May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kehebohan Kawan-Kawan



Satu persatu langkah pelan menggiring Alesha menuju meja akad.


Cerita cinta baru akan segera dimulai. Perjalanan satu masa telah berlalu dengan warna-warni tragedi yang telah terjadi. Lalu kini, sejauh mana pun setapak waktu yang menggelar, sepanjang surai kasih cinta masih saling berpegang teguh, maka dua insan itu akan sanggup mengarungi padang kehidupan. Ketika keyakinan datang, pengorbanan cinta pun siap untuk ditaklukan.


Waktu sudah menunjukkan pembuktian yang sejati, kini Alesha dan Jacob sudah sama-sama dalam satu gedung aula megah, dihadapan para saksi yang akan menyaksikan terbangunnya surau cinta baru mereka.


Kini, dua pasang manik saling menatap lekat, terbius oleh pesona yang dipancarkan oleh pasangan masing-masing.


Laju kaki yang pelan, ternyata tidak mampu mengelabui waktu yang bergerak lebih cepat.


Alesha menghembuskan napasnya setenang mungkin, ketika ia membawa dirinya untuk duduk manis disebelah calon imam hidupnya. Alesha tidak mampu untuk menoleh, ia tertunduk bersama hati yang sudah kokoh akan persatuannya bersama pria yang dicintai.


Jacob sendiri tidak mengatakan sedikit kata pun, meski lirikan matanya tidak bisa terenyahkan dari sang pujaan.


Kau sangat cantik, Alesha, tidak menyangka jika gadis yang duduk disebelahku ini adalah kau, sayang.......


"Jacob, bisa kita mulai prosesi akadnya sekarang?" Tanya ustadz Fariz yang duduk disebelahnya Jacob.


Jacob sedikit terkejut dengan ucapan ustadz Fariz barusan, pasalnya ia sedang melamun karna terlalu asik memandangi malaikat cantik yang akan segera ia persunting.


"I-iya, Pak Ustadz, aku sudah siap," Balas Jacob.


Masing-masing satu buah microphone sudah terpasang tepat didepan bibir kakek Alesha juga Jacob.


"Bismillahirrahmanirrahim...." Ucapan sang penghulu itu menjadi penanda jika akad telah dimulai.


Kakek Alesha dan Jacob pun segera berjabat tangan. Perlahan tapi pasti, kakek Alesha segera membaca barisan kalimat pada kertas yang membantunya untuk menyerahkan jiwa dan raga Alesha kepada pria yang sudah cucunya itu pilih.


Sedangkan Jacob sendiri sudah bersiap, dan menunggu gilirannya untuk dapat menerima dan menanggung jawabi Alesha sepenuhnya dalam ikatan janji yang suci.


Lalu dengan respon yang sangat cepat, tepat setelah kakek Alesha sukses menyelesaikan gilirannya dengan sangat lancar, mulut Jacob langsung menghamburkan kalimat ijab yang sesungguhnya dengan sangat lantang, tegas, dan berisi keyakinan yang begitu kuat. Tanpa ada kesalahan sedikit pun, Jacob menyebutkan satu persatu hal yang dijadikan sebagai mahar pernikahan, dan yang terakhir adalah sepuluh surat Ar-Rahman yang dibaca dengan sangat detail dan jelas.


"Sah?" Ucap sang penghulu sesaat setelah Jacob menyelesaikan ijabnya.


"SAH...." Serentak, seluruh tamu undangan yang ada di dalam aula pernikahan itu mengatakannya dengan penuh semangat.


"Alhamdulillahirabbil aa'lamiin, kalian sudah sah sebagai pasangan suami istri sekarang,"


Alesha tidak mampu lagi untuk menahan kerlingan air matanya setelah mendengar ucapan sang penghulu barusan. Ia pun menangis dengan sesegukan kecil karna kini ia sudah sah dimiliki oleh seorang pria yang selalu menjadi panutan untuknya.


*Prok....


Prok...


Prok*....


*Suit...


Suit*...


Seluruh hadirin bertepuk tangan ria dan menggemuruhkan kebahagiaan besar setelah mereka menyaksikan bagaimana perkasa dan gagahnya sang mempelai pria mengucapkan janji suci hingga membuat sang mempelai wanitanya menangis tersedu-sedu.


