May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kembali Berkorban



Saat ini, Alesha merasakan tubuhnya yang sangat pegal karna hampir satu jam lebih ia menahan tubuh Jacob yang jelas jauh lebih besar dari tubuhnya agar tidak terjatuh.


Kini, Alesha baru saja menyelesaikan makan malam bersama yang lain. Sebenarnya Alesha sudah merasa kelelahan dan kepalanya yang sedikit berputar, dan untung saja Jacob menyadari hal itu.


"Ayo, kau harus kembali ke kamarmu." Jacob membantu Alesha berdiri sambil menuntun Alesha untuk berjalan.


"Mr. Jacob, kepala Alesha pusing." Keluh Alesha.


"Iya, aku tahu, itu sebabnya kau harus segera istirahat." Balas Jacob.


Kesulitan cukup Alesha rasakan saat ia membawa dirinya untuk menaiki anak tangga. Dengan pelan tapi pasti, Jacob membantu Alesha untuk melangkahkan kakinya untuk menaiki setiap anak tangga.


Tanpa Jacob sadari, Alesha terus saja memandangi wajahnya mentornya. Walau hanya terlihat dari pinggir, Jacob tetap saja tampan, dan hal itu membuat Alesha tersenyim-senyum sendiri.


Kau memang menyebalkan, tapi aku suka caramu yang begitu baik dan lembut dalam bersikap padaku disaat-saat seperti ini. Terima kasih untuk semuanya, Mr. Jacob, aku mungkin tidak bisa membalas semua kebaikanmu padaku, tapi aku pastikan kalau aku akan selalu membantumu sebisaku jika kau membutuhkan bantuanku....... Ucap Alesha dalam hati. Kali ini Alesha merasa sangat beruntung, ternyata masih ada orang yang begitu memperdulikannya.


Tanpa terasa, saat ini langkah kaki Alesha dan Jacob sudah sampai pada ambang pintu. Jacob pun segera membuka pintu itu dan membawa Alesha masuk ke dalam kamar.


"Istirahat lah." Ucap Jacob dengan singkat.


"Terimakasih." Balas Alesha dengan senyum kecil.


Jacob yang mendengar ucapan Alesha barusan pun membalasnya dengan sebuah anggukan dan senyuman hangat.


"Selamat malam." Jacob mengusap pelan puncak kepala Alesha, lalu setelah itu, ia pun pergi keluar kamar dan meninggalkan Alesha agar gadisnya itu bisa beristirahat lebih cepat.


"Aku menyayangimu, Al, selamat malam remaja kecilku." Gumam Jacob. Hatinya begitu tenang saat ini. Alesha sudah memaafkannya, dan hubungan mereka kembali berjalan dengan baik.


***


Jam pada dinding bergerak sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan disetiap detiknya.


Malam itu, tepatnya pukul dua dini hari, Mack bersama anak buahnya kembali melancarkan misi keduanya untuk merebut Alesha. Kali ini, Mack sendiri yang langsung menerobos masuk ke dalam istana modern milik Laura. Tanpa bisa diketahui oleh siapa pun, diam-diam Mack menyamar menjadi seorang pelayan rumah. Pengamanan rumah milik Laura begitu ketat, ada banyak pengawal dan bodyguard yang berjaga, namun karna keahliannya, Mack pun berhasil melewati tahap awal misinya. Untuk selanjutnya, Mack segera menghubungi salah satu anak buahnya agar menyiapkan mobil yang akan ia gunakan untuk menculik Alesha. Beberapa sudut dan celah dari rumah itu sudah Mack hapal sehingga Mack dapat membawa Alesha dengan mudah tanpa takut diketahui oleh siapa pun.


"*Kalian sudah didepan?"


"Sudah, Bos."


"Bagus, aku sudah berada dihadapan pintu kamarnya."


"Kita akan berangkat dalam tiga menit*."


