May I Love For Twice

May I Love For Twice
Pulang



Alesha telah kembali ke ruang rawat inapnya bersama si kecil Alshiba juga Sulis.


Diatas kasurnya, kini Alesha tengah menyusui si putri sulung itu, bahkan Alesha sempat tertawa singkat kala bayinya menggenggam ujung jari telunjuknya.


Alesha juga bahagia karna kondisi fisik Alshiba sedikit mengalami peningkatan. Semoga saja itu adalah awal yang baik untuk selanjutnya.


"Sayang, Alshiba.... Cantik, hey, ini Bunda, sayang.." Ucap Alesha sembari tersenyum manis. Tak lupa ia juga mengelusi kulit wajah bayinya dengan sangat pelan, dan penuh cinta.


"Oh ya, Sulis, kira-kira aku sama Alshiba bisa pulang kapan ya?" Tanya Alesha.


"Kalo seandainya si cantik sehat terus, gak ada gangguan apa-apa terutama dari sistem pernapasannya, ya secepatnya juga bisa, minimal berat badannya satu koma delapan kilogram, insyaallah udah boleh pulang," Jawab Sulis. "Apalagi kan si cantik juga kondisi sama perkembangan tubuhnya cukup baik, dan lancar. Kita berdoa aja ya, semoga si cantik sama kamu bisa cepet pulang."


"Kamu harus sehat selalu ya, sayang, jangan bikin Bunda nangis lagi, cukup sodara kamu aja yang ninggalin Bunda, kamu jangan ya cinta," Lirih Alesha sembari mengecup lembut pipi bayinya yang masih menyusu. Bayangan sang pangeran kecil yang malang pun membuat mata Alesha kembali berkaca-kaca. Bayinya, buah hatinya, anak laki-lakinya kini sudah benar-benar pergi. Alesha ingin menangis, melihat Alshiba membuatnya teringat pada Khalid. Tujuh bulan ia mengandung dua bayi, namun sayang salah satu bayinya harus berakhir meski belum dua puluh empat jam hadir di dunia.


"Hiks, Khalid...." Alesha mulai terisak. "Bunda kangen...."


"Permisi, Tuan," Ucap Taylor yang tiba-tiba saja masuk.


Jacob yang tengah menyendiri sembari merenung di pojokan pun akhirnya tersadar dari lamunannya.


"Apa?" Tanya Jacob, lusuh.


"Ada surat panggilan dari pihak kepolisian, Tuan, soal kasus Stephani Laurent, siang ini dia akan disidang, dan Tuan diminta untuk hadir sebagai saksi," Jawab Taylor.


"Ck!" Jacob berdecak pelan. Satu masalah belum selesai, dan kini ia sudah harus menghadiri sidang kasus yang dionari Stella.


"Siang ini kan?" Tanya Jacob, lagi.


"Tepatnya pukul setengah sebelas, Tuan."


Jacob segera melihat jam tangannya.


"Masih jam setengah sepuluh," Gumam Jacob.


"Tapi anda diminta untuk datang secepatnya, Tuan," Ucap Taylor.


"Huft!" Jacob menghembuskan napasnya dengan berat. Ia pun bangkit, lalu berjalan menghampiri istrinya.


"Alesha...." Panggil Jacob, pelan.


Tidak ada jawaban dari Alesha, ia sibuk mengelusi wajah bayinya yang sedang menyusu.


"Sayang..." Merasa dihiraukan, Jacob pun mendekat. "Aku pergi dulu."


Jacob mengelus puncak kepala istrinya, dan setelah itu ia menundukkan tubuh agar bisa mencium pipi bayi mungilnya. Selama beberapa saat Jacob menahan untuk bisa terus memberikan kecupan penuh cinta pada sang buah hati, hingga akhirnya ia bangkit seraya berisik tepat disebelah telinga istrinya.


"Maafkan aku, Alesha. Aku mencintaimu."


Cup...


Satu ciuman singkat Jacob daratkan pada bibir Alesha.


"Assalamualaikum..." Ucap Jacob, dan berlalu pergi.


"Waallaikumussalam...." Balas Alesha, pelan.


