May I Love For Twice

May I Love For Twice
Levin VS Jacob



Hari ini Jacob kembali mementori timnya. Ia tersenyum saat melihat Alesha, Stella, dan Bastian yang sedang membersihkan gedung mentor pagi-pagi.


"Apa yang harus kita bersihkan?" Tanya Stella.


"Gedung ini susah bersih." Sambung Alesha.


"Ke bawah." Ucap Jacob sambil bersandar dengan santai ditembok.


"Bawah?" Tanya Alesha.


"Ada ruangan di bawah." Ucap Jacob lalu berjalan menuntun Alesha, Stella, dan Bastian menuju ruang bawah tanah.


Alesha sendiri tidak tahu kalau gedung mentor memiliki ruang bawah tanah. Ruangan itu berisi arsip dan data murid dari tahun ketahun, juga berisi barang yang sudah tidak terpakai.


"Mr. Jacob, aku akan ke toilet dulu." Izin Alesha. Jacob mengangguk. Alesha segera pergi menuju toilet yang letaknya tidak jauh dari gedung mentor.


Setelah sampai, Alesha masuk ke dalam toilet khusus wanita selama beberapa menit, kemudian ia keluar lagi. Saat sedang berjalan di koridor, ia berpapasan dengan seorang lelaki.


"Haii, Alesha." Sapa lelaki itu. Alesha sedikit terkejut lalu tersenyum pada lelaki itu.


"Hai, Mr. Levin." Sapa balik Alesha dengan senyum lebarnya. Alesha bertemu dengan Levin dua hari lalu. Sekarang ini Levin bekerja sebagai petugas keamanan di WOSA. Dua hari lalu Levin meminta Mr. Thomson untuk memperkerjakannya. Levin adalah mantan petugas keamanan di SIO, namun dia keluar karna ada masalah dengan keluarganya.


"Kau mau ke mana?" Tanya Levin.


"Ke gedung mentor, kau tau aku masih dalam masa hukuman." Jawab Alesha. Levin mengangguk.


Alesha dan berjalan beriringan menuju gedung mentor.


"Hai, Mr. Jacob." Jacob berbalik saat melihat Alesha datang. Senyumnya hilang saat melihat Levin berjalan disebelah Alesha.


"Perkenalan, dia Mr. Levin, petugas penjaga baru disini." Ucap Alesha. Levin juga sama terkejutnya. Jacob dan Levin saling memandang. Mereka sudah saling mengenal sebelumnya. Jacob tau kalau Levin keluar dari SIO karna urusan keluarga dan juga punya beberapa konspirasi dengan beberapa orang yang tidak SIO tau. Jacob tau itu karna Jacob pernah melihat Levin sedang melakukan pertemuan dengan orang-orang jahat yang maruk dengan kekayaan dua tahun lalu.


Jacob harus waspada karna WOSA menerima Levin. WOSA dan SIO tidak mengetahui tentang konspirasi Levin dan orang-orang jahat itu.


"Mr. Levin, dia Mr. Jacob, mentor ku." Ucap Alesha. Levin hanya mengangguk.


Jacob masih menatap sinis pada Levin. Merasa tidak enak dan risih karna tatapan Jacob. Levin memilih untuk pergi.


"Alesha, aku pergi dulu ya, nanti kita bertemu lagi." Ucap Levin. Alesha mengangguk.


"Bye, byee.." Alesha melambaikan tangannya ke arah Levin sambil tersenyum. Jacob merasa terganggu melihat Alesha yang seperti itu. Jacob menurunkan tangan Alesha yang masih melambai pada Levin.


"Tidak usah berlebihan." Ucap Jacob datar.


"Kenapa?" Tanya Alesha. Jacob tidak menjawab dan mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Mr. Levin orang yang baik. Dia baru dua hari di sini dan sangat ramah padaku, dia juga membantuku, Stella, dan Bastian saat membersihkan taman." Puji Alesha sambil tersenyum. Jacob mengabaikannya.


