
Sang Nyonya serta tuan putri pemilik istana era modern itu kini berjalan menuruni tangga secara beriringan. Jacob, Alesha, dan Irene pun berbalik menatap ke arah ibu dan anak yang sedang berjalan menuju ruang keluarga.
"Hai Sharon." Sapa Irene pada adik Jacob itu.
"Hai, Irene." Balas Sharon dengan senyum manisnya.
Tatapan Sharon beralih pada gadis yang sepentaran dengannya, yaitu Alesha.
"Alesha, kenalkan dia Sharon adik dari mentormu." Ucap Laura.
Alesha pun bangkit dan berjabat tangan dengan Sharon.
"Alesha.." Senyuman manis terukir pada wajah Alesha saat pandangannya bertemu dengan Sharon.
Begitupula Sharon, ia juga membalas senyuman Alesha. "Aku Sharon."
Jabatan tangan kedua gadis itu akhirnya terlepas. Alesha kembali duduk disebelah Jacob, dan Sharon duduk disebelah ibunya.
"Alesha, bagaimana kondisimu? Sudah membaik?" Tanya Laura dengan ramah.
"Syukurlah, aku sudah membaik, Nyonya." Jawab Alesha.
"Bagus kalau begitu. Oh, ya, Sha." Laura menengok dan memberi isyarat pada anak perempuannya.
Sharon yang sudah paham maksud ibunya itu segera bangkit berdiri.
"Alesha, bisa tidak kalau kau berjalan-jalan sebentar saja menemani Sharon?" Pinta Laura.
Alesha terdiam sesaat. Apa yang harus ia jawab? Menemani Sharon, sedangkan Alesha sendiri masih merasa canggung.
"Tidak." Tolak Jacob. "Alesha masih belum pulih sepenuhnya, ia tidak boleh banyak berjalan." Jacob menggenggam lengan Alesha.
"Mereka tidak akan jalan jauh, Sharon akan mengajak Alesha ke taman." Balas Laura.
"Tapi.." Ucap Jacob terpotong.
"Baik, Nyonya, aku akan menemani Sharon." Alesha segera melepaskan genggaman lengan Jacob padanya.
Laura pun tersenyum. Sebenarnya tadi ia ingin berbicara dengan Alesha, dan meminta Bastian untuk memanggil Alesha, namun pikirannya berubah, ibu Jacob itu jadi menyuruh Sharon untuk membicarakan sesuatu dengan Alesha.
"Ayo, Al." Ajak Sharon dengan ramah. Gadis itu segera meraih tangan Alesha dan membawanya untuk mulai berjalan.
Sedangkan Jacob, ia hanya memandangi Alesha yang berjalan semakin menjauh bersama adiknya.
"Jack." Panggil Laura.
Jacob membelokkan pandangan menuju wajah ibunya.
"Kita harus membicarakan sesuatu." Ucap Laura.
Dengan malas Jacob pun menjawab. "Katakanlah."
"Aku ingin kau segera mengambil alih posisiku dalam perusahaan."
Mata Jacob menyipit dengan sorot yang cukup tajam. Ia tidak habis pikir, baru saja tadi ia dan ibunya memulai perdamaian, dan sekarang ibunya itu malah mau membahas soal perusahaannya. Sebenarnya tidak masalah, namun itu membuat Jacob tidak enak, dan menimbulkan persepsi lain dalam pikirannya, yaitu selama ini berarti ibunya mencari Jacob dan Mona hanya untuk melanjutkan perusahaan, bukan benar-benar ingin memperbaiki hubungan antara anak dan orang tua. Jacob menghembuskan napasnya dengan malas, sebelah sudut bibirnya tertarik dan mengisyaratkan ekspresi yang sedang menahan rasa sebal dan malas. Malas untuk mendengarkan kelanjutan ucapan dari ibunya.
"Jadi kau mencariku dan Mona hanya untuk melanjutkan perusahaanmu? Kau tidak benar-benar ingin memperbaiki hubungan dengan kedua anakmu." Sindir Jacob.