Mack pun kemudian memutuskan sambungan komunikasi dengan anak buahnya. Tidak mau membuang-buang waktu, dengan sangat mudah Mack pun membuka pintu kamar Alesha yang terkunci. Dengan jarak sekitar enam meter dari tempat Mack berdiri, yaitu ambang pintu, sebuah kasur besar sedang ditiduri oleh seorang gadis yang selama ini menjadi incarannya. Mack pun melangkah tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Seringai jahat terbentuk pada wajahnya.


"Kali ini aku akan mendapatkanmu, kau harus membayar semua kesalahan yang orang tuamu lakukan dulu terhadapku."


Mack pun segera menaiki kasur besar itu dan perlahan menaruh sebuah pisau tajam tepat dikulit leher Alesha. Alesha yang merasakan ada benda dingin yang menyentuh kulit lehernya pun segera terusik dan mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Jika kau berteriak atau mengeluarkan suara sedikit pun, maka kau akan mati!" Ancam Mack dengan suara yang pelan.


Alesha terkejut saat mendapati seorang Mack yang kini sedang berada di dalam kamarnya, tepatnya diatas kasur dengan sebuah pisau yang dijadikan sebagai alat ancaman.


"Bangun dan taruh kedua lenganmu dipungung!" Perintah Mack.


Alesha takut, ia tidak tahu harus berbuat apa selain menuruti perintah lelaki yang selalu saja mengincarnya itu. Air mata pun terbendung dan tidak dapat lagi Alesha tahan. Tubuhnya bergetar hebat dan rasa takutnya semakin menaik kelevel yang jauh lebih tinggi lagi.


"Ayo." Mack mengambil posisi dibelakang tubuh Alesha sambil menahan kedua lengan gadis itu. Sedangkan tangannya yang satu lagi masih tetap menahan pisau yang menempel pada kulit leher Alesha.


"Jalan!"


Alesha tidak bisa berkutik, ia segera menuruti apa yang Mack ucapkan walau saat ini sekujur tubuhnya bergetar dan diisi rasa takut yang teramat sangat.


Ya Allah, Alesha takut, tolong Alesha, astagfirullah, kenapa harus begini sih? Alesha takut, Ya Allah, tolong... Lirih Alesha dalam hati.


Misi Mack kali ini berjalan lancar, tidak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya dan juga dengan proses penculikan yang kini sedang berlangsung.


Sedangkan Jacob, ia tidak tidur malam itu, Jacob ingin terjaga agar ia bisa memastikan kalau Alesha akan baik-baik saja. Jacob sudah memprediksi kalau Mack akan kembali berulah dalam waktu dekat. Menjadi seorang agent harus memiliki insting dan keyakinan yang kuat akan sesuatu atau masalah yang sedang dihadapi atau pun yang akan dihadapi. Tidak boleh salah perhitungan atau semua tidak akan berjalan dengan semestinya, dan untungnya dengan dibekali banyak pengalaman, sebagai seorang agent Jacob sudah tahu bagaimana ia harus bersikap dan berwaspada akan kehadiran musuh yang bisa saja menyerang secara diam-diam. Keputusan mutlak harus segera diambil saat masalah sudah sangat genting.


Jacob pun berhenti melangkahkan kakinya dengan jarak sekitar tiga meter dari pintu kamar Alesha yang sudah terbuka lebar. Perasaan Jacob mulai tidak enak.


"Alesha.." Jacob berlari menuju kamar Alesha lalu memanggil nama gadis itu.


Namun, tiba-tiba saja lonjakan kecil terjadi pada tubuh Jacob saat menyadari kalau selimut yang Alesha gunakan sudah berada diatas lantai, dan Alesha tidak ada diatas kasurnya. Kemana perginya Alesha?


Jacob panik. Ia masuk dan pergi ke arah balkon. "Alesha.."


Di balkon tidak ada siapa pun, dan Jacob semakin panik. Kemudian Jacob berlari lagi ke arah kamar mandi.


"Alesha..." Saat Jacob membuka pintu kamar mandi itu, ia pun tidak menemukan seseorang di dalamnya.


"Jangan lagi!" Jacob menggeram. Sedetik kemudian kakinya segera terpacu untuk mencari keberadaan gadisnya itu.


