May I Love For Twice

May I Love For Twice
Pengakuan Stella



Di dalam kamar messnya, Alesha tidak sendirian, ada Nakyung, Maudy, Merina, dan Stella tentunya. Namun Stella hanya berdiri saja saat melihat Alesha yang menangis tersedu-sedu, berbeda dengan ketiga temannya yang lain yang memeluk dan mencoba untuk menenangkan Alesha.


Stella tahu pasti kalau ulahnya itu berjalan sesuai keinginannya, sedangkan yang lain tidak ada yang mengetahui kalau Alesha sebenarnya hamil, kecuali Bastian. Sebagai ketua, tentunya Bastian tahu apa yang sedang menimpa Alesha kali ini.


Untuk memberikan alasan, Laras pun mengatakan pada anggota tim Bastian kalau sebenarnya Alesha sedang diberi hukuman yang lebih berat lagi tanpa memberitahu hukuman atas kesalahan apa, dan tentunya hal itu juga membuat sebuah pertanyaan dan kecurigaan besar dalam kepala seluruh anggota tim.


"Alesha, tenanglah, kami ada di sini bersamamu, ceritakan masalahmu pada kami, Al. Jangan kau pendam sendirian seperti ini." Ucap Maudy penuh perhatian.


Namun Alesha tetap bungkam dan hanya menangis secara terus menerus. Alesha tidak mungkin mengatakan pada teman-teman setimnya itu kalau ia hamil. Tetapi Alesha juga tidak bisa memendam sendirian, ia butuh seseorang yang bisa ia ajak untuk mencurahkan isi hatinya. Alesha selalu menahan dan memendam semua permasalahan hidupnya sendiri, tanpa ada yang tahu betapa sulitnya ia melawan semua problematika yang ia dapatkan sejak orang tuanya meninggal. Tetapi untuk kali ini, Alesha benar-benar tidak sanggup jika harus melewatinya sendirian lagi, Alesha membutuhkan tempat curhat, dan yang pasti bukan dengan mentornya, karna sekarang Alesha sungguh merasa kecewa dan benci terhadap mentornya itu.


"Mr. Levin..." Gumam Alesha pelan. Terlintas dalam benaknya satu nama itu, nama dari pria yang sekarang sudah menjadi saudara untuknya.


"Mr. Levin.. Aku ingin bertemu dengan Mr. Levin.." Tanpa memperdulikan yang lain, Alesha pun beranjak dari duduknya lalu berlari secepat mungkin menuju ruangan Levin yang berada di gedung khusus tamu atau pengurus SIO yang berkunjung ke WOSA.


"Alesha!" Pekik Nakyung, Maudy, dan Merina secara bersamaan. Mereka bertiga pun langsung berlari untuk menyusul Alesha.


"Panggil Mr. Jacob!" Perintah Merina.


Lalu dengan inisiatif, Maudy pun mengangguk dan berlari ke arah lain untuk menuju gedung mentor dan memanggil Jacob.


Sedangkan Alesha terus memacukan langkahnya, hingga akhirnya ia sampai di depan ruangan Levin.


Tok... Tok... Tok...


"Mr. Levin..."


"Mr. Levin, buka pintunya kumohon..." Ucap Alesha dengan begitu gelisah karna menahan tangisannya.


Tok... Tok... Tok...


"Mr. Levin..."


"Iya, ada ap..." Akhirnya, Levin membuka pintu ruangannya dan terkejut saat mendapati Alesha yang sudah berada dihadapannya. "Alesha!"


"Hiks, Mr. Levin..." Kerlingan cair yang memenuhi mata Alesha membuat Levin terkesiap, ia kasihan melihat raut kesedihan yang mendalam pada wajah Alesha.


"Ada apa, Alesha?" Tanya Levin sembari membawa Alesha masuk ke dalam ruangannya.


"Temani aku... Aku tidak bisa menahan ini semua sendirian.." Alesha langsung memeluk tubuh Levin yang menjulang tinggi dihadapannya. Beban berat seperti tertancap pada pundak Alesha, ia membutuhkan seseorang agar dapat membantunya melepaskan beban-beban itu, dan untuk saat ini hanya Levin lah yang dapat ia andalkan.


