
Jacob dan timnya sudah sampai di kantor SIO pusat saat tengah malam. Jacob meminta izin untuk bisa pulang secepatnya karna ia tidak bisa meninggalkan timnya terlalu lama. Mr. Frank menyetujui itu. Jacob akan kembali besok siang. Jacob juga sudah memberikan sempel berlian purba yang ia dan timnya dapatkan di gua tadi sore.
Malam ini, Jacob tidak bisa tidur. Ia terus kepikiran timnya dan Alesha. Kenapa Jacob begitu mengkhawatirkan gadis itu? Ia baru kenal Alesha tiga bulan, dan gadis itu membuat Jacob teringat pada sosok Yuna.
Jacob tersenyum-senyum sendiri di dalam kamarnya. Ia menatap keluar jendela kamar. Ia membuka sedikit jendela itu dan angin berhembus menerpa wajah tampannya. Ia mengambil cincin yang menggantung dikalungnya.
"Aku merindukanmu." Ucap Jacob sambil tersenyum sendu. "Aku tidak bisa tenang jika aku teringat padamu."
"Aku harap bisa bertemu lagi denganmu untuk yang terakhir kalinya. Tiga tahun berlalu dan kau masih menetap dipikiranku. Kembalilah, dan aku akan memakaikan cincin ini padamu. Aku berjanji untuk memakaikan cincin ini hanya padamu. Setelah itu kau bisa pergi lagi dengan tenang." Jacob mengecup cincin itu.
"Aku ingin menepati janjiku." Lanjutnya lirih.
Menyedihkan untuk Jacob. Tidak ada kenangan sama sekali yang Yuna tinggalkan. Bahkan hanya untuk sebuah foto. Mereka tidak pernah memiliki waktu untuk berfoto, dan SIO juga menghapus semua profil Yuna seolah Yuna tidak pernah ada.
Dada Jacob sesak seketika mengingat bahwa ia sudah mulai lupa wajah Yuna, hanya senyum terakhir Yuna saja yang masih menempel dalam ingatannya. Jacob berharap untuk bisa melihat dan bertemu dengan Yuna untuk terakhir kalinya, bukan untuk bisa bersamanya karna itu tidak mungkin. Jacob ingin menepati janjinya pada Yuna.
Jacob menghembuskan nafasnya dengan tenang. Ia tersenyum. "Kau di sana, aku mengharapkanmu untuk kembali."
***
Alesha sangat lelah, satu jam lalu Alesha, Stella, dan Bastian baru menyelesaikan hukuman mereka hari ini. Mr. Thomson bilang sampai jam setengah delapan malam? Ya, dikali dua. Alesha dan yang lain harus membereskan gudang-gudang yang sudah tidak terpakai, menyapu taman agar tidak berserakan dedaunan hingga jam sepuluh malam. Ia sangat amat menyesal. Sekarang ini tubuh Alesha terasa sangat pegal dan sakit. Tidur, duduk, bersandar. Semua posisi tidak memengaruhi rasa sakit itu.
Alesha mengambil ponselnya. Ia mengaktifkan datanya agar bisa terhubung dengan Internet.
Ia membuka akun sosmednya. Alesha tidak langsung tidur. Ia tidak bisa tidur karna badannya yang terasa remuk.
***
Seorang lelaki dengan celana jeans dan jaket yang menutupi tubuh dan wajahnya. Ia hanya menyisakan beberapa centimeter celah untuk matanya.
"Kau membangunkanku, Levin?" Ucap seorang lelaki yang sedang duduk santai disofa dengan balutan baju piyama.
"Kau dapatkan apa yang kau mau, bebas kan keluargaku." Ucap lelaki yang bernama Levin itu dengan datar.
"Jangan terburu-buru. Duduk lah, nikmati kopi ini."
"Aku tidak tertarik." Balas Levin datar.
"Kau mengerjakannya dengan baik, dan pastinya memerlukan banyak energi. Bersantai lah sekarang." Ucap lelaki berbaju piyama itu dengan santai.
