
"Tenang, Alesha, jangan takut aku dan
Levin ada di sini." Ucap Jacob yang berusaha menenangkan Alesha. Wajah Alesha pucat pasi, datar, dan tatapannya kosong.
"Alesha, Alesha, lihat aku, Alesha!" Jacob menepuk-nepuk pipi Alesha.
"Apa yang terjadi pada Alesha?" Tanya Levin dengan panik.
"Dia melihat hantu di gedung yang sudah tidak terpakai." Jawab Jacob.
"Alesha, tatap aku, Alesha." Jacob menangkup wajah Alesha dengan tangannya. Wajah Alesha terasa sangat dingin di tangan Jacob.
"Jacob tangannya dingin." Levin meraba-raba tangan Alesha.
Alesha sama sekali tidak berbicara atau mengeluarkan ekspresi. Wajahnya datar dan tatapannya kosong. Sebenarnya Alesha mendengar apa yang Jacob katakan, Alesha juga tidak kerasukan, tapi ia hanya syok. Pertama kali dalam hidup Alesha melihat yang seperti itu.
"Ambilkan ponselnya!" Perintah Jacob. Levin segera menuruti perintah Jacob lalu memberikan ponsel Alesha kepada Jacob.
Jacob segera membuka aplikasi Al-Quran digital diponsel Alesha. Segera Jacob memutar salah satu surat Al-Quran diponsel itu. Setelah itu, Jacob mendekatkan ponsel itu pada telinga Alesha.
Alesha menghela nafasnya saat ayat-ayat suci itu mulai diputar. Alesha memegangi dadanya. "Astagfirullah." Gumam Alesha berulang-ulang. Alesha segera mengambil ponselnya dari tangan Jacob. Ia berbaring sambil menutupi tubuh dan wajahnya dengan selimut. Alesha mendengarkan dengan seksama lantunan ayat-ayat suci itu. Ia ingin menenangkan dirinya. Alesha sangat ketakutan setengah mati. Bahkan walau saat ini Jacob dan Levin berada disisinya.
"Alesha, tenangkan dirimu, kami tidak akan meninggalkanmu." Ucap Jacob sambil menyentuh kaki Alesha yang dibaluti dengan selimut.
Perlahan, Alesha memejamkan matanya untuk meresapi bacaan ayat suci itu.
Jacob hanya bisa memandangi Alesha. Lagi-lagi ia berpikir, kenapa Alesha bisa begitu menarik perhatiannya? Apa mungkin Jacob menyukai Alesha? Gadis itu masih sangat muda untuknya, namun semakin lama Jacob berada dekat dengan Alesha, semakin Jacob merasa kalau ia sudah menemukan hal baru.
Aku tidak mau membohongi perasaanku, Al. Apa aku menyukaimu? Apa aku menyukai salah satu anggota timku untuk kedua kalinya? Jika ya, tolong jangan lakukan hal yang bisa membuatku menjadi ragu. Aku tidak bisa bermain-main dalam hal ini. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah merasakan sesuatu yang baru lagi. Aku pikir itu semua karna kau memang mirip dengan Yuna, kau selalu membuatku mengingat Yuna, tapi kenapa kali ini berbeda? Aku selalu merasa sedih jika kau bercerita tentang Adam, hatiku hancur saat melihat kau sekarat seperti kemarin. Aku tidak mau membohongi perasaanku, Al. Tolong perjelas lagi agar aku benar-benar yakin kalau aku sudah menemukan seseorang yang bisa membawakan kebahagiaan untukku. Aku tidak perduli jika usiamu jauh lebih muda dibandingkan denganku...... Ucap Jacob dalam hati.
Matanya terpejam saat ia membayangkan sosok Alesha yang sedang marah, tertawa, dan menangis. Jacob menyukai semua keunikan yang ada dalam diri Alesha. Canda tawa Alesha, sifat jahil Alesha, dan semua momen yang sudah Jacob lalui bersama Alesha selama lebih dari tiga bulan ini.
