May I Love For Twice

May I Love For Twice
Serigala Berbulu Domba



Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Jacob tidak henti-hentinya menangis. Ia juga enggan melepaskan pelukkannya dari Alesha.


"Siapa yang melakukan ini semua? Mack sudah mati, lalu siapa lagi sekarang?" Bisik Jacob. Ia tidak perduli dengan darah Alesha yang mengucur dan mengotori kemejanya. Jacob hanya ingin Alesha baik-baik saja, tidak mau melihat Alesha yang kembali sekarat. Sangat menyakitkan, bahkan kali ini rasa sakitnya lebih parah lagi.


"Bas, Mr. Jacob?" Tanya Lucas yang berisik pada Bastian.


Bastian sendiri mengerti apa yang Lucas tanyakan itu. Tapi ia dilarang untuk memberitahukan perasaan mentornya pada Alesha keorang lain.


Bukan hanya Lucas, seluruh anggota tim pun dibuat bertanya-tanya akan perilaku Jacob yang menangisi Alesha seperti sedang menangisi kekasih sendiri.


"Stella, kau sudah sadar?"


Serentak, semua anggota tim yang ada didalam mobil mini bus itu termasuk Jacob melirik ke arah Maudy setelah mendengar ucapan gadis itu.


"Dimana aku?" Lirih Stella yang baru saja sadar dari pingsannya.


"Kau dimobil, Stell, kita menuju rumah sakit." Jawab Maudy.


Mata Stella berkedip lemas. "Mobil? Rumah sakit?" Gumam pelan Stella.


"Ya, kita akan ke rumah sakit. Kami menemukanmu sedang pingsan diatas lantai, dan Alesha yang tenggelam didalam air yang mengisi penuh bathub." Ucap Maudy.


"Alesha.." Mata Stella mulai membuka lebar seolah menyadari suatu hal ketika temannya itu menyebut nama Alesha. "Dimana dia sekarang?"


"Dibelakang bersama Mr. Jacob." Maudy mulai terisak kembali. Ia sangat sedih atas kondisi yang sedang dialami oleh temannya sekarang ini.


"Alesha!" Stella bangkit dari pangkuan Maudy dengan gerakan cepat layaknya seseorang yang sedang dilanda kepanikan.


"Stella, duduk!" Tegas Bastian sambil menahan tubuh Stella agar tidak mendekati Alesha yang tubuhnya sedang dipeluk erat oleh Jacob.


"Alesha..." Rintih Stella yang mulai menangis. "Maafkan aku, Alesha.." Tubuh Stella mendadak lemas. Maudy yang menyadari itu segera menarik pelan lengan Stella agar kembali duduk.


"Ceritakan apa yang terjadi pada kalian?" Pinta Maudy disela-sela tangisnya.


"Aku yang bersalah. Seharusnya aku menyadari keberadaan orang asing itu."


Maudy yang berada disebelah Stella pun langsung memberikan pelukan pada temannya yang sudah menangis tersedu-sedu itu.


"Aku tidak tahu, lampunya tiba-tiba mati dan seseorang menghantam kepalaku dengan keras hingga aku pingsan, hiks. Maafkan aku, Alesha.."


Diam-diam, Lucas dan Aiden bekerjasama untuk meretas CCTV yang ada di hotel itu untuk mengetahui siapa yang memasuki kamar hotel yang ditempati oleh Alesha dan Stella. Namun mereka dibuat sangat bingung ketika berkali-kali mengulang video rekaman CCTV, pasalnya yang mereka dapati yaitu sejak pagi tadi setelah Alesha dan Stella keluar dari kamar hotel itu tidak ada satu orang pun yang memasuki kamar hotel yang ditempati oleh Alesha dan Stella.


Sebenarnya siapa orang itu? Apa ia sudah merencanakan semuanya hingga rekaman CCTV ketika ia sedang memasuki kamar Alesha dan Stella pun menghilang?


Entah berapa menit, detik, atau jam yang sudah berlalu, mobil mini bus itu akhirnya memasuki area rumah sakit.


Jacob menjadi yang pertama beranjak dari bangkunya sambil membopong tubuh Alesha yang bagaikan mayat bernapas. Ia langsung berlari cepat kedalam gedung rumah sakit itu sambil meneriaki perawat-perawat dan dokter.


Beberapa saat kemudian, ada dua perawat yang menghampiri dan seorang dokter jaga. Mereka membawakan sebuah kasur pasien untuk Alesha.


Jacob segera membaringkan tubuh Alesha diatas kasur pasien itu. Ia tidak mau berjauhan dari Alesha, ia terus berada disisi Alesha dengan kaki yang terus berpacu mengikuti kecepatan roda yang berputar melewati lantai-lantai rumah sakit.