Alesha menghela napas untuk membuat tubuhnya kembali rileks, dan tenang. Ada secuil rasa bahagia dalam hatinya kala Jacob menciumnya. Jujur saja, Alesha rindu, sangat rindu sikap manis Jacob yang selalu bisa memanjakannya. Tapi disisi lain, sikap keras Jacob yang memang sudah bawaan dari lahir kadang membuat Alesha merasa sakit sendiri.


Alesha jadi merasa tidak yakin dengan hukuman yang ia berikan untuk suaminya sendiri. Bagaimana pun Jacob adalah suaminya, dan Jacob sudah sangat berjasa dalam hidupnya. Apakah ini hukuman yang setimpal atas perlakuan, dan sikap negatif Jacob, sedang Jacob sendiri sudah sangat amat membantu kehidupan Alesha?


Memikirkan itu membuat kedua mata Alesha terpejam. Ia kembali mengingat pengorbanan apa saja yang telah Jacob berikan demi dirinya. Alesha memang memiliki hutang budi yang sangat besar pada Jacob, tapi saat ini Jacob benar-benar membuat Alesha kecewa. Lalu Alesha mesti bagaimana? Ia terlanjur sakit hati, dan ia ingin sekali saja memberikan teguran keras pada suaminya agar bisa bersikap lebih baik lagi.


Akhirnya, keputusan Alesha pun sudah mutlak. Ia akan benar-benar mengacuhkan Jacob hingga waktu yang dirasa sudah cukup, maka Alesha akan kembali memperbaiki hubungan itu. Alesha harap semoga sedikit teguran yang ia berikan kali ini bisa membuka pikiran Jacob bahwa Alesha adalah istrinya, dan Jacob harus bisa membedakkan status mereka yang dulu, dan sekarang, jadi pria itu tidak bisa lagi bersikap seenaknya membentak, dan memarahi.


****


Tak terasa, hari demi hari berlalu dengan cepat. Perkembangan si kecil Alshiba pun membuat Alesha, dan Jacob merasa bahagia pasalnya kondisi anak mereka semakin baik tiap harinya.


Alesha sangat bersyukur atas hal itu. Kadang saat malam tiba, ketika Alshiba menangis karna kelaparan, Alesha selalu memberikan ASI sembari membacakan ayat-ayat suci.


Alshiba begitu tenang, dan damai ketika bundanya mengumandangkan lantunan ayat Al-Quran dengan indah, belum lagi sentuhan, dan elusan lembut yang selalu Alesha berikan membuat Alshiba semakin merasa nyaman, dan hangat.


Jacob yang selalu melihat hal itu pun hanya bisa terdiam, termenung disofa yang berada di sudut ruangan. Ia tidak bisa melakukan apapun selain memandangi istri, dan buah hatinya yang begitu dekat. Ingin rasanya Jacob berada di sana untuk turut memberikan usapan kasih sayang pada putrinya bersama sang istri. Namun Jacob malu, ia sudah bersalah kepada istri, dan anaknya. Maka dari itu Jacob lebih memilih mengasingkan diri di pojokkan tembok.


Rasanya sangat sakit diacuhkan oleh orang yang begitu dicintai. Jacob selalu menangis ketika Alesha sedang tertidur. Kenapa? Tentu saja karna ia merindukan saat-saat kebersamaan dengan istrinya, sedangkan saat ini ia sedang dimusuhi oleh istrinya sendiri. Jacob sudah sering mencoba, dan berusaha untuk mengajak Alesha berbicara, namun tetap nihil seolah ia itu tidak nyata, dan tidak ada dihadapan istrinya.


Sesekali Jacob menggendong bayinya. Jacob selalu mengungkapkan apa yang ia rasakan pada sang buah hati tersebut. Terdengar sedikit gila, namun hanya itu yang bisa ia lakukan.


Jacob sudah benar-benar pasrah, entah sampai kapan Alesha akan mengacuhkan suaminya itu. Tapi yang pasti adalah satu hal, Jacob tidak akan pernah berhenti untuk mengajak istrinya bicara meski tidak dianggap, Jacob tidak akan berhenti menggumamkan maaf, dan memberikan perhatiannya meski sama sekali tidak menerima respon balik. Jacob melakukan itu semua karna rasa cintanya terhadap Alesha yang besar, dan Jacob akan melakukan apapun agar Alesha mau kembali menjadi seperti dulu, selalu bermanja-manja, dan selalu menarik perhatian darinya.


