May I Love For Twice

May I Love For Twice
Poor Alesha



Sebuah helikopter tiba-tiba saja muncul dari sisi timur pantai. Angin yang dihasilkan dari baling-baling helikopter itu membuat pohon-pohon yang berada di tepian pantai menjadi bergerak. Gemuruh dari mesin helikopter mengalihkan pandangan Jacob, Levin, dan Bastian. Mereka bertiga mendapati helikopter itu turun tidak jauh dari lokasi mereka. Dari kejauhan, dapat dilihat ada seorang wanita turun dengan gaya pakaian dan cara berjalan bak kaum sosialita. Kaca mata hitam yang dipakai oleh wanita itu membuatnya cukup sulit untuk dikenali, karna matanya yang tertutup.


"Nyonya Laura." Panggil Levin saat menyadari kalau wanita yang turun dari helikopter itu adalah sosok ibunda Jacob. Wajah Jacob dipalingkan dari arah Laura, malas untuk melihat wanita yang mengaku sebagai ibunya.


"Nyonya kami membutuhkan bantuan anda." Ucap Levin dengan tatapan penuh pengharapan pada Laura.


"Tanya Jacob." Balas Laura dengan dingin.


Levin mengerutkan keningnya. Kenapa harus bertanya pada Jacob? Pikir Levin.


"Mr. Jacob." Panggil Bastian sambil menatap dengan lirih pada mentornya itu. "Alesha butuh bantuan sesegera mungkin, aku mulai tidak merasakan gerakan nafasnya."


"Aku tahu." Balas Jacob dengan pelan.


"Aku akan biarkan gadis itu menggunakan beberapa alat pertolongan pertama yang ada dipesawat pribadiku, lalu mengirimnya pada rumah sakit agar dia segera mendapatkan penanganan dokter." Ucap Laura sambil melihat pada Jacob yang masih setia memeluk tubuh Alesha. "Tapi kau harus memenuhi syarat yang akan aku ajukan!" Lanjutnya dengan tegas.


Rahang Jacob mengeras seketika dan tatapannya dingin juga datar. Ingin sekali Jacob menolak ucapan wanita yang tak lain adalah ibunya itu, namun Jacob harus memastikan Alesha mendapatkan penanganan pertama secepat mungkin.


"Jack!" Panggil Levin dengan penuh emosi saat Jacob belum juga memberikan jawaban. "Kau bisa membunuh Alesha jika terlalu lama berpikir!" Lanjut Levin seraya mendekat pada Jacob.


"Baiklah, katakan apa maumu?" Tanya balik Jacob yang menerima tawaran dari ibunya.


Laura tersenyum saat mendengar keputusan Jacob barusan. "Akan kukatakan nanti, sekarang bawa dia ke helikopterku. Gadis itu membutuhkan pertolongan secepatnya." Jawab Laura.


Dengan segera Jacob bangkit dan membawa Alesha menuju helikopter.


"Kalian, tunggu lah sebentar lagi akan ada yang menjemput kalian dari WOSA." Ucap Laura pada Levin dan Bastian.


Langkah kaki Laura segera bergerak dan mengarah menuju helikopter. Ia duduk tepat dihadapan Jacob, dan hal itu membuat Jacob merasa risih. Hati Laura meronta untuk meminta memeluk Jacob, anaknya. Laura begitu merindukan Jacob yang kini sudah menjadi pria dewasa. Bagaimana juga Jacob adalah anaknya, dan Jacob bersama Mona harus meneruskan perusahaan yang Laura dan mendiang suaminya miliki. Penyesalan terus saja mendiami lubuk hati Laura saat ia mengingat kejadian kelam dua puluh tahun lebih yang lalu. Anaknya, tumbuh tanpa ada bimbingan dari orang tua, bahkan Laura bingung bagaimana kedua anaknya bisa tumbuh dan menjadi sehebat sekarang.


"Siapa nama gadis itu?" Tanya Laura dengan lembut.


Awalnya Jacob tidak menjawab, namun setelah beberapa detik akhirnya Jacob mau membuka mulutnya. "Alesha." Jawab Jacob dengan datar.


"Dia gadis yang manis." Puji Laura sambil mengelus pelan kening Alesha dengan harapan kalau ia dapat melakukan pembicaraan kecil bersama Jacob selama diperjalanan menuju WOSA. Namun, sayangnya Laura tidak mendapat balasan apa pun dari Jacob. Menyedihkan untuk Laura, diacuhkan oleh anak sendiri.


"Jacob, ibu tahu.."


"Kau bukan ibuku." Balas Jacob yang memotong ucapan Laura.


Deg!