"Tidak." Balas Levin datar.
Lelaki dengan baju piyama itu bangun dan mendekati Levin. "Kau ingin keluargamu bebas?" "Aku ingin kau melakukan satu hal lagi, dan aku akan membebaskan mereka."
Levin diam menahan emosinya, tangannya sudah mengepal kuat.
"Kau tau apa tugasnya, lakukan itu, makin cepat kau selesaikan tugasmu, makin cepat juga mereka bebas." Lanjut lelaki itu dengan smirknya dan segera pergi meninggalkan Levin.
***
Jacob mengambil ponselnya. Ia mengaktifkan datanya.
Keningnya berkerut. Alesha masih online tengah malam begini? Jacob mengembuskan nafasnya. Ia menelpon Alesha. Beberapa detik kemudian telponnya diangkat oleh Alesha.
"Hmm.." Suara khas orang bangun tidur.
"Kenapa masih belum tidur? Ini sudah malam, tidur sekarang!" Perintah Jacob.
"Apa? Tidur?"
"YA!"
"Aku sedang tidur dan kau membangunkanku, Mr. Jacob." Balas Alesha dengan suara orang yang mengantuk.
"Tapi ponselmu online." Balas Jacob.
"Kalau begitu aku lupa mematikan datanya." Balas Alesha.
Jacob terdiam sesaat. "Baiklah, lanjutkan tidurmu dan matikan datanya."
"Hmmm.." Alesha memutuskan sambungan telponya dan mematikan data.
Jacob menatap layar ponselnya lalu tersenyum.
***
Pagi tiba. Seluruh murid WOSA melakukan kegiatan mereka seperti biasanya, bersiap pagi-pagi untuk memulai pembelajaran.
"Alesha ada apa denganmu?" Tanya Stella.
"Badanku sakit." Jawab Alesha.
Stella mendengus. "Aku juga."
"Hey, kalian, ayo masuk!" Teriak Nakyung dari dalam kelas.
Alesha, dan Stella segera masuk ke dalam ruang kelas mereka. Alesha sangat tidak bersemangat hari ini. Badannya, terutama kaki dan tangannya terasa seperti membawa beban berat.
Kelas dimulai seperti biasanya. Alesha berusaha untuk menyimak apa yang gurunya terangkan, namun Alesha tidak bisa fokus. Matanya sayu dan sedikit pucat, dan selama kelas berlangsung juga, Alesha terus saja menguap.
***
"Aku akan merindukanmu, kembali lah saat aku sudah melahirkan nanti." Ucap Mona dengan raut wajah yang sedih.
Jacob mengangguk. Sangat jarang untuk Mona bisa bertemu dengan adik kesayangannya itu. Mona cukup sedih karna Jacob harus pergi lagi. Setahun mungkin hanya sekali mereka bisa bertemu.
"Hati-hati, dan kami akan merindukanmu, Jack." Ucap William. Jacob tersenyum. Sebuah pesawat sudah siap untuk mengantar Jacob menuju WOSA. "Jaga kakakku." Balas Jacob. William mengangguk.
"Terimakasih, Jacob, tidak salah aku meminta bantuanmu dan timmu." Ucap Mr. Frank. Jacob tersenyum sambil mengangguk.
Seorang pramugari menghampiri. "Tuan, pesawat sudah siap untuk lepas landas."
"Aku pergi dulu, sampai bertemu lagi." Jacob pamitan pada kakaknya, William, dan Mr. Frank. Ia segera menaiki pesawat yang akan mengantarkannya kembali ke WOSA.
Kakaknya, Mona melambaikan tangan ke arah Jacob. Jacob melambaikan tangan lagi membalas Mona.
Selang beberapa menit pesawat pun lepas landas. Jacob bersandar pada bangku pesawat yang empuk. Matanya memandang ke arah hamparan awan putih.
