May I Love For Twice

May I Love For Twice
Diacuhkan Dan Menyesal



Menyusul kotak hadiah yang pertama, Alesha pun langsung meraih kotak hadiah keduanya yang berada dalam paper bag satu lagi.


"Tada.." Ucap Levin dengan pelan ketika Alesha membuka kotak hadiah keduanya yang berisikan sepasang sandal cantik dengan heels setinggi sembilan centimeter.



"Aaaa, Mr. Levin ini sangat cantik.." Heboh Alesha. "Aku sangat suka ini, terima kasih, Mr. Levin."


Sayu mata Alesha yang menunjukan rasa bahagia membuat Levin turut bahagia pula.


Hadiah-hadiah itu sengaja Levin beli berdasarkan pilihan tunangan sekaligus calon istrinya, yaitu Tessa. Levin tidak begitu mengerti dengan aksesoris wanita, jadi ia meminta tolong kepada calon istrinya untuk memilihkan tas dan sandal yang cocok dengan Alesha. Memang diawal Tessa merasa curiga terhadap Levin yang berniat membelikkan kado mahal untuk gadis lain, namun setelah mendengar penjelasan Levin bahwa Alesha adalah murid WOSA yang sudah seperti adik dan keluarga sendiri, baru lah Tessa mengerti. Tetapi untuk kado gelang emas itu Levin sendiri yang langsung memilihnya tanpa melalui perantara siapa pun.


"Semoga kau menyukainya dan selalu memakainya." Ucap Levin dengan ramah. Lalu kemudian, Levin pun meraih pergelangan lengan Alesha yang dipakaikan gelang emas pemberiannya itu.


"Terutama gelang ini, Alesha. Aku membelikkan gelang ini sebagai tanda kalau sekarang kau adalah bagian dari keluargaku. Kau adikku sekarang." Levin menaruh coelan gemas pada ujung hidung Alesha.


Haru rasa yang membuat hati Alesha berbinar-binar setelah mendengar ucapan Levin. Tidak ada kasih sayang keluarga, namun kini ia mendapatkan kasih lain dari orang yang semula asing. Mata Alesha berkaca-kaca, tak kuasa menahan sesuatu dalam hati yang membuatnya menjadi lebih percaya diri karna sudah menemukan kembali keluarga baru yang tak disangka-sangka.


"Hei, kenapa menangis?" Levin menyerka lembut air mata yang mengendap diujung kelopak Alesha.


"Aku pikir tidak akan ada orang yang pernah menyayangiku lagi setelah kepergian orang tuaku, hiks."


"Tidak, kau salah. Aku menyayangimu, Jacob menyayangimu, kau memiliki teman-temanmu, kita keluarga sekarang, Alesha."


"Aku tidak tahu kenapa, tapi mengenal kalian adalah keberuntungan untukku." Alesha menatap sendu pada Levin. "Terima kasih banyak sudah hadir. Aku juga sayang pada kalian."


Levin tersenyum hangat, lengannya bergerak pelan dipuncak kepala Alesha.


Alhamdulillah. Alesha gak tau harus berterima kasih kaya gimana. Tapi Alesha seneng banget. Beruntung Alesha bisa masuk WOSA trus ketemu sama Mr. Jacob, Mr. Levin, Mrs. Laras, sama temen-temen. Di sini Alesha dapet semua kasih sayang dan keceriaan yang jarang Alesha dapetin di rumah. Terutama Mr. Jacob, dia bener-bener kasih apa yang Alesha butuhin selama ini. Alesha sayang semua..... Ucap Alesha dalam hati.


Ketika Alesha menundukkan kepala untuk membiarkan hatinya berbicara, tiba-tiba saja pandangannya terpusat pada satu benda kecil yang melingkari jari manis Levin.


Itu cincin?


Alesha mengangkat wajahnya seraya melayangkan tatapan bingung pada Levin.


"Sejak kapan kau memakai cincin?"


Levin langsung tertawa kecil saat mendapatkan pertanyaan itu. Ia memang belum mengatakan pada siapa pun, kecuali pada si ketua Alesha, Bastian saat tadi secara tidak sengaja Levin berpapasan dengan si ketua itu.


"Sejak seminggu lalu saat aku melangsungkan acara pertunanganku."


"Apa? Kau bertunangan?" Pekik Alesha cukup kencang.


"Syutt pelankan suaramu, sayang. Aku memang belum mengatakan pada siapa pun, kecuali Bastian saat tadi aku bertemu dengannya."