"Dia juga membuatkan aku makanan malam kemarin saat aku sedang beristirahat dan saat kau masih di SIO. Dia tau aku lelah, dia membawakan aku teh hangat dan semangkuk mie." Lanjut Alesha.


"Dan kau menyukainya?" Tanya Jacob dengan malas.


Alesha mendongkak. Ia menatap Jaocb. "Tidak." Alesha menggelengkan kepalanya. "Tapi dia memang tampan." Lanjutnya sambil tersenyum. Jacob menghela nafasnya. Ia segera berjalan dan meninggalkan Alesha dengan raut wajah kesal yang tertahan. Alesha bingung saat melihat ekspresi Jacob, namun Alesha mengabaikannya. Ia kembali fokus untuk melanjutkan hukumannya.


***


Jacob berjalan sendiri di taman dengan wajah yang menahan kesal. Hatinya terasa dilempar batu karna ucapan Alesha.


Jacob mendengus. Ia bingung, apa yang akan Levin lakukan disini? Jika Levin berani macam-macam dengan anggota timnya, Jacob tidak akan segan untuk menghabisi Levin.


"Mr. Jacob, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Maudy yang berjalan bersama Merina.


"Tidak apa-apa. Apa yang kalian lakukan? Kenapa tidak belajar?" Tanya balik Jacob.


"Kami dari toilet." Jawab Merina.


"Di mana Alesha, Stella, dan Bastian?" Tanya Maudy.


"Mereka di gedung mentor." Jawab Jacob.


"Aku kasihan pada mereka. Aku rasa hukumannya terlalu berat. Alesha dan Stella selalu kembali ke mess saat malam hari. Mereka kelelahan." Ucap Maudy.


"Kau tidak bisa meringankan hukumannya?" Tanya Merian para Jacob.


"Tidak. Itu sudah keputusan Mr. Thomson. Aku hanya bisa mengawasi mereka selama masa hukuman." Jawab Jacob.


Maudy dan Merina mengangguk paham. "Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu ke kelas ya." Ucap Merina. Jacob menangguk.


***


Levin sedang menunggu Alesha di taman. Alesha sudah berjanji untuk menemuinya siang ini.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Jacob yang tiba-tiba datang dan menatap dengan sinis.


"Berusaha untuk membebaskan keluargaku." Jawab Kevin dengan datar.


"Keluarga? Bukannya untuk menjadi pelayan orang-orang itu." Jacob menyipitkan matanya.


Levin menahan emosinya. "Jangan kau kira aku tidak tahu tentang konspirasimu dengan orang-orang itu." Lanjut Jacob.


"Ya, kau benar dan sekarang aku harus membawa salah seorang murid WOSA." Balas Levin. "Aku sudah tau murid WOSA yang mana yang harus aku bawa."


Jacob sadar. Ia tau maksud Levin dan siapa yang dimaksud.


"Jika kau membawanya, aku tidak akan segan untuk menghajarmu." Jacob menatap tajam pada Levin.


"Kenapa? Kau takut?" Ledek Levin dengan seringainya.


Jacob menahan emosinya yang sudah memuncak.


"Mr. Jacob, Mr. Levin." Sapa Alesha yang tiba-tiba datang membawa sapu dan kemoceng. Alesha menatap bingung pada Levin dan Jacob.


"Alesha, bisa kau ikut aku sebentar, kita tidak bisa berbicara di sini." Ucap Levin ramah pada Alesha.


Alesha tersenyum sambil mengangguk.


"Ayo." Levin menarik tangan Alesah. Jacob menahan tangan Alesha yang satu lagi.


"Aku ikut." Ucap Jacob. Alesha menatap Levin.


"Tapi aku harus bicara berdua dengan Alesha." Balas Levin.


"Aku mentornya, kau tidak bisa melarangku." Jacob menyeringai. Levin menahan emosinya.


