May I Love For Twice

May I Love For Twice
Morning Sick



Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya terang yang berada disekitarnya.


Sudah pagi rupanya. Begitulah pikir Alesha.


Tubuh polosnya pun Alesha geliatkan dibalik selimut sutra tebal yang melindunginya dari angin dingin dipagi hari.


Tapi sebentar.


Ini sudah pagi, dan semalam itu......


Aish, wajah Alesha merah merona mengingat kejadian semalam. Ia menutupi wajahnya dengan selimut sembari tersenyum malu-malu.


Jadi, saat ini ia sudah bukan gadis lagi ya? Ah ya ampun, kenapa cepat sekali. Usianya baru menginjak dua puluh tahun beberapa bulan lalu, dan kini sudah menyandang status sebagai istri seorang pria.


Tawa kecil Alesha yang cukup menggelitik membuat gadis itu salah tingkah sendiri. Ia bahkan sampai menggigit bibir bawahnya.


Alesha mencoba untuk mengingat kejadian semalam.


Pertama, ia menikah, lalu ia kelelahan, mandi, duduk diatas kasur, dan setelah itu....


"Ah, ya ampun!" Gumam geli Alesha. Padahal ia hanya mengingatnya saja, tapi kenapa ia malah tersenyum-senyum sendiri seperti sekarang ini.


Alesha menyentuh leher dan dadanya yang masih terasa sedikit nyeri karna banyak gigitan kecil dari monster besar yang tampan namun berjiwa bak pria sejati.


Pikiran Alesha kembali menerawang, menembus ruang waktu dan kembali ke masa dimana ia masih bersekolah di WOSA. Jacob adalah mentornya, dan kini malah menjadi suaminya. Itu berarti ia sama saja menikahi gurunya sendiri. Tapi tidak apa, mereka sama mencintai dan mengasihi.


Tapi tetap saja Alesha menganggapnya sebagai hal yang lucu. Kesan pertama yang Alesha ingat ketika pertama kali bertemu dengan Jacob adalah pria dingin yang akuh dan jutek.


Don't jugde book by the cover!!


Mungkin itu pribahasa yang tepat untuk ditujukan pada Alesha. Jacob sama sekali tidak seperti yang ia duga. Pria itu sangat perhatian dan penyayang pada seluruh anggota timnya, tidak pernah pilih kasih, dan selalu menjaga juga mendidik dengan sangat baik, meski kadang-kadang tegas, keras, dan galak.


Lalu ketika Alesha dan keempat teman perempuannya dihukum oleh Jacob karna terlambat masuk, itu adalah kali pertama Alesha merasa sangat sebal dan marah pada mentornya, ia dan yang lain dijemur seperti ikan asin, hingga akhirnya ia jatuh pingsan dan Jacob meminta maaf padanya.


Boleh dibilang Alesha rindu akan saat-saat itu, ia rindu WOSA, ia rindu rumah messnya, ia rindu malam berbintang, dan rumah pohon yang dibuat oleh suaminya. Kapan Alesha bisa pergi ke sana lagi?


Alesha pun merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal karna pergulatan semalam yang menguras habis tenaganya.


Tunggu......


Kasur besar berlapis sutra lembut itu hanya ia yang menempati? Dimana Jacob? Dimana pria yang sudah mengubahnya menjadi seorang wanita dan bukan gadis lagi?


"Sudah selesai mengkhayalnya, Nona muda?"


Tubuh Alesha kembali membeku ketika mendengar gelombang suara yang sangat amat familiar itu.


Jacob!


Pria itu sudah berdiri sembari bersandar pada dinding disebelah pintu.


Sejak kapan suami Alesha itu ada disitu?


"Selamat pagi, My Lil' Ale," Jacob berjalan mendekati istrinya yang masih menenggelamkan tubuh dibalik selimut sutra tebal. "Kau tidur sangat pulas, pasti sangat kelelahan ya?" Jacob mengelus lembut puncak kepala Alesha. Dengan begitu santai, Jacob duduk dan bersandar pada kepala ranjang dengan kakinya yang diselonjorkan.


"Bagaimana pagi ini? Sudah merasa jauh lebih enak?" Tanya Jacob penuh perhatian.


"Sejak kapan kau bangun?" Tanya balik Alesha.


"Jam tujuh tadi," Jawab Jacob dengan santai.


"Jam tujuh? Sekarang jam berapa memangnya?" Gumam Alesha.


"Jam setengah sepuluh, sayang," Balas Jacob sembari mengecup kening Alesha.


