
Warning Warning!! Kalo yang masih dede unyu tolong bijak dalam membaca ya🙈🙈
*********
Latar gelap penuh kelap-kelip mungil yang sangat jauh dari mata telah mengambil alih dunia terang tempat penduduk bumi menjalankan aktifitas.
Malam dingin menjadi terasa begitu hangat ketika sebuah keluarga berkumpul bersama dan saling menyatukkan kebahagiaan kecil yang amat berarti.
Di dalam ruangannya, kini Jacob kembali berkumpul bersama keluarga tercinta, dan tentunya tidak lupa si gadis manis kesayangannya, Alesha yang turut absen dalam reoni keluarga mentornya itu. Jacob sengaja mencari akal dengan menyuruh Alesha untuk menginput data arsip murid WOSA kedalam komputer. Jadi, dengan begitu Jacob mempunyai alasan agar Alesha bisa ikut bergabung dengan calon keluarga barunya.
Aku ingin kau berada di sini, kau harus ikut berkumpul bersama calon ibu mertua, dan keluarga barumu, Alesha. Aku bahagia karna semua sekarang terasa lengkap..... Ucap Jacob dalam hati.
"Jack, ibu sudah tua dan tidak bisa lebih lama lagi mengurus banyaknya perusahaan. Aku ingin kau memimpin perusahaan-perusahaan yang sudah ibu dan ayahmu bangun." Ucap Laura.
Jacob menghela napasnya. Jujur saja ia sangat malas membahas tentang perusahaan-perusahaan itu, Jacob sama sekali tidak tertarik memimpin atau menguasai perusahaan milik orang tuanya itu. Ia lebih suka menjadi mentor dan agent SIO. Itu lebih asik menurut Jacob.
"Tanya saja Mona, dia anak pertama." Balas Jacob dengan santai.
"Aku? Jack kau anak lelaki, kau yang lebih bertanggung jawab atas kelanjutan perusahaan ibu dan ayah." Ucap Mona.
"Bagaimana dengan Wiliam? Apa kau bisa mengurus perusahaan ibu dan ayahku untuk sementara waktu?" Tawar Jacob pada kakak ipar.
Tapi dengan cukup tegas, Wiliam menolak tawaran adik iparnya itu. "Tidak, Jack. Aku juga harus mengurus perusahaan milik orang tuaku. Tugasku sudah cukup banyak sekarang. Aku juga sedang memikirkan apa lebih baik aku keluar saja dari SIO karna orang tuaku memintaku untuk mengurus perusahaan mereka."
Jacob menghembuskan napasnya dengan sabar ketika mendengar jawaban dari kakak iparnya itu.
"Dan aku juga tidak akan membiarkan Mona mengambil alih posisi ibu sebagai CEO perusahaan saat ini. Mona sedang hamil, dan aku tidak mau Mona sakit atau kelelahan karna mengurus beberapa perusahaan." Lanjut Wiliam.
"CEO dari salah satu cabang perusahaan kita sudah memundurkan diri, Jack. Harus ada yang menggantikan posisinya secepat mungkin." Laura menatap penuh pengharapan pada anak lelakinya itu.
Jacob melirik pada adiknya, Sharon. Ia berpikir kalau tidak mungkin juga Sharon yang mengambil alih perusahaan sekarang ini.
"Akan aku pikirkan lagi nanti." Jacob langsung menutup mulutnya dan bergelut dengan pikirannya. Sungguh Jacob sangat malas jika harus mengurusi beberapa perusahaan milik orang tuanya, ia sudah terlanjur nyaman dan menikmati pekerjaannya yang sekarang, yaitu menjadi seorang mentor, agent intelegent, dan pengurus WOSA.
"Alesha, apa kau masih belum selesai mengerjakan pekerjaan Jacob?" Tanya Mona sembari berjalan mendekati Alesha. "Apa Jacob selalu mempekerjakanmu setiap hari seperti ini?" Sebelah telapak tangan Mona terangkat untuk mengelus lembut rambut calon adik iparnya itu. Entah kenapa Mona jadi sangat menyukai Alesha ketika tahu kalau Jacob menaruh rasa mendalam pada gadis itu.