"Ayo." Levin menarik tangan Alesha untuk berjalan. Jacob yang melihat itu langsung melepaskan tangan Alesha dari tangan Levin. Alesha berjalan ditengah-tengah. Wajah Jacob dan Levin terlihat datar, namun ada sedikit raut emosi diwajah Levin.


Ada apa antara mereka?..... Pikir Alesha. Mereka terus saja berjalan tanpa tujuan. Levin bingung harus bagaimana karna Jacob ikut bersama mereka.


"Al, aku rasa aku harus pergi dulu sekarang, aku akan menemuimu nanti." Ucap Levin lalu berlalu pergi. Alesha bingung melihat Levin yang tiba-tiba saja meninggalkannya.


Tadi katanya mau bilang sesuatu, sekarang malah pergi........Batin Alesha.


Jacob menyeringai. Akhirnya Levin pergi juga dengan sendirinya.


Alesha mendongkak menatap bingung pada Jacob. "Dia kenapa?"


Jacob mengedikan bahunya. "Dia memang seperti itu."


"Ayo, kau harus melanjutkan hukumanmu." Ucap Jacob. Alesha mendengus.


"Kenapa? Tidak mau melanjutkan hukumannya?" Ledek Jacob. Alesha menggeleng kan kepala dan berjalan mendahului Jacob. Jacob tersenyum di belakang Alesha.


Alesha segera menyusul Stella dan Bastian untuk membersihkan kebun belakang WOSA lagi. Jacob memantau ketiga anggota timnya sambil tersenyum. Ia merasa ingin tertawa saat melihat Alesha, Stella, dan Bastian diberi hukuman seperti itu oleh Mr. Thomson.


Jacob menghampiri Alesha yang sedang menyiram tanaman dengan air dari selang. Jacob tersenyum meledek ke arah Alesha.


"Apa?" Sinis Alesha. Jacob terkekeh.


"Kau tidak meratakan airnya dengan benar." Ucap Jacob. Alesha mendengus. Alesha terus menyirami tanaman itu dan mengabaikan Jacob.


"Kau harus meratakan airnya, Alesha." Ucap Jacob lagi. Alesha masih mengabaikannya. Karna merasa diabaikan, Jacob punya niat usil pada Alesha. Jacob tersenyum. Ia mendekati Alesha. Alesha menatap Jacob dengan Sinis karna ia tahu kalau Jacob hanya akan meledeknya dan juga Stella, dan Bastian.


Dengan sekali gerakan, Jacob mengambil air dari selang yang sedang Alesha gunakan. Jacob menciprati Alesha dengan air yang mengucur dari selang itu.


"Mr. Jacob!!!!" Teriak Alesha marah. Seragam dan wajahnya jadi basah karna ulah Jacob. Bastian, dan Stella yang melihat itu hanya tertawa cekikikan.


"Aaarrgghh, bajuku basahhh!!!" Erang Alesha. Rambut Alesha menjadi sangat basah.


"Kemari kau!!!" Alesha mengejar Jacob dan mengarahkan selang itu pada Jacob. Jacob juga jadi basah karna air dari selang itu. Mereka saling mengejar. Alesha benar-benar marah pada Jacob kali ini, namun Jacob hanya tertawa. Bastian dan Stella pun terkena imbasnya. Alesha menyirami mereka karna ikut menertawakannya.


"Alesha, stopp!!" Ucap Stella sambil memposisikan tangannya di depan wajahnya untuk menahan air agar tidak mengenai wajahnya.


"Alesha, cukup!" Ucap Bastian.


"Tidak, aku benar-benar marah!!" Alesha menatap Jacob yang masih tertawa. Tatapan tajam dari Alesha tidak membuat Jacob menghentikan tawanya.


Alesha memiliki ide cerdik untuk membalaskan kekesalannya pada Jacob.