"JAM SETENGAH SEPULUH!" Mata Alesha membulat sempurna, ia terkejut dengan jawaban dari suaminya itu.


"Kenapa kau tidak membangunkan aku sih!" Gerutu Alesha. "Awas, Alesha mau mandi!" Alesha mendorong tubuh suaminya dan beranjak dari tempat tidur dengan selimut yang masih ia tahan untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Namun baru dua langkah yang diambil, tiba-tiba saja tubuh Alesha ambruk menghantam lantai dengan cukup keras.


"Awww!"


Jacob yang panik melihat Alesha terjatuh pun langsung mendekati istrinya itu dan membantu agar istrinya dapat bangun kembali.


"Alesha, ada apa?" Tanya panik Jacob.


"Argh, sakittt....... " Alesha meringgis sembari meremas lengan Jacob.


Entah Alesha lupa atau tidak tahu, ternyata efek dari perkawinannya dengan Jacob semalam membuat area paha hingga pinggulnya terasa cukup ngilu dan nyeri.


"Sakit? Apanya yang sakit, Alesha?" Tanya Jacob yang masih panik.


"Bantu Alesha bangun," Lirih Alesha.


Jacob segera mengangkat tubuh Alesha dan mendudukannya kembali pada pinggiran ranjang.


"Ada apa, Alesha?" Jacob mengulangi lagi pernyataannya.


"Alesha rasa Alesha tidak bisa berjalan saat ini," Jawab Alesha dengan ekspresi yang masih menahan rasa sakit.


"Tidak bisa berjalan?" Gumam Jacob. Apa Alesha merasa sakit pada area 'Itunya' karna kejadian semalam? Pikir Jacob.


"Argh, sakit..." Alesha kembali meremas lengan suaminya. "Bisa antar Alesha ke kamar mandi?" Pinta Alesha.


Dengan senang hati. Jacob tidak akan menolak permintaan istrinya itu. Pikirannya yang mengarah pada hal lain pun sukses membentuk seringai nakalnya.


"Jangan berpikir macam-macam! Alesha ingin mandi, tapi Alesha tidak bisa berjalan sendiri! Memangnya kau tega memberikan rasa sakit yang lebih parah lagi padaku!" Ketus Alesha yang menyadari seringai nakal suaminya.


"Baiklah, Nona kecilku," Jacob langsung mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi.


"Kau akan memakai selimut ini saat mandi?" Tanya Jacob.


"Tentu saja tidak!" Jawab Alesha.


"Lalu kenapa kau tidak melepasnya?" Ledek Jacob.


Alesha menenggelamkan wajahnya pada lekukkan leher suaminya. "Aku malu," Ucap Alesha begitu lirih.


Kini tawa kecil Jacob lah terdengar sangat jelas oleh Alesha.


"Kau akan terbiasa nanti," Selepas berucap itu, Jacob pun mendaratkan kecupan lagi pada kedua pipi Alesha.


"Turunkan aku sekarang," Pinta Alesha.


Sesuai perintah, Jacob langsung meletakkan tubuh istrinya ke dalam bathub yang masih kering.


"Mau aku temani?" Goda Jacob.


"Tidak! Lebih baik kau pergi saja sekarang, aku harus mandi dengan cepat, kita mesti kembali ke apartemen setelah ini," Balas Alesha.


"Baiklah, cantik," Sepertinya Jacob memang sudah kecanduan untuk menciumi istrinya itu. Sekarang saja kedua pipi Alesha menjadi korban dari serbuan ciuman-ciuman gemas Jacob kembali.


"Cu... Ku... P," Alesha mencoba untuk menjauhkan wajahnya dari Jacob, namun pria itu malah menahannya dan semakin mempercepat tempo ciumannya.


"Argh! Mr. Jacob!! Cukup!!" Pekik Alesha sembari mendorong tubuh suaminya dengan sekuat tenaga.


"Stop panggil aku dengan sebutan 'Mr. Jacob', Alesha. Aku suamimu sekarang, dan bukan mentormu lagi," Balas Jacob.


"Stop menciumiku juga! Aku harus mandi sekarang!" Alesha mendengus sebal.


"Cepatah, aku menunggumu di luar," Sekali lagi, Jacob mendaratkan ciumannya pada bibir Alesha.


"Ck!" Alesha berdecak sebal.


Dasar rakus!!!!!........ Dumal Alesha dalam hatinya.


****


Dikala kebahagiaan sedang berpesta dalam diri Jacob, Alesha, dan para rekan juga saudara pasangan mempelai itu, berlain hal pula dengan apa yang sedang Adam rasakan saat ini.


