
Sejak kejadian siang tadi ketika ia melabrak Adam secara terang-terangan, Jacob tidak lagi kembali ke kantornya. Seharian ia habiskan waktunya bersama Alesha. Sebagai gantinya, Jacob meminta asistennya yang lain selain Taylor untuk menggantikan pekerjaannya hari ini.
Lain hal dengan Adam. Rasa sakit pada tubuhnya akibat baku hantam dari kepalan tangan Jacob tidak sepadan dengan rasa sakit hatinya. Apa ia harus benar-benar melupakan Alesha? Tapi ia juga takut jika Stella akan melakukan hal buruk pada Alesha.
"Aku harus gimana lagi, Alesha? Aku coba buat hindarin kamu dari kejahatan rencana Stephani. Apa aku harus tarik lagi ucapan aku, dan tolak tawaran dari Stephani itu?" Rintih Adam. Tubuhnya bersandar pada dinding dengan lemas.
"Bukan cuman Alesha aja yang bakal kena imbasnya, Adam, jangan salahin aku kalau nanti anggota keluarga kamu juga ada yang celaka karna kamu berusaha buat bongkar rencana aku."
Adam terkejut setelah mendengar ucapan Stella barusan.
"Stephani? Sejak kapan kamu ada di sini?" Adam mengerutkan keningnya.
"Gak penting! Jadi gimana? Mau lanjut atau enggak?" Stella berkacak pinggang.
Adam bergeming mendapati pertanyaan dari gadis yang ada dihadapannya.
"Kalo sampe rencana aku ini ada yang tahu, jangan salahin aku kalau nanti ada anggota keluarga kamu yang kena imbasnya juga, Adam!" Tekan Stella tepat dihadapan wajah Adam.
"Tolong jangan bawa-bawa keluarga aku, please." Mohon Adam.
"Gak usah nampangin muka mohon gitu. Gak mempan!" Sindir Stella.
"Aku ke sini cuman mau kasih tahu kamu tentang rencana yang bakal kita jalanin."
Kemudian Stella membisikan sesuatu pada telinga Adam.
"Ngerti?"
Adam mengangguk pasrah.
"Bagus. Mungkin selama beberapa bulan ini kita bakal pisah dulu. Tapi inget! Kalau sampe rencana ini ada yang tahu, maka keluarga kamu bakal kena imbasnya juga!" Ancam Stella dengan seringainya.
"Aku pergi. Sampai bertemu lagi nanti," Ucap Stella bersama smirk licik yang menjadi penutup untuk pertemuannya dengan Adam kali ini.
Terpaksa Stella menunda rencananya selama beberapa bulan kedepan karna urusan keluarga, dan perusahaan milik orang tuanya.
Lalu, selepas Stella pergi, kini tinggalah Adam sendiri dengan perasan ragunya yang begitu besar.
Adam tahu rencana yang Stella buat pasti akan sangat amat menghancurkan hati Alesha, namun Adam tidak akan menyerah, ia yakin jika rencana Stella itu akan membawanya untuk mendapatkan cinta Alesha kembali.
"Apa ini cara yang mesti aku korbanin buat bisa dapetin kamu lagi, Sha?" Gumam Adam. Tatapannya lurus kosong, memikirkan dosa terbesar yang akan ia jalani semasa hidupnya.
"Ya Allah....." Adam mengusap wajahnya, gusar. "Apa harus sampe sejauh ini aku perjuangin kamu, Alesha..."
****
Berbanding terbalik dengan Alesha, istri kesayangan Jacob itu malah sangat amat menikmati hari-harinya sebagai seorang wanita yang memiliki rasa cinta, dan kasih sayang penuh dari suaminya. Alesha bahagia, pernikahannya dengan Jacob akan semakin sempurna dengan hadirnya si kembar yang sedang tumbuh pada rahim Alesha.
Ya! Kembar. Sekitar satu bulan sejak kejadian Jacob yang melabrak Adam, Alesha dinyatakan hamil kembar oleh dokter kandungan.