"Tidak, Mr. Jacob baru kali ini meminta bantuanku." Jawab Alesha seramah mungkin, walau dalam hatinya ia merasa begitu canggung.
"Jack, kenapa kau tidak mengerjakan pekerjaanmu sendiri saja? Kenapa harus menyuruh Alesha seperti ini? Kasihan dia, data yang diinput tidak sedikit." Protes Mona pada adiknya, Jacob.
"Kau selalu saja cerewet, Mona." Balas Jacob.
"Ck." Mona berdecak sebal setelah mendapat balasan dari adiknya itu. "Alesha, cukup. Jangan lanjutkan pekerjaannya, biar mentormu yang mengerjakannya sendiri. Aku tidak mau dia memakan gaji buta." Mona meraih laptop yang sedang Alesha gunakan dan menaruhnya dimeja lain.
"Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku pagi tadi. Berapa usiamu?" Tanya Mona sembari membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman lagi.
"Sembilan belas tahun." Jawab Alesha dengan canggung. Wajar bukan jika Alesha merasa tidak enak atau seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Mona, baru saja berkenalan dengan Alesha tadi pagi, tapi sikap Mona membuat Alesha bertanya-tanya. Ramah dan murah senyum sekali kakak dari mentornya itu.
"Owh, masih muda sekali rupanya. Jack, berapa usiamu?" Mona mengalihkan pandangannya ke arah sang adik lelaki yang sedang asik bersandar santai disofa.
"Dua puluh enam." Jawab Jacob singkat.
"Huh, sudah tua rupanya kau sekarang ya, cepatlah menikah, aku jadi tidak sabar ingin segera memiliki ponakan." Ledek Mona sembari menatap jahil pada adiknya, Jacob.
"Kau pikir membuat anak itu mudah?" Jacob memutar kedua bola matanya dengan jengah.
"Mudah saja jika kau rajin membuatnya setiap hari." Mona melirik pada Alesha dengan tatapan menggoda. "Benar bukan Alesha?"
Bibir Alesha terbuka dan menutup, kaku untuk menjawabnya. Itu adalah hal yang sangat sensitif. Kenapa Mona bertanya seperti itu pada Alesha? Sedangkan wajah Alesha sendiri sudah merona panas sekarang ini.
Senyum menawan Jacob terpampang jelas ketika melihat wajah Alesha yang memerah. Jacob pun membuat dirinya sesantai mungkin dengan bersandar pada sofa, tatapan jahilnya ia fokuskan untuk Alesha.
Alesha bergerak gerik pelan menunjukkan sebuah kesalah tingkahan kala pertanyaan dari sang calon kakak ipar itu belum bisa terjawab.
"Bagaimana, Al. Mudah bukan?" Goda Mona sambil tersenyum jahil. Ia sengaja ingin bermain-main dan membercandai calon adik iparnya agar nanti tidak ada kecanggungan diantara mereka.
"Ah, i-I-ya." Alesha gugup, bibirnya kaku dan malu. Wajahnya semakin merona. Ia tidak tahu membuat anak mudah atau tidak. Tentu saja karna ia belum pernah membuatnya. Aish, Alesha benar-benar bingung, orang-orang dewasa yang ada dihadapannya itu terus tersenyum jahil ke arahnya, apa lagi Jacob. Pria itu menunjukan senyum yang sulit untuk diartikan.
Mona yang merasa gemas ketika melihat gelagat calon adik iparnya itu langsung menunjukkan tawa kecilnya. "Hahaha, sudah-sudah, wajahmu sudah matang." Ia pun mengusap pelan puncak kepala Alesha. "Kau akan tahu setelah kau menikah nanti. Benar bukan, Jack?" Mona memberikan kedipan mata genit pada adik lelakinya.
Tanpa ada jeda, Jacob langsung mengangguk begitu saja. Ekspresinya semakin menunjukan binar menggemaskan saat pandangannya bertemu dengan Alesha.
*****
Di Pantai.
Jacob menggengam erat lengan gadisnya itu. Mereka sama-sama menghadap ke arah bentangan air laut yang masih dapat dijangkau oleh penglihatan.
Jacob sengaja membawa Alesha berjalan-jalan malam ini ke pantai. Seperti biasanya, hanya untuk menghabiskan waktu saja.