Ia sengaja tidak hadir dalam acara pernikahan sahabat masa kecilnya itu, meski ia sudah menerima kertas undangan dari Alesha langsung beberapa hari lalu.


"Semudah itu kamu ngelupain aku, Sha? Apa kamu gak inget sama kenangan-kenangan kita dulu?" Adam mengelus wajah Alesha melalui selembar foto. "Aku cari kamu sejak beberapa bulan lalu karna aku yakin kamu masih cinta sama aku, dan siap buat aku nikahin. Tapi kenapa semuanya malah diluar kendali aku?"


Adam memejamkan matanya seolah sedang menahan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. "Sekarang kamu milik orang lain, Sha, dan aku telat buat bales perasaan kamu. Aku nyesel, Sha. Aku masih berharap kalau kamu mau balik lagi sama aku."


"Sekarang aku paham, Sha. Pasti hal ini juga yang kamu rasain waktu kamu denger kabar kalau aku mau nikah."


Adam kembali membuka matanya dan menatap lekat wajah si manis yang sudah ia sia-siakan.


"Apa aku salah karna ngeharepin kamu buat balik lagi sama aku?"


"Enggak!"


Sahutan seorang wanita barusan sontak membuat Adam terkejut bukan main.


"Kamu mau Alesha lagikan?" Wanita berwajah asing itu berbicara bahasa Indonesia dengan cukup lancar.


"M-maaf, anda siapa ya?" Adam mengerutkan keningnya, menatap bingung pada wanita yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya.


"Aku?" Wanita itu menjulurkan tangannya. "Salam kenal, aku Stephani Laurent," Senyum menawan langsung terukir pada wajah kawan lama Alesha, Stella.


"Stephani Laurent?" Gumam Adam.


"Kamu mau Alesha cinta lagi sama kamu kan?" Stella melipatkan kedua lengannya. "Kamu dapet Alesha dan aku dapet Jacob."


Adam menggelengkan kepalanya. Apa yang ia dengar barusan seperti mengubah otaknya menjadi labirin tak berujung.


"Gak usah bingung, mau atau tidak? Aku menawarkan kesempatan ini hanya sekali, jangan menyesal jika nanti aku mendapatkan Jacob dan kau mendengar sesuatu yang buruk pada Alesha."


Terdengar santai, namun mengancam. Senyum palsukah yang Stella tunjukkan itu? Pasalnya dibalik seringai manisnya itu terdapat sebuah rencana busuk.


"Apa maksudnya? Apa yang mau anda lakukan terhadap Alesha?" Adam mulai meninggikan nada bicaranya.


"Ini nomor teleponku, hubungi aku jika kau setuju, dan ya satu lagi, jika kau mengatakan hal ini pada siapa pun, itu berarti kau sudah tidak mau lagi tinggal di dunia ini," Setelah mengucapkan itu, dan memberikan sebuah kartu berisi nomor telepon pada Adam, Stella pergi begitu saja dengan ekspresi yang masih santai dan tersenyum menawan.


"Apa dia mengancamku?" Gumam Adam. Ia mematung di tempatnya berdiri. Memandang lurus penuh tanda tanya pada Stella yang sudah semakin mengecil dikejauhan.


*****


Beralih kembali menuju Alesha. Selesai mandi, pengantin baru itu langsung berdiri sebisa mungkin, meski rasa ngilu dan nyeri diantara area paha dan pinggulnya itu masih timbul sedikit-sedikit.


Alesha berjalan dengan cukup tertatih, dan setelah keluar dari dalam kamar mandi, ia tidak mendapati adanya Jacob.


Kemana pria itu?


Alesha mengedikkan bahunya. Mau suaminya itu pergi kemana pun tidak masalah untuk Alesha, asal jangan pergi ke wanita lain saja.


Alesha kembali berjalan menuju walk in closet dan memilih satu setel pakaian untuk dipakainya.


Sekitar lima menit, barulah Alesha selesai dengan urusannya itu. Ia pun berjalan kembali menuju kamarnya.


Masih kosong?


Jacob kemana sih sebenarnya?


Alesha celingak-celinguk sendirian, tidak mendapati keberadaan suaminya.


Dengan perasaan sedikit sebal, Alesha pun memakai kerudungnya dan memulas sedikit wajahnya dengan make up yang sangat natural. Ia tidak pandai dalam berdandan, jadi ia hanya asal saja merias wajahnya, yang penting ia tidak terlihat pucat.


"Alesha, sudah bersiapnya, sayang?"