"Alesha, kau istriku sekarang," Jacob mengangkat wajah Alesha hingga pandangan mereka saling berhadapan.


"Pasangkan cincin kawinnya, Jack," Ucap ustadz Fariz yang langsung dituruti oleh Jacob.


"Kau seutuhnya milikku sekarang, tidak ada lagi penghalang diantara kita," Ucap Jacob dengan sangat bangga ketika ia memakaikan cincin kawinnya pada jari manis Alesha.


"Aku tidak menyangka aku akan menjadi istri sahmu, Jack. Selama ini kau menjadi mentorku, dan kini kau menjadi suamiku," Alesha pun turut bergumam lirih ketika ia balik memasangkan cincin kawinnya pada Jacob.


"Aku mencintaimu, Alesha."


Cup.........


Satu kecupan lembut Alesha rasakan ketika suaminya itu mencium keningnya.


"Aku sangat mencintaimu, sayang."


Tidak perduli dengan keadaan disekelilingnya, Jacob pun menarik tengkuk Alesha dan mencuri ciuman pada bibir ranum istrinya itu.


"Ya ampun..."


"Haduh, haduh,"


Kiw, kiw...........


Suit, Suit..........


"Panas, panas....."


Begitulah komenan yang terdengar langsung oleh telinga Jacob dan Alesha ketika mereka berdua saling beradu kecupan.


Para tamu undangan juga para saksi langsung mengalihkan perhatian mereka dari kedua mempelai setelah mereka menyaksikan bagaimana romantisnya sang mempelai pria menaruh ciuman manis pada mempelai wanitanya.


"Cukup, kalian boleh melanjutkannya nanti malam, sekarang kalian nikmati dulu pesta pernikahannya," Ledek sang penghulu.


Tangis haru Alesha kini telah berubah menjadi senyuman manis yang membius perhatian para tamu undangan.


Kilatan cahaya dari jepretan kamera terus-menerus mengabadikan momen itu, sampai ketika Alesha dan Jacob sama-sama mentanda tangani surat-surat dan buku pernikahan mereka.


***


Pesta pernikahan berlangsung dengan sangat meriah. Semakin berjalannya waktu pada hari itu, semakin banyak pula para tamu yang datang silih berganti.


"Selamat, Alesha, selamat, Jack, kalian resmi menikah sekarang," Ucap Levin. "Semoga kalian bisa selalu bersama-sama dalam segala situasi, dan semoga kalian juga akan cepat-cepat dikaruniai oleh seorang anak yang akan selalu patuh dan menjadi kebanggaan kalian kelak."


Levin menyunggingkan senyum kecilnya yang terlihat tulus. Sebenarnya ada sebercak perasan sedih dalam dirinya karna kini Alesha sudah dimiliki oleh orang lain. Bagaimana juga Levin pernah menaruh sebuah rasa pada Alesha, karna menurutnya Alesha adalah gadis yang sangat manis juga pemberani. Tetapi Levin sadar, Alesha bukanlah takdirnya, dan setidaknya, kini Levin bisa merasa sangat tenang karna tahu pria yang menikah dengan Alesha adalah rival, sekaligus rekannya.


"Jaga Alesha baik-baik, aku tidak mau mendengar hal buruk menimpanya lagi, cukup waktu itu Alesha menderita, dan kini kau harus memastikan keamanannya. Aku mengikhlaskan Alesha padamu karna aku tahu kau akan mampu menjaganya, " Ucap Levin begitu serius pada Jacob. "Tapi jika aku mendengar kabar buruk menimpa Alesha lagi, maka aku tidak akan segan untuk menghajarmu, Jack."


"Alesha berada dalam lindunganku, kau tenang saja, istri kecilku ini akan selalu aman bersamaku," Balas Jacob dengan seringai kecilnya.


"Mr. Levin tidak usah khawatir, Mr. Jacob selalu bisa menjagaku dengan baik, aku merasa sangat beruntung karna bisa menikah dengannya," Alesha tersenyum sembari memeluk lengan suaminya dengan gemas.


Namun tanpa Alesha sadari, sikapnya itu ternyata menyakiti hati Levin.


Aku senang bisa melihat senyum cantikmu, Alesha. Aku sadar jika saat ini aku cemburu pada Jacob, tapi itu tidak masalah. Kau adikku sekarang, dan sebagai seorang kakak, aku akan selalu mendoakan kebaikan untukmu dan rumah tanggamu bersama rivalku, Jacob......