"Mr. Jacob." Panggil Alesha lirih. Ia pura-pura memegang kepalanya dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Jacob yang melihat itu langsung panik. Ia segera berlari ke arah Alesha. Ia menangkap tubuh Alesha yang akan terjatuh.


"Alesha!" Panggil Jacob panik.


Alesha menjatuhkan tubuhnya ke tanah. "Mr. Jacob, kepalaku sakit." Alesha memegang kepalanya. Ia mulai menarik turunkan dadanya, pura-pura sesak nafas. Setelah itu ia segera menutup matanya, pura-pura pingsan.


Jacob merengkuh tubuh Alesha. Ia menepuk pipi Alesha. Alesha bisa merasakan rasa panik dan ketakutan Jacob.


Siapa suruh bermain-main denganku.... Batin Alesha.


Selama beberapa saat Jacob terus memanggil namanya. Namun, yang namanya Alesha tidak bisa menahan tawa terlalu lama. Kemudian ia tersenyum sambil masih menutup matanya. Jacob, Stella, dan Bastian bingung melihat Alesha yang tiba-tiba tertawa. Alesha mengambil selang yang airnya masih mengucur. Ia membuka matanya dan tersenyum kearah Jacob.


"Just kidding." Ucap Alesha lalu menyemprotkan air dari selang itu pada Jacob. Jacob segera bangkit menghindari air yang diarahkan kepadanya. Alesha tertawa puas, sangat puas. Ia memukul-mukul tanah dan memegangi perutnya.


Stella merasa jengah melihat tingkah Alesha. Ia mengambil selang itu dan mengarahkannya pada Alesha. Alesha basah kuyup sekarang. Jacob tersenyum kecil saat melihat Alesha yang tertawa begitu puas. Ada rasa bahagia dihatinya.


"Cukup, aku lelah tertawa." Ucap Alesha yang mulai berhenti tertawa.


Jacob menarik tangan Alesha untuk berdiri. "Kalian lanjutkan di sini." Ucap Jacob pada Bastian, dan Stella.


"Dan kau, aku harus menghukummu karna ini." Ucap Jacob pada Alesha, ia menarik tangan Alesha untuk berjalan.


Jacob membawa Alesha keruangannya. Ia meminta Alesha untuk menunggu sebentar. Jacob masuk kekamarnya. Ia mengambil seplastik besar benih buah yang dititipkan Mr. Frank untuk ditanam di WOSA.


"Ini, tanam ini." Jacob memberikan bungkusan benih itu pada Alesha. "Dan lakukan sendiri!" Ucap Jacob dengan penekanan kata.


"Apa? Mr. Jacob, hukumanku sudah banyak, aku sudah lelah, sekarang kau menambah nya? Apa salahku?" Alesha mendengus kesal. Ia percaya kalau Jacob memang berniat ingin membuat tubuhnya remuk.


"Kau bersalah padaku, dan aku berhak memberikan hukuman padamu." Balas Jacob dengan santai.


"Tapi--"


"Jika kau menolak nilaimu akan aku kurangi lima puluh persen." Potong Jacob. Alesha mendengus kesal. Ia membawa plastik benih itu dengan kasar dan berjalan meninggalkan Jacob. Ia benar-benar marah pada mentornya itu.


"Dia pikir aku robot apa. Aku sudah lelah mengerjakan hukuman yang Mr. Thomson beri, sekarang malah ditambah oleh mentor menyebalkan itu." Gerutu Alesha.


"Aku mendengar itu." Ucap Jacob yang berjalan di belakang Alesha. Alesha hanya mendengus.


Alesha sampai di kebun belakang. Bastian dan Stella bingung melihat Alesha yang membawa plastik besar.


"Jangan bantu dia, biarkan dia lakukan itu sendiri." Ucap Jacob. "Aku menyuruhnya menanam benih buah."


Bastian terkekeh. Stella menahan tawanya.


"Menanam benih sebanyak itu sendirian?" Ledek Bastian.