Alesha langsung membalikkan tubuhnya kala mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya.


"Syukurlah, ternyata sudah, ayo kita ke bawah, yang lain sudah menunggumu. Kita akan kembali ke apartemen sekarang," Ucap Laura sembari mengelus pelan pipi menantunya.


Alesha mengangguk, dan setelah itu ia bersama ibu mertuanya pergi menuju tempat dimana keluarganya yang lain sudah berkumpul.


"Ibu, dimana Jacob?" Tanya Alesha.


"Dia bersama yang lain, Al."


Alesha mengangguk dan tidak mengeluarkan suara lagi setelah mendengar jawaban dari ibu mertuanya itu.


Hingga sampailah ia di ruang aula tempat pesta pernikahannya denha yang Jacob berlangsung.


"Itu Alesha!" Pekik Sharon sembari menunjuk pada Alesha.


"Sayang, ayo! Mobil sudah menunggu kita di depan," Jacob langsung meraih lengan Alesha dan membawa istrinya itu pergi terlebih dahulu meninggalkan yang lain.


"Mau kemana kita?" Alesha mendongkakkan kepalanya untuk menatap pada Jacob.


"Kembali ke apartemen," Jawab Jacob singkat.


Ketika mobil mulai berjalan, tiba-tiba Jacob merasa jika ia menginginkan sesuatu dari istrinya. Tatapan laparnya pun tidak luput dari wajah tampannya.


"Apa?" Tanya Alesha yang menyadari tatapan nakal suaminya.


Langsung saja Jacob menutup sekat pembatas antara jok mobil tengah dengan yang depan agar sang supir tidak melihat apa yang akan Jacob lakukan pada Alesha.


"Kenapa ditutup?" Tanya Alesha kembali.


Jacob tidak menjawab. Ia malah mendekati Alesha dan mendekap tubuh istrinya itu dengan erat.


"Kalungkan tanganmu pada leherku!" Titah Jacob, pelan.


Alesha meneguk salivanya, sepertinya ia tahu apa yang Jacob inginkan. Alesha pun segera menuruti perintah suaminya itu.


"Bagus," Jacob menyunggingkan smirknya, dan sejurus kemudian, bibirnya sudah menyapu bersih bibir lembut milik istrinya.


Refleks, jemari Alesha mulai bermain pada rambut suaminya. Ia pun turut menikmati ciuman hangat Jacob itu.


Perjalanan ditempuh selama setengah jam, dan selama itu pula Jacob mencumbui istrinya, dimulai dari bibir, wajah, hidung, kening, pipi. Sesekali Jacob akan berhenti untuk memberi jeda, namun setelah itu ia akan kembali melanjutkan aksinya.


"Eungh..." Alesha mengerang sembari memukul-mukul pelan kepala suaminya.


"Ada apa, Alesha?" Tanya Jacob yang menyudahi cumbuannya.


"Aku kehabisan napas, lagi pula kita akan sampai sebentar lagi," Jawab Alesha yang terengah-engah.


"Tapi aku masih menginginkannya," Rengek Jacob.


"Tidak! Masih ada waktu lain!" Tolak Alesha.


Raut kekecewaan terlihat jelas pada wajah Jacob. Ia pun langsung menyadarkan kepalanya pada dada Alesha.


"Nanti malam kita lanjut lagi ya," Ucap Jacob.


"I-I-iya..." Balas Alesha, gugup.


Jacob kembali tersenyum bersama dengan munculnya sebuah ide jahil.


"Aww! Aww!!" Tubuh Alesha terlonjak ketika Jacob menaruh beberapa ciuman pada area dadanya.


"Ish, nakal!" Alesha mendengus sebal. "Awas, awas!" Alesha berusaha untuk mengangkat kepala Jacob dari atas dadanya, namun Jacob tetap menahan posisinya itu.


Jacob sudah terlanjur nyaman, bersandar pada tubuh wanita yang sudah sah dengannya memang sebuah kenikmatan yang menenangkan.


****


Sesampainya di apartemen, Jacob langsung membawa Alesha masuk ke dalam kamarnya.


"Diam di sini!" Perintah Jacob, datar. Pria itu langsung berjalan keluar meninggalkan istrinya sendirian di dalam kamar.


"Mr. Jacob kenapa sih?" Alesha memiringkan kepalanya sembari berkerut bingung.


Di luar, Jacob sedang berbincang bersama Taylor dan beberapa anak buahnya yang lain.


"Mansion anda sudah siap, Tuan, kalau mau, saat ini juga anda bersama Nona Alesha bisa langsung menempatinya," Ucap Taylor.