Aku belum lama mengenalmu, namun kau sudah berhasil masuk dan membawa tanda tanya besar pada pikiranku, Al. Kenapa secepat ini? Buat aku yakin, Al, aku tidak mau mencari wanita lain, aku terlalu terpuruk karna kepergian Yuna...... Tidak terasa setetes air mata turun dan meluncur dipipi kanan Jacob.
Jacob membuka perlahan selimut yang menutupi wajah Alesha. Alesha sudah terlelap. Rambut-rambut kecil yang menghalangi wajah Alesha membuat Jacob berinisiatif untuk menyingkirkan rambut-rambut itu dan menyelipkannya pada telinga Alesha. Tangan Jacob mengelus pelan pipi Alesha yang masih terasa sedikit dingin.
"Kau menyukainya?" Levin mengangkat sebelah alisnya sambil menatap pada Jacob. Jacob hanya menggelengkan kepalanya. Ia masih fokus menatap wajah tenang Alesha yang sedang tertidur.
"Jangan bohongi dirimu, Jack, sudah saatnya kau mencari wanita lain." Ucap Levin. Levin tau kejadian tentang Yuna dan perasaan Jacob pada Yuna.
"Aku akan mengalah padamu, tapi jika kau tidak benar-benar serius dan masih menganggap perasaanmu itu adalah sebuah kebohongan, maka aku akan rebut perhatian Alesha lagi agar aku bisa memilikinya." Lanjut Levin yang sukses membuat hati Jacob menjadi panas. Apa maksudnya Levin mengatakan itu? Menjadikan Alesha sebagai miliknya? Jacob menggeram pelan dan tangannya sudah terkepal.
"Tidak perlu emosi. Aku hanya akan merebut Alesha jika kau membiarkan begitu saja perasaanmu padanya. Aku akan ikhlaskan dia jika kau benar-benar serius padanya dan tidak mempermainkannya." Ucap Levin yang menyadari kemarahan Jacob.
Jacob memejamkan matanya. "Aku masih ragu dengan semua ini, aku baru mengenalnya tiga bulan lalu, dan aku masih butuh waktu untuk menyadari itu semua."
Levin berjalan ke arah Sofa dengan malas. Sebenarnya Levin menyukai sifat Alesha yang manis dan mengasikkan, namun Levin juga tau kalau Jacob mulai menyukai Alesha. Maka dari itu, Levin lebih memilih untuk mengalah saja karna ia juga harus memenuhi satu permintaan lain dari wanita lain.
Alesha merasa terusik saat tangan Jacob terus saja mengelus pelan pipinya. Jacob segera menarik tangannya saat menyadari Alesha yang terbangun.
Beberapa kali Alesha mengerjapkan matanya. Ia segera menatap sekelilingnya dan mendapati Jacob yang sedang duduk di bangku disebelahnya serta Levin yang sudah tertidur di sofa.
"Mr. Jacob, kau tidak akan langsung tidurkan?" Tanya Alesha dengan wajah memelas.
Jacob tersenyum hangat. "Tidak."
"Temani aku dulu, aku takut, sosok itu terus terbayang dipikiranku." Ucap Alesha.
"Aku tidak akan tidur jika kau belum tidur." Ucap Jacob dengan lembut.
"Kau tau, aku pikir bangunan itu masih berfungsi karna lampu-lampu di dalam bangunan itu masih menyala, namun saat aku menemukan beberapa ruangan yang kosong dan berantakan, aku baru menyadari kalau gedung itu sudah tidak terpakai. Ditambah lagi aku melihat sosok hitam itu berdiri membelakangiku. Mungkin jaraknya hanya lima meter. Aku sangat takut, jadi aku berlari sambil menuruni anak tangga. Kakiku terkilir saat aku tidak sengaja terjatuh. Aku semakin ketakutan saat aku mendengar langkah kaki yang menuruni anak tangga. Aku berlari secepat mungkin, dan leherku terasa berat. Aku takut kalau hantu itu mengikutiku." Alesha meraih selimutnya lalu menutupi wajahnya lagi. "Bagaimana kalau hantu itu mengikutiku hingga ke sini?" Ucap Alesha di dalam selimut.
Jacob tersenyum. Ia segera membuka selimut yang menutupi wajah Alesha. "Hantu itu tidak akan berani karna ada aku bersamamu, Al."