"Kenapa kau tidak memberitahu padaku sebelumnya? Siapa wanitanya? Apa aku boleh melihat fotonya?" Tanya Alesha dengan penuh semangat.


"Namanya Tessa."


"Nama yang bagus." Puji Alesha.


"Ini fotonya." Lalu Levin membuka galeri digital pada ponselnya untuk menunjukkan sebuah foto wanita yang bukan lain adalah Tessa, calon istri Levin.


"Ah, cantiknya. Dia cocok denganmu, Mr. Levin." Seru Alesha.


"Kau tau, yang memilihkan tas dan sepatu itu adalah dia."


Mendengar itu Alesha pun langsung melongo, menatap tidak percaya pada pria yang ada didepannya.


"Aku tidak begitu mengerti dengan aksesori wanita, jadi aku memintanya untuk memilihkan yang bagus untukmu." Lanjut Levin dengan santainya.


"Kau tidak bercandakan, Mr. Levin?"


"Apa aku terlihat bercanda."


"Ya, sedikit."


"Kalau begitu lihat ini agar kau percaya." Levin pun menunjukan sebuah pesan percakapan dengan Tessa pada layar ponselnya. Dan benar saja, Tessa mengirimkan foto tas dan sandal yang diberikan oleh Levin untuk Alesha.


"Mr. Levin, kau ini! Bagaimana jika calon istrimu itu cemburu dan menuduh yang tidak-tidak padaku." Ucap Alesha sembari memajukan bibirnya.


"Hahahah.." Tawa Levin. "Awalnya dia memang curiga, tapi aku sudah menjelaskan semuanya dari awal kita bertemu dan juga hubunganku denganmu. Aku bilang padanya kalau kau sudah aku anggap sebagai adikku, dan aku menyayangimu sebagai seorang kakak. Maka dari itu dia percaya." Jelas Levin.


"Mr. Levin, kau ini ada-ada saja." Alesha menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil tersenyum hingga melihatkan gigi-giginya yang berderet rapi.


Levin pun turut tersenyum, namun sesaat kemudian ia menyadari satu hal. Ia tahu kalau tadi ada Jacob yang melihatnya bersama Alesha, bahkan Jacob sempat membidiknya dengan tatapan penuh amarah.


"Sekarang temui mentormu, dia mencarimu sejak tadi, Al." Ucap Levin sembari mengelus rambut Alesha. Aish, tangannya itu gatal sekali berseluncur dimahkota kepala Alesha.


"Mencariku?" Alesha mengerutkan keningnya.


"Ya, temui dia sekarang di ruangannya, atau dia akan semakin marah padamu."


"Marah? Apa salahku?" Sebelah alis Alesha terangkat menandakan perasaan bingung yang semakin bertambah.


"Tidak ada, hanya saja temui dia sekarang. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu padamu."


Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali dengan tetap menatap ke arah Levin.


"Sudah jangan banyak berpikir, kau tahu sendirikan bagaimana sikap mentormu itu. Cepat sana temui dia." Levin pun mendorong tubuh Alesha agar bangkit dari bangku.


"B-baiklah." Balas Alesha dengan ragu. "Oh, ya sekali lagi terima kasih banyak ya, Mr. Levin untuk kadonya, aku sangat menyukai ini." Alesha memeluk gemas dua paper bag yang ia genggam.


Levin menyipitkan kedua matanya sambil tersenyum lalu membalas. "Sama-sama, sayang."


"Dah, Mr. Levin." Ucap terakhir Alesha sebelum ia mulai berjalan meninggalkan Levin sendirian di taman itu.


"Hmm, semoga aku bisa memiliki seorang anak sepertimu, Al. Manis, lucu, aktif, dan pintar." Gumam Levin. Ia tersenyum kecil sambil terus memperhatikan Alesha yang berlari kecil dan semakin menjauh darinya.


Beralih menuju ruangan Jacob, mentor itu sedang terduduk dibangku kerjanya. Moodnya sedang tidak bersahabat saat ini setelah ia melihat Alesha yang bersama Levin tadi.


"Mr. Jacob, ini kartu memori miliki tim kita, aku sudah memberikan pada Mr. Thomson tadi, tapi dia bilang kartunya diserahkan kementor masing-masing." Ucap Bastian yang tanpa izin menyelonong masuk ke dalam ruangan Jacob.


Tetapi Jacob tidak menjawab, ia tidak menyadari apa yang Bastian ucapkan, pikirannya itu masih tertuju pada Alesha dan rasa cemburunya.