***
Saat ini adalah jam istirahat, tapi tidak dengan Alesha, Stella, Dan Bastian. Mr. Thomson menyuruh mereka membersihkan rerumputan liar yang ada di kebun belakang WOSA. Ya, WOSA memiliki kebun sendiri untuk memproduksi makanan. Namun, itu bukanlah kebun yang berukuran kecil. Kebun itu memiliki luas dua hektar.
Mr. Thomson tersenyum kepada ketiga remaja didepannya. "Ini akan menyenangkan jika kalian menjalaninya dengan ikhlas."
Alesha, Stella, dan Bastian menghembuskan nafas mereka dengan raut wajah pasrah.
"Kembali lah setelah jam pelajaran hari ini selesai, jika belum, terus lanjutkan, dan satu lagi, sirami kebun ini dengan kotoran yang ada di dalam bak itu." Ucap terakhir Mr. Thomson lalu pergi.
"Aku mulai berpikir kalau Mr. Thomson tidak mempunyai hati." Ucap Stella.
"Aku juga." Sambung Alesha.
"Sudah, ayo kita mulai." Bastian berjalan menuju kebun yang sangat luas itu.
Mereka memulai dengan membersihkan tanah disekitar kebun dari dedaunan kering dan mencabut rumput liar. Stella menyentuh rumput liar itu dengan perasaan jijik. Ia tau kalau rumput liar itu pasti terkena cipratan kotoran. Alesha juga sama, ia menyentuh rumput-rumput liar itu dengan enggan.
Hari semakin siang dan matahari semakin panas. Alesha, Stella, dan Bastian tidak diizinkan untuk pergi dari kebun itu sebelum menyelesaikan tugas mereka. Petugas penjaga kebun tersenyum dari kejauhan saat melihat Alesha, Stella, dan Bastian. Mr. Thomson melarang petugas kebun itu untuk membersihkan kebun hari ini.
"Aku tidak kuat lagi." Ucap Stella sambil menjatuhkan sapu yang ia pegang.
"Aku butuh air." Stella kelelahan dan berjongkok. Ia mengusap keringat yang ada dikeningnya. "Tolong aku." Lanjutnya dengan suara yang didramatisir.
Alesha menatap temannya itu dengan tatapan malas. Ia juga sama lelahnya.
"Ambil air, aku yakin Mr. Thomson tidak akan marah jika kita meninggalkan kebun ini hanya untuk mencari air." Ucap Bastian.
Stella bangun. "Aku akan pergi mencari air." Stella bangun dan berjalan. Ia bergegas untuk mencari air.
"Aku ingin istirahat sebentar saja." Keluh Alesha.
"Aku juga." Sambung Bastian.
Alesha duduk di atas tanah yang sudah bersih dari dedaunan. "Maaf, aku merepotkanmu."
Bastian menatap Alesha. Ia hanya mengangguk.
"Apa yang kau lakukan di dalam sana?" Tanya Bastian.
"Hanya mencaritahu. Aku penasaran." Jawab Alesha.
"Kau tau, aku sama sekali tidak berpikir kalau kau dan Stella ada di dalam bangunan itu." Ucap Bastian. "Bagaimana kau bisa masuk ke sana?" Bastian menatap Alesha dengan penuh rasa penasaran.
"Aku dan Stella mengendap-endap dan kami terkunci di sana, dan aku melihat banyak sekali hewan kecil dan aneh, aku juga melihat beberapa sempel vaksin dan obat-obatan, juga dedaunan. Ada yang diletakkan di lemari, rak, dan menggantung di langit-langit gedung itu. Aku juga melihat bakteri yang berukuran cukup besar melalui mikroskop." Jawab Alesha. "SIO juga baru mengirim sampel baru, dan petugas WOSA akan mengecek sempel itu dulu."
Alesha mengetuk-ngetuk tanah dengan jarinya. Ia mulai merasa bosan. "Kau tau, bangunan itu terdiri dari dua lapis dinding kaca, dan diantara lapisan dinding itu ada asap, dan asap itu lah yang menutupi bagian dalam bangunan."
