendam tanpa bisa mengutarakan atau melepaskan.


Memandang wajah dan mengajak visual manis itu berbicara menjadi jalan alternatif untuk Jacob.


"Sehari, dua hari, tiga hari, hingga satu minggu, dan sekarang dua minggu berlalu? Kau tidak merindukanku, Al? Aku berusaha bekerja sebaik mungkin di sini, tapi aku tidak baik jika belum bertemu denganmu." Lirih Jacob.


"Aku juga ingin tahu apa kau merindukanku, Mr. Jacob. Dua minggu tidak bertemu, biasanya kita akan selalu memiliki waktu bersama." Lirih Alesha pada waktu dan tempat yang berbeda.


"Aku tidak tahu atas dasar apa kau menciumku sebulan lalu, aku tidak tahu kenapa kau begitu perhatian padaku, aku tidak tahu bagaimana dan apa sebenarnya dalang dibalik semua hal yang sudah kau lakukan dan berikan padaku, Mr. Jacob. Apa kau menyukaiku? Aku merasa, kau diam-diam menaruh rasa padaku. Kau selalu membuatku berpikir kalau kau memang menyukaiku. Apa aku harus percaya pada anggapanku itu?"


Lalu di dalam ruang kantornya, Jacob pun menggumamkan perihal yang sama seperti yang sedang Alesha utarakan melalui kata-katanya.


"Apa kau merasakannya, Al? Aku ingin membuatmu memahami perasaan ini walau aku tidak secara langsung mengatakannya padamu. Maaf, aku hanya takut jika kau akan menolakku. Tapi aku rasa kau sudah mengerti, Al. Kau gadis pintar, kau pasti merasakan hal yang berbeda saat aku bersama denganmu. Aku berjanji, jika waktunya sudah tepat, maka aku akan mengungkapkan apa yang aku pendam selama ini. Terima kasih banyak karna kau hadir dan membawaku bangkit kembali, Alesha. Aku mencintaimu. "


" Terima kasih banyak karna sudah hadir, Mr. Jacob. Aku mendapatkan kembali kasih sayang yang sudah lama tidak aku rasakan. Aku menyayangimu, Mr. Jacob. Terus lah seperti ini, aku suka caramu memperlakukanku, kau benar-benar sosok orang tua dan kakak yang dapat membantuku menjadi lebih baik lagi." Alesha tersenyum sebab hatinya yang menghangat.


Alesha pun menutup matanya untuk meresapi semliwir angin berhembus.


Dua minggu tinggal di apartemen, dan tiga hari lalu ia mengunjungi kota hujan, Bogor tempat di mana kakeknya berada juga tempat di mana keluarga dari bapaknya tinggal. Berkat bantuan dari tiga bodyguard setianya, akhirnya Alesha pun dapat mengetahui panti jompo yang menampung kakeknya. Alesha begitu bahagia karna setelah satu tahun, ia bisa berjumpa lagi dengan sang kakek yang begitu menyayanginya.


Walau sudah berkepala delapan, kakek Alesha itu masih sangat ingat bagaimana rupa cucu manisnya yang mewarisi kepintaran dan kecerdasan dari menantu lelakinya. Melihat Alesha sama seperti melihat perpaduan dari mendiang menantu dan anaknya. Kakek Alesha bangga memiliki cucu seperti Alesha, cantik dan cukup shalihah seperti uminya, serta cerdas dan pantang menyerah seperti bapaknya.


Pesan sang kakek yang begitu menyayangi satu-satunya cucu perempuan itu adalah 'Jangan pernah menyerah untuk kembali pada jalan yang benar, dan teruslah mencari wawasan dan ilmu pengetahuan agar kehidupan dapat berjalan dengan seimbang.'


Alesha hanya mengangguk ketika kakeknya menyampaikan pesan itu. Ia juga bersyukur karna memiliki kakek yang mesti sudah termakan oleh usia, namun ilmu dan pengetahuan yang dimiliki tidak pernah berhenti untuk terus dialirkan padanya, sang cucu tercinta. Kakek Alesha bukanlah seorang yang bodoh, wawasannya begitu banyak, entah dari segi agama atau sains. Alesha beruntung, ia terlahir dari orang tua yang cerdas. Namun disisi lain, Alesha tidak lah beruntung karna orang tuanya meninggal karna konspirasi yang dilakukan oleh Mack.


Jacob pun diam-diam sudah menyelidiki dan mencari tahu kasus pembunuhan yang mengorbankan kedua orang tua gadisnya itu.