"Tidak, kau salah paham, Jack." Sanggah Laura. "Itu tidak benar. Aku mencari kalian sejak lama, bahkan sebelum perusahaanku sebesar ini. Percayalah, Jack, ibu benar-benar ingin memperbaiki kesalahan ibu, ibu selalu mencari kalian, ibu selalu merindukan kalian, ibu selalu menyayangi kalian."
Jacob hanya mendengarkan. Ia terlalu malas membalas ucapan ibunya.
"Jack, ibu mengatakan ini juga karna ibu tidak yakin bisa mengatakannya dilain waktu, ibu takut kalau ibu tidak bisa menjelaskan semuanya pada kau dan Mona. Tolong pahamilah, ibu selalu berusaha untuk menemukan kalian dan merasakan kebahagiaan bersama semua anak-anak ibu." Sorot mata Laura menjadi sayu. Lagi-lagi ia mendapati anaknya yang salah paham dengan maksud dari ucapannya. "Ibu mohon, Jack, ibu sangat menyayangimu."
Irene yang menyaksikan langsung drama ibu dan anak dihadapannya ini hanya bisa mengerutkan kening, tidak paham alur permasalahan yang memicu ketidak serasian hubungan antara CEO juga sang tuan muda incaranya.
"Baik, lanjutkan saja apa yang ingin ibu katakan." Ucap Jacob dengan datar. Ada rasa iba dan kasihan dalam diri Jacob saat melihat sorot ibunya. Meski bukan lulusan psikologi, Jacob cukup lihai membedakan sorot mata orang yang hanya bermain-main dan sorot mata orang yang bersungguh-sungguh, dan saat ia melihat sorot mata ibunya, Jacob yakin kalau apa yang ibunya katakan adalah yang sejujurnya, ucapan yang langsung berasal dari dalam hati.
"Aku ingin kau, Mona, dan Sharon bisa memimpin perusahaan yang sudah dibangun oleh ayahmu. Ibu tidak memiliki banyak waktu, Jack, usia ibu sudah tidak muda, ibu sudah tidak pantas menjabat sebagai CEO. Ibu ingin kau menggantikan posisi CEO yang sekarang sedang ibu jabati." Perjelas Laura.
Jacob terdiam, ia bingung harus bagaimana. Adanya tanggungjawab sebagai mentor di WOSA membuat Jacob sangat keberatan menerima permohonan ibunya itu. Jacob sangat menyayangi anggota timnya yang sekarang, mereka adalah keluarga dan adik-adik yang sudah dianggap oleh Jacob.
"Aku tidak bisa mengambil posisi itu, ibu bisa minta pada Mona untuk menggantikan posisi CEO." Ucap Jacob.
"Mona sedang hamil, Jack, apa kau tega?" Tanya balik Laura yang membuat Jacob harus kembali berpikir keras.
Jacob terdiam. Iris matanya tidak bisa diam dan terus bergerak sambil mencari jawaban yang tepat.
"Aku tidak bisa untuk saat ini, aku mengemban tanggungjawab di WOSA dan SIO, dan aku tidak bisa melepaskan tanggungjawab itu begitu saja"
Laura menghembuskan napasnya dengan sabar. "Lalu kapan kau bisa menggantikan posisi ibu?"
Jacob pun berpikir. Kapan ia bisa menggantikan posisi ibunya? Sejujurnya Jacob sangat tidak mau terlibat dalam perusahaan orang tuanya itu, bahkan Jacob sama sekali tidak tertarik dengan kekayaan dan kemewahan yang akan ibunya berikan. Banyak perusahaan dan harta bukan hal penting untuk Jacob, hidupnya lebih realistis dan apa adanya saja, tidak membutuhkan kekayaan namun yang dibutuhkan Jacob adalah kasih sayang dan cinta dari orang yang ia kasihi.
"Sejujurnya aku sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan dan semua kekayaan yang ibu miliki, bahkan aku malas terlibat. Ibu berikan saja pada Mona, ada William yang bisa menggantikan posisi ibu untuk sementara waktu sampai Mona melahirkan nanti, aku tidak mau mengambil peran apapun dalam bisnis ibu."