Hati Laura serasa ditarik oleh sesuatu yang sangat menyakitkan, dan mendadak paru-parunya seolah kehilangan cara untuk mendapatkan oksigen. Tusukan tajam sukses mengenai jantung Laura karna ucapan Jacob. Sebenci itu Jacob pada ibunya, dan sesakit itu yang Laura rasakan saat anaknya tidak mengakui kalau ia adalah ibunya.


"Tidak masalah kalau kau marah dan benci padaku, tapi tolong maafkan ibumu ini, Jacob." Ucap Laura dengan lirih dan dibarengi dengan tetesan air mata yang mulai turun dari kelopak matanya.


Jacob lebih memilih untuk diam. Ia tidak mau mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat Laura berubah pikiran dan tidak jadi membantu Alesha yang sudah sangat membutuhkan bantuan.


"Kau anakku, Mona anakku, kalian anakku, ibu tahu kalian akan marah pada ibu, tapi tolong maafkan ibu." Laura mencoba untuk menggapai telapak tangan Jacob, dan dengan cepat, Jacob segera menarik tangannya agar tidak disentuh oleh Laura.


"Ibu akan selalu bersabar untuk menunggu kalian memaafkan kesalahan ibu." Laura menutup matanya dan merasakan setiap pukulan batin yang hatinya rasakan.


"Kalau kau memang ibuku, apa alasanmu menelantarkan aku dan Mona waktu itu?" Tanya Jacob yang mengarahkan pandangannya kejendela helikopter.


"Keadaan ekonomi tidak memungkinkan, dan ibu bersama ayahmu berpikir kalau kita tidak akan bisa mengurus dan membesarkan kalian." Jawab Laura yang mulai terisak.


Jacob tersenyum masam. "Dan membuang kami begitu saja? Mudah sekali kalian menyelesaikan permasalahan kalian." Sindir Jacob.


"Ibu tau kalau ibu salah. Ibu akan lakukan apa pun agar kalian mau memaafkan ibu, bahkan ibu juga akan memberikan semua aset perusahaan untuk kalian." Balas Laura yang menatap sedih pada Jacob.


"Kau pikir aku dan Mona akan tertarik dengan kekayaan dan perusahaanmu itu? Jika mau berikan saja pada Mona, aku tidak membutuhkan semua kekayaan milikmu." Balas Jacob dengan sinis.


Tangis Laura semakin menjadi setelah mendengar ucapan Jacob barusan. "Kau tidak boleh berkata seperti itu, Jacob, kau satu-satunya anak lelakiku, dan kau yang bertanggungjawab besar untuk meneruskan perusahaan itu."


"Semudah itu kah? Setelah kau meninggalkan anakmu, dan mendapatkan kekayaan yang melimpah, kini kau kembali dan menuntut aku untuk melanjutkan perusahaan yang kau dan suamimu miliki. Maaf, tapi aku tidak akan sudi jika harus melakukan hal itu." Kata-kata pedas yang tidak terasa keluar dari dalam mulut Jacob.


***


Sebuah gudang makanan yang sudah terbengkalai dan lapuk menjadi sarang baru untuk Vincent dan anak buahnya. Terdengar jelas sebuah suara amarah yang bergemuruh dari seorang lelaki yang berada disudut tembok gudang tua itu.


"Levin!!!" Vincent melemparkan gelas berisi winenya kelantai. Lagi-lagi usahanya digagalkan oleh SIO, dan lebih buruknya Vincent kehilangan banyak anak buah di markas lamanya itu.


"Mack sialan!! Dia berhasil kabur setelah percobaan pembunuhannya pada salah satu murid WOSA." Vincent menyeringai jahat. "Jika dia tertangkap oleh kepolisian dunia, aku takut jika dia mengungkap semua rahasiaku juga!" Botol wine yang berdiri tegak disebelahnya dilemparkan begitu saja hingga membuat banyak pecahan beling dilantai.


"Dan kini Gua itu dijaga oleh Eve dan anak buahnya. Akan sulit untukku merebut berlian di dalam gua itu lagi!" Tonjokan pelan dilayangkan oleh Vincent pada meja bundar disebelahnya.


"Brian! Hubungi Mack, aku ingin bertemu dengannya!" Perintah Vincent pada salah satu anak buahnya.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja!" Geram Vincent dan membuat tulang rahangnya mengeras.


***


Setelah hampir satu setengah jam, akhirnya helikopter yang Jacob, Alesha, dan Laura tumpangi sampai di WOSA, lalu disusul oleh Levin dan Bastian yang menaiki helikopter lain.


"Siapkan pesawat pribadiku, pakaian gadis itu semua alat pertolongan pertama yang ada dipesawatku!" Perintah Laura pada salah satu bodyguardnya.


"Mr. Jacob, aku tidak merasakan pergerakan napas pada Alesha." Ucap Bastian dengan panik.


"Aku tahu, napasnya semakin berkurang, dia butuh alat uap untuk membantunya bernapas." Balas Jacob sambil memegangi wajah Alesha yang sudah membiru.