"ALESHA...." Teriakan heboh dari kawan-kawan Alesha yang merupakan anggota dari kelompok teater pemuda Bandung.


"Cieee, lu udah kawin aja," Ceplos Ara ketika ia dan yang lain sudah sampai di panggung pelaminan.


"Eh, nikah ya, bukan kawin! Kawin mah nanti malem kaleee.." Sahut pria bertubuh gempal dan berlenggok seperti perempuan. "Aww! Alesha, ya ampun!" Pria itu menepuk bahu Alesha dengan jemari yang sengaja dilentik-lentikkan. "Eh, gua tuh terhura tahu gak sih waktu lu nangis tadi, gak nyangka gue, serius."


"Hahaha, sama, Mon, gua aja gak nyangka bisa nikah secepet ini," Balas Alesha pada pria lunglai yang biasa dipanggil dengan sebutan Emon itu.


"Ya Alesha dah nikah, lu kapan mau nyusul, Mon?" Sindir sang ketua teater, Naufal.


"Eh, mulut lo jaga ya!" Balas Emon dengan laga gemulainya.


"Berisik lu pada! Kalo mau ribut jan di sini juga!" Bentak Ara. "Aduh sorry ya, Sha maklum lu tahu sendirilah mulut si Emon kan kaya knalpot motor rakitan, hehehe."


"Mon, lu daripada ngomong gak jelas mending lu monolog dah, mayan itung-itung jadi hiburan buat tamu-tamu yang dateng, hahahaha," Ledek Alesha.


"Eh bener tuh, cocok si Emon mah, hahahah," Sahut Sisil, salah satu anggota teater pemuda Bandung juga.


"Eh iya, Mon, lu inget gak waktu lu tampil teater trus lu jadi tukang bucin? Nah boleh tuh lu praktekin lagi di sini, hahahah," Naufal pun turut menyahuti candaan yang ditujukan untuk kawan lunglainya.


"Iya, si Emon suruh monolog bae udah, bocah kan kaga ada urat malunya, hahahaha," Ara tertawa cukup lepas sembari menepuk bahu kawan pria yang gemulai itu.


"Apaansih lu pada, gak jelas tahu gak!" Emon mendengus sebal karna ia menjadi bahan ledekan kawan-kawannya saat ini. "Lu sih, Sha, galaan nyuruh gua monolog di sini, tahu bocah bocah pada resep juga julidin gua," Emon melirik sebal pada Alesha.


"Lah kok jadi gua sih, Mon? Hahahah, sorry sorry elah," Alesha yang gemas pada tingkah lunglai Emon pun mengelus pelan pundak kawan prianya itu.


"Dahlah, pada ngebacot bae lu pada, gua laper nih, heheh, mayan kapan lagi makan makanan enak, gratis pula," Emon yang memang dasarnya tukang ceplas ceplos pun tentunya tidak akan merasa malu saat ia mengatakan kalimat itu dihadapan Alesha, Jacob, dan Levin, bahkan Levin sendiri berkerut bingung melihat tingkah teman-teman Alesha yang heboh tidak jelas.


Naufal berdecak malas sembari menunjuk pada Emon. "Najis ish, gininih makanya gua males bawa si Emon teh, malu-maluin bae serius dah."


"Bawa kresek gak? Bungkusin aja, Mon makanannya, sekalian bawa yang banyak biar besok bisa diangetin, hahahaha," Ledek Alesha.


"Ih, beneran, Sha? Kalo boleh mau banget nih gua, lumayan, rezeki makanan gak boleh ditolak," Ucap Emon begitu bersemangat. "Eh tapi bentar dah, gak asik amat sih ini kaga ada dangdut!" Komen Emon.


"Gih nyanyi," Tawar Alesha.


"Serius?" Emon menatap lurus pada Alesha.


"Iya sana, bikin heboh nih acara, biar gak garing," Tantang Alesha.


"Oke bos quee, siap meluncur..." Emon langsung berlari menuju tempat dimana bagian orkestra musik berada.


"Yah, Sha, lu mah nantangin bocah ke gitu, yang ada resep dia mah," Komen Naufal.