"Mr. Jacob." Bastian menghentakkan pelan lengannya pada meja kerja Jacob hingga membuat mentornya itu terlonjak kaget.


"Ck, kau ini!" Jacob mendengus sambil menatap sebal pada Bastian.


"Ini kartu memori milik tim kita." Balas Bastian dengan suntai.


"Taruh saja disitu!" Titah dingin Jacob.


Merasakan ada yang aneh dan berbeda dengan mentornya, Bastian penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya. "Ada apa denganmu?"


Sayangnya Jacob enggan menjawab. Ia itu sedang merajuk, dan malas berbicara dengan siapa pun.


Lalu Bastian pun berpikir. Biasanya mentornya itu tidak akan bersikap seperti itu kalau bukan karna pekerjaan yang tidak kunjung selesai dan juga Alesha. Namun dilihat oleh Bastian, mentornya itu tidak sedang disibukkan oleh banyak pekerjaan.


"Kau sedang memikirkan Alesha ya?" Celetuk Bastian yang seketika mendapatkan tatapan tajam dari mentornya. "Huuu, jangan tatap aku seperti itu, aku hanya bertanya." Refleks Bastian mundur beberapa langkah setelah mendapat respon tidak enak dari mentornya.


Jacob pun kembali membuang wajahnya dengan ekspresi yang semakin ditekuk penuh kesebalan.


"Ah, jangan-jangan kau melihat Alesha yang bersama Mr. Levin tadi di taman." Sindir Bastian dengan nada meledek.


Jacob tidak menjawab, namun hasilnya adalah geraman kecil yang ia keluarkan.


Bastian terkekeh. Mentornya itu sedang dilanda kecemburuan rupanya.


"Tadi aku lewat taman belakang dan melihat Alesha yang sedang berbincang asik dengan Mr. Levin."


Jacob menggebrak pelan mejanya dan membuat Bastian cukup terkejut.


"Jika urusanmu sudah selesai, kau bisa segera pergi dari ruanganku."


Mendengar itu rasanya Bastian ingin sekali tertawa. Mentornya itu sangat lucu jika sedang cemburu.


"Baiklah, baiklah, aku akan pergi, Mr. Jacob." Balas Bastian sembari mengembungkan pipinya untuk menahan tawa ingin sekali dilepaskan. Ia pun membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan untuk keluar ruangan, dan saat ia membuka pintu tiba-tiba saja Alesha muncul dihadapannya.


Mereka berdua sama-sama saling terkejut, namun karna hal itu juga Bastian jadi melepaskan tawanya yang ia tahan. Apalagi saat melihat wajah gadis yang menjadi penyebab kecemburuan pada mentornya.


"Kau kenapa?" Alesha mengerutkan keningnya saat melihat Bastian yang tertawa.


Bastian menyerka air mata tawa yang ada disudut matanya. "Tidak apa. Cepatlah masuk temui mentormu." Setelah mengucapkan itu, Bastian pun segera melewati Alesha untuk kembali berjalan.


Alesha membalikkan tubuhnya untuk melihat si ketua yang tertawa sambil terus berjalan menjauh.


"Dasar aneh." Gumam Alesha. Ia pun kembali membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah pintu, tetapi untuk yang kedua kalinya dan hanya selang beberapa detik kemudian sebuah tubuh tinggi besar yang kokoh sudah berdiri tegap dihadapannya dan membuat Alesha terlonjak hingga membuatnya mundur beberapa langkah.


"Astagfirullah." Alesha menghela napas sembari mengusap dadanya untuk menenangkan diri yang kaget akibat kemunculan sang mentor dengan tiba-tiba dihadapannya.


Berbanding terbalik dengan Alesha, Jacob malah bersikap dingin dan menatap malas pada Alesha.


"Ada apa?" Tanya Jacob yang niat tidak niat sembari melipatkan kedua tangannya.


Alesha menghembuskan napasnya dengan tenang saat rasa kaget itu mulai menghilang dari dirinya. "Tadi Mr. Levin bilang kalau kau mencariku."


Sebelah alis Jacob terangkat, namun ia tidak membalas ucapan Alesha.


"Ada apa?" Tanya balik Alesha.


Bukannya menjawab, Jacob malah memutar tubuhnya dan masuk ke dalam ruangannya. Lalu Alesha berlari kecil untuk menyusul langkah mentornya itu.