"Bertahan lah, Al, aku mohon." Rintih Jacob tepat ditelinga Alesha.


"Maaf, tuan anda dilarang untuk masuk kedalam ruangan ini." Ucap seorang sambil mendorong tubuh Jacob agar tidak ikut masuk kedalam ruang tindakan.


Awalnya Jacob memberontak dan memaksa untuk masuk, namun dengan sigap Bastian, Aiden, dan Lucas segera menarik tubuh mentor mereka agar menjauh dari pintu ruang tindakan.


"Aku mohon selamatkan, Alesha..." Tangis Jacob semakin menjadi-jadi. Matanya saja sudah sangat sembab dan memerah.


"Kau harus bertahan, Alesha, aku tidak mau kehilanganmu." Jacob frustasi, ia menggedor pelan pintu ruang tindakan itu. "Apa masih belum cukup kau membuatku cemas dan mengembalikan traumaku itu? Kenapa harus terjadi lagi?"


Tubuh Jacob lunglai dan merosot kelantai. Ia pun bersandar pada pintu dengan keadaan yang kacau. Darah Alesha bersimpahan dikemejanya, rambutnya acak-acakkan, wajahnya sudah membengkak akibat tangisan yang tiada hentinya dan malah semakin membludak. Jacob memukul-mukul dadanya, merasakan sesak mendalam yang sangat amat menyakiti batinnya.


Ia takut jika Alesha akan meninggalkannya, ia takut patah hati untuk yang kedua kalinya, ia takut tidak bisa menemukan kebahagiaan lagi, ia takut jika ia akan kembali menjadi seperti tiga tahun yang lalu.


Jacob tidak mau berprasangka buruk, namun melihat keadaan Alesha yang sangat mengkhawatirkan membuat Jacob tidak bisa memikirkan hal lain selain kehilangan yang mungkin akan kembali menyambanginya.


"Kenapa?" Jacob melampiaskan rasa frustasinya dengan menonjok keras lantai rumah sakit selama beberapa kali hingga mengeluarkan darah diarea tonjolan tulang jemarinya.


"Cukup, Alesha! Aku tidak mau beresiko kehilanganmu!" Sambil terus menangis, Jacob pun turut menghantamkan kepalanya pada pintu ruang tindakan tersebut.


Bastian segera mendekati mentornya itu dan menahan setiap tindakan bodoh yang dilakukan oleh Jacob. Sedangkan anggota tim yang lain, mereka hanya tertegun melihat kekacauan yang memporak-porandakan diri mentor mereka itu.


Bastian sendiri paham keterpurukan yang sedang dialami oleh mentornya saat ini. Ia tahu kalau Jacob sangat mencintai Alesha, dan wajar saja kalau Jacob begitu frustasi saat mendapati keadaan Alesha yang secara mengejutkan berada didalam air dengan kondisi tak sadarkan diri dan mengalami pendarahan pada area kepalanya.


"Mr. Jacob, berhenti menyakiti dirimu sendiri." Sekuat tenaga Bastian menahan kepala Jacob agar tidak terus berbenturan dengan pintu besi yang menjadi sandaran Jacob.


"Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan, Bas. Ini sangat menyakitkan." Jacob kembali memukuli dadanya sendiri.


"Alesha adalah anggotaku, aku juga sedih melihat kondisinya yang seperti itu." Balas Bastian.


Jacob sudah lemas. Bukan karna tenaganya yang habis, namun batinnya sangat menyiksa. Jacob tidak mampu memikirkan hal-hal apapun, hatinya sangat hancur.


"Apa yang harus aku lakukan, Bas?" Jemari Jacob terangkat untuk menjambak rambutnya sendiri. Kenapa? Kenapa harus serumit ini mencintai Alesha? Rasanya sangat berbeda saat ia mencintai Yuna dahulu. Tidak ada gangguan, tidak ada halangan, semua berjalan dengan sangat lancar, walau akhirnya Jacob juga harus merasakan kehilangan karna kepergian Yuna yang masih belum ditemukan sampai sekarang.


Jacob menekuk dan memeluk lututnya sendiri. Ia memendam tangisnya dan semakin menyiksa batinnya sendiri. Kepalanya menunduk hingga keningnya menyentuh kedua lutut. Membiarkan tetesan air mata berjatuhan membasahi lantai dibawahnya.


"Aku tidak bisa menjaganya dengan baik, Bas. Bagaimana jika Alesha meninggalkanku?" Lirih Jacob.


"Jangan katakan itu, Mr. Jacob. Apa kau mau ditinggalkan oleh Alesha?" Bastian berupaya untuk meyakinkan mentornya, walau hatinya sendiri ragu akan ucapannya barusan.