"Aku akan menemanimu, Al. Kau tidak sendirian, ada aku, tenanglah, kau bisa melewati ini." Levin pun membalas pelukan Alesha dan mengelus ujung kepala hingga punggung gadis yang ia sayangi itu.


"Hiks... Kenapa Mr. Jacob jahat? Apa ia memang seperti itu?" Gumam Alesha dalam pelukan Levin. "Dia bilang dia mencintaiku, tapi kenapa dia seperti itu? Apa itu yang dinamakan cinta? Aku tidak menyangka kalau Mr. Jacob benar-benar diluar gudaanku!! Aku membencinya!!"


Levin menahan tubuhnya untuk tetap berdiri kokoh agar tidak tergoyahkan sedikit pun kala Alesha memukuli dadanya.


"Alesha..." Panggil Jacob yang langsung menghentikan larinya dan mematung di ambang pintu saat melihat Alesha dan Levin yang sedang berpelukan.


Apa yang Jacob lihat didepan matanya kali ini sungguh menyayat hati. Tubuhnya mendadak lemas dan tidak bertenaga saat hatinya melemah kala gadis yang ia cintai menangis dalam pelukan pria lain.


Nakyung, Maudy, dan Merina pun sama-sama terkejut dan mematung di tempat ketika melihat Alesha yang menangis tersedu-sedu dalam dekapan Levin.


Menyadari kehadiran Jacob di ambang pintu, Levin pun langsung melayangkan tatapan tajam dan menusuk pada Jacob. Sungguh ingin sekali Levin menghajar Jacob habis-habisan, namun hal itu hanya akan memperkeruh masalah saja. Dan sebagai gantinya, Levin semakin mengeratkan pelukannya pada Alesha dengan satu tangan yang mengelus lembut pipi Alesha.


Jacob hanya mampu untuk menundukkan kepalanya. Bukan karna takut akan tatapan Levin, hanya saja Jacob sadar kalau ia tidak mungkin bisa menjadi sandaran untuk Alesha saat ini. Jacob begitu menyesal, dan rasa sakit yang bukan main menyesap mengendap dalam hatinya.


***


Satu....


Dua.....


Tiga....


Empat..


Begitulah hitungan hari yang sudah terlewatkan. Setiap saatnya menjadi sebuah ketegangan untuk Jacob menunggu Alesha yang tidak lama lagi akan memasuki tanggal dimana tamu bulanannya akan datang.


Tetapi yang Jacob rasakan selama hari-hari itu berlangsung sangatlah menyesakkan dan menyakitkan. Alesha menjauhinya dan Alesha juga lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama Levin, walau Jacob sendiri tahu kalau Alesha melakukan itu karna Alesha membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya olehnya untuk melewati masalah ini.


Teramat sakit untuk Jacob menyaksikan Alesha yang menangis dalam pelukan Levin. Jacob berpikir seharusnya ialah yang berada pada posisi Levin, menemani dan menenangkan Alesha. Tetapi, Alesha enggan untuk berinteraksi dengan mentornya itu, dan sang mentor pun paham betul posisi yang sedang Alesha hadapi, namun yang namanya sakit hati tetap saja tidak bisa tersangkalkan, Jacob hanya bisa berdiam diri memandang penuh kecemburuan dan kesedihan kala Alesha dan Levin sedang duduk bersama di pinggir pantai.


"Aku mencintaimu, Alesha. Maaf.. Tapi aku akan buktikan kalau aku tidak pernah melakukan hal itu padamu." Lirih Jacob dengan tatapan sendu.


Dengan hati yang serasa sedang dicambuki, Jacob pun membalikkan tubuhnya dan berjalan untuk menuju kembali ke ruangannya. Ia tidak bisa jika harus memandang lebih lama lagi pada Alesha yang sedang mencurhatkan segala keluh dan kesah pada Levin. Tapi setidaknya Jacob bisa merasa lebih tenang karna Alesha mau mencurahkan semua masalahnya pada Levin dan tidak memendamnya sendirian. Jacob takut jika Alesha akan stres, maka dari itu Jacob pun ikhlas jika untuk saat ini Levin lah yang menggantikannya sebagai teman curhat Alesha.