"Jangan bilang begitu. Kau tidak melihat langsung kan? Kalau melihat langsung kau akan sama takutnya sepertiku." Ucap Alesha.
Jacob terkekeh. "Kalau kau takut tidak denganku?"
Alesha mengerutkan keningnya. Apa maksudnya Jacob bertanya seperti itu?
"Hmm?" Jacob menatap manis pada Alesha.
Alesha hanya balik menatap Jacob dengan ekspresi datar. "Tidak, aku lebih takut lagi kalau kau akan mengurangi nilaiku." Ucap Alesha datar.
"Kalau begitu aku akan mengurangi nilaimu." Ucap Jacob merayu Alesha.
"Kenapa?" Tanya Alesha sedikit sebal.
"Karna kau tidak takut padaku. Aku adalah mentormu, jadi kau harus takut padaku." Jawab Jacob dengan manis.
"Aku bisa melaporkan itu pada Mr. Thomson, kau tidak adil dalam membagi nilai." Alesha mendengus.
Jacob mengangkat sebelah alisnya.
Kau memang pintar, Al...... Ucap Jacob dalam hati.
Matanya terus saja menatap ke arah gadis yang mungkin akan membawa dunia baru untuk Jacob. Senyuman dan tatapan yang Jacob layangkan membuat Alesha risih.
"Mr. Jacob, kau kenapa sih?" Omel Alesha. "Terus saja seperti itu, lama-lama akan ku colok matamu!"
"Silahkan." Balas Jacob dengan santai.
Ada apa dengannya? Kenapa aku suka itu? Sorot matanya menjadi magnet untukku. Aku tidak mau berpikir kalau Mr. Jacob menyukaiku, aku tidak mau melibatkan lelaki lain untuk masuk ke dalam hatiku saat ini. Tolong jangan buat aku merasa seolah kau memperlakukanku dengan spesial, Mr. Jacob. Cukup Adam saja, aku tidak mau lagi ada lelaki lain yang membuatku jatuh cinta saat ini, aku ingin menyembuhkan luka dalam hatiku terlebih dahulu. Aku tidak mau kejadian yang sama terjadi dua kali....... Gumam Alesha dalam hati. Sorot mata Alesha menjadi sayu. Ia menundukkan kepalanya.
"Kau kenapa, Alesha?" Tanya Jacob dengan lembut.
"Kenapa kau seperti itu? Kenapa kau sangat baik padaku?" Tanya Alesha dengan nada sedih.
Jacob tertegun. Wajahnya seketika menjadi datar dan penuh dengan kebingungan. Pertanyaan Alesha barusan seolah menusuk-nusuk pikiran Jacob. Alesha juga cukup kaget dengan pertanyaannya itu. Ia tidak sadar kalau kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku sangat baik padamu? Kenapa?..... Ucap Jacob dalam hati.
Jacob menatap pada Alesha yang masih menunduk. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya balik Jacob.
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu menjawabnya kok." Jawab Alesha.
Jacob terkesiap. Apa mungkin Alesha menyadari perasaan Jacob? Pikir Jacob.
"Aku baik padamu karna kau adalah tanggung jawabku, Al. Aku harus bisa mengurus dan memperhatikan kau, dan anggota timku yang lain." Ucap Jacob dengan lembut sambil meraih tangan Alesha.
Alesha membalasnya dengan anggukan pelan.
"Aku akan lakukan yang terbaik untuk anggota timku, dan juga kau." Lanjut Jacob. Kemudian Alesha mengangkat kepalanya. Ia menatap Jacob lalu tersenyum manis.
Alesha meraih ponselnya. Ia segera memutar sebuah lagu yang sepertinya bisa mewakili perasaannya. Lagi pula Jacob tidak akan mengerti lagu itu karna lagu itu berbahasa Indonesia.