Dan kini, tepat dua minggu setelah melahirkan, Alesha, dan Jacob pun mendapatkan kabar baik kalau ternyata bayi mereka, Alshiba sudah boleh dibawa pulang.


Alesha sangat amat bahagia, begitu pula Jacob. Mereka begitu bersyukur karna perkembangan tubuh sang buah hati terus berangsur baik, yang beratnya semula hanyalah kurang dari satu koma lima kilogram, kini telah naik menjadi satu koma sembilan kilogram.


"Akhirnya sekarang cucu nenek bisa pulang ke rumahnya," Gumam Laura sembari memangku tubuh mungil cucunya. Selama ini, Laura selalu menemani Alesha, dan merawat cucunya di rumah sakit, Laura juga sudah tahu tentang hubungan dingin yang sedang melanda anak, dan menantunya. Laura tidak marah pada Alesha karna sudah mengacuhkan anak lelakinya, Laura mewajari itu, dan mungkin memang anak laki-lakinya itu sedang pantas untuk diberikan hukuman.


Alshiba baru saja beres dimandikan, dan kini Alesha akan memakaikan baju kepada anaknya itu.


"Hai, sayang...." Alesha tersenyum manis kala Alshiba memandanginya. "Ini Bunda," Lanjut Alesha sembari menunjuk pada dirinya sendiri.


"Kita bakal pulang hari ini, sayang, kamu seneng kan?" Alesha terus mengajak bicara anaknya sembari satu persatu memakaikan pakaian untuk bayi mungilnya itu.


"Kita pulang ya hari ini, sayang, kamu harus terus sehat, dan jangan bikin Bunda sedih lagi."


Alesha memasangkan ciput mini dikepala bayinya.


"Kamu makin cantik deh. Bunda sayang banget sama kamu, Alshiba," Alesha mencium pelan namun dengan perasaan gemas pada bayinya itu.


Alshiba sedikit menggeliat ketika menerima perilaku dari bundanya. Bayi itu pun kembali menatapi wajah ibunya dengan ekspresi datar.


"Udah rapi, udah cantik, udah wangi, hmmm, tinggal pulang ya, nanti kita ketemu sama abah uyut," Alesha menggenggam kedua lengan bayinya seraya memberikan tatapan balik yang begitu cerah.


Dari sudut tembok, sejak tadi Jacob terus memandangi istrinya. Karna hal itu, Jacob pun jadi berpikiran bahwa Alesha seperti bukanlah seorang yang sudah menikah apalagi melahirkan. Wajah Alesha tidak banyak berubah dari yang Jacob ingat sejak awal pertemuan pertama mereka di WOSA. Alesha masih sama persis seperti seorang gadis yang belum pernah dijamahi oleh lelaki, meski pada kenyataannya Alesha sudah ada yang memiliki, yaitu Jacob.


"Kau akan selalu menjadi gadisku, Lil Ale," Gumam Jacob bersama senyum kecilnya.


Jacob bahagia melihat senyum cerah pada wajah istrinya, namun ia juga sedih karna Alesha masih enggan walau untuk sedikit saja berkomunikasi dengannya. Dua minggu Jacob lalui dengan kehampaan. Hatinya terasa sangat kosong, kecuali saat ia sedang mengajak bicara putri kecilnya.


Jacob tidak tahu harus bagaimana lagi. Alesha benar-benar marah padanya, dan hal itu membuat Jacob frustasi, untung saja ada Alshiba, setidaknya Jacob bisa menghibur, dan menguatkan dirinya dengan kehadiran anaknya itu.


"Nyonya mobil sudah siap," Ucap Leo pada Laura.


Mendengar itu, Laura pun langsung menghadap kearah menantunya.


"Alesha, kamu yakin sama keputusan kamu itu?" Tanya Laura.


"Iya, Bu," Jawab Alesha sembari mengangguk.


"Yaudah, kalau gitu ibu akan pergi ke apartemen duluan," Ucap Laura.


"Iya, Bu, hati-hati di jalan," Balas Alesha.