Satu persatu anak tangga Jacob absen sambil terus memanggili nama gadis kesayangannya.


"Alesha..." Panggil Jacob yang suaranya menggema diseluruh ruangan.


Alesha terkesiap saat ia mendengar suara Jacob yang memanggil namanya. Mentornya itu tahu kalau Alesha diculik oleh Mack?


"Sial! Cepat jalan!" Mack mendorong tubuh Alesha untuk kembali berjalan.


Namun Alesha tidak mau kehilangan akal. Ia berpura-pura meringgis menahan sakit diperutnya. Saat sebuah kesempatan datang, yaitu ketika dengan sebuah gerakan reflek Mack melepaskan pisau yang menempel pada kulit leher Alesha, dan saat itu pula Alesha berteriak dengan kencang agar mentornya dapat mendengarnya.


"Mr. Jacob, tolong Alesha!!!" Teriak Alesha dengan kencang. Seketika, Mack pun membekap mulut Alesha dan menarik paksa tubuh Alesha agar lanjut berjalan.


"Alesha? Alesha!!" Jacob segera berlari ke arah asal suara milik gadisnya.


Mack menarik tubuh Alesha dengan kasar dan cepat. Ia tahu kalau saat ini Jacob sedang mengejarnya.


"Masukan dia sekarang!" Perintah Mack pada anak buahnya yang sudah menunggu di dalam mobil.


"Mack!" Bentak Jacob dengan kencang. Sadar akan posisinya sekarang yang tidak mungkin dapat mengejar Mack kalau hanya mengandalkan kakinya saja, Jacob pun segera memasuki pos gerbang dan mengambil salah satu kunci mobil yang tergantung.


Kini Alesha sudah dimasukkan kedalam mobil, tapi walau begitu, Mack tetap merasa panik dan takut, Jacob mengejarnya dibelakang dengan mobil lain. Bukan apa-apa, masalahnya yang Mack hadapi sekarang adalah seorang agent SIO yang sangat ahli dalam bela diri dan membantai musuhnya. Walau masih tergolong muda, kemampuan Jacob tidak bisa diremehkan, SIO mengangkat Jacob menjadi seorang agent saat usai Jacob masih berumur dua puluh satu tahun, dan sejak itu, Jacob sudah berhasil berikut serta dalam mengobrak-abrik musuh SIO.


"Ini semua karnamu!" Mack mencengkram leher Alesha hingga membuat Alesha kesulitan bernapas. Alesha meronta-ronta seperti seekor ikan yang membutuhkan air. Napasnya tersendat-sendat, dan lehernya terasa perih akibat kuku jari Mack menancap pada kulitnya.


Mack pun mengambil ponsel miliknya dan berniat menghubungi Vincent. Dicarinya nomor Vincent dalam daftar kontak telepon pada ponsel Mack, lalu setelah itu, Mack pun segera melakukan panggilan pada nomor tujuannya.


Selang beberapa detik, suara khas milik Vincent dapat terdengar jelas pada ponsel Mack.


"*Aku berhasil mendapatkan Alesha, tapi Jacob mengejarku!"


"Aku sudah bilang, Jacob tidak mudah dikelabui, Mack!"


"Pergi ke Lake George State Forest, aku sudah muak dengan keberadaan Jacob yang selalu saja jadi pengacau, kita akan habisi dia di sana, aku akan suruh anak buahku untuk menunggumu di sana."


"Ide bagus, aku juga sudah muak, aku ingin sekali melihat kematian Jacob, aku sudah tidak sabar untuk melihatnya terbujur kaku tanpa nyawa*."


Lagi dan lagi Vincent memutuskan sambungan teleponnya dengan Mack secara sepihak, dan hal itu membuat Mack menjadi geram sendiri. Menurut Vincent, mendengarkan ucapan Mack tidak begitu penting, jadi ia lebih memilih untuk memutuskan sambungan teleponnya saja jika informasi yang penting sudah tersampaikan.