"Asap?" Bastian mengerutkan keningnya.
"Ya." Balas Alesha.
***
Sudah beberapa jam Jacob dalam pesawat. Sekitar beberapa menit lagi ia akan sampai di WOSA. Jacob tersenyum saat melihat layar ponselnya. Mr. Thomson mengirimkan gambar yang menunjukkan Alesha, Stella, dan Bastian yang sedang dihukum di kebun belakang WOSA.
"Kalian baru aku tinggal beberapa hari dan, Mr. Thomson sudah menghukum kalian seperti ini." Ucap Jacob.
"Mr. Jacob, pesawat akan segera mendarat." Ucap seorang pramugari. Jacob mengangguk. Ia menoleh ke arah jendela. Bangunan WOSA sudah terlihat dari atas. Jacob tersenyum. Ia jadi tidak sabar melihat ketiga anggota timnya yang sedang dihukum.
Beberapa menit kemudian ban pesawat itu menyentuh dan berputar di atas aspal. Pesawat berhenti. Di bawah sudah ada beberapa petugas yang akan membantu Jacob membawa barangnya. Jacob segera beranjak setelah duduk lama dikursi pesawat. Ia memakai kacamata yang berwarna hitam karna di luar cukup terik, dan dengan memakai kaca mata itu sama saja menambah aura tampan yang Jacob miliki.
Pintu pesawat dibuka. Jacob turun melalui tangga disusul dua pilot dan seorang pramugari. Seorang petugas meraih tas Jacob.
"Bawa saja langsung ke ruanganku, aku ada urusan sebentar." Ucap Jacob.
Jacob sampai di kebun. Ia berdiri cukup jauh dari Alesha, Stella, dan Bastian yang sedang membersihkan dedaunan dan rumput liar. Jacob tersenyum. Kasihan namun lucu, itu yang ada dipikran Jacob pertama kali.
"Kkyyaaaaa, ulat!!!!" Teriak Stella yang terkeju dan membuatnya terjatuh seketika .
"Aww.." Pekik Stella. Jacob terkekeh melihat Stella yang terjatuh.
Bastian dan Alesha menghampiri Stella.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Bastian.
Stella menggeleng. "Di sana ada ulat yang besar." Tunjuk Stella sambil bergidik.
"Di mana?" Tanya Bastian.
"Di sana." Stella menunjuk sebuah daun kering yang ada di tanah. Bastian mengambil daun kering itu lalu membalikkannya.
Stella bergidik geli lagi saat melihat ulat itu, Alesha juga. Bastian segera bangkit dan membawa daun itu dan berniat untuk membuangnya.
Stella menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Cukup!! Sudah berapa jam kita di sini!! Aku lelah!!" Ucap Stella dengan emosi. "Lihat! Seragamku kotor! Wajahku penuh dengan pasir dan tanah menjijikan itu!!"
"Aaaarrrghhhhhhh....." Alesha hanya menutup kupingnya saat Stella berteriak.
"Berisik, Stella!" Bentak Bastian. Stella langsung terdiam. Bastian pergi mengambil alat penyiram tanaman yang sudah diisi oleh kotoran hewan.
"Ini, ayo kita lakukan sekarang." Bastian menyodorkan alat itu pada Stella dan membuat sebuah cipratan yang nyaris mengenai Stella jika saja Stella tidak segera menghindar. Stella menatap tajam pada Bastian.
"Tidak! Jangan berikan aku benda kotor menjijikan itu! Aku akan kerjakan yang lain selain itu!" Tolak Stella.
"Baiklah kalau begitu biar aku yang melakukan ini bersama Alesha, kau bagian meratakan kotorannya." Ucap Bastian.
Mata Stella membulat seketika. Ia menahan emosinya. "Baiklah, aku yang akan menyiram tanaman ini bersama Alesha." Stella mendengus.