"Taylor, jaga menantu, dan cucu ibu dengan baik!" Perintah Laura pada mantan kepala pengawal pribadinya, Taylor.


"Baik, Nyonya," Patuh Taylor.


"Yasudah, kalau begitu aku akan pergi sekarang. Jack, ibu pergi duluan, nanti kalian menyusul."


"Iya, Bu," Balas Jacob.


Laura pun berlalu pergi bersama keempat pengawalnya setelah berpamitan.


Lalu Alesha, ia kini sudah membawa Alshiba pada gendongannya, dan siap untuk pergi, namun ia mesti menunggu selama beberapa saat lagi sampai salah satu anak buah Jacob kembali, dan membawakan resep obat, dan vitamin yang sudah Sulis berikan.


Tidak lama, mungkin sekitar sepuluh menitan berlalu, anak buah Jacob itu pun telah kembali bersama bungkus plastik berisikan obat.


"Terima kasih," Ucap Alesha pada pria yang memberikan bungkus plastik itu.


"Sama-sama, Nona."


Karna tidak ingin membuang waktu, Alesha pun bangkit dari duduknya untuk mulai bergegas pulang.


Melihat istrinya yang sudah siap untuk melangkah, Jacob pun berjalan mendekati Alesha.


"Sayang...." Panggil Jacob. Tatapannya masih dipenuhi oleh aura kesedihan. Ia hanya ingin Alesha membalas ucapannya, meski sangat sulit sekali rasanya.


"Kita pulang sekarang," Lanjut Jacob.


Dengan datar, dan tanpa menatap balik ke arah suaminya, Alesha pun membalas. "Aku tidak akan pulang ke mansionmu. Aku, dan anakku akan kembali pada kakekku."


Jacob tersentak. Sungguh ia sangat terkejut. Matanya terbelalak, tubuhnya menegang, tampang kecewa pun hadir pada raut wajahnya.


"Alesha....." Lirih Jacob. "Semarah itukah kau padaku, Lil Ale?"


Sakit hati Jacob setelah mendengar ucapan istrinya. Jacob benar-benar tidak menyangka jika Alesha akan mengambil tindakan sampai sejauh itu hanya untuk menghukumnya.


Kini, dada Jacob mulai naik turun bersamaan dengan bulir cair yang mulai menggenangi kelopak matanya.


"Aku tahu aku salah, aku sadar, maafkan aku, Alesha. Aku mohon kembali lah pulang ke rumahku, ke rumah kita," Jacob memohon seraya menggenggam telapak tangan istrinya. "Aku mohon, hiks."


Alesha terkesiap saat mendapati suaminya yang mulai menangis. Sungguh ia sangat tidak tega, namun Alesha pikir saat ini akan lebih baik jika ia kembali bersama kakeknya, hanya untuk sementara waktu saja, tidak selamanya.


"Taylor, ayo kita berangkat menuju apartemen kakekku sekarang," Alesha berjalan begitu saja meninggalkan suaminya yang tengah terisak. Tapi rupanya Alesha pun tidak dapat menahan kesedihannya. Air mata menetes satu persatu, ujung hidung, dan kedua garis alisnya memerah tanda sebentar lagi akan ada tangis yang pecah.


Sedangkan Jacob masih berada di tempat yang sama, di dalam ruang rawat inap hanya tinggal tersisa dua anak buahnya saja.


Jacob menaruh kepalan tangan pada dadanya yang terasa sesak. Ia menangis tersedu-sedu sembari merutuki dirinya sendiri. Sebesar itukah kesalahan Jacob hingga membuat istrinya tidak mau pulang ke rumahnya? Jacob sudah sangat menyesal, namun Alesha masih juga enggan membuka pintu maaf untuknya, dan itu bisa membuat Jacob semakin frustasi jika terus berlanjut dalam jangka waktu yang lebih lama lagi.


"Ayo, kita ikuti mobil yang ditumpangi oleh Alesha," Ucap Jacob pada kedua anak buahnya. Meski terasa berat, dan menyakitkan, mau tidak mau Jacob harus menyusul istri, dan anaknya. Jacob tidak akan menyerah, ia akan kembali membujuk Alesha supaya mau dibawa pulang ke mansion mereka.