Alesha memberontak saat ia mendengar ucapan Mack yang memiliki niat untuk membunuh mentornya. Itu tidak boleh terjadi, Jacob tidak boleh mati, mentornya itu tidak bersalah, Alesha lah yang memiliki masalah dengan Mack, dan Alesha tidak mau merepotkan mentornya lagi, dan sekarang nyawa Jacob dalam bahaya.


Tolong, jangan lagi, Mr. Jacob tidak bersalah, ini semua salahku, aku yang sudah melibatkan Mr. Jacob, bunuh saja aku jika kau punya masalah denganku, tapi jangan Mr. Jacob, dia lelaki yang baik, dia mentor yang baik dan sangat perduli denganku. Aku mohon. Ya Allah, Alesha harus gimana? Mr. Jacob, Alesha minta maaf..... Ucap Alesha dalam hati. Mulutnya dibekap oleh Mack dan Alesha tidak bisa mengatakan apapun, hanya air matanya yang bercucuran lah yang bisa mewakili perasaannya kali ini. Ketakutan terbesar Alesha sekarang jatuh kepada niat Mack yang merencanakan sebuah pembunuhan yang akan ditujukan pada Jacob. Alesha takut jika Mack akan benar-benar membunuh mentornya. Walau mengesalkan, Alesha tetap tidak bisa menerima jika ada sesuatu yang buruk menimpa pada Jacob. Alesha sudah menganggap Jacob sebagai kakaknya, bahkan sahabat dekatnya di WOSA.


"Setelah Jacob, lalu kau, cantik." Mack mengusap pelan pipi Alesha. "Kau juga akan segera menyusul kedua orang tuamu. Dengan kata lain, kau adalah hutang dari semua kesalahan yang ayahmu lakukan, dan kau juga yang harus membayarnya."


Mack mendekatkan mulutnya pada telinga Alesha. "Dengan nyawamu."


Deg!


Alesha berhenti memberontak. Pikirannya menangkap satu hal setelah mendengar ucapan Mack barusan.


Apa aku juga akan dibunuh?.... Batin Alesha.


Alesha bingung, ia tidak paham maksud dari ucapan Mack kalau ia adalah hutang yang ayahnya tinggalkan, dan ia jugalah yang harus melunasinya.


"Aku ingat ada gadis kecil yang waktu itu berusia delapan tahun, dan kalau tidak salah gadis itu adalah kau, Alesha Sanum Malaika." Mack menyeringai jahat.


"Maaf, karna waktu itu aku sudah membunuh kedua orang tuamu, tapi dengan kebaikan hatiku, maka tidak lama lagi aku akan segera mempertemukan kalian." Mack mengusap pipi Alesha dengan lembut.


Sedangkan Alesha, tepat setelah kata-kata tadi keluar dari dalam mulut Mack, Alesha merasakan hatinya yang terasa seperti dicelupkan kedalam lahar panas yang membuatnya meleleh, hancur, dan lebur, tubuhnya lemas dan bergetar, tusukan-tusukan tajam seolah menghujani hati dan pikirannya. Ingatan beberapa tahun lalu kembali terulang saat ia melihat video mobil orang tuanya yang terbakar hangus, dan itu semua adalah ulah Mack. Air matanya tidak mau berhenti dan terus saja membanjiri wajahnya. Alesha ingin sekali berteriak dan mengutarakan semua isi hatinya. Kenapa semua ini bisa terjadi padanya? Kenapa ia harus menjadi buruan Mack? Kenapa Mack menghancurkan keluarganya? Apa salah ayah Alesha? Apa salah Alesha? Alesha menangis sejadi-jadinya. Alesha tidak menyangka kalau dalang dibalik kematian orang tuanya adalah Mack. Alesha pikir orang tuanya meninggal itu memang karna hanya kecelakaan semata, tanpa ada campur tangan orang lain.