"Lah gua kira dia bohongan, gua niatnya bercanda doang padahal," Balas Alesha.


"Salah lu, Sha!" Ucap Ara.


"MUSIK!!" Emon mengancungkan jempolnya untuk memberi tanda agar musik segera diputarkan. "EH LO PADA, SINI LU SEMUA, GOSAH JAIM-JAIM DEH!" Sindir Emon.


"Yodah yu ah, kapan lagi kita bikin heboh acara kawinan orang!" Ucap Sisil penuh semangat.


"Sha, ijin acak-acakkin acara nikahan lu ya, hahahaha...." Selepas mengucapkan kalimat itu, Ara, Sisil, Naufal, dan beberapa anggota teater yang lain pun langsung pergi menuju tempat dimana Emon berada.


"TARIK SIS!!" Heboh Emon.


"SEMONGKO!!" Sahut seluruh anggota teater yang ikut berjoget dengan Emon ketika musik telah diputar.


"Astagfirullah..." Alesha menepuk keningnya dengan senyum pasrah yang tampak sangat jelas pada mimik wajahnya.


"Bodo amat bukan temen gua lu pada," Pekik Alesha sembari menyembunyikan wajahnya kebalik tubuh suaminya.


"Yaelah, Sha, lu kapan lagi punya temen segokil kita, iye gak?" Sahut Emon sambil terus asik berjoget mengikuti irama musik dangdut remix yang sedang diputarkan.


"Bodo amat, lu pada bukan temen gua pokonya!!" Balas Alesha yang mulai tertawa geli.


Jacob sendiri ikut tertawa kecil ketika menyaksikan bagaimana kehebohan teman-teman Alesha yang meramaikan pesta pernikahannya itu.


"Alesha, kau tidak mau ikut berjoget dengan teman-temanmu?" Ledek Jacob.


"Ish!"


"Aww.." Pekik Jacob ketika Alesha membalasnya dengan cubitan kecil.


"Aku meriang ~ Aku meriang ~ Aku meriang ~~~"


"MERINDUKAN KASIH SAYANG."


"Aku meriang ~ Aku meriang ~ Aku meriang ~~~"


"AKU BUTUH KAMU SAYANG."


Emon dan yang lain bernyanyi dengan sangat riang gembira, sedangkan para tamu undangan malah menertawai kehebohan kawan-kawan Alesha itu.


"Mereka teman-teman Alesha, dari kelompok teater pemuda Bandung," Jawab Nina.


"Ah, aku jadi ingin ikutan bernyanyi dan berjoget dengan mereka!!" Pekik Merina yang begitu menikmati penampilan Emon dan kawan-kawan.


"Aku meriang ~ Aku meriang ~ Aku meriang ~~~"


"MERINDUKAN KASIH SAYANG."


"Aku meriang ~ Aku meriang ~ Aku meriang ~~~"


"AKU BUTUH KAMU SAYANG."


"HOBAH ~~~ Ibu, ibu, bapak, bapak, ayo yang mau request lagu sok boleh nih, kalau boleh sekalian juga ya sama sawerannya, sssrrrrrrrr....."


"Emon, Emon, lu mah bener-bener dah, fiks abis ini gua keluarin lu dari kartu keluarga, hahahah!!" Alesha tertawa cukup lepas, menyaksikan kawan-kawannya yang begitu menikmati profesi dadakan mereka sebagai biduan diacara pernikahannya dengan Jacob. Terutama Emon, si gempal gemulai itu begitu lincah melenturkan tubuhnya dan menari dengan lenggok ala biduan profesional.


"Pengantennya sini dong masa diem aja di sana, ayoo join, biasanya lu gak kalah heboh, Sha kalau udah denger dangdut," Ucap Sisil sembari berlari kecil dan menghampiri Alesha. "Ayolah, gak usah malu-malu,"


"Eh, eh, eh, apa-apaan ini!" Pekik Alesha ketika Sisil menariknya untuk bergabung bersama Emon dan kawan-kawan untuk bernyanyi dan berjoget bersama.


"Nah gitu dong, pengantennya gabung, kan endol tuh, hahahah," Sahut Naufal dengan antusias.


"Eh, bang, musiknya ganti dong!" Ucap Emon melalui mic yang sejak tadi ia genggam.