Betapa bahagianya Alesha mendengar kabar itu. Dua malaikat kecil hasil dari benih cintanya bersama Jacob kini hadir, dan ia juga akan menjadi sosok ibu setelah proses persalinan yang akan berlangsung beberapa bulan lagi.
Hari demi hari, perhatian Jacob tidak pernah lekang untuk sang istri. Sebisa mungkin Jacob membuat Alesha bahagia, ditambah lagi dengan Adam yang sudah tidak pernah mengusik rumah tangga mereka, semakinlah Jacob memiliki keleluasan, dan kebebasan lebih bersama istrinya.
Tiap minggu, selepas kontrol kehamilan pasti Jacob selalu mengajak Alesha bermain ke taman wisata alam, lalu setelah itu Alesha pasti meminta untuk dibelikan seblak atau rujak buah.
"Jack, aku ingin seblak."
"Jack, rujak itu sepertinya enak."
"Jack, ayo kita mencari seblak, Baby J ingin rujak, dan Bundanya ingin seblak."
"Jack, Baby J minta dielusi."
"Jack, Baby J merindukanmu."
Jacob selalu menyunggingkan senyum hangatnya ketika mendapati ucapan yang seperti itu dari istrinya.
Alesha memang semakin menggemaskan, dan begitu manja pada Jacob sejak perutnya semakin membuncit. Kadang kala, jika ada waktu luang di rumah, Jacob selalu menemani Alesha untuk menonton beberapa film selama seharian sembari mengelusi perut si ibu hamil itu.
"Jack, Baby J semakin membesar ya? "
"Ah mereka sangat berat kau tahu, Jack? "
Alesha selalu mengatakan apa yang ia rasakan mengenai pertumbuhan kehamilannya kepada Jacob, sedangkan Jacob hanya menyikapinya dengan senyuman atau kekehan kecil.
Namun kadang Alesha juga suka untuk melayangkan protes kecil pada Jacob. Pasalnya, Alesha merasa jika pergerakan, dan kebebasannya semakin dibatasi oleh pengawasan dari anak-anak buah Jacob, termasuk Taylor.
Tapi Jacob acuh, ia tidak perduli dengan protes dari istrinya itu. Yang Jacob mau adalah keselamatan Alesha tetap terjaga dengan pengawasan dari beberapa anak buahnya.
"Jack, kau merasa ada yang berbeda dariku?" Alesha menelisik tubuhnya sendiri dari ujung kaki hingga kepala melalui pantulan cermin.
"Kau semakin menggemaskan, membuatku ingin memakanmu saat ini," Gemas Jacob.
"Ish, bukan begitu! Lihatlah!" Alesha mununjuk pada cermin. "Aku tidak sependek ini sebelumnya!" Alesha mendengus sebal.
"Itu karna ada dua Baby J di dalam ini, sayang," Balas Jacob begitu halus. Telapak tangannya mengelus lembut penuh kasih sayang pada permukaan perut Alesha yang berukuran jauh lebih besar dari awal-awal kehamilan.
Alesha memejamkan matanya, merasakan kenyamanan dari elusan yang suaminya berikan.
"Aku mencintai kalian bertiga," Jacob mengecup pipi kanan Alesha.
"Kami juga mencintaimu, Jack," Balas Alesha yang balik memberikan ciuman singkat pada bibir suaminya.
Entah sejak kapan tepatnya, mungkin sekitar tiga, atau dua bulan lalu Alesha mulai berani menyosor untuk mencium suaminya. Ya meski hanya berupa ciuman kilat saja. Tapi tentunya hal itu selalu sukses membuat hati Jacob berbunga-bunga. Tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka berdua, Jacob sangat bersyukur akan hal itu.
"Jack, apa kau tidak bisa membungkuk sedikit?" Pinta Alesha dengan manja.
"Kenapa memangnya?" Tanya Jacob.
"Aku ingin memelukmu, tapi tidak bisa. Jika aku berjinjit rasanya cukup sulit."
Jacob terkekeh mendengar jawaban istrinya barusan.
Jacob menggertakkan giginya karna gemas akan tingkah Alesha. "Ah, kasiannya gadisku ini."