Tuhan Tolong by : Derbi Romero
*Kurasa getaran cinta
Disetiap tatapan matanya
Akankah sanggupku hadapi kenyataan ini
Oh Tuhan tolonglah aku
Janganlah kau biarkan diriku
Jatuh cinta kepadanya
Sebab andai itu terjadi
Akan ada hati yang terluka
Tuhan tolong diriku
Walaupun terasa indah
Andaikanku dapat juga dirinya
Namun ku harus tetap bertahan
Menjaga cinta yang t'lah lebih duluku jalani
Oh Tuhan tolonglah aku
Janganlah kau biarkan diriku
Jatuh cinta kepadanya
Sebab andai itu terjadi
Akan ada hati yang terluka
Tuhan tolong diriku
Sebab andai itu terjadi
Akan ada hati yang terluka
Tuhan tolong
Oh Tuhan tolonglah aku
Janganlah kau biarkan diriku
Jatuh cinta kepadanya
Sebab andai itu terjadi
Akan ada hati yang terluka
Tuhan tolong diriku
Tuhan tolong diriku
Sebab andai itu terjadi
Akan ada hati yang terluka
Tuhan tolong diriku*
Jacob terdiam saat mendengarkan lagu itu. Ia tidak mengerti arti dari lagunya, namun Alesha terlihat begitu menikmatinya.
"Lagu apa itu?" Tanya Jacob.
Alesha terdiam. Ia tidak mau menjawabnya karna tidak mau Jacob tau tentang lagu itu.
"Alesha." Panggil Jacob.
"Tuhan tolong diriku....." Ucap Alesha yang bernyanyi. Alesha begitu meresapi lagu yang sedang diputar dan menghiraukan Jacob begitu saja.
"Oh Tuhan tolonglah aku
Janganlah kau biarkan diriku
Jatuh cinta kepadanya
Sebab andai itu terjadi
Akan ada hati yang terluka
Tuhan tolong diriku...." Lanjut Alesha.
Jacob mendengus kesal saat Alesha menghiraukannya.
Tiba-tiba saja Alesha terkejut karna Jacob merebut ponsel Alesha lalu melihat judul lagu beserta penyanyi dari lagu yang sedang diputar itu.
Jacob menyeringai. Ia segera membuka ponselnya dan mencari lagu itu melalui ponselnya. Setelah dapat, Jacob mengubah semua liriknya menjadi bahasa Inggris agar ia dapat mengetahui arti dari lagunya. Kenapa Jacob begitu ingin tahu? Entahlah, Jacob merasa sangat penasaran.
Alesha menunduk malu saat Jacob menatapnya secara tiba-tiba dengan tatapan bingung. Jacob menangkap dengan cepat arti dari lagu itu. Jacob bertanya-tanya kenapa Alesha memutar lagu itu. Apa maksudnya? Apa Alesha mencoba untuk mewakili perasaannya lewat lagu itu? Tapi kenapa? Itu berarti Alesha berharap kalau ia tidak mau jatuh cinta lagi karna ia masih mencintai Adam. Dada Jacob terasa sesak seketika saat pikiran itu melintas. Kenapa sangat menyakitkan untuk Jacob? Namun Jacob tidak mau gegabah. Ia masih ingin tetap berpikiran positif. Mungkin benar lagu itu memang memang mewakili perasaan Alesha, Jacob juga masih mewajarkan hal itu karna memang Alesha baru saja merasakan patah hati karna ditinggal oleh lelaki yang sangat ia cintai.
Jacob menghembuskan nafasnya dengan pelan. Ia ingin menetralisir hatinya yang saat ini sedang gusar.
"Aku harap kau bisa melupakan Adam, Al. Kau akan sangat terpuruk jika kau tidak secepatnya melupakan lelaki itu. Aku sudah pernah merasakan apa yang kau rasakan. Aku bisa membantumu untuk melupakan Adam jika kau mau." Ucap Jacob. Nadanya merendah dan seperti ada bumbu kesedihan disetiap kata-katanya.
"Aku harap juga seperti itu, Mr. Jacob. Aku ingin mengikhlaskan Adam karna itu memang sudah janjiku pada diriku sendiri sejak dulu." Balas Alesha.