"Mr. Jacob, gelangnya bagus tidak? Aku diberi oleh Mr. Levin." Ucap Alesha dengan senyum yang merekah.


"Hmmm.." Balas Jacob singkat.


Alesha masih belum menyadari kalau mentornya itu sedang merajuk dan marah padanya. Ia pun menatap kesekelilingnya. Ruangan Jacob terlihat rapi dan tidak ada tumpukan kertas atau surat-surat yang biasanya dikerjakan. Senyum Alesha semakin mengembang saat pikirannya memberitahu kalau mentornya itu tidak sedang sibuk.


"Ah, ya, Mr. Jacob kau se.."


"Hallo, bisa aku pergi laboratorium sekarang?" Ucap Jacob yang ternyata sedang berteleponan dengan seseorang. Alesha pun langsung membungkam mulutnya agar tidak mengganggu sang mentor.


"Baiklah.." Setelah mengucapkan itu Jacob bangkit dari duduknya dan berjalan begitu saja melewati Alesha yang masih tertegun.


Merasa seperti diacuhkan, Alesha pun bangkit dan berlari kecil untuk menghampiri mentornya.


"Kau mau kemana lagi, Mr. Jacob?" Tanya Alesha yang sama sekali tidak dibalas oleh Jacob. Pria itu terus menyibukkan diri dengan ponselnya.


"Kalau tidak sibuk, apa kau bi..."


"Hallo, aku ke sana sekarang." Ucap Jacob yang entah berbicara dengan siapa melalui sambungan teleponnya.


Alesha benar-benar diacuhkan saat ini oleh Jacob. Namun Alesha tidak marah, mungkin mentornya itu sedang sibuk dengan urusan lain.


"Mr. Jacob, jika kau sudah..."


"Jangan mengikutiku. Aku ada banyak urusan!" Tepat dipersimpangan jalan, Jacob pun meninggalkan Alesha tanpa melirik pada gadis itu sedikit pun.


Alesha langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar perintah dingin dari mentornya itu. Ia tertegun, rasanya seperti ada yang aneh dengan mentornya itu.


"Huft..." Alesha menghembuskan napasnya. Sorot matanya menurun dan memperlihatkan sebuah tatapan kesedihan. Alesha masih belum mengalihkan pandangannya dari sosok Jacob yang berjalan kian menjauh darinya.


Reflek kepala Alesha tertunduk sedih. Ia pikir mentornya tidak sibuk, tapi ternyata ia salah.


"Yaudah deh, bisa lain kali, Mr. Jacob lagi banyak kerjaan kalau sekarang." Gumam Alesha. Ia pun membalikkan tubuhnya dengan niat untuk pergi ke taman belakang gedung mentor. Namun saat ditengah perjalanan, Alesha berpapasan dengan Laras.


"Hai, Alesha." Sapa manis Laras.


"Hai, Mrs. Laras." Sapa balik Alesha sambil tersenyum manis.


"Aku mencarimu sejak kemarin, tapi Jacob bilang kau tidak bisa diganggu karna masih harus beristirahat." Ucap Laras sembari memakaikan Alesha sebuah mahkota bunga yang cantik.


"Eh, Mrs. Laras, apa ini?" Kening Alesha berkerut hingga kedua ujung alisnya saling bertautan.


"Hadiah kecil, timmu juara pertamakan." Jawab Laras sambil tersenyum manis.


"Aish, Mrs. Laras ini, terima kasih." Balas Alesha dan menunjukan eye smile -nya.


"Hehe, selamat ya." Laras mengusap pelan puncak kepala Alesha.


"Oh ya, Al, aku masih ada urusan jadi tidak bisa berlama-lama di sini, nanti malam atau besok kita bertemu lagi ya." Lanjut Laras.


Alesha mengangguk kecil sebagai balasannya.


"Bye, manis." Laras menyempatkan untuk mencubit pelan pipi Alesha, lalu setelah itu ia pun berlalu pergi meninggalkan Alesha.


Begitu pun Alesha, ia kembali melanjutkan jalannya menuju taman belakang gedung mentor untuk menghilangkan rasa bosannya.


Sedangkan untuk Jacob, saat ini ia sedang duduk menyendiri di taman yang lain. Sebenarnya tadi ia berbohong. Ia tidak menelpon siapa pun atau memiliki pekerjaan apapun. Ia sedang malas saja dengan Alesha. Terlalu cemburu membuat Jacob jadi acuh pada Alesha.


