
Rintikan air yang terus turun dari sisa hujan membasahi setiap sudut kota California. Disalah satu pojokan kota, terdapat sebuah markas tersembunyi yang ditempati oleh Mack dan para anak buahnya. Malam begitu dingin dan mencekam setelah memastikan sudah tidak ada lagi orang atau kendaraan yang berlalu-lalang. Dinginnya udara yang berkisar pada titik sepuluh derajat celcius bagaikan menusuki kulit siapa saja yang keluar tanpa memakai jaket tebal yang berlapis
Pada suatu titik, terdapat tiga orang pria dengan memakai baju, celana jeans, sepatu, dan kupluk yang menutupi seluruh kepala yang berwarna serba hitam. Mereka berjalan di pinggiran kota yang sangat sepi, dan memasuki sebuah lorong kecil diantara dua dinding bangunan. Langkah kaki mereka menyusuri lorong kecil itu hingga berhenti pada satu tempat. Sebuah pintu tua yang berdiri kokoh menjadi pemisah antara bagian luar dan dalam ruangan. Sebuah tangan besar terangkat dan mengetuk pintu tersebut. Tidak lama, munculah sosok lelaki yang membukakan pintu.
"Silahkan masuk, tuan, tuan Mack sudah menunggu anda." Ucap lelaki yang membukakan pintu itu. Kemudian masuklah tiga orang pria itu kedalam ruangan yang cukup besar untuk ditempati oleh lima belas orang.
Tepat diujung tembok sebelah kanan, ada Mack yang sudah terduduk santai sambil memandang ke arah tiga pria yang memasuki markas barunya.
Salah satu dari tiga pria itu maju dan mendekati Mack. Dibukanya tudung kepala yang sedari tadi ia pakai hingga menutupi setengah wajahnya.
"Selamat datang, Vincent, lama tidak berjumpa." Sapa Mack dengan seringainya.
Vincent duduk disofa yang berhadapan langsung dengan Mack.
"Aku tidak ingin berbasa-basi karna aku hanya memiliki waktu beberapa menit di tempat ini." Balas Vincent.
"Baiklah katakan." Dengan gerakan santai Mack menuangkan wine yang berada dalam botol kesebuah gelas berukuran mini yang kosong.
"Aku ingin bekerjasama denganmu. Kau tau, kita bisa mengambil alih SIO dan menjual lalu memproduksi semua sampel dan bahan kimia yang selama ini SIO sembunyikan. Aku menawarkan keuntungan besar untukmu, jika kita berhasil merebut SIO. Kita bisa mengendalikan perekonomian dunia dengan mudah jika kita berhasil mengambil alih SIO." Ucap Vincent dengan penuh keyakinan.
"Aku tahu itu. Selama ini SIO dipimpin oleh pria terbaik. Frank tidak akan mudah dikalahkan, dan dia tidak pernah mau memanfaatkan jabatan sebagai ketua SIO, sangat disayangkan, padahal dia bisa jadi salah satu orang terkaya di dunia." Balas Mack dengan santai. "Aku juga sedang mengincar salah satu murid WOSA, namanya Alesha, ayahnya adalah lelaki yang dulu menjebloskanku ke dalam penjara dan membuatku kehilangan semua aset perusahaan dan beberapa bisnisku hingga aku harus membangun semua lagi dari awal."
"Lalu bagaimana? Kau setuju?" Tanya Vincent. "Kau memiliki anak buah yang setia padamu, aku akan membantumu mendapatkan murid WOSA itu jika kau setuju, dan aku juga akan membantumu untuk mendapatkan perusahaanmu kembali. " Lanjut Vincent.
Mack terdiam sambil berpikir untuk memilih keputusan terbaik. Tawaran Vincent cukup menggiurkan, namun ada hal lain yang mesti Mack pertimbangkan.
"Baiklah, setuju." Ucap Mack.
Vincent menyeringai. "Pilihan yang tepat." Ia mengambil gelas berisi wine miliknya lalu meneguk habis wine itu.
"Aku akan menghubungimu nanti." Vincent beranjak dari tempat duduknya. "Aku harap senang untuk bisa bekerjasama denganmu." Seringai jahat Vincent pun terpampang jelas pada wajahnya. Ia segera berbalik dan memberi isyarat pada dua anak buahnya untuk segera pergi meninggalkan markas Mack.
Sambil berjalan di lorong kecil, salah satu anak buat Vincent bertanya.
"Tuan, kau yakin akan bekerjasama dengannya? Dia sedang menjadi buronan sekarang."
Vincent menarik salah satu sudut bibirnya dan menunjukan smirk jahat. "Tentu saja, aku tidak bodoh, aku hanya akan memanfaatkannya."
