
"Gunting, batu, kertas." Alesha dan Jacob sama-sama mengayunkan tangan mereka. Beradu menggunakan jari-jari yang menyalurkan kebahagiaan dan canda tawa.
Senyum ceria terpancar dari wajah khas melayu milik Alesha. Gadis itu terlihat begitu bahagia dengan ukiran manis yang terdapat dibibirnya sedari tadi. Belum lagi saat mentornya itu kalah dalam permainan mereka. Alesha tidak bisa menyembunyikan gelak tawanya saat berkali-kali tangan dan jari-jarinya memberikan hukuman kecil karna kekalahan Jacob.
Jacob pun sama. Ia ikut mengukir senyum menawan saat ia harus pasrah mendapatkan hukuman dari gadis yang sedang bermain dengannya itu. Alesha selalu membawa aura baik saat dia tertawa. Siapa saja akan tertarik dengan tawa Alesha. Jacob tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat ini. Hatinya terasa bebas dan nyaman. Tidak ada pikiran atau pertanyaan yang selalu membuat Jacob pusing. Jacob juga berpikir kalau bercanda bersama Alesha bisa menjadi jalan alternatif untuknya agar bisa melupakan semua beban dan pikiran.
"Kau kalah." Ucap Jacob dengan senyum liciknya.
"Alesha tidak kalah, tapi kau yang curang." Protes Alesha.
"Jangan mengelak dari hukumanmu, Alesha." Balas Jacob sambil menjepit hidung Alesha menggunakan celah antara jari telunjuk dan jari tengah.
Alesha menggelengkan kepalanya saat ia merasakan sensasi merinding setelah Jacob menjepit hidungnya.
"Kau curang." Protes Alesha.
"Aku tidak curang, Al." Balas Jacob.
"Kau kalah terus, makanya itu kau berbuat curang." Alesha mendengus.
Jacob menyeringai. "Kalau begitu ayo kita lanjut lagi."
"Baik. Kita hitung siapa yang paling banyak menang, dan yang paling sedikit menang, dia harus diberikan hukuman." Tantang Alesha. Jacob menangguk.
"Gunting, batu, kertas." Alesha dan Jacob sama-sama mengerahkan tangan dan jari mereka lagi untuk mencari sebuah kemenangan.
"Alesha menang!" Seru Alesha dengan semangat. "Kemari." Alesha menggerakkan jari telunjuknya pada Jacob. Jacob tersenyum pasrah. Lagi-lagi Alesha menang, dan sekarang ia harus menerima hukuman tampar dari Alesha.
"Haha, dan selanjutnya aku akan menang lagi." Ucap Alesha sambil saling menggosokan kedua telapak tangan.
Plakk... Sebuah tamparan kecil mendarat di pipi kanan Jacob.
Alesha tertawa. Lagi? Alesha banyak tertawa sejak tadi.
"Ayo mulai lagi." Tantang Jacob.
"Ayo." "Gunting, batu, kertas."
Alesha tertegun. Jacob menyeringai puas.
"Gantian." Ucap Jacob sambil menampar pelan pipi Alesha.
"Gunting, batu, kertas."
Alesha mendengus lagi. Ia kalah lagi dari Jacob. Skor menjadi 1:2, satu untuk Alesha, dua untuk Jacob.
Jacob mencubit gemas pipi Alesha sebagai hukuman karna Alesha kalah.
"Kyaaa.." Alesha meringgis. "Bukan dipipi, tapi dihidung." Omel Alesha sambil memegangi pipinya yang memerah.
"Aku tidak tega jika harus dihidungmu, karna hidungmu masih merah, Al." Balas Jacob sambil tersenyum. Jacob benar-benar menemukan kebahagiaannya saat ini.
"Gunting, batu, kertas."
"Yey, Alesha menang lagi. Skor seri sekarang." Ucap Alesha sambil menepukan tangannya dengan pelan.
"Sini." Alesha menarik hidung Jacob dengan kedua jarinya hingga membuat Jacob meringgis kesakitan.
"Sakit, Al." Omel Jacob sambil mengelus hidungnya yang memerah karna ulah Alesha.
"Gantian." Ucap Alesha dengan percaya diri.