"Aku akan ke sana bersama Alesha nanti sore," Balas Jacob. "Oh ya, kado-kadonya sudah dibawa ke sana juga kan?"


"Sudah, tuan, para pelayan sudah menyusunnya dengan rapih di kamar tuan dan nona," Jawab Taylor.


"Jack," Panggil Mona.


"Ada apa, Mona?" Tanya Jacob.


"Aku tidak bisa lebih lama lagi di sini, jadwalku sudah sangat padat, beberapa CEO cabang perusahaan akan mengadakan rapat untuk membahas promosi perusahaan yang akan dilaksanakan di stadion GBLA," Ucap Mona.


"Kau yakin bisa mengatasinya sendiri, Mona? Jika tidak, aku akan meminta izin pada Alesha agar aku bisa membantumu," Balas Jacob. Sebagai manager utama perusahaan, tentunya Jacob juga harus turut berperan dalam pembahasan pelaksanaan promosi perusahaan berskala besar, namun ia juga tidak enak jika harus meninggalkan istrinya, dan memfokuskan dirinya pada perencanaan promosi itu.


"Tidak apa, ada Irene yang selalu membantuku, ia juga akan menggantikanku pada pertemuan bersama beberapa rekan perusahaan hari ini," Ucap Mona. "Mungkin aku akan membawa Sharon dan mengajarkannya segala hal tentang bisnis dan perusahaan ibu agar ia bisa turut membantu kau dan aku untuk menjalankan perusahaan."


"Dimana Sharon?" Tanya Jacob. "Apa dia sudah tahu kau akan membawanya?"


Mona menggelengkan kepalanya. "Entahlah, aku juga mencarinya sejak tadi. Dia membawa Haris dan pergi begitu saja."


"Taylor, cari Sharon, bilang padanya jika aku dan Mona menunggunya di sini!" Perintah Jacob.


"Baik, tuan," Taylor mengangguk, lalu ia pun segera melaksanakan perintah yang Jacob berikan.


****


Di kamarnya, Alesha kini sedang asik bermain bersama Haris. Bocah kecil itu dibawa masuk ke kamarnya oleh Sharon sesaat setelah Jacob pergi.


"Kenapa dia sangat lucu?" Ucap Alesha dengan gemas.


"Entahlah aku juga bingung. Hampir setiap hari Haris selalu bermain bersamaku dan ibu karna Mona dan Wiliam yang cukup sibuk mengurus perusahaan," Balas Sharon.


"Kau dan Jacob kapan akan memberikan aku keponakan baru?" Goda Sharon.


Aish, pertanyaan macam apa itu? Alesha tersipu malukan jadinya.


"Wajahmu memerah, Al," Ledek Sharon.


Tentu saja! Alesha malu diberikan pertanyaan macam itu, ditambah yang bertanya adalah adik ipar, dan gadis yang masih seumuran dengannya.


"Bagaimana rasanya menikah muda, Al?"


Kenapa Sharon harus memberikan pertanyaan aneh seperti itu lagi sih? Alesha bingung harus menjawabnya. Ia masih pengantin baru dan masih sangat amat amatir dalam hubungan pernikahan.


"Rasanya.... Ya seperti kau menjadi pengantin saja." Jawab Alesha, asal.


"Aku belum pernah merasakannya, maka dari itu aku bertanya padamu," Balas Sharon.


Haruskah Alesha mengatakan menjadi seorang pengantin baru? Nikmat namun sakit. Itu yang langsung terlintas dalam pikiran Alesha. Ingatannya akan kejadian semalam semakin mendidihkan perasaannya. Wajahnya tertunduk menahan malu dan panas.


"Kau harus merasakannya sendiri nanti tanpa ada orang yang memberitahu padamu," Ucap Alesha yang enggan untuk memperpanjang topik yang menurutnya sensitif itu.


"Permisi, Nona."


Alesha dan Sharon sama menengok ke arah pintu yang menjadi sumber suara itu berasal.


"Taylor, ada apa?" Tanya Sharon.


"Tuan Jacob, dan Nyonya Mona memanggil anda, Nona," Jawab Taylor.


"Memanggilku? Ada apa?" Tanya Sharon, lagi.


"Anda bisa menanyakannya langsung pada kedua kakak anda, Nona," Jawab Taylor sesopan mungkin.


"Owh, baiklah," Sharon mengedikkan bahunya dan berniat untuk meraih tubuh Haris dari pangkuan Alesha. Tapi sepertinya, Haris terlanjur nyaman dengan Alesha.