Lalu Jacob membungkukkan tubuhnya, sesuai dengan permintaan sang istri tercinta.
"Nah, kalau seperti ini kan enak," Alesha tersenyum, dan menatap lurus pada suaminya tanpa ia harus mendongkakkan kepalanya.
"Aku mencintaimu, Jack."
"Aku juga mencintaimu, Alesha."
Sejenak, tidak ada perbincangan yang terdengar diantara Jacob dan Alesha. Mereka sedang menikmati pelukan masing-masing yang menciptakan kenyamanan, baik dalam diri atau pun hati.
Hingga pada akhirnya, Alesha pun mengucapkan kalimat yang membuat Jacob ternyehak, dan tersentuh.
"Jangan tinggalkan aku, Jack."
Alesha berucap lirih.
Jacob yang mendapati itu hanya bisa terdiam sembari menutup kedua kelopak matanya. Bukan satu, dua, tiga, empat, atau lima kali Alesha mengucapkan kalimat seperti itu, entah sudah berapa puluh kali Jacob selalu mendengar perkataan Alesha itu. Jacob sendiri selalu merasa tidak tega jika mendengar Alesha yang selalu mengatakan kalimat permohonan untuk tidak ditinggalkan. Padahal tidak pernah sama sekali Jacob berpikiran untuk meninggalkan Alesha, tapi Alesha selalu memohon, dan memohon agar Jacob tidak pergi.
"Kau sangat takut aku tinggalkan ya, sayang?"
Alesha semakin mengeratkan pelukannya ketika menerima pertanyaan suaminya itu.
"Jangan tinggalkan aku. Sejak awal kita akrab, aku selalu merasa kalau kau adalah orang tua baru untukku. Sikapmu membuatku merasa nyaman, dan kasih sayang yang selalu kau berikan sejak aku masih menjadi muridmu membuatku takut jika harus kehilanganmu. Aku takut kalau tiba-tiba kau pergi, dan tidak menyayangiku lagi. Sudah cukup orang tuaku saja yang pergi, jangan kau, dan kasih sayangmu," Alesha menggelengkan kepalanya. "Jangan tinggalkan aku, Jack. Aku sangat mencintaimu. Ada tanggung jawab yang harus kita jalani bersama. Kita harus merawat, dan mendidik Baby J."
Jacob tersenyum bahagia mendengar pernyataan istrinya barusan. "Alesha, dengarkan aku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku sangat menyayangimu, dan anak-anak kita. Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian bertiga, dan kita akan menjadi orang tua yang baik untuk anak kita, sayang," Jacob mencium kedua sisi pipi Alesha.
"Aku berjanji, Alesha, sisa umurku akan aku habiskan bersamamu, dan anak-anak kita saja. Aku ingin mendidik anak-anakku dengan baik, tentunya hanya berdua bersamamu," Bisik Jacob penuh keyakinan tepat dihadapan wajah Alesha.
"Terima kasih. Aku beruntung karna memiliki mentor menyebalkan yang kini sudah menjadi suamiku," Balas Alesha disertai senyuman khasnya.
"Jangan pernah hilangkan eye smile itu, Alesha, aku sangat menyukainya," Jacob menangkup wajah Alesha.
"Aww!!" Alesha memekik. Tiba-tiba saja ia, merasakan nyeri pada perutnya. "Anakmu menendangku, Jack!"
"Menendang?" Jacob mengerutkan keningnya. "Dia sudah bisa menendangmu, Alesha?" Kedua sorot mata Jacob berbinar cerah.
"Aww!! Astagfirullah!! Hahaha, Jack, Baby J menendangku lagi!!" Seru Alesha disertai tawa bahagianya.
Jacob pun berlutut hingga posisi wajahnya kini berada tepat didepan perut buncit istrinya.
"Haii, nak, kalian cepat sekali tumbuhnya," Kekeh Jacob sembari menempelkan telinganya pada permukaan cembung perut Alesha.
Sedangkan Alesha, ia tertawa kecil mendapati respon, dan sikap suaminya saat ini.