Jacob berjalan lemas, tubuhnya tidak berenergi sama sekali, bahkan saat mengajar pun ia tidak fokus pada materi yang akan disampaikan, ditambah dengan Alesha yang tidak mengikuti sesi pembelajaran selama empat hari ini membuat Jacob semakin malas memberikan pengajaran pada anggota timnya.


Tatapan mata Jacob lurus sayu. Tidak ada sedikit pun semangat dalam sorotnya itu. Hampa saja untuk Jacob, ia menjadi korban fitnah yang membuatnya dijauhi oleh gadis tercintanya, Alesha.


Dan saat ditengah-tengah perjalanan menuju kamarnya, secara tidak sengaja kedua mata Jacob menangkap Stella yang sedang berlari menuju taman belakang yang berbatasan langsung dengan hutan, namun gerak-gerik dan mimik wajah Stella cukup membuat Jacob merasa curiga.


Kenapa Stella berlari ke taman belakang, dan kenapa ia terlihat gelisah seperti itu?..... Pikir Jacob.


Takut jika sesuatu terjadi pada salah satu anggota timnya itu, Jacob pun bergegas untuk menyusul Stella yang sudah berlari cukup jauh. Jacob khawatir jika Stella sedang terkena masalah, sudah cukup masalah Alesha yang Jacob hadapi, dan jangan anggota timnya yang lain.


Tepat saat Jacob sampai diantara celah dua pohon yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat Stella berdiri, ia pun berniat untuk memanggil Stella, namun ia langsung mengurungkan niatnya saat mendengar percakapan Stella bersama seseorang melalui sambungan telepon.


*


"Maaf, maafkan aku, tuan. Aku terlalu cemburu...... Iya aku bersalah..... Aku tahu, tuan Vincent. Maaf..... Mungkin Alesha akan dipecat, dan bukankah kau menginginkan Alesha agar kau bisa menjadikannya sebagai pelayanmu? Kau bisa memanfaatkan kesempatan ini, tuan, jika Alesha dipecat kau bisa menangkapnya dengan lebih mudah... "


Stella tidak tahu jika Vincent mempunyai rencana untuk menjebak dan menjatuhkan Jacob dengan mengalatkan Alesha saat ujian akhir semester empat nanti, Vincent sengaja tidak memberitahu rencananya itu pada Stella karna Vincent tahu bahwa Stella pasti akan menolak untuk memata-matai WOSA. Maka dari itu Vincent pun berdalih dengan mengatakan kalau ia menginginkan Alesha untuk dijadikan pelayan, padahal ia menginginkan Alesha untuk menyingkirkan Jacob.


"Iya, tuan Vincent, aku akan terus mengawasi pergerakan Mr. Thomson dan para pengurus WOSA, tadi pagi juga ada pengurus SIO yang berkunjung untuk melakukan pemantauan rutin di sini...... Baik, tuan Vincent......"


Sambungan telepon pun terputus. Stella menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia merasa seperti sedang memikul beban berat dengan menjadi mata-mata untuk musuh WOSA dan SIO.


Namun setelah berputar tiga ratus enam puluh derajat penuh, tiba-tiba saja Stella tercekat dan tubuhnya mengkaku seperti balok es yang begitu dingin dan padat. Pucat pasti wajah Stella dengan ketakutan yang langsung melesat pada level teratas.


"Mr. Jacob...." Lirih Stella.


Jacob yang sudah mendengar percakapan Stella itu pun kini berdiri tepat dihadapan gadis itu dengan tegap dan kedua tangan yang dilipatkan. Jacob tidak bisa menyembunyikan raut marahnya hingga wajahnya memerah karna memendam gundukkan emosi yang siap meledak jika saja yang didepannya itu bukanlah seorang gadis.


"Kerja sama apa yang kau lakukan bersama Vincent?" Dingin dan menusuk, Jacob membuat Stella semakin ketakutan setelah mendengar pertanyaan itu.


"Kenapa kau membawa-bawa Alesha? Atau kau tahu masalah yang Alesha hadapi saat ini? Atau bahkan, jangan-jangan kau yang membuat Alesha terjerumus dalam masalah ini?"


"Mr. Jacob.." Hanya itu yang dapat Stella keluarkan dari dalam mulutnya.


"Ada hubungan apa kau dengan Vincent, Stella?" Tanya Jacob yang mulai menaikkan nada juga tekanan bicaranya.