"Bawa dia kepesawatku, Jack, kita akan membawanya ke rumah sakit yang berada di Australia. Anak buah ibu akan menghubungi pihak rumah sakit di sana." Ucap Laura dengan sendu.


"Ibu?" Gumam Levin pelan. Wajahnya menunjukan ekspresi bingung ketika menatap Laura.


"Apa dia ibunya Mr. Jacob?" Bisik Bastian pada Levin.


"Aku tidak tahu." Jawab Levin yang balik berbisik pada Bastian.


Segera Jacob berlari untuk membawa Alesha kepesawat milik ibunya. Seorang pelayan membukakan Jacob pintu pesawat itu, dan disusul beberapa pelayan lain yang sibuk mengambil peralatan pertolongan pertama yang tersimpan dalam laci yang menggantung. Jacob membaringkan tubuh Alesha disofa panjang. Tangannya tidak bisa lepas dari wajah Alesha yang sudah sangat pucat. Getaran disetiap jemarinya, menandakan kalau ketakutan akan kehilangan lagi melanda hati dan pikiran Jacob.


"Kapan kita bisa berangkat?" Tanya Laura pada pilot pesawat.


"Lima belas menit lagi, Nyonya." Jawab sang pilot.


"Lama sekali." Saut Bastian yang sudah berada di dalam pesawat pribadi milik ibunda Jacob bersama Levin.


Alat uap untuk membantu Alesha bernapas sudah berhasil dipasang. Sebuah kantung berisi cairan dan selang impusan sudah disiapkan dan akan segera dipasangkan pada Alesha. Salah seorang pelayan yang sepertinya perawat pribadi Laura sudah siap untuk memasukan sebuah jarum kecil yang dapat menyalurkan cairan yang dibawa oleh selang impusan. Jacob sendiri tidak bisa menahan gumpalan air yang sudah membendung dikelopak matanya sehingga ia membenamkan wajahnya dileher Alesha dan merasakan kulit Alesha yang seperti es.


"Kau harus bangun, aku tidak mau melihatmu yang seperti ini." Gumam Jacob. Tangannya mengelus lembut rambut Alesha sambil membayangkan saat ketika ia sedang mengeringkan rambut Alesha yang basah karna keramas waktu itu. "Aku hanya meninggalkanmu sebentar saja, dan keadaanmu jadi seperti ini sekarang." Tangis kesedihan seolah membuktikan betapa menyesalnya Jacob karna tidak bisa menjadi mentor yang baik untuk Alesha.


Melihat mentornya yang begitu terpukul, Bastian merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam diri Jacob. Bertanya-tanya kenapa Jacob sampai segitunya ketika melihat Alesha yang terbujur kaku seolah sudah tidak ada nyawa lagi dalam diri gadis itu. Pertanyaan Bastian selanjutnya adalah apakah Jacob akan seterpukul itu ketika anggota tim yang lain selain Alesha mengalami hal serupa seperti Alesha?


"Tidak usah menatapnya seperti itu, Jacob benar-benar terpukul karna ia menyukai Alesha." Ucap Levin yang jengah saat melihat tatapan mata Bastian yang penuh kebingungan pada Jacob. "Begitu pun aku." Lanjut Levin dengan pelan.


"Menyukai Alesha?" Ekspresi bingung semakin tercetak jelas pada wajah Bastian. "Apa benar?"


Wajah tercengang Bastian membuat Levin merasa risih. "Kau tidak bisa membedakan bagaimana Jacob bersikap pada Alesha dan anggota timnya yang lain?" Levin membuang wajahnya dengan sebal.


Gelengan polos dari kepala Bastian membuat Levin memutar kedua bola matanya dengan jengah.


"Tidak usah beritahu yang lain tentang itu karna Jacob mungkin tidak akan menyukainya." Ucap Levin dengan malas.


"Kau begitu mengenalnya, kalian berteman?" Tanya Bastian.


Bagaimana bisa Bastian menanyakan pertanyaan seperti itu disaat kondisi sedang tidak stabil seperti sekarang? Ingin rasanya Levin membungkam mulut Bastian untuk beberapa saat. Tapi pertanyaan Bastian barusan membuat Levin jadi mengingat saat-saat ketika ia dan Jacob sama-sama bersaing menjadi agen terbaik di SIO, walau akhirnya tidak ada yang menang atau pun kalah karna kemampuan Jacob dan Levin sama ratanya.


"Aku tidak percaya kalau Mr. Jacob menyukai Alesha." Gumam Bastian yang membuat sulutan emosi untuk Levin.


"Bisa tidak kau tidak usah membahas itu lagi! Aku sudah memberitahu padamu, dan kau cukup diam saja!" Levin memberikan tatapan tajam yang menusuk kedua bola mata Bastian.