"Jaga diri kalian baik-baik didalam sana, ayah, dan bunda menunggu kalian di sini, sayangku," Satu kecupan penuh kasih sayang pun Jacob berikan untuk kedua juniornya yang masih menetap pada rahim Alesha, dan setelah itu, barulah Jacob memeluk perut istrinya dengan begitu posesif.
Dari atas, Alesha tersenyum sembari mengelusi puncak kepala suaminya.
"Astagfirullah!" Alesha menarik napasnya. Tendangan yang dilakukan oleh janinnya kali ini terasa lebih kencang, dan keras.
"Bagaimana rasanya, Alesha?" Kekeh Jacob.
"Sakit! Tentu saja. Malah bertanya," Alesha mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku senang, itu tandanya Duo Baby J kita sehat!" Seru Alesha dengan semangat.
Lagi lagi Jacob tersenyum merekah. Hari ini adalah hari pertama ia, dan Alesha mendapati anak mereka yang mungkin akan mulai aktif bergerak.
"Aku mencintai kalian berdua, Jagoan-jagoanku," Jacob memberikan banyak ciuman pada perut Alesha, dan membuat si empunya perut tersebut menggeliat kegelian.
Kebahagiaan awal yang manis. Alesha, dan Jacob sangat amat menyayangi bayi mereka yang masih dalam kandungan. Meski beberapa kali sudah diperingati oleh dokter mengenai risiko buruk yang mungkin bisa terjadi, namun Jacob selalu berusaha untuk menjaga kehamilan Alesha. Buktinya saja, sejauh ini selama enam bulan Alesha mengandung, Jacob tidak pernah melihat tanda-tanda kondisi Alesha yang melemah apalagi memburuk. Malahan yang selalu Jacob dapati adalah Alesha yang selalu aktif juga ceria.
*****
Beranjak menuju malam hari, tepat selepas menunaikan sholat isya, Jacob yang sudah ada janji untuk menemui rekan bisnisnya di Rest area jembatan rajamandala citarum, Bandung pun segera pergi setelah meminta izin pada istrinya, Alesha.
"Hallo, ya? Saya ke sana sekarang," Ucap Jacob sembari memasuki mobilnya.
Sambungan telepon pun terputus, Jacob segera melanjukan mobilnya melewati gerbang mansion lalu melesat menuju tempat yang dituju. Sedangkan Alesha, ia berdiri diambang pintu sembari memegangi perutnya yang sudah besar.
Enam bulan mengandung dua malaikat kecil memang sangat melelahkan untuk Alesha. Tubuhnya kadang remuk setelah seharian lelah bekerja. Tidak jarang Alesha mendapati wajahnya yang pucat pasi dengan tubuh yang bergetar, ditambah lagi, akhir-akhir ini memang ia sering merasakan sesak pada napasnya, juga pandangannya yang kabur.
Kalau boleh dibilang, sebenarnya selama kurang lebih lima bulan ini Alesha sering berkomunikasi dengan temannya yang berprofesi sebagai seorang dokter kandungan bernama Sulis. Tanpa sepengetahuan Jacob, Alesha selalu saja menanyakan hal seputar kehamilan pada temannya itu. Namun seiring berjalannya waktu, dan setelah melalui tahap pemeriksaan juga pemastian yang dilakukan oleh Sulis, kini Alesha semakin sadar jika memang kehamilannya itu memiliki risiko buruk yang cukup besar, contohnya saja seperti dua minggu belakangan ini, tubuhnya selalu merasa letih, dan lesuh, tidak berenergi, dan bertenaga. Hal itu terjadi karna kondisi rahim, dan tubuh Alesha masih belum siap untuk menjadi tempat penampungan bagi janin, apalagi janin yang Alesha tampung ada dua.
Tapi Alesha tidak mau menyerah. Ia tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa, dan tidak menunjukkan hal yang mencurigakan sedikit pun pada suaminya, dan yang lain. Alesha sengaja menyembunyikan kekhawatirannya itu karna ia tidak mau membuat yang lain juga turut merasa khawatir. Tapi tetap, Alesha selalu menuruti semua usulan juga perintah dokter agar kehamilannya itu tetap stabil.