Kenapa ini sangat menyakitkan, Al? Apa yang kau lakukan? Buat aku sadar untuk semua ini, Al. Aku tidak ingin bermain-main. Jika benar kau adalah wanita selanjutnya dalam hidupku, aku akan lakukan apapun agar kau bisa melupakan lelaki itu. Tolong perjelas semua ini, agar aku benar-benar yakin padamu. Aku lelah terus terbayang oleh Yuna. Aku ingin bahagia bersama wanita yang aku cintai........ Ucap Jacob dalam hati.
Jacob meraih tangan Alesha. Ia tersenyum hangat pada gadis itu. "Kau punya aku, kau punya teman-temanmu di WOSA yang bisa membantumu melupakan Adam. Berjanjilah kalau kau akan benar-benar melupakannya dan membiarkanya bahagia bersama wanita lain." Jacob mengangkat jari kelingkingnya.
Alesha tersenyum. "Aku akan melupakannya cepat atau lambat." Alesha mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Jacob.
"Kau gadis yang kuat." Jacob mencubit pelan pipi Alesha.
Alesha berdecak. "Terus saja seperti itu! Tidak lama lagi pipiku akan menjadi besar karna kau!"
Jacob tersenyum dengan menunjukan deretan gigi putihnya. "Sungguh? Bagus kalau begitu."
"Ya, bagus!" Alesha balik mencubit pipi Jacob. Jacob meringgis saat tangan Alesha menarik-narik pipinya. Kebahagiaan kecil tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam hati Jacob. Semudah itukah Alesha membuatnya merasa bahagia? Sungguh unik.
"Sudah cukup!" Jacob menahan tangan Alesha. Menatap dengan penuh kebahagiaan pada Alesha. "Tidurlah, kau harus mengistirahatkan dirimu karna besok kau akan kembali ke WOSA."
Alesha terlonjak. "Oh iya! Besok aku akan kembali ke WOSA!" Ucap Alesha dengan penuh semangat.
"Aku akan tidur." Alesha segera meraih selimutnya lalu berbaring begitu saja. "Mr. Jacob, jangan tidur dulu ya kalau Alesha belum tidur."
Jacob mengangguk. Tatapannya begitu hangat dengan senyuman menawan yang terukir di bibirnya. Matanya tidak bisa teralihkan dari Alesha. Walau ada sedikit rasa sakit dalam hatinya, tapi Jacob mewajarkan hal itu. Alesha butuh banyak waktu untuk melupakan Adam, dan Jacob siap untuk membantu Alesha agar Alesha bisa melupakan Adam.
Sebuah pengorbanan pertama yang Jacob lakukan untuk membuktikan kalau perasaannya sudah timbul untuk gadis baru yang jauh lebih muda darinya. Jacob hanya ingin meyakinkan dirinya dan membuatnya tidak ragu lagi kalau Alesha datang untuk membawakan kebahagiaan baru dalam hidupnya. Jika benar Alesha adalah gadis yang dimaksud oleh hatinya, Jacob akan lakukan apapun agar Alesha bisa menjadi miliknya, walau perbedaan keyakinan menjadi penghalang, Jacob siap untuk mempelajari agama Alesha agar ia bisa menjadi suami yang bisa menuntun Alesha ke jalan yang benar, asalkan hatinya benar-benar memilih Alesha dan tidak ada keraguan lagi. Jacob akan lakukan banyak hal untuk membuktikan kalau hatinya memang sudah menemukan sosok wanita baru yang akan menemani hidupnya.
Jacob meraih tangan Alesha. Alesha sendiri sudah terlelap dan larut dalam mimpinya. "Tolong perjelas semua Alesha. Aku ingin tidak ada lagi keraguan dalam hatiku. Aku akan lakukan apapun itu untuk membuktikan pada diriku kalau aku sudah menemukan seseorang yang sudah hatiku pilih. Jujur saja, aku masih sangat amat ragu tentang perasaanku, aku masih bingung. Aku baru saja mengenalmu, namun kau sudah menjadi objek tanda tanya terbesar dalam hati dan pikiranku. Buat aku yakin kalau aku sudah menemukan kembali cintaku. " Jacob mengecup sesaat punggung tangan Alesha. Ia menghela nafasnya, membiarkan udara masuk ke dalam paru-parunya. "Aku akan bersabar, Alesha Sanum Malaika."