Jacob berdecak sebal. "Maaf, Alesha. Aku tidak seharusnya seperti ini, namun kau membuatku benar-benar merasa cemburu." Ia pun bangkit dari duduknya dan berniat untuk kembali ke ruangannya. Menyendiri di taman itu bukan berarti Jacob sendirian. Beberapa murid wanita yang bertingkah untuk mengambil perhatiannya membuat Jacob jengah dan malas untuk lebih lama lagi berada di taman itu.


***


"Alesha, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Levin yang kembali mendapati Alesha sedang asik sendirian disebuah bangku taman sembari menggambar sebuah kaligrafi indah dibuku catatannya.


"Dimana mentormu?" Tanya Levin lagi sembari mengambil tempat untuk duduk disebelah Alesha.


"Dia sibuk." Balas Alesha singkat.


"Teman-temanmu? Kenapa tidak kembali ke messmu saja?"


"Aku bosan, Maudy dan Merina asik bermain game, Stella sedang berkutik dengan make upnya, dan Nakyung tidur." Jawab Alesha yang masih fokus menggambar kaligrafi dibuku diarynya.


Levin terkekeh saat mendengar jawaban dari Alesha. Kasihan, malaikat manis itu kesepian dan membutuhkan teman. Pikir Levin.


Tetapi kemudian perhatiannya teralihkan pada mahkota bunga yang Alesha pakai dikepalanya. Senyum Levin semakin mengembang, ia menyadari Alesha terlihat sangat manis dengan mengenakan mahkota bunga itu. Sayang Jacob tidak mau menemaninya gadisnya. Levin tahu kalau Jacob tidak sedang sibuk, ia juga tahu kalau Jacob marah dan cemburu, maka dari itu Jacob enggan menemani Alesha.


"Kau cantik sekali, sayang. Dari mana kau mendapatkan mahkota bunga itu?" Tanya Levin dengan gemasnya.


"Ah, ini." Alesha meletakkan penanya untuk berhenti menggambar lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Levin.


"Mrs. Laras yang memberikannya padaku. Sebagai ucapan selamat karna tim kami berhasil meraih peringkat pertama dalam tes ujian akhir semester dua."


Alesha menyentuh mahkota bunganya yang sedang ia pakai sembari mengangkat kedua pupil matanya ke atas.


"Apa aku terlihat aneh?" Tanya Alesha.


"Kau sangat cantik, Alesha." Puji Levin.


"Sungguh, terima kasih, Mr. Levin." Balas Alesha.


Ah, ya. Eye smile itu. Jantung Levin berdegub kencang ketika Alesha memiringkan kepalanya sembari menyunggingkan senyum yang sangat manis. Sungguh gadis dihadapannya itu bisa membuat Levin lupa kalau ia sudah bertungan dan akan segera menikah.


Jika saja bukan karna Jacob dan Tessa, aku akan memilihmu untuk menjadi istriku, Al..... Ucap Levin dalam hati.


"Tulisan yang indah, bagaimana kau bisa membuat dengan sangat sempurna, Al?" Tanya Levin yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Tetapi ia cukup terkesima dengan tulisan kaligrafi yang Alesha buat. Sangat indah.



"Alesha diajari oleh ibu dan guru mengaji saat masih kecil." Jawab Alesha. Ia pun lanjut memberikan sedikit hiasan tambahan pada kaligrafi hasil tangannya itu.


Dan secara diam-diam, Levin mengangkat ponsel miliknya lalu mengambil foto Alesha yang sedang menggambar. Ia berniat untuk mengirimkan foto itu pada Jacob.


"Kau pandai menggambar ya?"


"Hehe, sedikit."


"Bisa kau gambarkan sesuatu untukku?" Levin mengelus lembut rambut Alesha yang terurai.


"Gambar apa? Tapi aku tidak bisa menggambar hewan atau manusia."


"Terserah."


Lalu Alesha meletakkan ujung pena yang sedang ia pegang disudut bibirnya. "Ehmm.." Matanya menatap pada Levin, berpikir gambar apa yang cocok ia buatkan untuk pria tampan yang ada dihadapannya itu.


Sedangkan dilain tempat, tepatnya di dalam ruangannya, Jacob menerima sebuah notifikasi pesan masuk yang berasal dari Levin.


Jacob berdecak sebal. Kenapa juga rivalnya itu mengirimkan pesan? Tidak tahu Jacob sedang merajuk apa?