Namun, melihat Alesha yang begitu menikmati suasana alam menciptakan sebuah keinginan dalam hati Jacob. Ia pun akhirnya mengambil langkah mundur menuju belakang tubuh Alesha.
Pertama-tama, Jacob tidak melakukan apapun, ia berusaha untuk menetralisir keinginannya agar tidak semakin bergejolak.
Tetapi Jacob merasakan sesuatu yang membuat dirinya semakin berhasrat ditambah dengan Alesha yang tiba-tiba saja terlihat semakin cantik saat ini. Jacob berusaha sekuat tenaga untuk menahan keinginannya itu. Tapi apalah daya, ia adalah seorang pria waras, dan jiwa kelelakiannya sedang meronta-ronta sekarang.
Perlahan, Jacob pun mengambil alih suasana dengan melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Alesha. Mungkin ini saat yang tepat untuk Jacob memberikan sinyal terkuatnya untuk membuat Alesha mengerti akan pendaman cinta sang mentor selama ini.
"Mr. Jacob, a-apa yang kau lakukan?" Ucap Alesha pelan namun berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan sang mentor. Tubuh Alesha menegang dan memanas, ia merasakan gugup, takut, dan nyaman. Entahlah, Alesha ingin menolak perlakuan mentornya itu, namun tubuhnya enggan untuk menolak pelukan Jacob. Jantung Alesha berdegub kencang, hatinya dilanda kegundahan. Tempo aliran darah semakin cepat dan menaikkan suhu tubuh Alesha hingga Jacob sendiri bisa merasakan aura panas yang tubuh Alesha keluarkan.
"Mr. Jacob, L-le-lepaskan." Tunggu, Alesha mendadak gagu, lidahnya kelu dan kaku. Pikirannya menolak, namun dirinya menerima apa yang Jacob lakukan.
"Tenang lah, Alesha." Balas Jacob dengan sangat lembut. Ia sudah menyadari apa yang sedang Alesha rasakan dan alami saat ini. Tidak masalah, Jacob menyukai itu. Ia pun menyunggingkan senyuman hangat sembari menyandarkan dagu dan kepalanya pada bahu Alesha.
"Mr. Jacob, aku tidak menyukai ini, lepaskan aku." Mohon Alesha. Tapi ia sendiri merasa kalau apa yang ia katakan itu adalah kebohongan. Kenapa? Tunggu ada apa dengan dirinya? Alesha bisa saja memberontak lebih, tapi dia tidak melakukannya.
Bukannya melepaskan, Jacob malah semakin mempererat pelukannya. " Tapi kau merasa nyaman bukan? Hmm."
Tubuh Alesha bergidik saat terpaan napas sang mentor menyentuh kulit lehernya.
Jacob pun beralih dengan membalikkan tubuh Alesha hingga menghadap ke arahnya. Kedua lengan Jacob juga masih setia melingkar pada pinggang Alesha, dan hanya tersisa jarak beberapa centimeter saja diantara mereka.
Alesha menaruh kedua telapak tangannya pada dada Jacob untuk menghalau agar tubuh mereka tidak saling bersentuhan.
"Mr. Jacob, a-apa yang kau la-lakukan?" Alesha mulai panik, namun ia tidak berani menatap wajah mentornya.
"Alesha..." Panggil Jacob begitu lembut.
Alesha mulai kesulitan mengatur jalan napasnya, pikirannya menjadi kacau. Apa yang akan Jacob lakukan padanya?
"Alesha... Tatap aku.." Jacob sedikit membungkukkan tubuhnya agar ia dapat memandang wajah Alesha dengan sejajar.
"Mr. Jacob, k-kau.." Alesha balik menatap lekat kedua manik hitam milik mentornya. Namun ekspresi Alesha seperti orang yang ketakutan namun juga menikmati suasana yang sedang memeluknya.
Jacob semakin tersenyum hangat untuk membawa Alesha pada titik tertenang.
"Mr. Jacob, lepaskan aku...."
"Tidak." Balas Jacob tegas namun penuh kelembutan.
Apa maksudnya tidak? Alesha ingin memberontak, tapi tubuh dan hatinya malah menolak. Kenapa Alesha malah menikmati apa yang sedang mentornya lakukan? Alesha mencoba untuk menyangkal kalau ia tidak menyukai sikap mentornya saat ini, namun itu terlalu munafik. Alesha menikmatinya, lebih tepatnya hati dan tubuhnya. Sangat nyaman.