Stella dan Alesha mengambil alat penyiram tanaman itu. "Ini akan menjadi salah satu hari terburuk dalam hidupku." Ucap Stella.
"Dan yang tidak akan pernah dilupakan." Sambung Alesha sambil mulai menyirami tanaman.
Stella memandang jiji pada kotoran yang mengucur dari mulut alat penyiram tanaman itu. Ia mencoba menahan nafasnya karna tidak mau menghirup bau dari kotoran. Alesha hanya pasrah. Ia sudah tidak perduli lagi dengan penampilannya sekarang. Rambut acak-acakkan, wajah penuh pasir, dan seragam yang kotor.
Bastian sendiri merasa sudah lelah, namun mau bagaimana lagi. Ia menajalani hukumannya dengan penuh kesabaran.
"Jacob, kau sudah sampai?" Tanya Mr. Thomson yang menghampiri Jacob.
"Sudah. Beberapa menit lalu." Jawab Jacob.
Mr. Thomson menatap Alesha, Stella, dan Bastian. Ia tersenyum.
"Sebenarnya aku kasihan pada mereka. Tapi aku rasa hukuman itu cukup untuk membuat mereka kapok." Ucap Mr. Thomson.
Alesha lelah, ia duduk sebentar untuk menghilangkan rasa pegal dikaki dan tangannya. Ia tertunduk. Alesha mengedarkan pandangan disekelilingnya dan mendapati Mr. Thomson sedang berdiri bersama seorang lelaki berkaca mata hitam sedang memantau mereka. Alesha menghiraukannya. Ia kembali berdiri lalu lanjut lagi menyirami tanaman dengan kotoran hewan.
Hari semakin sore dan matahari mulai turun. Bel berbunyi tanda jam pelajaran hari ini telah selesai.
"Kalian dengar?" Tanya Stella.
"Ya." Balas Bastian.
"Ayo, kita sudah selesai dengan pekerjaan kita hari ini." Ucap Stella sambil menaruh alat penyiram tanamannya.
"Siapa bilang?" Mr. Thomson berjalan menghampiri Alesha, Stella, dan Bastian.
"Kalian boleh istirahat sampai jam lima lalu lanjut membersihkan ruangan dan kelas-kelas seperti kemarin." Lanjut Mr. Thomson.
Bastian menunduk pasrah. Alesha memilih untuk beristigfar dalam hati untuk menenangkan hatinya, Stella diam menahan emosi yang bisa jadi meledak. Mr. Thomson melihat sekelilingnya. "Bagus, kalian mengerjakan dengan rapi." Ucapnya lalu pergi begitu saja.
***
"Mr. Thomson memang gila!" Umpat Stella sambil memakan makanannya di bawah pohon.
Alesha dan Bastian menghiraukan Stella yang sedari tadi terus menggerutu. Saat ini mereka sedang beristirahat ditaman tepatnya dibawah pohon sambil memakan makanan yang mereka beli di kantin.
"Aku akan sangat malu jika ada diposisi kalian." Ledek Brandon yang tiba-tiba datang bersama tiga anggota timnya. "Membersihkan kebun, lalu menyiraminya dengan kotoran." Brandon tersenyum meledek.
Bastian hanya mengabaikan Brandon, ia sudah malas menghadapi sikap dan omongan Brandon yang hanya akan menimbulkan permasalahan antar tim.
Stella menatap Brandon dengan penuh emosi. Bastian memegang tangan Stella dan memberi isyarat untuk sabar dan menghiraukan ucapan Brandon.
"Timmu memang buruk." Ucap Brandon dan berhasil membuat emosi Stella yang sudah memuncak keluar. Stella mendorong Brandon hingga jatuh.
"Diamlah! Kau pikir timmu yang paling baik!" Bentak Stella. Bastian menarik Stella untuk mundur kebelakangnya.
"Cukup, Brandon, jangan buat pertengkaran antar tim!" Bastian memeringati Brandon.
Namun Brandon hanya menyeringai. "Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya." Balas Brandon.