Ya Allah, kalau ini jalan hidup yang harus Alesha lewatin, Alesha ikhlas, tapi tolong pertemukan Alesha dengan orang tua Alesha, ya Allah..... Doa Alesha dalam hatinya yang kini sudah menjadi serpihan-serpihan kecil. Alesha sudah pasrah, jika Mack benar akan membunuhnya maka silahkan asal Alesha bisa benar-benar kembali bertemu dengan orang tuanya. Lalu bagaimana dengan mentornya? Air mata bertambah deras saat Alesha mengingat sosok mentornya yang Alesha pikir tidak tahu apapun.


Mr. Jacob, Alesha minta maaf, Alesha gak mu repotin Mr. Jacob, tolong jangan kejar Alesha, biarin Alesha pergi, Alesha sayang sama Mr. Jacob soalnya Mr. Jacob udah baik banget sama Alesha, makasih selama ini Mr. Jacob selalu ada buat Alesha, maaf kalau Alesha kadang suka songong, tapi Alesha bener-bener capek kalau terus repotin Mr. Jacob...... Ucap Alesha yang mengutarakan perasaan melalui hatinya.


Bersamaan dengan Alesha yang kini begitu panik, takut, dan pasrah, Jacob pun sama. Jacob merasakan hatinya yang seperti ditusuk berbagai macam dan bentuk pisau tajam. Perasaan Jacob benar-benar tidak enak, ia curiga kalau sesuatu yang sangat buruk akan segera terjadi.


Dengan perasaan was-was dan penuh emosi, Jacob melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tidak perduli dengan kendaraan lain, yang mesti Jacob lakukan sekarang adalah mengejar mobil yang membawa Alesha.


"Aku tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kembali padamu, Al, aku tidak perduli apapun itu resikonya akan aku hadapi. Aku hanya ingin kau aman bersama denganku." Ucap Jacob dengan penuh emosi dan penekanan.


Hampir sejaman ia saling kejar-kejaran bersama mobil yang Mack gunakan untuk menculik Alesha, kini Jacob bersama dengan mobil yang ia bawa sudah mulai memasuki sebuah hutan dengan pepohonan rindang yang berada disisi jalan. Jacob tidak tahu apa tujuan Mack membawa Alesha ketempat ini, namun yang pasti bukan untuk tujuan baik.


Suara decitan ban mobil pun terdengar diantara heningnya hutan lebat saat Jacob dengan mendadak menginjak rem pada mobilnya. Dihadapan Jacob sekarang, tepatnya dibalik kaca mobil, Jacob dapat dengan jelas melihat Mack yang sedang mendekap mulut Alesha. Hati Jacob begitu perih saat ia melihat mata Alesha yang terus dialiri oleh air mata. Sorot mata Alesha memberikan sinyal kepasrahan, dan kesedihan yang mendalam pada Jacob. Tubuhnya Alesha terlihat bergetar, dan ditambah lagi dengan sesegukkan yang disebabkan oleh tangisan. Jacob sungguh tidak tega melihat kondisi Alesha yang sekarang ini, tidak pernah sebelumnya Jacob melihat tangisan Alesha yang benar-benar dipenuhi oleh rasa pasrah dan kental sekali dengan kesedihan.


Dengan tekad kuat, Jacob pun membuka pintu lalu keluar dari dalam mobil.


Jangan, pergi lah, Alesha mohon... Batin Alesha.


Jacob sedikit terkesiap saat lagi dan lagi ia merasakan sesuatu seperti meremas hatinya. Ditatapnya Alesha yang kini sedang memandangi Jacob pula. Mata Jacob menyipit dan memastikan sebuah gerakan kecil yang Alesha lakukan pada kepalanya. Apa Alesha memberikan sebuah isyarat pada Jacob?


Kemudian, Mack pun melepaskan lengannya yang membekap mulut Alesha.


"Ada kata terakhir yang ingin kau ucapkan padanya?" Tawar Mack dengan smirk jahatnya.


Alesha terdiam, ia terus saja memandangi mentornya yang berjarak sekitar delapan meter dari tempat ia berdiri. Alesha terus saja menangis sesegukan, ia tidak tahu harus berbicara apa. Sosok lelaki yang cukup Alesha kagumi kini hanya berdiri mematung dengan segala ekspresi bingung dan bertanya-tanya.