"Diam kau, Bas!" Saut Alesha dengan nada kesal.


Alesha mulai menanam benih itu di tempat yang sudah dipersiapkan. Walau sudah dipersiapkan juga tetap saja, benih itu berjumlah ribuan, dan Alesha harus menyelesaikannya sendiri? Jacob memang gila.


Jacob tersenyum memandang Alesha yang menanam benih itu dengan raut wajah kesal. Jacob mengingat waktu tadi ia dan Alesha saling kejar-kejaran dan mencipratkan air. Jadi ingin mengulangi lagi.


"Jangan bahagia di atas penderitaan orang lain." Sindir Alesha. Jacob terkekeh lalu tertawa.


"Aku tidak melihat penderitaan diwajahmu." Balas Jacob. Alesha mendengus kesal. Kenapa sih dia harus punya mentor seperti Jacob?


Jacob sendiri tidak tahu sejak kapan ia dan Alesha bisa jadi sedekat itu. Padahal saat masih awal sekali Alesha masuk ke WOSA, dia begitu canggung pada Jacob dan tidak seberani itu. Jacob tersenyum lagi. Gadis itu memang bisa saja membuat Jacob tertawa karna tingkahnya yang lucu dan manis. Kadang sopan, kadang songong, kadang begitu manis, dan kadang mengesalkan.


Jacob pergi keruangannya. Ia harus bersiap karna tidak lama lagi bel akan berbunyi, dan ia harus mengajar anggota timnya di taman tempat ia biasanya mengajar.


***


"Nakyung." Panggil Maudy.


"Kami akan ke kebun belakang untuk melihat Alesha, Stella, dan Bastian." Ucap Maudy. Nakyung mengangguk setuju. Akhirnya, ia dan seluruh anggota timnya pergi ke kebun belakang.


Setelah sampai, mereka menahan tawa karna melihat Alesha, Stella, dan Bastian yang sedang berkebun.


"Beralih profesi." Ledek Lucas.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Bagaimana kalau Mr. Jacob mencari kalian?" Tanya Bastian.


"Kami hanya ke sini sebentar saja untuk melihat kalian." Jawab Mike.


"Melihat atau meledek?" Sindir Stella.


"Tidak, kami tidak meledek kalian, kami hanya ingin melihat kalian saja kok." Balas Maudy.


"Kembalilah, tidak perlu memperhatikan kami, Mr. Jacob akan mencari kalian." Ucap Bastian.


"Tunggu sebentar, kami baru sampai." Saut Lucas.


"Bukan begitu, jika kalian telat kalian mau dihukum seperti Alesha menanam benih buah yang sangat banyak itu." Balas Bastian. Alesha memandang ke arah Bastian lalu ke teman-temannya.


"Aku akan dengan senang hati jika kalian mau membantuku." Ucap Alesha. Teman-temannya itu menggelengkan kepala mereka.


"Tidak, terima kasih, kami akan kembali sekarang." Ucap Nakyung.


"Alesha dihukum Mr. Jacob?" Tanya Aiden.


"Ya, dia menyirami Mr. Jacob dengan air dari selang." Jawab Bastian. Teman-temannya itu menatap kearah Alesha dengan tatapan tidak percaya.


"Mr. Jacob yang memulainya lebih dulu." Bela Alesha pada dirinya.


"Tetap saja dia mentor kita, dan kau, bagaimana bisa seberani itu?" Lucas tertawa lepas diikuti Mike. Dasar kembar tak seiras.


Alesha mendengus. "Puas kalian."


Bastian terkekeh. "Sudah, cepat pergi ke taman." Perintah Bastian. Nakyung menangguk. Ia dan yang lain segera berbalik dan pergi menuju taman untuk menunggu Jacob yang akan mengajar mereka.


Jacob sendiri sudah sampai di taman lebih awal. Ia sudah menyiapkan beberapa sempel bakteri baik yang akan diuji dengan bakteri jahat yang berasal dari air kotor. Jacob menuliskan beberapa langkah di papan tulis kecil yang ia bawa dan ditempelkan di dahan pohon.