"Eh, apaansih, udah ah gua mau balik lagi, malu serius!" Pekik Alesha.


"Dah, Sha lu nyanyi aja nih," Tiba-tiba saja Emon melemparkan micnya pada Alesha.


Refleks, mau tidak mau Alesha pun menangkap mic yang melayang itu dengan sangat tepat.


"Nah cakep euyy, musiknya dah mulai!!" Kembali, kehebohan para anggota kelompok teater itu membuat acara pernikahan menjadi sangat hidup, ditambah lagi Alesha yang sudah menggenggam microphone dan dipaksa untuk bernyanyi oleh kawan-lawannya.


"Heheh, maaf ya, maklum emang temen-temen Alesha kadang otaknya suka pada ngegeser, efeknya ya gitu, jadi gak jelas deh," Ucap Nina dengan malu-malu pada Laura dan kedelapan rekan setim Alesha.


"Gak papa, bagus malah, acaranya jadi ramai," Balas Laura sembari menunjukan senyum cerahnya.


Akad yang diwarnai oleh tangis haru, kini sudah berubah tiga ratus enam puluh derajat karna kegilaan teman-teman Alesha.


"TARIK, SHA...."


Alesha menghembuskan napasnya. Ia malu, ia dipaksa untuk bernyanyi diacara pernikahannya sendiri. Turun sudah harga diri Alesha untuk sesaat dihadapan seluruh tamu undangan.


"Seumur hidup aku ini yang pertama," Alesha mulai bernyanyi. "Pintu hatiku diketuk oleh dua lelaki.


Punyai ciri selama ini kucari


Berbeda wajah tampannya tetap asli......."


"HOBAH, LANJUT, SHA....."


"Kalau kupilih di sini apa kata di sana


Kalau kupilih di sana di sini akan terluka


Perlukah aku pilih keduanya


Barbagi kasih seadil adilnya..."


Kini Emon dan kawan-kawannya pun turut bernyanyi dengan suara lantang dengan tarian yang segokil mungkin.


"Sungguh ku merasa resah


Untuk menilai sesuatu yang indah


Namun ku ada pepatah


Yang aku gubah..."


Alesha sendiri mulai menikmati penampilannya itu dengan sedikit memggerakkan tubuhnya mengikuti irama lagu.


"Di sana hanyalah menantiiii.........


Sampai bila pun ku tak pastiiiiii.........


Bertanya kabar melalui tinta


Jarang sekali bertemu muka


Namun kutahu dia setia


Dan di sini tetap menungguuuuu


Berada jelas dimatakuuuuuuu


Kasih tak luah terhadap aku


Sanggup menunggu kata putusku


Sayang ketabahanmu menawan ku.... "


Selepas itu pun Alesha menjauhkan microphone yang ia genggam dari mulutnya, dan tertawa lepas karna merasa malu dengan dirinya sendiri.


"Mantep, euy, pengantennya sawer atuh kasian!!!" Pekik Nina.


"Nah bener, Mon duit, Mon!!" Sahut Naufal.


"Asyap!!" Emon langsung mengeluarkan duit receh lima ribuannya, lalu mendekati Alesha dan menggantungkan duit itu dengan jepitan jemarinya tepat dihadapan wajah Alesha.


Para tamu undangan sampai-sampai tertawa karna melihat kegilaan teman-teman Alesha, juga Alesha yang seharusnya duduk manis dipelaminan bersama Jacob, tapi kini malah bernyanyi bersama teman-temannya.


Alesha yang terlanjur merasa asik pun kembali melanjutkan nyanyiannya. "Sungguh ku merasa resah


Untuk menilai sesuatu yang indah


Namun ku ada pepatah


Yang aku gubah.."


"Di sana hanyalah menantiiiii


Sampai bila pun ku tak pastiiiii


Bertanya kabar melalui tinta


Jarang sekali bertemu muka


Namun kutahu dia setia.."


"Dan di sini tetap menungguuuu


Berada jelas di matakuuuu


Kasih tak luah terhadap aku


Sanggup menunggu kata putusku


Sayang ketabahanmu menawan ku... "


"ASIK, TARIK SIS..." Teriak Emon.


"SEMONGKOOO....." Sahutan para kawan-kawan gesrek Alesha.


Belum sempat instrumen musik berhenti, Alesha sudah merebut duit receh Emon yang berjumlah tiga lembar lalu setelah itu berlari begitu saja menuju pelaminan.