"Gunting, batu, kertas."
Alesha bersorak lagi. Ia menang lagi kali ini.
"Kau bukan ahlinya dalam permainan ini, Mr. Jacob." Ledek Alesha. Jacob terkekeh.
"Sombong." Ucap Jacob dengan malas.
"Haha, bilang saja kau kesalkan karna kalah terus." Alesha menjitak kepala Jacob cukup kencang.
"Maaf... Hahahah." Alesha sengaja menjitak kepala Jacob dengan cukup kencang karna Alesha merasa gemas pada mentornya itu.
"Kau sengaja ya?" Jacob melotot pada Alesha.
"Iya." Balas Alesha dengan polos sambil sedikit menjulurkan lidahnya.
Jacob menyipitkan matanya pada Alesha.
"Kau benar-benar jahil." Jacob segera mencubit pipi Alesha dengan gemas. Tawanya mengema di ruangan itu saat melihat pipi Alesha yang memerah.
"Mr. Jacob, sakit!" Pelik Alesha sambil menepis tangan Jacob yang masih mencubit pipinya.
"Jacob, apa yang kau lakukan?" Tanya Levin sambil tertawa saat melihat pipi Alesha yang berwarna merah.
"Sakit." Protes Alesha sambil menatap sebal pada Jacob.
"Sakit? Mau lagi?" Tawar Jacob yang mulai berhenti tertawa.
"Tidak!" Jawab Alesha sambil menarik hidung Jacob dengan jarinya. Wajah Alesha dan Jacob menjadi sangat dekat saat ini, hanya berjarak beberapa centimeter saja.
Jacob menatap mata Alesha dan hanyut dalam bola kecil berwarna hitam itu. Berbanding terbalik dengan Alesha yang menatap sebal pada Jacob. Dengan sekali gerakan Alesha menampar pelan pipi Jacob.
"Aww.." Jacob meringgis. Ia menatap pada Alesha lalu mendekatkan wajahnya lagi dengan wajah Alesha. Alesha memundurkan wajahnya saat wajah Jacob berada dekat sekali.
"Mau melakukan hal itu lagi? Hmm?" Tanya Jacob pelan.
Alesha menggeleng. Entah kenapa ia malah jadi merasa takut karna tatapan Jacob yang seolah mengintimidasinya.
"Mendekatlah." Ucap Jacob pelan. Alesha masih bungkam. "Mendekatlah." Ucap Jacob sekali lagi.
Tadinya Alesha sempat memajukan sedikit wajahnya untuk mendekat dengan Jacob, namun tiba-tiba pikirannya menolak itu. Alesha segera menggelengkan kepalanya dan mendorong bahu Jacob agar menjauh darinya.
"Jangan tatap aku seperti itu!" Omel Alesha.
"Lalu?" Tanya Jacob dengan lembut.
"Sudah, lupakan! Kita mulai lagi permainannya." Ucap Alesha.
Jacob mengangguk sambil masih menatap mata Alesha.
"Gunting." Ucap Alesha.
"Batu." Ucap Jacob.
"Kertas." Ucap Alesha dan Jacob secara bersamaan.
Alesha menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia kalah dari Jacob.
Jacob tersenyum licik. "Aku menang." Jacob menjitak kening Alesha.
"Setelah ini aku yang akan menang." Ucap Alesha.
"Gunting, batu, kertas."
Jacob tersenyum lagi. Ia menang dari Alesha. Alesha memandang tidak percaya pada tangannya.
Jacob segera menjepit hidung Alesha dan membuat Si yang punya hidung itu meringgis kesakitan. Levin yang duduk disofa tertawa puas saat melihat hidung Alesha yang memerah. Alesha mendengus.
Dan seterusnya juga seperti itu. Jacob menang lagi dan lagi. Tapi walau begitu, Alesha tidak mau menyerah. Ia terus menantang Jacob untuk melanjutkan permainan yang membuat wajahnya itu menjadi terasa nyeri dan juga memerah.
Gelak tawa keluar lagi dari mulut Alesha saat Alesha berhasil mengalahkan Jacob. Alesha mengetuk kening Jacob, dan tawa lagi-lagi terpampang jelas diwajah Alesha. Jacob sengaja untuk lebih mengalah dalam permainan itu agar bisa melihat tawa Alesha yang bisa menular kepada orang yang berada didekatnya.