Kejujuran dari Jacob barusan membuat hati Laura menjadi sakit. Anaknya itu sama sekali tidak tertarik dengan jabatan dan kekayaan, dan malah ingin menyerahkan jabatan yang ibunya berikan pada kakak iparnya. Laura tidak habis pikir, ia beruntung memiliki seorang anak yang tidak mabuk harta, namun Laura juga bingung, kalau bukan Jacob siapa lagi yang akan menggantikan posisinya sebagai CEO? Mona tidak mungkin mampu menghandle semua pekerjaan dari banyaknya perusahaan yang Laura miliki, harapannya ada pada Jacob, namun dengan tegas Jacob malah menolak tawaran dari ibunya itu.
"Kapan tanggungjawabmu di WOSA akan berakhir? Ibu akan menunggu."
Sebuah pertanyaan dari Laura itu membuat Jacob tersentak. Kenapa ibunya itu begitu menginginkan Jacob yang menggantikan posisi CEO perusahaan?
"Jawab, Jack!" Laura menegaskan nada suaranya.
"Dua tahun lagi." Jawab Jacob.
"Setelah dua tahun itu ibu memaksamu untuk menggantikan posisi ibu!" Tegas Laura dengan nada rendah.
"Kita lihat saja nanti." Balas Jacob dengan santainya.
Jika di dalam ruang keluarga kediaman Laura sedang terasa memanas saat ini karna perdebatan kecil antara ibu dan anak, lain halnya dengan dua gadis sepantaran yang kini sedang asik berjalan menyusuri taman berukuran sedang di halaman belakang. Beberapa pertanyaan basa-basi dilontarkan oleh Sharon pada Alesha, hanya untuk sekedar mengurangi rasa kecanggungan.
"Al, ayo kita duduk disitu." Ajak Sharon sambil berjalan ke arah bangku taman.
"Oh, ya aku boleh omongin sesuatu gak?" Tanya Sharon sembari mengambil tempat untuknya duduk.
"Boleh." Jawab Alesha dengan anggukan kecil.
"Hmm.." Sharon terdiam sebentar sambil berpikir kata-kata apa yang harus digunakan untuk menjadikan sebuah kalimat yang akan diberikan pada Alesha.
"Tapi kamu harus janji ya jangan kasih tahu orangnya." Sharon menatap Alesha.
"Emangnya siapa?" Tanya Alesha.
"Jacob, jangan kasih tahu dia ya."
"Jadi gini, ibu aku mau minta tolong sama kamu buat bantuin dia biar bisa deket sama Jacob."
Alesha pun terlonjak kecil saat mendengar ucapan Sharon barusan. Laura meminta bantuannya agar bisa dekat dengan Jacob? Sebenarnya Alesha memang merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi antara Jacob dan ibunya, seolah ada dinding pembatas yang membuat sebuah jarak jika Jacob dan ibunya bertemu.
"Kamu mau kan?"
Alesha menoleh pada Sharon. Mau atau tidak? Jadi, ia harus membantu Laura agar dekat dengan anaknya? Kenapa harus Alesha?
"Ibu bilang kamu sangat dekat dengan kakakku, jadi dia meminta bantuanmu." Lanjut Sharon.
Alesha berpikir. Ia memang dekat dengan mentornya itu, bahkan kadang merasa sangat amat dekat.
"Mau ya.." Mohon Sharon dengan tatapan mata yang mengharapkan balasan kata 'Ya' dari Alesha.
"B-baiklah." Jawab Alesha yang masih merasa ragu. Apa ia bisa membantu? Entahlah, yang penting coba saja dulu, semoga saja bisa. Lagi pun kalau Alesha membantu juga ia dapat mengetahui permasalahan yang membuat dinding es penghalang antara ibu dan anak itu.
"Makasih, Al." Ucap Sharon dengan wajah yang berbinar.