"Eh, eh, eh, woee duit gua woee, Alesha!" Pekik Emon.


"Bodo amat duitnya buat gua!!" Balas Alesha yang lengsung bersembunyi dibalik tubuh besar suaminya.


Sepanjang hari itu Alesha lalui dengan kebahagiaan, kebahagiaan, dan kebahagiaan. Dimulai, dari kekacauan akibat ulah temannya yang entah dirasuki oleh apa, belum lagi rekan-rekan dekat dari pihak Jacob yang terus berdatangan dan memberikan ucapan selamat juga doa.


"Teman-temanmu asik juga ya," Ucap Jacob.


"Bukan asik, tapi lebih tepatnya GILA!" Koreksi Alesha. "Mereka memang seperti itu jika sudah berkumpul."


"Baguslah, jadi acara pernikahan kita bisa semakin meriah," Balas Jacob.


Meski hari ini adalah hari bahagia Alesha, tapi tidak ada satu pun keluarga Alesha yang berasal dari pihak ibunya yang diundang dalam acara pernikahannya itu, kecuali Bu Salma, si wanita paruh baya pemilik rumah kontrakan yang selalu menaruh simpatinya pada Alesha, dan keluarga Alesha yang berasal dari pihak ayahnya.


Sejak pukul sembilan pagi hingga saat ini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, pesta itu masih tetap berlangsung dengan aura kemeriahan yang belum juga meredup. Tiga belas jam yang berlalu dengan sangat cepat. Semakin malam, tamu undangan malah semakin ramai, tetapi Alesha sudah mulai merasa lelah, lima kali ia berganti jubah pengantin, begitu pula Jacob.


"Alesha, kau baik-baik saja?" Tanya Jacob yang mulai cemas karna melihat raut lemas yang Alesha tunjukkan.


"Tidak apa, Alesha hanya sedikit lelah saja," Jawab Alesha lirih.


Sedikit? Jacob pikir Alesha sangat kelelahan.


"Jika kau lelah, kita bisa akhiri pesta ini sekarang juga, aku tidak mau kau sakit, Alesha," Ucap sembari mengelus lembut punggung istrinya.


"Tidak! Aku tidak mau pesta ini berakhir sekarang! Biarkan saja pestanya berlanjut hingga para tamu undangan sudah tidak berdatangan lagi," Tolak tegas Alesha.


"Baiklah, tapi jika kau sudah tidak kuat lagi bilang saja padaku," Lalu Jacob pun mencium singkat kening Alesha.


Alesha diam, tidak memberikan respon apapun atas sikap manis yang suaminya beri itu. Sebenarnya Alesha sudah tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan pesta pernikahannya, namun ia tidak mau membuat para tamu undangan kecewa karna pesta sudah berakhir.


Tetapi ternyata, Alesha memang sudah tidak mampu lagi untuk bertahan lebih lama, kakinya begitu pegal karna seharian ini ia memakai high heels yang sangat tinggi, meski tinggi tubuhnya masih tetap tidak bisa disandingkan dengan Jacob.


Tepat pukul sebelas, Jacob merasakan lengannya yang diremas kuat oleh Alesha.


"Alesha, ada apa?" Tanya Jacob.


"Alesha, lelah," Jawab Alesha sangat lirih.


Mendengar itu, Jacob pun langsung sigap memberitahu pada para petugas untuk mengakhiri pesta pernikahannya, dan untung saja saat itu tamu undangan sudah tidak ada lagi yang berdatangan.


"Ayo kita ke kamar," Jacob berniat untuk menggendong tubuh Alesha, namun hal itu langsung dihalau oleh Alesha.


"Tidak, tidak! Alesha mau jalan sendiri saja," Ucap Alesha sembari melepaskan sandal jangkung yang ia kenakan sejak pagi. "Ayo," Begitu selesai, Alesha langsung menarik lengan Jacob dan akhirnya mereka pun berjalan menuju kamar mereka.


Ya! Kamar mereka. Sudah resmi menikah bukan? Tidak mungkin juga mereka berpisah kamar.


..............


.............................


............................................


Hampura ya, acara Alesha jadi amburadul karna ke gajean author and kawan-kawan Alesha 🙏🙏🤣