Nakyung dan yang lain sudah sampai.


"Hai, Mr. Jacob." Sapa Nakyung.


"Duduk lah, aku akan menjelaskan sedikit kepada kalian tentang cara bagaimana menguji bakteri baik dan jahat." Ucap Jacob. "Oh, ya minggu depan kita akan masuk materi baru." Lanjutnya.


Jacob segera berdiri di depan anggota timnya. Ia mengambil sempel bakteri lalu kemudian menjelaskan jenis dari bakteri itu. Jacob adalah tipe orang yang kalau menjelaskan sesuatu tidak mau panjang lebar, cukup SPJ atau Singkat, Padat, Jelas.


Setelah selesai, Jacob meminta anggota timnya itu untuk memulai eksperimen. Jacob sudah menyiapkan sarung tangan plastik dan handsanitizer. Setelah memastikan kalau anggota timnya sudah siap untuk menguji kedua jenis bakteri itu, Jacob langsung menyuruh mereka untuk memulai eksperimennya.


Jacob mengawasi mereka selama setengah jam untuk memastikan tidak ada kesalahan.


"Aku akan tinggalkan kalian dulu sebentar, aku harus melihat Alesha, Stella, dan Bastian. Pastikan semua berjalan lancar dan jangan sampai ada kesalahan." Ucap Jacob. Yang lain mengangguk paham. Jacob segera pergi menuju kebun belakang.


***


"WOSA memiliki petugas kebun baru di sini." Ledek Brandon. Sejak kapan ia ada di kebun itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Stella.


"Ingin melihat kalian." Jawab Brandon dengan seringainya.


"Diamkan saja dia." Ucap Bastian.


"Apa, Bas? Diamkan aku? Ya ampun kasihan sekali dirimu, turun kasta, dari ketua jadi tukang kebun." Ledek Brandon. Bastian menghiraukannya.


"Tutup mulutmu, Brandon, kau pikir derajat tukang kebun rendah? Dasar bodoh, kalau bukan karna mereka kita bisa kelaparan di sini." Saut Alesha.


"Aku bodoh? Apa kau tidak mengaca? Sepertinya kau yang bodoh, kau masuk ke dalam bangunan kaca itu, padahal kau tau itu dilarang." Balas Brandon.


Alesha terkekeh. "Yang penting aku sudah tau dan melihat apa yang tidak murid WOSA tau di dalam bangunan kaca itu." Balas Alesha dengan senyum menangnya. Brandon mendengus lalu pergi begitu saja.


Alesha terkekeh. "Alesha dilawan." Ucapnya.


Bastian dan Stella hanya menggelengkan kepala mereka sambil tersenyum.


***


Jacob sudah sampai di kebun, ia melihat Stella dan Bastian, tapi tidak dengan Alesha. Ke mana dia?


"Di mana Alesha?" Tanya Jacob secara tiba-tiba mengejutkan Stella dan Bastian.


Bastian menggeleng.


"Kalau tidak salah tadi Alesha bilang padaku kalau dia akan menemui Mr. Levin." Jawab Stella. Mata Jacob membulat, dan tiba-tiba pupil matanya sedikit menghitam. Jacob berbalik lalu berlari.


Bastian dan Stella saling menatap satu sama lain selama beberapa saat, lalu kemudian menyusul Jacob.


Di tempat lain, Levin sedang berjalan berdua dengan Alesha. Levin memberikan Alesha sebuah minuman yang sudah dicampurkan dengan obat tidur. Levin membawa Alesha berjalan cukup jauh dari wilayah WOSA. Ia membawa Alesha ke hutan belakang WOSA.


Obat tidur itu mulai bereaksi. Alesha mulai merasa mengantuk. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Jalannya mulai sempoyongan, jika saja Levin tidak menangkapnya, mungkin Alesha sudah terjatuh.