Setelah memberikan jawaban, Vincent segera menaikkan tudungnya untuk menutupi kepala dan setengah dari wajahnya. Gerimis kecil masih setia mendampingi jalan Vincent dan anak buahnya hingga mereka sampai disalah satu sudut jalan lalu masuk kedalam mobil yang sejak tadi sudah menunggunya.
***
Pukul 12.00 siang.
Seorang dokter sudah memeriksa kondisi Alesha dan mengatakan kalau obat yang diberikan untuk membunuh racun ditubuh Alesha bekerja dengan baik. Melalui sebuah surat dari hasil tes darah yang dilakukan tadi pagi menunjukan kalau racun didalam tubuh Alesha telah berhasil dimusnahkan karna pada sampel darah milik Alesha tidak menunjukan tanda-tanda adanya racun botulinum yang Mack berikan pada Alesha beberapa hari lalu.
Jacob bisa bernapas lega. Dokter sudah mengizinkan Alesha untuk pulang karna kondisinya yang terus menunjukan peningkatan setelah beberapa jenis obat yang dimasukkan kedalam cairan impus Alesha. Mungkin akan ada beberapa kendala kecil, seperti tubuh yang terasa lemas dan tiba-tiba merasakan kaku pada salah satu anggota tubuh, itu tidak jadi masalah, asalkan Alesha bisa istirahat dengan cukup, maka kondisinya akan kembali pulih sepenuhnya.
Laura yang sejak pagi sudah datang membesuk Alesha, kemudian mendapatkan sebuah ide setelah ia mendengar ucapan sang dokter. Ia ingin membawa anaknya, Jacob pulang ke rumahnya dengan memanfaatkan Alesha. Laura ingin sekali membawa Jacob ke rumahnya dan berharap besar kalau ketiga anaknya dapat tinggal di rumahnya yang tampak seperti istana itu. Berbelas-belas tahun Laura tidak tinggal serumah dengan kedua anaknya, dan setelah memiliki kesempatan seperti saat ini, tentu Laura tidak akan menyia-nyiakkan, setidaknya ia akan punya waktu beberapa hari untuk bersama anaknya di rumahnya.
Setelah mengucapkan sepatah dua patah kata penutup, dokter itu pamit dan berlalu pergi.
"Aku bisa pulang." Ucap Alesha dengan mata yang berbinar.
"Dokter mengizinkanmu pulang, tapi kau masih perlu istirahat lebih agar bisa pulih sepenuhnya." Balas Jacob.
"Yang penting aku sudah boleh pulang, dan racun itu sudah tidak ada dalam tubuhku lagi." Timpal Alesha yang tidak mau kalah.
"Katakan pada Mr. Thomson, kalau Alesha akan kubawa ke rumahku, ia masih membutuhkan istirahat yang lebih, dan jika ia kembali ke WOSA waktu istirahatnya bisa saja terganggu. Siapkan pesawatku, kita akan terbang ke Florida secepatnya setelah Alesha siap dan semua urusan administrasi selesai!" Bisik Laura pada asistennya.
"Baik, Nyonya." Balas asisten itu dengan anggukan kecil.
Senyum sumringah terpampang pada wajah Laura. Kali ini, ia harus bisa membawa Jacob pulang ke rumahnya dan memperkenalkan dengan Sharon, adik bungsu Jacob.
***
Byurr..
(Ilustrasi kolam renang)
Cipratan air dari dalam kolam renang besar yang berada pada halaman belakang rumah Laura membasahi ubin mahal yang berada ditepian kolam ketika Sharon menceburkan dirinya kedalam air kolam yang begitu jernih dan segar. Gadis cantik itu begitu menikmati waktu berenangnya bersama seekor kucing yang memiliki bulu putih yang lebat dan tebal.
"Akhirnya, udah lama pengen berenang." Ucap Sharon sambil mengibaskan rambut panjangnya yang basah.
"Ibu kapan pulang sih? Gak tahu kalau Sharon kangen apa ya?" Gadis itu mendengus. Ia merindukan Laura, ibunya. Di rumah yang sangat besar itu Sharon merasa sangat kesepian saat Laura pergi. Banyaknya pembantu tidak membuat Sharon merasa senang, tentu saja pembantu itu begitu segan dan takut saat Sharon mengajaknya bermain.
"Gak ada yang bikin asik sama sekali. Aku bosan jika sendirian seperti ini, aku butuh teman untuk bermain di rumah besar ini." Sharon mendengus. "Aku tidak mungkin meminta pada ibu untuk dicarikan teman."
"Hey Maya, menurutmu apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan rasa bosan ini?" Tanya Sharon pada Maya, kucingnya.
Maya pun hanya bisa menatap datar pada pemiliknya itu. Bagaimana kucing bisa menjawab? Hewan mana paham bahasa manusia. Teman Sharon satu-satunya hanyalah Maya, yang selama ini selalu menemani nona muda itu dikala kesepian sedang melanda.