"Tapi ucapanmu akan membuat pertengkaran antar tim!" Bentak Bastian. "Ayo, kita pergi dari sini! Tidak ada gunanya beradu mulut dengan Brandon!" Bastian segera berbalik meninggalkan Brandon dan anggota timnya. Alesha dan Stella juga berbalik mengikuti Bastian yang sudah jalan terlebih dahulu.
"Bas, kau tidak apa?" Tanya Alesha.
"Ya, aku tidak apa-apa, hanya kesal dengan Brandon, dan aku berusaha untuk menghiraukan dia agar tidak ada pertengkaran antar tim." Jawab Bastian. Alesha mengangguk paham.
***
"Mr. Jacob sudah kembali, mulai besok ia yang akan mementori kalian lagi." Ucap Laras.
"Sungguh, cepat sekali." Balas Lucas.
Laras tersenyum. "Berarti dia melakukan pekerjaannya dengan baik. SIO tidak akan mengirim dia kembali ke WOSA kalau pekerjaan di sana belum tuntas."
"Lalu di mana dia sekarang?" Tanya Mike.
"Di ruangannya." Jawab Laras.
***
"Aku lelah." Stella mengeluh.
"Banyak banget yang harus kita beresin di sini." Alesha mendengus.
"Kau benar dan aku sudah tidak kuat lagi, tubuhku lengket, aku ingin mandi." Ucap Stella.
"Sepertinya akan seperti kemarin. Selesai jam sepuluh malam." Saut Bastian sambil membawa sapu.
"Tidaakkkk...." Rengek Stella. "Aku belum sempat pergi ke mess hari ini, aku tidak menyentuh ponselku sama sekali, dan ayolah, kita sudah melakukan pekerjaan berat tadi siang." Lanjutnya.
Alesha menghiraukannya. Ia segera beralih merapikan kardus-kardus bekas yang berdebu. Ia ingin pekerjaannya selesai lebih cepat.
Alesha dan dua temannya itu melakukan pekerjaan mereka secepat mungkin. Bastian menaruh dan menumpuk kardus bekas, Stella mengepel lantai, dan Alesha menyapu lantai. Ada sekitar sepuluh gudang seukuran ruang kelas yang harus mereka rapikan malam ini. Lelah? Pastinya. Namun, itu hukuman mereka. Mau tidak mau ya harus mau.
"Kemana petugas kebersihan yang lain?" Tanya Stella dengan kesal. "Kenapa hanya kita?" Lanjutnya.
"Kau benar, di mana petugas kebersihan yang lain?" Sambung Bastian.
"Aku harap Mr. Thomson tidak menyuruh mereka cuti, karna dari tadi aku tidak melihat ada yang membersihkan dan merapikan ruang kelas, taman, dan gudang ini." Pikir Alesha.
Stella mendengus. "Kenapa harus seperti ini hukuman yang harus kita terima? Kita hanya masuk ke dalam bangunan kaca itu dan tidak merusak atau mencuri apapun!!"
"Sudahlah, Aku mau istirahat dan beli makanan dulu ke kantin, aku lapar."
"Yaudah, nanti gantian setelahmu aku ya, baru setelah itu Bastian." Balas Stella. Alesha mengangguk lalu pergi meninggalkan Stella dan Bastian.
Alesha berjalan sendiri di koridor. Namun, tiba-tiba saja ada seseorang bertanya dan membuat Alesha terkejut.
"Butuh makanan dan minuman?" Tanya orang itu dengan santai.
Alesha berbalik. Ia mengerutkan keningnya. "Mr. Jacob?"
***
Jacob dan Alesha saat ini sedang di taman. Alesha sangat terkejut saat tau kalau Jacob sudah kembali. Alesha juga sudah bercerita tentang ia bersama Stella diam-diam masuk ke dalam bangunan kaca hingga akhirnya ia, Stella, dan Bastian harus dihukum oleh Mr. Thomson. Jacob tersenyum mendengar cerita Alesha. Jacob sudah tahu sebelumnya.