Jacob menggelengkan kepalanya. Tentu saja Jacob tidak mau. Apa lagi jika mengingat kejadian kelam tiga tahun lalu yang membuatnya menjadi seperti orang gila. Cukup Yuna saja yang membuatnya kehilangan jati diri, jangan sampai Alesha meninggalkannya dan membuka kembali luka lama yang sudah pulih.


Setelah mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba saja Jacob terkesiap dan tubuhnya hampir terjatuh karna pintu yang menjadi sandarannya terbuka.


Ternyata seorang perawat. Bastian langsung bangkit dan disusul oleh Jacob.


"Pasien akan dilakukan penanganan lebih lanjut. Kami akan melakukan CT Scan di area kepalanya." Ucap perawat itu.


Sedangkan perawat lain dan seorang dokter segera keluar dari dalam ruangan itu sembari mendorong kasur pasien yang Alesha tempati.


Mereka membawa Alesha ke ruangan lain untuk segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.


Sedangkan Jacob kembali menangis setelah melihat gadisnya yang masih terbaring tak sadarkan diri.


"Bertahan lah, Alesha, aku menunggumu, akan aku lakukan apapun agar kau bisa kembali seperti semula."


Perhatian Lucas dan teman-temannya semakin terpaku pada perilaku mentor mereka. Bertanya-tanya sebenarnya apa hal yang membuat mentor mereka itu begitu terpukul melihat keadaan Alesha saat ini? Setiap ucapan yang Jacob katakan, tentu saja mereka dapat mendengarnya.


"Aku tidak pernah melihat Mr. Jacob yang seperti itu." Gumam Merina tepat disebelah Nakyung. Mata kedua gadis itu masih terpaku lurus pada mentor mereka. Menyaksikan kekacauan dalam diri sang mentor.


"Aku tidak mau berpikir kalau Mr. Jacob menyukai Alesha." Balas Nakyung, pelan. "Kau mendengar apa yang dikatakan oleh Mr. Jacob tadi?"


Merina mengangguk. "Dia tidak mau kehilangan Alesha."


Mereka pun terus menatap ke arah sang mentor yang bersandar pada tembok dengan perasaan pasrah setelah lelah menangis. Jacob sudah enggan untuk berkata-kata. Hanya hatinya saja yang terus menyuarakan untuk tetap berpikir positif, tetapi lagi-lagi pikirannya malah menjerumuskan Jacob untuk jatuh pada ketakutan berlebih.


Ini tidak akan menjadi akhir. Aku percaya kau akan baik-baik saja. Kau gadis yang baik, dan aku sangat menyayangimu, Alesha. Hampir setahun ini, kau mengubah semua yang kelam pada diriku dan menjadikannya berarti kembali. Aku pikir setelah kepergian Yuna, aku tidak akan menemukan wanita mana pun yang dapat menggantikan posisinya. Tapi aku salah. Tiga tahun berlalu, dan kau datang. Aku bahagia bisa mengenalmu, tolong jangan tinggalkan aku seperti yang Yuna lakukan. Aku akan lebih menjagamu, aku berjanji. Tapi tolong jangan tinggalkan aku, Alesha..... Itulah adalah bisikan dari hati Jacob.


Tetapi bisikan dari dalam pikirannya malah berkata lain.


Kau akan pergi meninggalkanku. Kondisimu membuatku takut. Apakah kau akan bangun kembali, Alesha? Lalu siapa yang akan bersamaku? Aku tidak mau ada wanita lain. Tapi bagaimana jika kau juga meninggalkanku?....


"Mr. Jacob, jangan berpikiran yang macam-macam, Alesha akan baik-baik saja, percaya itu." Bastian menepuk bahu Jacob seolah ia tahu apa yang sedang Jacob pikirkan.


"Jangan masukan hal-hal aneh yang hanya akan memperkeruh pikiranmu. Sekarang lebih baik kita berdoa dan berusaha agar Alesha bisa kembali sembuh."


Bastian benar, jika Jacob terus memikirkan yang tidak-tidak, itu hanya akan menambah kekeruhan dalam kepalanya. Jacob harus memastikan kalau Alesha akan baik-baik saja, maka dari itu ia harus berusaha, dan hal pertama yang harus diambil adalah menenangkan dirinya agar ia bisa berpikir dengan lancar. Tetapi disisi lain, rasa takut akan kehilangan terus saja menghantuinya.


"Kita tunggu hasilnya dari dokter. Kumohon, jangan buat kami bertambah panik, Mr. Jacob."


Seketika Jacob mengedarkan pandangannya kesekeliling dan menatapi satu persatu wajah anggota timnya.


"Maaf.." Gumam Jacob pelan sembari menundukkan kepalanya.


"Tidak, jangan meminta maaf, kami ada di sini, kami akan menemanimu, Mr. Jacob." Bastian mengelus pelan bahu mentornya itu.