"Baby J, kalian baik-baik ya di dalem, Bunda bakal terus berusaha buat bikin kalian seaman mungkin, walau pun Bunda yang harus nanggung beratnya ngejalanin kehamilan yang sebenarnya tubuh Bunda sendiri belum siap buat terima kalian," Gumam Alesha sembari mengelusi perutnya.
**
Sesampainya di tempat tujuan yang tidak biasanya sepi pengunjung, Jacob segera memarkirkan mobilnya di pinggir trotoar. Ia pun membuka pintu lalu keluar dari dalam kendaraan pribadinya itu.
"Hallo, Mbak, ini saya udah sampe."
"...."
"Owh, iya iya, saya ke sana ya sekarang.."
"..."
"Oke, mbak."
Setelah memutuskan panggilan teleponnya, Jacob segera berjalan menuju kedai kopi pinggiran yang terletak tidak jauh dari lokasi mobilnya berada. Tapi sebelum itu ia terlebih dahulu menitipkan mobilnya pada seorang pedagang.
Jacob sebenarnya bertanya-tanya, kenapa rekan bisnisnya itu memilih tempat yang menurutnya kurang cocok untuk dijadikan sebagai lokasi pertemuan antar petinggi perusahaan. Kenapa tidak di cafe-cafe biasa saja? Tapi yasudahlah, Jacob tidak mau terlalu mementingkan urusan itu. Yang mesti ia lakukan sekarang adalah menunggu terlebih dahulu rekan bisnisnya itu kembali dari toilet.
Mungkin dengan memainkan ponselnya selama beberapa saat hingga rekan bisnisnya itu datang bisa jadi alternatif Jacob untuk menghalau rasa bosannya.
Tetapi dari kejauhan, tampak seorang yang memakai pakaian selayaknya seorang mekanik dengan topi hitam sedang berjalan santai mendekati mobil Jacob. Tanpa banyak basa-basi, atau membuang waktu, atau pun memperdulikan sekitarnya, orang yang berpakaian seperti seorang mekanik itu merentangkan tubuhnya, dan masuk kebawah kolong mobil Jacob. Kurang dari lima menit orang itu pun kembali membawa tubuhnya keluar lalu bangkit berdiri.
"Permisi, maaf mbak siapa ya?" Tanya pegadang yang tadi dititipi mobil oleh Jacob.
Orang yang berpakaian mekanik itu pun menengok ke asal suara. "Saya? Saya mekaniknya tuan yang punya mobil ini. Saya disuruh benerin remnya yang kendor tadi."
"Owh, kirain saya siapa, hehehe.." Balas si pedagang dengan ramah.
"Iya, yaudah kalau gitu saya pergi dulu ya."
"Iya, mbak, silahkan."
Satu urusan sudah selesai. Kini adalah masalah terakhir yang mesti diatasi. Pikir si orang misterius yang mengaku sebagai mekanik Jacob tersebut sembari terus berjalan lurus menelusuri jalanan. Kemudian, dengan gerakan santai orang itu pun mengeluarkan ponsel genggamnya dari dalam saku.
Drett Drett....
Jacob terkesiap ketika tiba-tiba saja ia menerima panggilan masuk dari asisten rekan bisnisnya.
"Hallo iya, Mbak ada apa?"
"Bisa, Tuan berjalan ke jembatan? Tuan Anwar sedang menunggu Anda di sana."
"Jembatan?" Kening Jacob berkerut. Lalu sejurus kemudian tatapannya pun menelusuri jalan raya.
Jaraknya masih cukup jauh jika menuju ke jembatan.
"Hallo, Tuan."
"Ah ya, Tentu, saya akan ke sana sekarang," Balas Jacob.
"Baiklah, kalau begitu saya akan putus sambungan teleponnya ya, Tuan."
"Iya iya."
Tut.. Tut...