Tidak, tidak, Alesha sadar! Inget, gak gak gak gak boleh. Ini gak boleh..... Suara pikiran Alesha.
Alesha mematung, tubuhnya kaku. Kenapa menjadi seperti itu? Alesha harus menolak, tapi ia terlanjur menyukai sikap mentornya saat ini.
Dan untuk Jacob, ia sudah tenggelam dalam pesona dua manik coklat Alesha. Rasa panas pun tak lekang menggerahi tubuh Jacob. Jangan kira ia tidak gugup, ini akan menjadi yang pertama untuknya membawa Alesha pada sentuhan lembut yang memikat sedang Alesha sendiri dalam keadaan sadarkan diri.
Perlahan, Jacob membius Alesha dengan sorot matanya, tapi kepalanya bergerak kian mendekati wajah Alesha. Terlalu fokus pada dua pupil hitam mentornya, Alesha tidak menyadari kalau wajahnya dan sang mentor sudah sangat dekat dan hidung mereka nyaris bersentuhan.
Mereka berdua saling memandang dalam waktu yang cukup lama. Hingga, akhirnya Jacob membuka suara.
"Kau sangat manis malam ini, Alesha." Bisik Jacob dan.....
Cup....
.........................
....................................
................................................
Semliwir angin pun berhembus menjeda ruang dan waktu demi dua insan yang kini sedang sama-sama melayang.
..........
.....................
Tubuh Alesha langsung terlonjak ketika merasakan kejutan listrik yang seperti menyetrumnya saat benda lembut milik sang mentor menekan halus bibirnya.
Sedangkan Jacob, kebahagiaan tiada tara berpesta pora dalam segala sudut lubuk hati dan pikirannya. Tekstur hangat dan lembut dari bibir Alesha membuat Jacob semakin memperdalam ciumannya pada gadis yang kini sudah menjadi pusat semesta untuknya.
Alesha sendiri tidak bergerak sama sekali. Kewarasannya mendadak lenyap dan yang ada hanyalah kekosongan dalam pikirannya. Namun berbeda pula untuk sang hati yang dihujani oleh kupu-kupu dan bunga-bunga indah demi merayakan kebahagiaan yang seharusnya tidak boleh terjadi.
Alesha suka, Alesha menyukai ciuman itu. Ia tidak mau membohongi dirinya sendiri. Nikmat sekali rasanya. Jacob, yang bukan lain adalah mentornya sendiri kini Alesha anggap sudah mencuri ciuman pertamanya.
Semakin lama dan semakin larut, udara menjadi gerah padahal angin laut berhembus kencang.
Alesha pun menutup kedua matanya, ia tahu saat ini ia sedang khilaf, tapi ia sendiri tidak bisa melakukan apapun. Ia malah dan semakin menikmati apa yang mentornya itu lakukan padanya.
Perlahan Jacob mengangkat kedua lengan Alesha untuk melingkari lehernya. Lengan Jacob semakin mempererat pelukannya pada pinggang Alesha, dan lengannya yang satu lagi menekan lembut kepala Alesha agar ciuman mereka terasa semakin nyata.
Mendadak Alesha merasakan kakinya yang melayang beberapa centimeter dari pasir pantai ketika Jacob mengangkat tubuhnya. Namun Alesha tetap terdiam dan semakin mempererat pelukannya pada leher sang mentor.
Bukan hanya cebuah kecupan, kini Jacob mulai mengapit bibir bawah Alesha dengan bibirnya. Refleks, jemari Alesha langsung meremas pelan rambut sang mentor.
Alesha, sadar, sadar, Alesha....... Ucap sang pikiran yang dihiraukan oleh Alesha.
Dan kini, Jacob semakin melanjutkan ulahnya dengan menggigit kecil bibir bawah Alesha hingga membuat mulut Alesha sedikit terbuka. Alesha sedikit mengerang dan jemarinya bergerak tidak beraturan pada rambut sang mentor.
Jacob pun berniat untuk memasukan lidahnya kedalam mulut Alesha, namun sayang aksinya itu terpaksa berhenti karna Alesha yang kembali mendapatkan kewarasannya dan menendang-nendang kaki Jacob.