Dengan berat hati dan sangat malas, Jacob pun meraih ponselnya lalu membuka pesan yang Levin kirimkan itu.


"Alesha?" Kening Jacob berkerut, dan sepersekian detik kemudian segaris senyum pun terbentuk ketika melihat pesan berupa visual cantik yang Levin kirimkan.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Al." Gumam Jacob. Dalam benaknya, Jacob terus saja memuji malaikat manis selir hatinya itu.


(Levin: Cepat ke taman belakang gedung mentor. Alesha sedang bosan dan kesepian. Sejak tadi ia sendirian. Temani dia, aku tahu kau sedang tidak sibuk. Jangan hanya karna rasa cemburumu itu kau mengacuhkannya begitu saja. Atau jika kau tidak datang juga, itu berarti aku yang akan terus menemaninya seharian ini, bahkan besok dan besoknya lagi.)


Begitulah kutipan pesan yang Jacob baca melalui layar ponselnya.


"Ck! Levin!" Geram Jacob. "Selalu saja mengganggu hubunganku dengan Alesha!"


Jacob bangkit dari bangku kerjanya. Ia ingin menyusul Alesha yang saat ini sedang ditemani oleh Levin di taman belakang gedung mentor. Api cemburunya akan semakin berkobar jika ia terus membiarkan Alesha berduaan bersama Levin. Jacob sangat tidak menyukai itu, memang Levin tidak berniat untuk merebut Alesha, tapi tetap saja yang namanya cemburu tidak bisa terelakkan.


Langkahnya yang besar membuat Jacob tiba dengan cepat di taman tempat Alesha dan Levin berada. Benar saja, tidak jauh dari pandangannya, Jacob bisa melihat kalau Alesha sangat asik menikmati waktu berdua bersama Levin.


Huh, Jacob menahan rasa sesak pada dadanya. Alesha sangat akrab dan lengket dengan Levin, itu membuat hati Jacob sakit. Jujur saja, Jacob merasa sedih.


"Ekhem."


Suara deheman berat yang Jacob keluarkan pun menghentikan aktivitas Alesha dan Levin yang sedang asik bercanda.


"Mr. Jacob?" Alesha mengangkat wajahnya untuk menatap sang mentor yang sedang berekspresi dingin.


"Apa aku mengganggu waktu kalian?" Sindir Jacob.


"Tidak." Alesha menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kenapa memangnya?"


"Tidak apa." Balas Jacob dengan malas. Ia pun segera membawa dirinya untuk duduk sedekat mungkin dengan Alesha dan mengabaikan Levin yang sedang melayangkan senyuman meledek.


"Kau sedang apa sendirian di sini?" Tanya Jacob.


"Aku tidak sendiri, aku bersama Mr. Levin." Jawab Alesha, namun dengan tatapan mata yang kembali terfokus pada tangannya yang kini sedang mengukir bentuk kaligrafi lain.


"Tadinya aku ingin memintamu untuk menemaniku di pantai. Aku bosan, yang lain sibuk dengan urusan masing-masing, aku pikir menggambar kaligrafi di pinggir pantai bisa menghilangkan rasa bosanku. Tapi karna kau sibuk, aku tidak jadi ke sana. Maaf tadi aku mengganggu kesibukanmu, Mr. Jacob." Lanjut Alesha yang masih tetap menyibukkan dirinya dengan menggambar ukiran kaligrafi pada buku diarynya itu.


Dan seketika, Jacob pun langsung terkesiap saat kupingnya mendengar ucapan Alesha barusan. Rasa kecewa terhadap diri sendiri menggelombang dalam dada Jacob. Alesha sedang membutuhkannya untuk dapat menemani, namun Jacob malah menghindar. Ia merasa sangat bersalah atas perilakunya pada Alesha tadi. Gadisnya itu berpikir kalau ia benar-benar sibuk dengan banyaknya pekerjaan, padahal Jacob sama sekali tidak memiliki pekerjaan untuk hari ini.


Maafkan aku Alesha. Kau selalu bersamaku saat aku kesepian dan memintamu untuk menemaniku. Tapi sekarang, saat kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu aku malah menghindarimu. Maaf, maafkan aku, Alesha, maafkan aku, sayang... Rintih Jacob dalam hatinya.


Sorot mata Jacob menjadi sayu, dan menampakkan sebuah kesedihan yang tersirat secara mendalam.


"Kau mau ke pantai? Kalau begitu ayo, aku akan menemanimu." Ucap Jacob dengan sangat lembut.