Tidak ada balasan dari Jacob. Pria itu kembali kedalam pikirannya dan berusaha untuk menetralkan semua perasaan buruknya.


Setelah menunggu hampir satu jam. Jacob yang sedang memasrahkan diri dengan bersandar lemas pada tembok seketika terkejut ketika mendengar pintu ruangan yang terbuka.


Sang dokter rupanya yang keluar dari ruangan itu.


Jacob pun segera bangkit dan mendekati dokter itu.


"Bagaimana, Dok?" Tanya Bastian yang sudah penasaran dengan kondisi Alesha saat ini.


"Pasien mengalami pendarahan diarea kepalanya, ada beberapa luka lebam seperti luka pukulan diwajahnya, dan sepertinya pasien mengalami benturan kuat diarea kepala karna terdapat luka didalam kepalanya." Jawab sang dokter.


Penjelasan dari dokter itu seketika membuat perubahan ekspresi pada wajah Jacob dan anggota timnya. Perpaduan antara syok, cemas, dan takut jika Alesha tidak tertolong berkumpul menjadi satu.


Tetapi beberapa saat kemudian, ekspresi wajah mereka kembali berubah menjadi sedikit lebih tenang ketika mendengar penjelasan selanjutnya dari sang dokter.


"Tapi syukurnya, pasien masih bisa tertolong. Kami sudah berhasil menghentikkan pendarahan diarea kepala, dari hasil CT Scan juga tidak menunjukan adanya keretakkan atau masalah serius pada tengkoraknya. Luka dalam kepalanya juga segera kami tangani. Dan sekarang, pasein sudah dalam kondisi yang lumayan stabil, namun pasein membutuhkan dua kantung darah golongan AB dalam waktu yang sangat singkat. Kalian bisa mendapatkannya di bank darah, kalau tidak salah masih ada beberapa stok kantung darah golongan AB di sana."


Jacob menghela napasnya dengan sedikit lega. Setidaknya ia sudah tahu bagaimana kondisi Alesha saat ini, walau kemungkinan kondisi Alesha yang sewaktu-waktu bisa kembali memburuk masih cukup besar. Tujuan Jacob kali ini adalah dua kantung darah itu.


"Bisa salah satu dari kalian pergi ke bank darah?" Tanya Bastian pada anggotanya yang lebih menjerumus pada sebuah permintaan.


"Aku saja." Lucas mengangkat tangannya.


Bastian mengangguk dan Lucas pun segera berlari menuju bank darah yang terdapat di rumah sakit tersebut.


"Bas, aku sudah menghubungi pihak WOSA, dan mereka sudah mengurus semua tanggungan biaya rumah sakit ini, Mr. Thomson juga akan menyelidiki kasus ini, ia khawatir kalau kejadian yang menimpa Alesha adalah ulah anak buah Vincent." Ucap Aiden.


"Bagus, Aiden. Mr. Thomson memang harus menyelidiki kasus ini. Kita tidak boleh membiarkan pelakunya kabur begitu saja." Balas Bastian.


"Kau benar, jika pelakunya sudah tertangkap aku tidak akan segan untuk menghabisi dan membunuhnya." Geram Jacob sambil menahan gejolak amarah yang membuat wajahnya memerah. Pupil matanya membesar dan sangat hitam. Telapak tangannya terkepal kuat seperti sudah siap untuk untuk dihantamkan kesebuah objek.


"Stella, ada apa denganmu? Wajahmu menjadi pucat, apa kau sakit?" Saut Nakyung seraya menghampiri temannya yang kini sedang duduk mematung dengan ekspresi datar dan tatapan kosong.


"Kau kenapa, Stella?" Bastian pun kembali dibuat panik saat melihat wajah pucat pasi milik Stella.


"Aku takut." Ucap Stella sangat pelan dan datar.


"Takut? Takut kenapa?" Nakyung mengerutkan keningnya.


"Orang itu..." Stella menjeda ucapannya. Berpikir untuk kembali melanjutkan kata-katanya. "Lampunya tiba-tiba mati, dan dia menyerangku hingga membuatku pingsan. Bagaimana jika dia kembali lagi?"


***


Hallo kakak kakak readers uwuwu 😍😍 hmm, sebenernya gimana ya, ini sih partnya sad, tapi authornya lagi seneng nih, abisnya akun ini bisa bener lagi setelah diutak-atik sama sodara aku😅 gak tau diapain, tapi alhamdulillah banget akun ini bisa bener lagi, jadinya aku gak jadi deh pindah akun, huhuhu so happy 🥳 kemaren tuh bener-bener sad ampe gak tau gimana caranya buat lanjutin cerita, but now everything is ok😎🤗 For more, thank you so much buat yang udah setia baca cerita amatiran aku ini, juga buat yang udah vote, komen, like, and rate 🙏🙏😍💋 Luv U 😘