Alesha membalas dengan senyum kikuk.
Bisa tidak bisa tidak bisa tidak. Ah bodo amatlah, bantuin aja dulu.... Ucap Alesha dalam hati.
"Oh, ya kamu bisa kenal sama Jacob darimana?" Tanya Sharon.
Alesha tidak mungkin bilang dari WOSA, itu bisa melanggar kode etik.
"Dia guruku di sekolah." Jawab Alesha sambil tersenyum kaku.
"Jacob seorang guru? Guru apa?" Tanya Sharon lagi.
Guru apa? Tidak ada pertanyaan lain yang bisa dijawab dengan mudah oleh Alesha apa?
"Guru pembimbing."
"Memangnya kamu sekolah dimana?"
Ya ampun, Sharon membuat Alesha bingung harus jawab apa.
"Hmm, Sha, aku boleh ijin ke toilet dulu gak?" Alesha berusaha untuk mengalihkan pertanyaan.
"Owh, silahkan, tapi kamu tahu toiletnya dimana?"
"Di kamar tamu yang aku tempatin." Jawab Alesha.
"Mau aku temenin?" Tawar Sharon.
"Gak usah, makasih." Tolak Alesha. Jika Sharon mengantarnya yang ada malah Sharon akan terus melontarkan pertanyaan lain yang membuat Alesha bingung harus menjawab, apalagi kalau sangkutannya dengan WOSA.
Berjalan sendirian di rumah itu membuat Alesha kebingungan. Ia lupa lokasi kamarnya, dan akhirnya dengan sembarangan, juga hanya mengandalkan feeling, Alesha membuka salah satu pintu kamar.
"Ya ampun! Maaf, Mr. Levin!" Pekik Alesha saat ia melihat Levin yang baru saja selesai mandi dan hanya terbaluti oleh handuk yang menutupi area pinggang hingga pahanya.
Levin terkekeh saat melihat Alesha yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya. Kini mata Alesha hanya bisa tertutup, tubuhnya kaku dan ia masih berdiri diambang pintu yang setengah terbuka.
"Alesha, kalau kau tidak menutup pintunya bagaimana aku bisa memakai bajuku." Ucap Levin yang menahan tawanya.
"Kau bisa menunggu di luar sebentar, atau kau mau masuk dan menungguku di dalam?" Canda Levin.
"Tidak, maaf aku mengganggu, aku lupa kamarku, dan aku salah masuk kamar." Balas Alesha yang masih memejamkan matanya.
Alesha pun memutar tubuh tiga ratus enam puluh derajat lalu membuka kelopak mata yang sedari tadi dirapatkannya. Tapi anehnya, kedua mata Alesha malah menemukan sebuah objek tubuh yang berdiri tepat dihadapan wajahnya. Alesha pun mendongkak menatap sang pemilik tubuh itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Jacob menunduk sambil mengerutkan keningnya. Kepala bergeser beberapa derajat dan menatap ke dalam kamar. Geraman kecil dari Jacob membuat Alesha sedikit terkejut.
"Ayo.." Jacob menarik paksa tangan Alesha untuk berjalan.
"Heii, tutup pintunya!" Suara Levin yang berteriak dari dalam kamar.
"Mr. Jacob, aduh, sakit, pelan-pelan." Ringgis Alesha. Ia sedikit kesulitan menyamakan langkah kaki Jacob yang cepat dan lebar.
Tanpa banyak bicara, Jacob membuka pintu kamar tamu yang Alesha tempati. Ia masuk dan membawa Alesha ke arah sofa kecil.
"Apa yang kau lakukan dengan Levin?" Jacob mengurung Alesha yang kini terduduk dengan meletakkan kedua lengannya dipinggiran sofa.
Alesha menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."
"Lalu kenapa kau ada di kamarnya saat Levin tidak memakai baju dan hanya ditutupi oleh handuk?" Pertanyaan Jacob seperti sebuah tusukan untuk Alesha, ditambah lagi sorot tajam mata Jacob membuat Alesha merasa semakin takut dan gugup.