"Aku lelah. Tubuhku sangat sakit karna terlalu dipaksa kerja." Ucap Alesha lirih. Jacob kasihan melihat Alesha yang kelelahan, namun Jacob tidak bisa melakukan apapun, Alesha memang harus menjalani hukumannya karna sudah melanggar aturan. Alesha bersandar dikepala kursi taman. Ia memijit tangannya yang dingin karna terkena angin malam. Matanya sudah meredup, ia mengantuk. Jacob memperhatikan Alesha yang sudah tampak kelelahan. Jacob sedikit mendekat pada Alesha. Ia memijit tangan Alesha. Alesha terlonjak kaget saat mendapati Jacob memijit tangannya.
"Biar aku bantu, aku cukup tau bagaimana cara memijit yang baik." Ucap Jacob sambil tersenyum ramah. Alesha menunduk. Ia malu. Lagi?
Ia tidak tahu kalau Jacob bisa sebaik itu.
"Tanganmu dingin?" Jacob memandang Alesha. Alesha hanya mengangguk. Ada rasa khawatir dalam diri Jacob pada Alesha.
Selama beberapa menit tidak ada yang membuka pembicaraan, Jacob juga masih memijit tangan Alesha. Angin berhembus begitu kencang, perlahan mata Alesha mulai menutup karna angin yang menyejukan. Alesha tidak begitu sadar, rasa kantuk mulai merasuki tubuhnya yang juga sudah kelelahan. Matanya menutup sempurna. Perlahan kepala Alesha turun kepundak Jacob. Alesha sendiri tidak menyadari itu karna ia sudah terlelap. Jacob menatap Alesha yang tertidur dipundaknya. Ia tersenyum kecil melihat wajah lelah Alesha. Kasihan. Pikir Jacob. Beberapa saat Jacob menikmati situasi itu. Hening dan damai. Perasaan aneh masuk kedalam hatinya. Ia teringat Yuna lagi. Namun dengan rasa yang berbeda.
"Kau akan marah jika melihat ini, Yuna." Gumam Jacob pelan sambil tersenyum kecil. Malam semakin larut dan angin semakin berhembus dengan kencang.
"Alesha, Mr. Jacob?" Tiba-tiba Bastian datang bersama Stella. Mereka terkejut melihat Alesha tertidur dibahu Jacob. Jacob menaruh jari telunjuk dimulutnya untuk memberi isyarat agar tidak membuat suara yang berisik.
"Aku akan bilang para Mr. Thomson, untuk minta keringanan hukuman untuk kalian hari ini. Kalian pasti lelah karna dari siang sudah bekerja membersihkan dan menyirami kebun." Ucap Jacob pelan. "Kalian pergi lah kembali ke mess kalian." Lanjutnya.
"Alesha, bangun." Jacob mengelus pipi Alesha pelan. Alesha yang merasa terusik, ia kemudian bangun. Matanya membulat seketika saat melihat Bastian dan Stella.
"Ya ampun, maafkan aku, aku terlalu lelah hingga tidak sadar kalau aku tertidur." Ucap Alesha dengan raut wajah bersalah. "Mr. Jacob, maaf aku tidak bermaksud tidur dibahumu." Alesha menatap Jacob dengan tatapan bersalah juga.
Jacob tersenyum hangat. "Tidak apa-apa." Balas Jacob lembut.
"Kau kembali lah ke messmu bersama Stella dan Bastian. Aku akan minta keringanan hukuman untuk kalian hari ini." Lanjutnya.
"Tapi, gudangnya?" Tanya Alesha.
"Kalian bisa melanjutkan besok." Jawab Jacob.
Alesha mengangguk. Ia, Stella, dan Bastian segera pamit pada Jacob lalu pergi meninggalkan Jacob.
Jacob memandang Alesha yang berjalan menjauh bersama Stella dan Bastian. Ia tersenyum lalu segera beranjak dan pergi meninggalkan taman itu.