Jacob memandangi layar ponselnya selama beberapa saat seraya berpikir. Tadi rekan bisnisnya itu meminta agar ia menunggu di warung kopi yang sudah diberitahukan, dan sekarang ia disuruh untuk bejalan menuju jembatan besar itu?
"Huft..." Jacob menghembuskan napasnya dengan sabar. Baiklah, kali ini ia akan bersabar karna yang dihadapi adalah seorang 'Rekan Bisnis, dan mungkin memang rekan bisnisnya itu sedang menginginkan pertemuan langsung secara out the door.
Tapi Jacob khawatir jika harus meninggalkan mobilnya, maka dari itu ia berniat untuk kembali menuju kendaraan roda empat pribadinya itu untuk dibawa menuju jembatan. Namun belum sempat Jacob mengambil langkah awal, tiba-tiba saja matanya sudah terbelalak lebar karna mendapati kalau mobil miliknya itu baru saja melaju dengan kecepatan tinggi, dan melesat melewati tubuhnya begitu saja.
*Flashback
"Hallo, semua beres."
"Kerja bagus, kamu bisa ambil uangnya di apartemen saya."
"Baiklah, terima kasih, Stephani."
"Terima kasih kembali."
Selepas panggilan telepon berakhir, kini sebuah smirk pun terangkai pada wajah Stella.
"Ayo, Pak, mobilnya udah dibenerin," Stella langsung merubah mimik wajahnya menjadi hangat ketika berbicara dengan seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan.
"Owh, iya, Teh," Balas si pria tersebut.
"Aduh maaf ya, Pak, jadi repotin deh. Abisnya saya masih belum bisa bawa mobil sih, lagian juga tadi saya udah bilang ke ayah saya kalo kakak saya sama saya ada di sini, eh dia malah kebablasan sampe sana." Basa-basi Stella sambil berjalan beriringan bersama si pria paruh baya tersebut untuk menuju mobil Jacob.
"Emang kakaknya kemana, Teh?"
"Tadi dijemput sama temennya, makanya dia tinggalin mobil ini di sini sama saya, biar ayah saya yang jemput, tapi ayah saya malah kebablas," Jawab Stella, asal.
"Heheh, gak apa-apa, Teh. Oh iya, tadi ayahnya bilang nunggu dimana?"
"Itu di masjid Nurul Falah, abis jembatan ke sana dikit."
"Owh, yaudah iya, Teh."
"Ini kuncinya ya, Pak, nanti kalau ayah saya nanyain bilang aja saya langsung pergi ke rumah temen ya, Pak," Stella menyerahkan kunci mobil duplikat yang ia dapatkan entah dari siapa.
"Sekali lagi makasih banyak ya, Pak."
"Iya, Teh, sama-sama."
Entah karna bodoh, atau terlalu baik, atau bagaimana, si pria paruh baya suruhan Stella itu pun percaya saja dengan apa yang Stella ucapkan, meski ada sedikit keraguan.
Lalu pria itu pun memasuki mobil milik Jacob. Sedangkan Stella sendiri, dalam genggamannya ia sudah memegang sebuah tombol kecil yang apabila ditekan maka tiga buah bom yang terpasang pada mobil Jacob akan meledak seketika.
Stella sudah merencanakan hal tersebut sejak berbulan-bulan lalu. Tidak mudah untuknya dapat merakit bom, dan mendapatkan kunci mobil duplikat.
Sebenarnya, inti dari rencana Stella ini adalah membuat kematian palsu tentang Jacob, lalu setelah itu menculik Jacob ke suatu tempat, dan menghapus lalu mengganti identitas asli Jacob. Ya maklum, ia selalu merasa jika ia adalah seorang peretas hebat setelah menjadi murid WOSA selama satu tahun, dan bergabung bersama Vincent waktu itu.
Dengan berpura-pura menjadi asisten dari rekan bisnis Jacob, kini Stella sudah tinggal melangkah satu langkah lagi untuk menyempurnakan rencananya.
* Flashback Off
"Mobilku!!" Pekik Jacob. Ia pun berlari cepat mengikuti mobilnya yang melaju kencang.
DUAR!!!!