"Aku mencari kamarku, dan aku salah masuk kamar." Jelas Alesha.
Jacob menatap mata Alesha lebih intens lagi, memastikan kalau gadis itu tidak berbohong.
"Cukup, aku tidak melakukan apapun, aku bersumpah, aku hanya salah kamar!" Pekik Alesha.
Jacob memundurkan sedikit kepalanya. Sepertinya Alesha memang jujur. Pikir Jacob.
"Kau itu kenapa sih?"
Jacob mengerutkan keningnya saat mendapatkan pertanyaan dari Alesha barusan.
"Kau selalu bersikap berlebihan padaku!" Alesha memajukan sedikit bibirnya. "Jujur saja ya, Mr. Jacob, aku kadang merasa kesal karna sikap overmu itu."
Sorot mata Jacob berubah seketika saat mendengar apa yang Alesha ucapkan barusan. Apa Jacob terlalu berlebihan dalam bersikap pada Alesha? Padahal selama ini Jacob berusaha untuk menjaga Alesha, tapi Alesha malah merasa kalau sikap Jacob itu terlalu berlebihan. Bagaimana pun juga Jacob melakukan itu semua karna ia menyayangi Alesha, ia tidak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Alesha, dan Alesha masih belum menyadari itu semua.
"Aku selalu menuruti ucapanmu, kali ini aku minta agar kau mengurangi sikap overmu padaku, aku merasa tidak enak pada anggota tim lain, Mr. Jacob." Ucap Alesha. "Mungkin kau dan aku hanya menganggap sebagai gurauan saja, tapi yang lain bisa memiliki pemikiran lain. Aku tidak mau membuat rasa kecurigaan yang tidak benar dalam diri mereka terhadap aku dan juga kau."
"Al, aku melakukan itu semua karna..." Balas Jacob yang nyaris saja keceplosan.
"Karna?..." Lanjut Alesha yang kini menyipitkan matanya.
Jacob terdiam, ia nyaris saja keceplosan mengatakan yang sebenarnya pada Alesha. Kata-kata apalagi yang harus Jacob lanjutkan agar membuat Alesha tidak curiga kalau ia menyukainya?
"Karna aku sudah menganggapmu sebagai sahabat terdekatku diantara yang lain."
Alesha mengerutkan keningnya. "Dan kau tidak merasa dekat dengan anggota yang lain?"
"Tidak, Al. Ayolah aku dan yang lain juga dirimu baru kenal beberapa bulan lalu, kita masih membutuhkan adaptasi labih agar bisa saling lebih dekat satu sama lain, dan menurutku diantara anggota tim yang lain kau adalah anggota yang paling cepat dekat denganku. Maka dari itu aku kadang suka bersikap berlebihan padamu ya karna memang kau sudah membuatku cukup nyaman untuk berteman lebih dekat lagi. Tapi bukan berarti aku tidak ingin dekat dengan yang lain, aku juga ingin lebih mengenal dan lebih dekat lagi dengan anggota tim yang lain." Untung saja Jacob cukup pintar dalam memilih kata-kata yang akan ia ucapkan.
Alesha tidak menjawab, tatapan matanya kini masih terus terpaku pada wajah sang mentor. Apa benar Alesha adalah anggota yang lebih cepat dekat dengan mentornya itu? Kenapa juga harus Alesha? Jika dipikir-pikir lagi, apa yang Jacob ucapkan barusan itu ada benarnya. Alesha sendiri baru kepikiran kalau ia sangat dekat dengan Jacob, bahkan ia sudah berani menjahili dan memprotes mentornya itu.
Iya juga, ya, Alesha kadang protes trus marahin, Mr. Jacob udah kaya keorang yang udah kenal lama aja gitu. Tapi kenapa Mr. Jacob gak pernah marah kalau Alesha marahin ? Padahalkan dia mentor Alesha, udahmah Alesha juga suka bersikap songong sama Mr. Jacob. Baik banget sih jadi mentor...... Ucap Alesha dalam hati.