"Kau yakin tidak mau mengucapkan kata perpisahan dengan mentormu?" Mack berisik pada Alesha.


Untuk sesaat Alesha terdiam, matanya yang terus berkaca-kaca membuktikan betapa sedihnya hati Alesha saat ini. Alesha tidak mau berpisah dengan mentornya itu. Jujur saja kalau selama ini Alesha merasa nyaman dan aman jika berdekatan dengan Jacob.


"Pergi - -" Ucap Alesha dengan lirih.


"Apa?" Jacob mengerutkan keningnya. Ia tidak bisa dengan jelas mendengar ucapan Alesha barusan.


"Pergi - -" Ucap Alesha yang sedikit menaikkan suaranya.


"Hanya itu saja? Atau masih ada lagi?Aku masih memberikanmu waktu, cantik." Tangan Mack bergerak untuk mengusap air mata yang melewati pipi Alesha.


Alesha tidak berkutik. Ia benar-benar takut dan sudah sangat pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Alesha tidak mau berpisah dengan mentornya, Alesha ingin terus berada dengan mentornya, Jacob sudah seperti keluarga untuk Alesha dan selalu menjaga Alesha. Alesha tidak mau ada perpisahan dengan mentornya itu. Ini terlalu cepat untuk Alesha, bahkan Alesha tidak percaya kalau sekarang akan menjadi akhir untuknya dapat melihat sosok sang mentor.


"Baiklah kalau tidak ad--"


"Pergi, Mr. Jacob, Mack berniat untuk membunuhmu dan juga aku!! Jangan buat dirimu dalam bahaya hanya karna aku!! Biarkan aku pergi!! Aku tidak mau terus menyusahkanmu!!" Teriak Alesha yang bersamaan dengan tersalurnya semua emosi dan perasaan gundah yang membendung dalam hatinya. Air mata Alesha kembali membludak setelah mengucapkan kata-kata itu. Tubuh Alesha bergetar dan lemas, ia kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh jika saja Mack tidak menahan tubuhnya.


Jacob yang mendengar itu pun seketika terkejut. Matanya membulat sempurna. Apa benar yang barusan Alesha katakan itu? Apa benar Mack berniat untuk membunuhnya dan juga membunuh gadis kesayangannya itu? Jika benar, maka Jacob tidak akan pernah membiarkan hal itu sampai terjadi.


"Kumohon, pergilah, sudah cukup kau membantuku, sekarang biarkan aku pergi, jangan libatkan dirimu dalam hal ini." Lanjut Alesha disela-sela tangis derasnya.


"Tidak! Akan! Pernah!" Ucap Jacob yang menekan setiap kata-katanya. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi, Al, apalagi dengan manusia tidak berahlak seperti dia!!" Jacob menunjuk pada Mack. Jarinya mengeras dan semua emosinya sudah menggebu-gebu dan menggolak didalam kepalanya.


"Bunuh dia!" Satu perintah dari Mack itu membuat anak buahnya dan juga anak buah Vincent yang berjumlah tujuh orang maju dan menghadang Jacob.


"Tidak!!" Alesha memberontak. "Mr. Jacob, pergilah, biarkan aku." Tangis Alesha kini benar-benar pecah saat ia melihat mentornya itu mulai dikeroyok oleh tujuh orang sekaligus.


"Mr. Jacob!!" Alesha benar-benar pasrah saat ia menyaksikan langsung bagaimana mentornya itu bergelut dengan tujuh orang sekaligus. Rasanya sangat tidak adil jika Jacob harus bertarung dengan cara dikeroyok seperti itu, apalagi Jacob hanya sendirian.


Tapi bukan Jacob namanya kalau tidak lihai dalam bertarung dan membalikkan setiap serangan yang musuhnya layangkan. Dengan trik-trik khusus yang sudah sangat Jacob kuasai, Jacob dapat dengan mudah membaca setiap pergerakan dari ketujuh lelaki yang mengeroyoknya itu.