Ledakan yang disertai munculnya api besar pun membahana disekitaran jembatan yang dibawahnya dialiri oleh sungai Citarum.
Jacob langsung tertegun di tempat tanpa bisa melanjutkan langkah cepatnya kembali. Wajahnya memelas, dan pucat pasi, syok dadakan pun tak luput menerjang hingga membuat kaki dan tubuhnya melemas. Bagaimana tidak? Ia menyaksikan langsung mobilnya yang meledak, dan terbakar di tengah jalan! Sedangkan ia sendiri tidak tahu siapa yang berada di dalam mobilnya!
Beberapa orang yang ada disekitaran tempat itu pun berlarian untuk mendekati mobil Jacob yang terbakar. Malam itu, tepatnya di jembatan Rajamandala Citarum, telah terjadi tragedi dimana meledak, dan terbakarnya sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam.
Belum habis rasa syok yang menekan tubuh Jacob untuk tidak dapat bergerak, kini ia dikejutkan kembali dengan terdengarnya suara pukulan keras tepat di belakang tubuhnya.
Bugh!!!
"Argh!!!"
Refleks, Jacob membalikkan tubuhnya dengan paksa, mencari tahu apa yang terjadi di belakangnya.
"Adam!!" Mata Jacob kembali terbelalak.
"Arghhhh..." Darah segar pun mengalir dari mulut, dan hidung Adam ketika kepalanya dihantam dengan keras menggunakan gagang kayu oleh seseorang yang sejak beberapa bulan lalu menjalin kerja sama rahasia dengannya.
"HEI SIAPA KAMU!!" Bentak Jacob pada seseorang yang barusan sekali memukul Adam.
Mati aku! Adam, sialan! Apa yang dia lakukan!!...... Stella menggurutu dalam hatinya. Ia panik, dan sungguh terkejut, niatnya adalah memukul Jacob untuk membuat pria itu pingsan, namun yang terjadi malah Adam lah yang terkena pukulannya.
Brakk...
Stella menjatuhkan kayu yang ia gunakan untuk memukul Adam, lalu setelah itu ia berlari begitu saja untuk menghindari Jacob.
"HEII JANGAN LARI KAMU!!!" Kini Jacob berlari untuk menyusul orang yang sudah memukul Adam. Beruntung langkahnya lebar, dan cepat. Itu memudahkan Jacob untuk menangkap si tersangka pemukulan.
"Lepasin!!" Pekik Stella ketika Jacob mengunci tubuhnya.
"Siapa kamu!!" Bentak Jacob.
"Argh, lepas!!"
"SIAPA KAMU!!"
Refleks, Stella menghadapkan wajah ke arah Jacob.
"Stella!!" Pekik Jacob yang amat terkejut ketika mendapati wajah familiar yang setahun lalu membuat masalahnya dengannya juga Alesha.
"Apa yang kamu lakukan pada Adam??" Bentak Jacob.
"Lepas, Mr. Jacob!!" Stella memberontak.
"JELASKAN APA MAKSUD, DAN TUJUAN KAMU PUKUL ADAM!!"
"Dia berniat buat mukul lalu menculik Anda, Jacob!!!" Adam berteriak sekuat tenaga sebelum akhirnya ia terjatuh pingsan.
...................................…………………………………………
*
*
*
*
Holla holla, sapa sapa lagi dari author yang manis ini 🤗🤗 (Apaansih, PD banget lu thor! 🙄)
Hehehe, maap ya baru bisa up lagi 🙏 dua hari ini author na sibuk syekaleee, and gak terlalu fokus sama ceritanya 😢😪 kalo seandainya menemukan kejanggalang, atau ada keanehan sama alur cerita na maapkeun authornya ya🙏🤧 itutuh udah peres otak, trus juga otaknya dibawa keliling dunia dulu baru dapet ide yang udah fiks mentok sama alur yang udah author rencanain🙏
Oh ya, juga buat yang udah kasih vote, like, komen, and rate, maacih banyak ya,🙏😍😍🥰Luv U💋💞💞
#kesibukan di dunia nyata merebut waktu ngehalu author 😭