"Hiks.." Tubuh Stella bergetar dan ia pun menangis karna tak kuat untuk menahan ketakutan yang saat ini sedang melanda dirinya. Melihat Jacob yang sedang menahan gejolak amarah membuat Stella kikuk dan tak mampu melakukan apapun, menurut Stella, mentornya itu sangat menyeramkan jika sedang marah.


"Apa yang kau lakukan pada Alesha?" Jacob menekan setiap kata-katanya.


Stella masih juga belum menjawab, ia sangat takut jika mentor yang ia sukai itu malah akan membencinya balik jika tahu yang sebenarnya, namun Stella juga bingung harus bagaimana, ia sudah tertangkap basah oleh Jacob.


"Aku akan memaafkanmu jika kau mau berjujur. Jangan takut, Stella." Sekuat tenaga Jacob harus lebih tenang untuk membuat Stella mau mengatakan yang sejujurnya, walau rasanya cukup sulit untuk ia mengendalikan emosinya saat ini agar tetap stabil.


"Kau tahukan siapa Vincent? Dia musuh WOSA dan SIO, kau bekerja sama dengannya berarti kau sudah berkhianat, Stella."


Stella tetap bungkam karna rasa takutnya yang terlalu besar. Jacob yang sudah jengah pun langsung menarik paksa lengan Stella dan membawa gadis itu dengan kasar menuju ruangan Mr. Thomson.


Jauh diluar dugaan Jacob. Ia tidak menyangka jika Stella lah yang sudah menjeratnya juga Alesha dalam masalah ini, bahkan Jacob benar-benar kecewa dan marah saat menyadari kalau Stella sudah bekerja sama dengan Vincent. Semua yang Jacob simpulkan itu terbukti dari percakapan Stella melalui telepon tadi. Jangan disangka Jacob tidak terpukul, Stella adalah anggota timnya, Jacob juga menyayangi Stella seperti halnya pada anggota tim yang lain, tapi kenapa Stella malah berkhianat? Sakit bukan? Sebagai seorang mentor, kini Jacob merasa gagal kembali. Stella menjadi pengkhianat WOSA dan SIO, Jacob sungguh menyesali itu.


"Katakan semuanya pada Mr. Thomson!" Jacob menghempaskan lengan Stella dengan cukup kasar setelah sampai di dalam ruangan Mr. Thomson.


Mr. Thomson pun terkejut dan langsung bangkit dari bangku kerjanya saat mendapati Jacob yang menarik Stella masuk dengan cara yang menurutnya kasar.


"Jacob, ada apa ini?" Tanya Mr. Thomson penuh keterkejutan.


"Tanya dia!" Jacob melirik tajam pada Stella yang sudah tertunduk takut.


"Kau? Kau Stephani kan?" Tanya Mr. Thomson pada Stella.


Sebagai jawaban, Stella hanya mengangguk kecil.


"Apa yang terjadi?" Lirikan mata Mr. Thomson silih berganti, dari Jacob, lalu ke Stella.


"Katakan, Stella! Kami akan memaafkanmu, jika kau mau mengatakan yang sesungguhnya!" Ucap Jacob tegas juga datar.


"Apa konsekuensi yang aku dapatkan jika aku mengatakan yang sebenarnya?"


Jacob berdecak sebal, bagaimana bisa Stella menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu?


"Kau ingin kami tetap menahanmu sebagai murid WOSA? Huh?" Tanya balik Jacob yang sudah geram.


Stella diam. Tentu saja, ia ingin tetap menjadi murid WOSA jika ia sudah mengatakan yang sebenarnya.


"Jacob, apa yang sebenarnya kau bicarakan bersama Stephani?"


"Mau kau atau aku yang mengatakannya pada Mr. Thomson?" Ancam Jacob pada Stella.


Rasa takut kian membendung dalam diri Stella. Bagaimana jika WOSA mengeluarkannya? Lalu bagaimana perasaannya terhadap sang mentor? Kini Stella mulai menitikan kembali air matanya dengan sesegukan kecil yang secara perlahan kian membesar.


"Maaf..."


"Katakan semuanya sekarang!!"


Stella langsung terlonjak kaget ketika mendengar bentakan keras mentornya itu. Sungguh Jacob sudah benar-benar tersulut emosi dan tidak dapat memendam rasa kesal dan kecewanya pada salah satu anggota timnya, Stella.