"Mack memang licik. Dia sengaja menaruh bom dalam mobil Profesor Danu." Gumam Jacob sembari membaca sebuah artikel lama yang ia sudah dihapus oleh penerbitnya atas dasar perintah dari para agent intelegent kenegaraan. Namun karna Jacob adalah seorang peretas handal, tentu saja akan mudah untuknya membuka jalan untuk mendapatkan artikel itu. Mungkin ia akan berurusan dengan aparat intelegent kenegaraan jika sampai aksinya itu ketauan, namun ilmu retas meretas Jacob sudah bukan kaleng-kaleng. Membobol sistem keamanan digital organisasi intelegent dari sebuah negara bukan hal yang tabu untuk Jacob, beberapa kali ia melakukan aksi itu dengan bantuan beberapa temannya yang sesama peretas juga.


"Jadi benar, Profesor Danu memang mengundurkan diri karna tahu jika ia akan terus berhadapan dengan orang-orang jahat dan membawa resiko bahaya yang lebih besar lagi terhadap keluarganya. Jadi, ayah Alesha sudah memprediksi semua yang akan terjadi hingga memutuskan untuk pengsiun, belum lagi kasusnya bersama salah satu petinggi intelegent negara. Keputusan yang tepat memang. Jika ia tetap memilih untuk menjadi profesor, maka ia akan semakin berurusan dengan para penjahat dunia, masalahnya cukup besar karna berhasil menjebloskan Mack kedalam penjara. Jika saja waktu itu SIO turut menyelidiki kasus ini, tapi sayang kasus ini memang tidak ada sangkut pautnya dengan SIO. Padahal SIO tahu kasus ini."


Ceklek..


"Permisi, tuan." Sapa Irene yang membuka pintu dan memasuki ruangan Jacob.


"Irene, ada apa? Silahkan duduk." Balas Jacob.


Irene tersenyum karna mendapatkan perlakuan ramah dari bos barunya itu. Ia pun akhirnya mengambil tempat untuk duduk berhadapan dengan Jacob yang hanya terpisahkan oleh meja kerja saja.


"Ini jadwal kerja, dan perjalanan dinas anda untuk satu minggu kedepan, tuan." Ucap Irene dengan senyum yang semanis mungkin.


"Lusa kita akan menghadiri acara pesta ulang tahun perusahaan milik tuan Bram di Surabaya, Indonesia lalu minggu depan orang kehumasan yang bertanggung jawab atas pabrik minuman berenergi akan datang ke sini untuk membahas kelanjutan program CSR."


Lalu Irene membuka sebuah snelhecter yang berisi beberapa kertas arsip.


"Bagian pergudangan sudah mengajukan untuk mengadakan perabotan kantor yang baru karna yang lama sudah tidak efisien lagi untuk digunakan, tuan. Pihak inventaris sudah mendata barang mana saja yang akan dihapus lalu dilelang, juga barang mana saja yang akan dibeli oleh perusahaan." Irene menunjukkan sebuah berkas berisi data-data aset perusahaan.


"Aset milik perusahaan akan ditambah sesuai dengan jumlah dana yang berada dalam kas perusahaan." Lanjut Irene.


"Ini sudah mencakup semua cabang perusahaan?" Tanya Jacob sembari menaruh jari telunjuknya pada kertas arsip yang ada diatas mejanya itu.


"Dana dari perbendaharaan pusat akan segera dicairkan, tuan." Lanjut Irene. Sekretaris cantik itu sama sekali tidak mau mengalihkan tatapannya dari wajah Jacob. Irene sudah terlanjur jatuh pada pesona anak lelaki dari CEO nya itu.


Dua hari lagi kita akan hadir dalam pesta perayaan ulang tahun perusahaan, tuan, dan aku akan membuat kita untuk terlihat seperti sepasang kekasih. Bos tampan dan sekretaris cantik. Sempurna..... Gumam Irene dalam hatinya.


***


Dua hari kemudian.


Malam ini Irene terlihat sangat cantik, begitu menawan, sexy, dan menggoda. Seperti biasanya, pesta ulang tahun perusahaan kali ini akan dihadiri oleh para pebisnis dunia, tentu saja Irene harus terlihat sempurna agar bisa membawa citra baik untuk perusahaannya.


Cantiknya Irene memang bisa membuat siapa pun jatuh pada pesonanya. Ia selalu menjadi bahan perhatian dalam setiap acara-acara besar yang diadakan oleh setiap perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan milik CEOnya, Laura.


Sambutan hangat dan ramah pun diterima oleh Irene dan Jacob kala mereka memasuki area ballroom yang sudah dipenuhi oleh para petinggi dari perusahaan lain.