"Mr. Levin, kepalaku pusing." Ucap Alesha sambil memegang kepalanya. Levin menahan Alesha yang sudah kehilangan setengah kesadarannya.


"Maaf, Alesha." Gumam Levin.


Levin membantu Alesha berjalan untuk menjauhi daerah WOSA.


"Mr. Levin kita akan ke mana?" Tanya Alesha dengan lemas. Levin tidak membalas. "Mr. Levin aku sudah tidak kuat, kepalaku pusing." Gumam Alesha. Levin mendudukan Alesha lalu menyandarkannya di sebuah pohon.


"Levin!!!" Bentak Jacob tiba-tiba dari belakang. Belum sempat Levin berbalik, Jacob segera menarik Levin lalu membantingnya dan menjauhkannya dari Alesha. Levin meringgis menahan sakit karna ulah Jacob.


Jacob mendekati Alesha yang kesadarannya hampir hilang. Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap Jacob.


"Mr. Jacob, kepalaku pusing." Ucap Alesha.


Jacob menyentuh tangan Alesha. "Aku akan segera membawamu." Jacob mengelus pelan kepala Alesha.


Jacob berbalik lalu menghampiri Levin. Jacob mengangkat Levin lalu menonjoknya. "Aku sudah peringatkan padamu untuk tidak mendekatinya." Jacob menonjok Levin lagi.


"Mr. Jacob." Ucap Alesha lirih. Jacob yang mendengar itu segera berbalik menatap Alesha namun hal itu dijadikan kesempatan oleh Levin untuk menyerang balik Jacob.


Levin mendorong dan menendang Jacob hingga terpental cukup jauh. Jacob meringgis.


"Cukup." Lirih Alesha. Kesadarannya sudah hilang sepenuhnya. Efek obat tidur itu sudah bekerja sepenuhnya. Melihat Alesha yang pingsan, emosi Jacob menjadi semakin meledak. Ia bangkit lalu menyerang Levin. Levin tidak mau kalah, ia balik menyerang Jacob.


Pertarutang itu sangat sengit. Jacob dan Levin sama-sama jago dalam hal bela diri. Mereka saling membalikkan serangan.


"Biarkan aku membawanya, kau masih punya beberapa anggota lagi, lagi pula aku tidak akan menyakitinya." Ucap Levin sambil mengelap darah yang bercucuran dari pipinya.


"Tidak akan pernah!" Balas Jacob. Jacob menyerang Levin lagi secara bertubi-tubi.


Bastian dan Stella datang. Mereka sangat kaget melihat Jacob dan Levin sedang bertarung. Bastian melihat Alesha yang sudah pingsan. Ia menghampiri Alesha lalu menepuk-nepuk pipinya.


"Al, bangun--" Ucap Bastian. Ia dan Stella bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Jacob dan Levin bertarung seperti itu?


"Jika kau berani melakukan hal itu lagi padanya, aku akan membunuhmu." Jacob mencekik leher Levin. Levin berusaha untuk melepaskan cekikan Jacob yang kuat. Setelah berhasil terlepas, Levin terjatuh dan terbaru-batuk. Ia menjauhi Jacob.


"Aku akan kembali dan membawa gadis itu." Ucap Levin dan berlari ke arah hutan. Jacob berniat mengejar Levin karna Jacob sangat marah, namun tidak jadi karna Bastian memintanya untuk segera membawa Alesha keruang perawatan.


Jacob mengepalkan tangannya sambil melihat Levin yang berlari semakin jauh ke arah hutan. Jacob berbalik dan menghampiri Alesha.


"Dia baik-baik saja?" Tanya Stella panik.


"Levin memberinya obat tidur. Dia baik-baik saja, hanya akan tertidur selama beberapa jam." Jawab Jacob lalu mengangkat tubuh Alesha dan membawa Alesha ke messnya.