Alesha memegangi perutnya yang mulai sakit karna terlalu banyak tertawa. Ia begitu geli karna Jacob terus saja kalah dan mendapatkan banyak hukuman dari Alesha. Jacob sendiri hanya tersenyum saat melihat tawa bahagia Alesha. Mata Jacob tidak bisa lepas dari wajah dan mata Alesha. Pikirannya juga tidak hanyut kemana-mana karna Jacob terlalu asik melihat tawa Alesha.
Hanya karna sebuah permainan kecil, kebahagiaan bisa terpancar jelas dari wajah Alesha dan Jacob. Mereka menikmati waktu kebersamaan dengan penuh canda dan tawa.
"Gunting, batu, kertas."
Lagi-lagi Jacob mengalah dan kalah dari Alesha.
"Cukup, aku tidak bisa menarik hidungmu terus, atau hidungmu akan seperti pinokio." Ucap Alesha sambil tertawa geli.
"Sebagai gantinya aku akan menarik kupingmu saja, bagaimana?" Tanya Alesha di sela-sela tawanya. Jacob mengangguk setuju. Ia tidak perduli hukuman apa yang akan Alesha beri karna saat ini Jacob sedang ingin melihat tawa Alesha.
Jacob meringgis saat kupingnya ditarik oleh Alesha. "Maaf, kalau terlalu kencang." Ucap Alesha. Jacob hanya tersenyum.
"Lagi?" Tanya Alesha. Jacob mengangguk.
"Gunting, batu, kertas."
Jacob mengayunkan tangannya lagi.
"Alesha, menang lagi." Seru Alesha.
Jacob menunduk sambil tersenyum.
"Mr. Jacob, sudah tiga belas point untukku, dan lima point untukmu." Ucap Alesha dengan bersemangat sambil menjitak kening Jacob. Jacob meringgis pelan.
"Kau sudah kalah. Aku lelah tertawa." Alesha mulai berhenti tertawa.
"Apa hukumannya?" Tanya Jacob sambil menyandarkan tangannya di pinggiran kasur pasien.
"Akan aku pikirkan itu nanti." Jawab Alesha. "Aku lelah tertawa."
"Ini, minum dulu." Levin menyodorkan air mineral milik Alesha. Alesha mengambil air mineral itu lalu segera meminumnya.
"Bagaimana, masih mau lanjut?" Tanya Levin.
"Tidak! Aku lelah tertawa." Jawab Alesha. "Aku ingin tidur dulu, kepalaku sedikit pusing." Alesha segera berbaring. Karna terlalu kebanyakan tertawa, kepala Alesha menjadi sedikit pusing.
Jacob segera bangkit dari bangkunya dan beralih menuju sofa. Ia akan membiarkan Alesha untuk tertidur, karna sedari tadi Jacob berharap agar Alesha tidur, namun Alesha malah mengajaknya bermain.
Levin menyusul Jacob yang terduduk disofa. Ia duduk disebelah Jacob.
"Aku mendapatkan beberapa fotonya saat ia sedang tertawa." Bisik Levin. "Akan aku kirimkan padamu." Levin melirik pada Jacob.
Jacob tidak menjawab, bahkan Jacob tidak memperdulikan Levin. Ia masih fokus untuk mengingat wajah Alesha yang sedang tertawa. Pandangannya saat ini tertuju pada Alesha yang sudah memejamkan matanya.
Kau manis saat tertidur, dan menggemaskan saat tertawa. Terima kasih sudah menghiburku.....Ucap Jacob dalam hati.
Senyum Jacob terukir begitu saja, dan hatinya menjadi lebih tenang.
"Dia gadis yang lucu, sayang aku tidak bisa memilikinya." Ucap Levin.
Seketika Jacob menatap tajam pada Levin. Apa maksudnya Levin berbicara seperti itu? Levin hanya membalas tatapan Jacob dengan sebuah senyuman lebar. Jacob memutar bola matanya dengan jengah. Ia segera mengalihkan wajahnya dari Levin.