Alesha langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan agar ciumannya dengan sang mentor dapat terlepas.
"Argh." Decak Jacob ketika Alesha melepaskan bibir mereka yang saling bertautan.
Alesha lansung mendorong tubuh sang mentor hingga membuat kakinya kembali menapak pada pasir pantai. Setan apa yang sudah merasukinya? Alesha membulatkan matanya dengan bibir yang sedikit terbuka. Ia tidak bisa memandang sang mentor, wajah dan tubuhnya terasa panas. Apa yang barusan terjadi? Ia menikmati ciuman kekhilafan bersama sang mentor.
Kini Alesha menundukkan kepalanya. Ia ingin marah, tapi tidak bisa karna hatinya sangat bahagia. Jacob sudah memberikan noda kecil dalam hidup Alesha, dan Alesha tidak marah karna hal itu? Ada apa dengan dirinya? Kenapa ia malah menyukai ciuman itu? Rasanya menjadi candu. Alesha menelan salivanya ketika potongan aktivitas panas tadi kembali terulang dalam memorinya, bahkan tanpa ia sadari, tawa kecil yang tidak mengeluarkan suara pun tercipta.
Jacob sudah mulai panik saat menyadari ulahnya terhadap Alesha barusan. Ia takut jika Alesha akan marah dan memusuhinya. Namun, pikirannya itu seketika lenyap saat mendapati Alesha yang sedang menunduk tertawa begitu saja tanpa mengeluarkan suara.
Tunggu, Alesha tertawa? Itu berarti ia menikmatinya? Pikir Jacob. Tanpa terasa, Jacob pun turut menyunggingkan tawanya yang juga tidak disertai dengan suara.
Apakah Alesha benar menikmatinya? Dan tidak marah padanya? Semoga persepsi Jacob benar adanya. Jacob akan sangat bahagia sekali.
"Alesha.." Panggil Jacob pelan.
Alesha yang masih menghiasi wajahnya dengan tawa itu pun langsung mengangkat wajahnya agar dapat menatap sang mentor.
Tatapan mereka kembali saling bertautan. Namun Alesha sadar kalau ia dan Jacob sama-sama saling menunjukan binar bahagia. Seketika Alesha langsung menekuk kedua bibirnya begitu saja. Kini malah perasaan malu yang menjalar diseluruh tubuhnya.
Ada apa dengan diri Alesha? Alesha tidak tahu harus berekspresi seperti apa dihadapan mentornya saat ini.
Jacob yang merasa gemas pada Alesha langsung saja menarik lengan Alesha agar masuk kedalam pelukannya.
Lagi dan lagi Alesha dibuat terkejut karna ulah mentornya itu. Tadi mencium, sekarang memeluk, setelah ini apa? Membuat anak?
Tidak, tidak, tidak..... Sangkal pikiran Alesha.
Aish, pertanyaan sang calon kakak ipar tadi tentang membuat dan memiliki anak malah terngiang dalam kelapa Alesha.
"Alesha, aku me..."
"Mr. Jacob, maaf aku harus kembali ke kamar messku." Ucap Alesha sembari melepaskan pelukan sang mentor.
Jacob terkekeh ketika melihat ekspresi Alesha yang sedang menahan senyuman atau tawaan. Entahlah, tapi Jacob merasa bahagia karna sepertinya Alesha tidak marah apa lagi mengamuk.
"Permisi.." Alesha segera membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan. Namun tiba-tiba saja Jacob menahan lengannya.
"Biar aku temani." Ucap Jacob.
"Tidak, aku bisa kembali ke kamar messku sendiri." Tolak Alesha namun ekspresinya tetap saja sama, menahan senyum dan tawanya. Alesha tidak bisa marah, ia tidak tahu kenapa, dan yang ia rasakan sekarang malah kebahagiaan.
Langsung saja Alesha melangkahkan kakinya untuk berlari meninggalkan Jacob yang tertegun di tempat.
Jacob tidak mengejar Alesha, ia kini termenung sendirian bersama raut bahagia yang terpampang jelas pada wajahnya.
"Aku mencintaimu, Alesha." Gumam Jacob disela-sela senyum cerahnya.