"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar dia bisa selamat?" Alesha menatap dengan penuh pengharapan dan permohonan pada Mack.


"Tidak ada! Jangan katakan apapun, tunggu sebentar lagi, dan Mack yang akan menjadi korban selanjutnya dalam kelakuan liciknya sendiri!!" Sahut Jacob yang masih sibuk dengan setiap pergerakan lincahnya dalam menghindar dan menyerang balik pukulan lawan.


"Kau sudah dapat jawabannya kan." Jawab Mack sambil tersenyum manis pada Alesha.


"Tidak! Bukan itu, tolong, Mr. Jacob tidak salah apapun, biarkan dia pergi." Alesha kembali memohon pada Mack. Entah sudah berapa mililiter air mata Alesha yang sudah terbuang, bahkan hingga saat ini, tangisan Alesha semakin bertambah ketika melihat Jacob yang terjatuh setelah menerima pukulan mentah dari anak buah Mack.


"Dia menantangku, jadi aku akan membiarkannya untuk menyelesaikan urusannya saat ini, lalu setelah itu ia bisa berhadapan langsung denganku." Balas Mack yang kembali mengembangkan senyuman lebar pada wajahnya.


"Mr. Jacob, cukup, aku sudah lelah, Kumohon pergilah, hiks."


"Tidak, mereka semua akan aku habisi malam ini!!" Balas Jacob.


"Tidak, kau tidak akan bisa!" Alesha menaikkan level tangisannya. Ia memberontak dari genggaman Mack, namun Mack tetap menahannya.


"Jangan remehkan aku, Alesha!" Balas Jacob.


Suara tangis Alesha yang kian bertambah membuat Jacob semakin bersemangat melancarkan setiap pukulan pada ketujuh pria yang menjadi lawannya sekaligus. Untuk Jacob, jangankan tujuh, sepuluh orang pun Jacob siap untuk menghadapi. Hal seperti ini sudah terlalu biasa untuk Jacob, pekerjaannya memanglah memberantas dan membantai orang-orang yang tidak penting seperti Mack dan Vincent.


Lima belas menit sudah berlalu, Alesha masih belum lelah menangis, bahkan tangisannya pun tidak berkurang. Sebenarnya Alesha sangat lelah, namun Alesha tidak mampu menahan tangisnya saat melihat mentornya yang dihujani oleh pukulan dan tonjokkan. Beberapa luka lebam sudah tercetak pada wajah Jacob, darah bercucuran pada kening dan sudut bibir Jacob, belum lagi pukulan pada bagian perut. Alesha sudah bingung dan pasrah sepasrah pasrahnya ketika melihat tubuh mentornya yang mulai kehilangan kendali dan keseimbangan. Sepertinya Jacob mulai kelelahan dalam menghadapi tujuh lelaki yang memiliki kemampuan bertarung sangat baik. Namun Jacob tidak mau kehilangan momen dan semangatnya, ia terus bertarung hingga tiga diantara ketujuh lelaki itu sudah berhasil Jacob kalahkan dengan mematahkan beberapa tulang milik mereka, dua yang lain terbujur kaku setelah kepala mereka Jacob hantamkan pada batang pohon yang besar dan keras, dan dua yang lain jatuh pingsan saat Jacob mencekik leher mereka mereka lalu kemudian Jacob saling mengadukkan kedua kepala mereka.


Napas Jacob tersenggal-senggal. Ia terlihat begitu kelelahan dan lemas. Jacob dapat merasakan sakit yang menyeluruh pada sekujur tubuhnya, hingga beberapa saat kemudian, Jacob pun ambruk ketanah saat ia sudah tidak mampu lagi menahan tubuhnya untuk tetap berdiri.


"Mr. Jacob!!" Teriak Alesha saat melihat tubuh Jacob yang terjatuh dengan lemas ketanah. Alesha tahu kalau mentornya itu pasti kelelahan dan kekurangan banyak energi. Sayangnya, Mack tetap menahan tubuh Alesha hingga membuat Alesha tidak bisa bergerak, apalagi mendekati mentornya yang sudah terbaring lemas.