"Baiklah, aku sudah malas, mungkin lebih baik aku kembali ke kamarku saja." Ucap Sharon dengan raut kecewa pada wajahnya.
Salah seorang pelayan mendekati Sharon dan memberikannya sebuah handuk. Siang itu cuaca cukup cerah, dan angin berhembus dengan kencang, hempasan rambut nona muda itu saat terbawa angin menambahkan kesan sempurna pada wajah cantiknya. Kemiripan dengan kedua kakanya terlihat jelas pada aura yang Sharon miliki. Wibawa sang ayah dan kecerdasan sang ibu kini telah menurun pada adik bungsu Mona dan Jacob. Tapi meski begitu, Sharon bukanlah gadis yang sombong. Kerendahan hati yang selalu orang tuanya ajarkan melekat dalam diri Sharon, dan membuatnya banyak disukai, baik dari kalangan atas mau pun bawah.
Sharon sendiri masih belum mengetahui kalau ia memiliki kakak, ibunya tidak pernah bercerita apapun, oleh sebab itu, Sharon selalu merasa kesepian, ia ingin mempunyai saudara yang bisa diajak bermain atau sekedar bercanda.
Kini Sharon sudah berada di dalam ruangan besar dan berjalan menaiki anak tangga yang tinggi dan lebar untuk menuju kamarnya. Laura dan mendiang suaminya sengaja membangun rumah yang begitu luas dan lebar bak istana yang tentunya semua arsitektur dan bentuk bangunannya mengikuti model era zaman sekarang. Ada sekitar sekitar delapan kamar yang berada pada lantai dua, lima kamar utama, dan tiga kamar tamu, sebuah ruang keluarga yang begitu besar dan terletak dibagian belakang, ruang makan bersama, dapur, dan tentunya ruang tamu yang semuanya serba diisi oleh peralatan mewah.
(Ilustrasi ruang tamu)
(Ilustrasi ruang makan)
(Ilustrasi dapur)
Bahkan bentuk kamar Sharon pun cukup unik. Gadis itu mendesain sendiri kamarnya sesuai dengan keinginannya.
(Ilustrasi kamar milik Sharon)
Rumah yang begitu luas dan besar berdiri kokoh diatas tanah subur yang memiliki pemandangan perbukitan dan langit yang indah. Cukup jauh dari lingkup dan hiruk pikuk perkotaan. Namun sayang, rumah itu kini hanya diisi oleh Laura, dan Sharon, untuk para pelayan sendiri, mereka tinggal di rumah lain yang berjarak dua puluh meter dengan rumah sang majikan.
(Ilustrasi rumah milik Laura dan keluarga)
Ada sekitar tiga belas pelayan dan tiga supir yang tinggal, namun tidak ada satu pun yang mau diajak bermain oleh Sharon. Membosakan bukan tinggal di rumah besar namun tidak memiliki teman?
Sharon menghembuskan napasnya dengan sabar. Ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi setelah beres membersihkan badannya lalu beralih menuju lemari untuk mengambil dan memakai baju kaus dengan celana santai selutut.
"Hey, Maya, kemarilah." Ucap Sharon pada kucingnya.
(
(Ilustrasi Maya, kucing milik Sharon)
Kucing itu pun menurut dan berjalan mendekati Sharon. Ia mengeluskan tubuhnya dengan manja pada kaki Sharon, dan Sharon membalasnya dengan memberikan usapan elus dipuncak kepala kucing kesayangannya. Saat ini, menikmati pemandangan hamparan bukit dan rumput hijau yang begitu luas adalah salah satu cara untuk menghilangkan kejenuhan. Sharon selalu melakukan itu jika ia merasa bosan.
Langit biru yang cerah berpadu dengan hamparan hijau yang membentang luas bagai tiada ujung. Mata Sharon menyusuri setiap titik bentangan alam yang indah melalui jendela kamarnya yang besar, ia juga bersyukur bisa memiliki rumah mewah dan dibangun pada lokasi yang mampu menyejukan setiap hati yang sedang gundah. Bentangan cakrawala biru menjadi pembatas antara langit luar dan langit dalam. Tangan Sharon pun beralih pada bulu-bulu lembut milik kucingnya lalu memberikan belaian halus hingga membuat ketenangan dalam diri sang kucing.
Sharon sudah biasa ditinggal pergi berhari-hari oleh ibunya, namun ia akan merasa sangat kesepian.
"May, menurutmu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Sharon pada kucingnya. "Aku bosan, dan aku juga malas melakukan apapun."
Mendadak jemari Sharon bergerak menuju sisi kucingnya. Ia meraih ponsel mahal miliknya dan berniat untuk mengirimkan pesan pada sang ibu.