Tampak begitu meriah dan mewah pesta ini dengan dekorasi warna yang beradu antara merah mawar dan emas. Pimpinan-pimpinan dari beberapa perusahaan terkenal di dunia hadir dalam pesta itu. Jacob pun termasuk di sana, ia adalah anak dari Laura. Siapa tamu undangan dalam pesta itu yang tidak mengetahui Laura? Wanita paruh baya, CEO utama dari induk beberapa perusahaan konglomerat yang bernama StarStellar Internasional Corp. Tidak diragukan, kepemimpinan ibunda Jacob sudah membawa induk perusahaan yang biasa dikenal dunia dengan sebutan SSIC itu melesat sangat jauh melebihi yang diperkirakan.


Kehadiran Jacob sebagai pengganti sementara kepemimpinan Laura dalam meng-handle perusahaan tentunya begitu menarik perhatian para tender-tender perusahaan.


***


Satu hari lalu, tiga bodyguard suruhan mentornya itu membawa Alesha menuju kota Surabaya atas dasar perintah dari Jacob langsung.


Entah ada urusan apa dan kenapa, Alesha tidak tahu, ia hanya diminta untuk menurut untuk dibawa pergi menuju Surabaya. Awalnya Alesha takut karna ia mengira ketiga bodyguard -nya itu memiliki niat buruk terhadapnya, namun setelah melewati tahap pembujukkan akhirnya Alesha pun mau.


Dan malam ini, Alesha benar-benar dibuat linglung atas penampakan dirinya sendiri melalui pantulan cermin milik sebuah salon ternama di kota itu.


"Nona, ayo kita tidak memiliki banyak waktu lagi." Taylor segera meraih lengan Alesha dan membawa gadis itu pergi menuju mobil sedang mewah yang sudah terparkir di halaman depan salon itu.


"Kita mau kemana?" Tanya Alesha dengan ekspresi panik, bingung, dan juga takut. Ia terus bergerak salah tingkah didalam mobil yang melaju cukup cepat membelah keramaian jalanan umum disalah satu kota terkenal di Indonesia.


Alesha bersungguh-sungguh tidak mengetahui apa yang sudah direncanakan oleh tiga bodyguard itu dengan membawanya menuju kota lain, lalu membelikkan sebuah baju juga menyuruh seorang pesalon untuk memulas wajahnya.


"Tuan, kami sudah sampai." Ucap Taylor melalui alat komunikasi kecil yang terpasang ditelinganya.


Mendengar ucapan dari salah satu bodyguard -nya itu, Alesha pun langsung mengedarkan pandangannya ke arah luar jendela mobil.


"Hotel?" Alesha mengerutkan keningnya.


Mobil pun berhenti tepat di depan pintu masuk hotel yang sudah dijaga oleh dua orang pelayan berpakaian rapi.


"Mari, Nona." Tanpa Alesha tahu, ternyata Taylor sudah keluar dari dalam mobil dan kini sedang membukakan pintu mobil untuknya.


"Eh, apa ini? Kita akan kemana?" Tanya Alesha yang panik.


"Ayo, Nona, kau akan segera tahu." Jawab Taylor sembari menyunggingkan senyum ramahnya.


Alesha yang masih dirundungi oleh perasan bingung dan panik pun hanya bisa menuruti ucapan dari salah satu bodyguard -nya itu. Ia pun berjalan beriringan bersama Taylor yang menuntunnya menuju sebuah ruangan dimana banyak sekali orang berkumpul.


Tempat apa ini? Kenapa banyak sekali orang berpakaian rapi di sini? Acara apa ini? Ya ampun... Resah Alesha dalam hatinya.


"Tuan, kami berada di ambang pintu masuk, menengoklah kebelakang." Bisik Taylor sembari menyentuh alat komunikasi kecil yang berada ditelinganya.


Jacob yang sedang asik berbincang dengan salah satu rekan bisnis ibunya itu langsung menghentikan percakapan mereka setelah kupingnya yang juga dipasangi alat komunikasi kecil mendengar ucapan dari Taylor.


"Oh ya, tuan Smith, saya permisi sebentar ya." Ucap Jacob seramah mungkin.


Setelahnya, Jacob pun langsung membalikkan tubuhnya dan mengedarkan pandangannya kesegala sudut ruangan untuk mencari dua sosok yang sejak tadi sudah ditunggu olehnya.


Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Jacob pun sukses menemukan dua sosok yang sedang mematung disalah satu sudut ruangan dekat pintu keluar.


Sunggingan senyum penuh kebahagiaan langsung terpancar jelas dari wajah Jacob setelah ia melihat sosok gadis kesayangan yang selama dua minggu ini begitu dirindu olehnya.


"Alesha, kau cantik, sayang." Gumam Jacob seraya melangkahkan kakinya untuk berjalan menuju Alesha dan Taylor.


.


.