Napas Jacob mulai memburu karna masih berusaha untuk mengendalikan amarahnya.


"Jacob, tenangkan dirimu, biarkan Stephani menjelaskan semuanya secara lancar." Titah Mr. Thomson secara perlahan.


Stella yang menangis pun akhirnya mau membuka suaranya dan mulai menceritakan semua kejadian yang membuatnya mau untuk bekerja sama dengan Vincent. Dimulai dari perasaan sukanya terhadap Jacob, lalu mata-mata Vincent yang diam-diam menyelinap masuk ke WOSA beberapa bulan lalu bersama kelompok jaringan gelap. Singkatnya, ternyata mata-mata Vincent itu mengetahui kalau Stella menaruh rasa pada Jacob. Lalu Stella pun diajak ke hutan bersama mata-mata yang menyamar menjadi petugas kebersihan itu, dan ditawarilah Stella sebuah kerja sama dengan Vincent. Stella pun menyetujuinya tanpa berpikir lebih panjang lagi, Stella pikir kerja samanya itu akan berlangsung mudah, ia hanya perlu memantau WOSA lalu menginformasikannya pada Vincent, sedang Vincent sendiri akan membantu Stella untuk mendapatkan Jacob.


"Ceritakan lagi yang lain! Kau sudah memprediksi kalau Alesha akan dipecat dari WOSA, itu berarti kau tahu kasus yang menimpa Alesha dan aku sekarang. Ceritakan semuanya!!" Tekan Jacob.


Tangisan Stella semakin pecah saat ia mengakui kalau memang ialah yang menukar testpack milik Alesha dan Dela di dalam ruangan laboratorium agar Alesha dinyatakan positif hamil dan dapat dikeluarkan dari WOSA.


"Kau bukan hanya akan menyingkirkan Alesha, tapi aku pun, Stella!! Kau pikir dengan membuat Alesha keluar dari WOSA kau bisa menjadi lebih leluasa dekat denganku? Huh! Apa kau tidak berpikir kalau aku juga akan dipecat dari WOSA dan SIO?" Jacob menjeda ucapannya dan menarik napas untuk melanjutkan kembali kata-katanya. "Jangan bilang kalau yang waktu itu membuat Alesha tenggelam dalam bathub dan juga mengalami pendarahan adalah karna ulahmu juga."


Stella pun semakin tersedu-sedu dengan tangisnya, tubuhnya bergetar, ia ketakutan juga menyesal, juga nasibnya untuk memperjuangkan sang mentor pun bisa jadi kandas.


"I-iya.. A.. Aku, yang.. Melakukannya pada Alesha..."


"Kau pikir dengan cara seperti itu aku akan tertarik padamu? Kenapa kau bodoh sekali, Stephani Laurent!!"


"Maaf..." Hati Stella begitu sakit saat pria yang ia incar dan inginkan itu mengatainya sebagai gadis bodoh. Tidak pernah terbayangkan oleh Stella jika Jacob bisa sekasar dan sefrontal itu padanya. Stella tahu kalau ia salah, namun tidak sepantasnya ia dikatai bodoh oleh pria yang ia cintai itu.


"Jacob, panggil Alesha, Hatric, dan Dela sekarang!" Perintah Mr. Thomson. Ia sangat kecewa dan menyesal setelah mendengar pernyataan dan kejujuran dari Stella. Ini adalah kali kedua untuk WOSA dikhianati oleh salah satu siswinya.


Dengan tatapan tajam dan diri yang menahan rasa kesal, Mr. Thomson pun berucap pada Stella. "Kau tahu hukuman yang tepat untukmu karna sudah mengkhianati WOSA?"


Stella terdiam tidak berani menjawab, walau hatinya sudah mengira-ngira hukuman yang akan ia dapatkan.


"Pemecatan secara tidak hormat.." Lanjut Mr. Thomson tepat disebelah telinga Stella.


"Tidak.. Aku mohon beri aku kesempatan kedua, Mr. Thomson.." Balas Stella dengan penuh permohonan.


"Tidak ada permohonan!! WOSA harus mengambil tindakan tegas pada seorang pengkhianat sepertimu!!"