"Aku bosan! Cepat pulang!" Ucap Sharon seraya mengetikkan kata-kata itu pada layar ponselnya.
***
Di rumah sakit, Alesha sudah berkemas dan bersiap-siap untuk kembali pulang. Pikirannya sudah tertuju pada WOSA dan teman-temannya di sana. Senyum manis pun terukir saat ia membayangkan ekspresi wajah teman-temannya ketika mengetahui kalau ia datang secara mendadak. Pasti seru, ia dapat bercanda dan tertawa lagi bersama Stella, Nakyung, Maudy, dan Merina, begitu pula dengan keempat temannya yang lain. Cukup sudah, Alesha berharap ini adalah yang terakhir kalinya ia berada dirawat di rumah sakit. Ia tidak mau kejadian yang sama terulang lagi, dan ia juga tidak mau terus-terusan merepotkan mentor dan timnya.
"Semua sudah selesai, Nyonya, kita bisa pergi sekarang." Ucap asisten pribadi Laura.
"Alesha, ayo, kita bisa pergi sekarang." Ucap Laura dengan lembut pada Alesha.
Alesha mengangguk dan segera turun dari atas kasur pasiennya. Rasa pusing sedikit memengaruhi keseimbangan tubuh Alesha saat kakinya menyentuh lantai, namun tadi dokter sudah mengatakan kalau hal itu tidak akan menjadi masalah. Jacob yang sedari tadi sudah bersiap siaga disisi Alesha, kini ia membantu gadis itu untuk berjalan.
"Irene sudah berada di bandara?" Tanya Laura pada asisten pribadinya.
"Nona Irene sudah berada di bandara, Nyonya, dan ia sedang menunggu kita." Jawab asisten pribadi itu.
"Jam berapa pesawat bisa lepas landas?" Tanya Laura lagi.
"Jam tiga, Nyonya."
Laura menggangguk. Sekitar satu jam dari sekarang dan saat sudah sampai di bandara, mungkin mereka akan menunggu beberapa menit lagi agar pesawat dapat lepas landas menuju Florida. Laura sudah mendapatkan izin dari Mr. Thomson untuk membawa Alesha, Jacob, Bastian, termasuk Levin ke rumahnya. Senyum samar pun tak luput dari wajah Laura saat ia membayangkan sebuah kehangatan keluarga yang akan terjadi di dalam rumahnya tidak lama lagi, mungkin hanya satu yang kurang, Laura masih belum bisa membawa Mona pulang ke rumahnya. Tapi tidak apa, setidaknya ada Jacob, itu saja sudah membuat Laura merasa begitu bahagia.
Dua mobil penjemput sudah menunggu di depan halaman parkir rumah sakit. Sang supir memberikan hormat dan membukakan pintu mobil untuk Alesha. Melihat pintu mobil yang terbuka, segera Alesha masuk kedalam salah satu mobil dan disusul Jacob juga Bastian, untuk Levin, ia duduk dibagian depan mobil bersama sang supir.
Laura sendiri sudah masuk kedalam mobil yang satunya lagi. Ia segera memberikan aba-aba pada sang supir untuk segera menjalankan mobilnya setelah memastikan kalau semua sudah masuk kedalam mobil, termasuk perlengkapan yang dibawa juga.
Mobil yang Laura tumpangi kini berjalan lebih dulu, dan disusul dengan mobil yang Alesha tumpangi.
Cukup, aku tidak mau lagi ada kejadian seperti ini. Aku harus pulih dan kembali belajar seperti biasa hingga tidak perlu membuat susah mentor dan timku..... Ucap Alesha dalam hati.
"Al, kau mau makan?" Tawar Bastian sambil menyodorkan sebungkus roti isi pada Alesha. "Nyonya Laura yang memberi ini."
"Tidak, terima kasih." Balas Alesha sambil tersenyum kecil.
Bastian mengedikkan bahunya. "Baiklah."
Bagus, lebih baik kau tidak usah menerima itu, Al... Ucap Jacob dalam hati.
Keheningan kini mengisi ruang dalam mobil yang sedang Alesha tumpangi. Tidak ada yang membuka percakapan karna terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Sang supir sibuk memandangi jalan sambil mengendalikan laju mobil, Levin asik dengan ponselnya, Bastian yang sudah tertidur entah sejak kapan, dan Jacob terlihat begitu kaku dan dingin. Cukup membosankan untuk Alesha karna ia hanya bisa memandangi jalan raya dan setiap pemandangan kota yang ia lihat melalui kaca jendela mobil. Entah harus berapa lama Alesha mempertahankan ekspresi bosannya sambil menghadap kejendela kaca. Jacob jadi membosankan saat ia sedang terdiam, apa lagi dengan ekspresi wajah yang datar, dingin, dan kaku seperti patung yang biasa dipajang di dalam mall.